Dyarinotescom

Mendeteksi Kebangkrutan di Tahun 2024. Mau Lanjut?

Mendeteksi Kebangkrutan di Tahun 2024. Mau Lanjut?

Bayangkan jika wilayah atau ‘Negara’ tempat kita tinggali ini mengalami kebangkrutan. Keresahan di mana-mana, ketidakpercayaan merajalela, penegakkan hukum dijadikan senjata, dan rendahnya cara berfikir ‘pengelola negara’ menyimpulkan teriakan kami si rakyat jelata, masyarakat pada umumnya. Apakah ini bisa di katakan “kita sedang mengalami kebangkrutan?

Sudah tahu mau bangkrut, masih saja menuju jalan ke jurang?

Berikut opini kami – Ralat jika salah

Kami sendiri disini mendapati banyak sekali keluhan dan teriakan masyarakat yang merasakan bahwa: Negara ini tidak berpihak kepada kami. “Kita sedang tidak baik-baik saja”. Dengan sabar “Kami menunggu pengelola negara berikutnya”.

Kami berulang-ulang kali berdiskusi kepada beberapa sahabat dan kolega tentang “bagaimana usaha mu saat ini?”. Mereka mengeluh dan berteriak “Semua kami di sini tiarap”. Kami menunggu, simpulnya.

Yang mengatakan ini bukan satu atau dua orang saja, lho. Mereka adalah sebagian besar para pengusaha yang katanya ‘kurang dekat dengan pemerintah konoha’. Belum lagi jika kita berbicara tentang list kegiatan tahun berikutnya berkaitan dengan proyek-proyek yang sudah di kotak-kotakkan untuk kalangan tertentu. “Ngeri-ngeri sedap” kata si gendut.

Kebangkrutan Itu Sendiri

Jika Negara ini bangkrut apakah kita harus “Panik”?

Kebangkrutan itu sendiri bukan lah seakan-akan Negara ini mau bubar. Bukan! Bukan itu yang kami maksud. Tapi lebih kepada “kerugian yang nyata”. Membangun tapi bukan untuk sendiri. Dan sayangnya kerugian itu tidak kita sadari. Dengan dalih “Bisa menyerap tenaga kerja lokal”.

Seperti ketika kita menerima investasi yang tidak menguntungkan bagi kita. “Untuk apa”? Membangun untuk mencarikan mereka keuntungan di tanah air beta. Kita menjadi penonton dan hanya mendapatkan manfaat dari kuahnya saja. Dagingnya mereka nikmati sambil tertawa. Hahaha… Ala wagyu A5.

Maaf sedikit melenceng…

Apakah bijak jika menggunakan pengaruh pemuka agama demi mendukung satu kelompok tertentu di pemilihan tahun 2024. “Awal mula perpecahan, bro”. Memang, tidak ada yang salah jika ‘pemuka agama ikut berpartisipasi dalam mendukung siapa yang mereka anggap layak’. Tapi sejatinya agama itu baik nya di jadikan pendoman untuk memperbaiki akhlak dari setiap masyarakat terutama individu pelaksana. Dari kalangan mana itu tidak jadi soal kan.



Menjamah Akar Rumpun Yang Tidak Mereka Dengar

Ini bagian dari satu kerugian yang nyata. Kerugian yang di awali dengan menutup telinga di saat garuda terbang bukan dengan sayapnya, dan lebih memilih tidur di pagi hari tepat depan mata kita.

Jika kita rela dan mau mendengarkan bagaimana kita sebagai pemilik bangsa tidak mau di rugikan dari apa yang kita lakukan sendiri, kita hendaknya menjamah ‘apa kata mereka di sana’. Dengan menyimpulkan, mencari jalan tengah, seraya merangkum perbaikan.

Kami bukan lah seorang Rocky jomblo yang mengkritik dengan cara memaki. Berikut beberapa simpulan yang kami dapat terkait dengan kerugian yang disepelekan, antara lain:

1. Inovasi dan Kreatifitas Mulai Hilang

Belakangan ini ada kekhawatiran bahwa inovasi dan kreativitas mulai hilang. Hal ini disebabkan oleh perkembangan teknologi yang semakin nyeleneh dan bias, pendidikan yang terlalu menekankan pada aspek akademis, dan tekanan keharusan kita untuk mengikuti tren.

Walaupun banyak manfaat yang bisa kita dapatkan, terkadang fasilitas teknologi ‘yang mereka buat’ membuat pangkal malas untuk kita berpikir. Bangsa ini cenderung untuk menggunakan teknologi yang sudah ada ‘pengguna semata’, daripada menciptakan sesuatu yang berbeda.

Sejalan dengan pola pendidikan kita saat ini, kebiasaan terlalu menekankan pada aspek akademis dapat membuat para junior kita menjadi mentok otak, dan kurang kreatif. Mereka lebih fokus menghafal materi pelajaran daripada mengembangkan keterampilan berpikir kritis, apalagi soal pemecahan masalah.

Kita pasrah di ikat tangan dan kaki, dibombardir dengan berbagai tren yang baru, dan amit-amit terpaksa mengikutinya. Hal ini dapat membuat kita menjadi cupu, dungu, kemayu untuk tampil beda atau menciptakan sesuatu yang baru.

Hallo Abang, Inovasi dan kreativitas adalah dua hal yang penting bagi kemajuan bangsa atau masyarakat. Inovasi memungkinkan kita untuk menciptakan hal-hal baru yang bermanfaat, sedangkan kreativitas memungkinkan kita untuk berpikir di luar kotak dan menemukan solusi yang inovatif untuk masalah-masalah di depan mata.



2. Sumber Daya Manusia Kian Melemah

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam membentuk kualitas SDM. Namun, pendidikan di Indonesia masih belum merata dan berkualitas. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti rendahnya anggaran pendidikan, kualitas guru yang belum memadai, dan kurikulum bongkar pasang dan coba-coba yang belum relevan dengan kebutuhan.

Pendidikan kita hanya sebatas dasar-dasar keilmuan dan permukaan saja. Sesekali traktir bangsa ini dengan: mendukung 100 ribu pemuda “maaf kata: kurang mampu” untuk bersekolah di luar sana, agar terbuka dalam pengetahuan dan pengalaman. Tak akan miskin Negara ini, ketika kita menyekolahkan anak bangsa sebagai generasi penerus bumi putera.

Kesempatan kerja yang terbatas pun membuat masyarakat menjadi kurang termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri. Padahal rezeki itu mempunyai 9 pintu. Sekolah hanya untuk selembar kertas warna cerah yang bertandatangan ditenteng dari pintu ke pintu.

3. Sumber Daya Alam (SDA) Tidak Dimanfaatkan Demi Kepentingan Yang Punya

Kebijakan pemerintah yang “tidak mendukung pemanfaatan SDA untuk kepentingan dalam negeri” boleh jadi dapat menjadi salah satu faktor penghambat. Kebijakan pemerintah yang lebih mengutamakan ekspor SDA daripada pemanfaatannya untuk industri dalam negeri, misalnya.

Negara boleh mengambil untung tapi harus di ingat negara bukan pedagang. Tunggu dulu kawan, “Semua keuntungan ini kami putar untuk pembangunan” Okey jika begitu, tapi pembangunan untuk siapa dan di mana?

Pembangunan yang tidak merata, dapat menyebabkan SDA hanya dimanfaatkan oleh kelompok tertentu, sedangkan ‘kami masyarakat luas’ tidak dapat menikmati manfaatnya. Kami sekarang mulai mengetahui bahwa SDA kita hanya di manfaatkan oleh perusahaan-perusahaan besar, sedangkan masyarakat kecil tidak dapat mengaksesnya.

Boleh saja kami berfikir bahwa “Ini semua karena keuntungan satu pihak”. Jadi bingung, apakah itu termasuk urusan korupsi? Yang katanya Korupsi itu dapat menyebabkan SDA disalahgunakan dan tidak dimanfaatkan secara optimal. Misalnya, SDA dijual dengan harga murah kepada pihak-pihak tertentu, sehingga negara tidak mendapatkan keuntungan yang maksimal.



4. Anggaran Hanya Dipergunakan Demi Serapan

Kami ‘rakyat’ jika diberikan kesempatan untuk mengelola anggaran juga bisa tuuh. Tapi dengan sadar ini bukan tupoksi kami. Anggaran yang sudah tersedia harus digunakan dengan prinsip-prinsip efisiensi, efektivitas, dan keadilan. Dan bukan hanya sebatas buat-buat saja. “Bangun sana, bangun sini – sudah padat, kita pindah tempat”.

Anggaran harus digunakan secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan. Ditetapkan dengan mengedepankan rasa keadilan, merata, berguna dalam mengakomodasi kebutuhan masyarakat.

Ini sejatinya uang kami si rakyat. Kalian gunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan pemerintahan dalam bekerja, di tetapkan, dan bukan hanya agar itu terserap dan terlihat bekerja, tanpa berfikir bahwa ini berguna untuk apa dan siapa.

5. Peran Swasta Lokal Mulai Disingkirkan

Dalam urusan membangun, swasta lokal tidak kalah gesit kerjanya di bandingkan perusahaan besar. Pemerintah perlu melakukan pemberdayaan swasta lokal agar mereka dapat memiliki daya dalam meyediakan modal awal, kemandirian teknologi, dan keterampilan yang di butuhkan untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar.

Jujur saja Om, “kami swasta lokal sering kali memiliki keterbatasan modal dan teknologi, sehingga tidak mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar”. Mereka sering kali melihat sebelah mata, dan lebih memberikan kepercayaan, kesempatan, dan dukungan kepada si paman besar.

Ralat jika kami keliru – Banyak beredar isu tentang: “Persentase 20 persen untuk orang dalam, dan itu harus di depan”. Entah mengapa orang sepertinya menutup mata akan hal tersebut. Bukan dengan maksud menuduh. Tapi boleh jujur ini ada, walaupun kami tidak bisa membuktikannya dan entah di-mana. “Di Republik Konoha, mungkin”.

Kami bersepakat, ini awal dari lemahnya swasta lokal untuk berkembang dan bersaing. Yakinlah, swasta lokal memiliki peran penting dalam pembangunan suatu negara. Berperan dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mirisnya, peran swasta lokal dalam pembangunan mulai di singkirkan.



6. Generasi Muda Di Sepelekan dan Dianggap Tak Berkualitas

Generasi muda sering kali distereotipkan sebagai generasi malas, lemah, tidak menghargai waktu, dan kurang berpengalaman, apalagi masa depan. Stereotip negatif yang menyebabkan mereka menjadi tidak percaya diri untuk mengatakan “Kami bisa dan kami mampu”.

Padahal generasi itu ada batasnya. Batas yang akan di gantikan dari generasi satu ke generasi berikutnya. Generasi yang jujur dan terbuka. Bukan generasi Cincai, dan bukan pula generasi korea. Karena esok hari kursi ini pasti berganti.

Namun, pahit kenyataan yang mereka terima, “kami di ajarkan dan di bentuk seperti gen sebelumnya” jika tidak, dianggap tidak bisa berbaur, disepelekan, dan dinyatakan minim kualitas. “Bau Kencur dan kencing belum lurus”.

7. Kepercayaan Masyarakat Menurun

Tidak ada seorang pun yang bisa memberikan rasa keadilan yang seadil-adilnya. Tapi paling tidak rasa itu di bagi berdasarkan porsinya. Ini soal kepercayaan. Bukan soal kepandaian bicara apalagi mengubar janji yang tidak bisa kemudian di buktikan. Kepercayaan hanya masyarakat berikan jika janji itu di tepati. Dan bukan dengan menggunakan penegak hukum sebagai perlindungan diri.

Ketika Indikasi Terdeteksi

Deteksi kebangkrutan suatu negara atau institusi dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai indikator. Secara sederhana bolah jadi kami bagi menjadi dua yaitu indikator eksternal maupun indikator internal. Berikut rangkumannya, antara lain:



a. Eksternal

Indikator eksternal adalah indikator yang berasal dari lingkungan luar negara atau institusi tersebut, seperti kondisi perekonomian global, kondisi politik dan keamanan, dan kondisi persaingan. Koreksi jika kami keliru, Indikator eksternal yang dapat di gunakan untuk mendeteksi kebangkrutan antara lain:

1. Pertumbuhan ekonomi Negatif.

Pertumbuhan ekonomi yang negatif selama beberapa tahun berturut-turut dapat menjadi indikator bahwa negara atau institusi tersebut mengalami kesulitan dalam menghasilkan pendapatan.

Beberapa negara dengan pertumbuhan ekonomi negatif, di antaranya:

  • Pertumbuhan ekonomi Sri Lanka pada kuartal II tahun 2023 tercatat negatif sebesar 8,4%. Hal ini di sebabkan oleh krisis ekonomi yang sedang melanda Sri Lanka, yang menyebabkan inflasi tinggi, kekurangan bahan bakar, dan pemadaman listrik;
  • Pertumbuhan ekonomi Ukraina pada kuartal II tahun 2023 tercatat negatif sebesar 45,1%. Hal ini di sebabkan oleh perang yang sedang berlangsung di Ukraina, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan gangguan aktivitas ekonomi.

2. Peningkatan inflasi.

Peningkatan inflasi yang tinggi dapat menyebabkan penurunan daya beli masyarakat dan meningkatnya biaya produksi. Hal ini dapat menyebabkan negara atau institusi tersebut mengalami kesulitan dalam membayar kewajibannya.

Menurut data dari International Monetary Fund (IMF), negara dengan peningkatan inflasi terbesar pada tahun 2023 adalah Zimbabwe. Inflasi Zimbabwe pada bulan Desember 2023 mencapai 284,9%, naik dari 98,55% pada bulan Desember 2022.

Di urutan kedua ada Venezuela dengan inflasi 156%, naik dari 103,6% pada bulan Desember 2022. Di urutan ketiga ada Lebanon dengan inflasi 142%, naik dari 123,5% pada bulan Desember 2022.



3. Kenaikan suku bunga.

Kenaikan suku bunga dapat menyebabkan meningkatnya biaya pinjaman bagi negara atau institusi tersebut. Hal ini dapat memperburuk kondisi keuangan negara atau institusi tersebut.

Menurut data dari Bank for International Settlements (BIS), Argentina adalah negara dengan kenaikan suku bunga tertinggi di dunia pada Desember 2023. Suku bunga acuan Argentina saat ini adalah 118%, naik 7800 basis poin (bps) sejak Maret 2022. Kenaikan suku bunga yang drastis ini bertujuan meredam inflasi yang melesat hingga 128%.

Zimbabwe dan Turki juga mengalami kenaikan suku bunga yang signifikan pada Desember 2023. Suku bunga acuan Zimbabwe saat ini adalah 200%, naik 800 bps sejak awal tahun. Inflasi Zimbabwe yang mencapai 284,9% menjadi faktor pendorong. Suku bunga acuan Turki saat ini adalah 14%, naik 850 bps sejak awal tahun. Kebijakan moneter ketat ini di terapkan untuk mengatasi inflasi 64,27%.

4. Penurunan nilai tukar mata uang.

Penurunan nilai tukar mata uang dapat menyebabkan meningkatnya biaya impor dan menurunnya daya saing ekspor. Hal ini dapat menyebabkan negara atau institusi tersebut mengalami kesulitan dalam membayar kewajibannya.

Menurut data dari Bloomberg, Zimbabwe adalah negara dengan penurunan nilai tukar mata uang tertinggi di dunia pada Desember 2023. Mata uang Zimbabwe, rial, telah kehilangan 99,99% nilainya terhadap dolar AS sejak awal tahun, menjadikannya mata uang terlemah di dunia.

Sudan dan Lebanon juga mengalami penurunan nilai tukar mata uang yang signifikan pada Desember 2023. Mata uang Sudan, pound Sudan, telah kehilangan 85,00% nilainya terhadap dolar AS sejak awal tahun. Mata uang Lebanon, pound Lebanon, telah kehilangan 80,00% nilainya terhadap dolar AS sejak awal tahun.



5. Peningkatan utang luar negeri.

Peningkatan utang luar negeri dapat menyebabkan meningkatnya beban pembayaran bunga dan pokok utang. Hal ini dapat menyebabkan negara atau institusi tersebut mengalami kesulitan dalam membayar kewajibannya.

Menurut data dari Bank Dunia, negara-negara dengan peningkatan utang luar negeri terbesar pada tahun 2023 adalah:

  • Zimbabwe: Utang luar negeri Zimbabwe meningkat sebesar 134,9% menjadi US$ 14,8 miliar pada tahun 2023. Peningkatan ini di sebabkan oleh berbagai faktor, termasuk inflasi yang tinggi, krisis ekonomi, dan defisit anggaran;
  • Turki: Utang luar negeri Turki meningkat sebesar 73,8% menjadi US$ 242,1 miliar pada tahun 2023. Peningkatan ini di sebabkan oleh inflasi yang tinggi, defisit anggaran, dan kenaikan suku bunga;
  • Argentina: Utang luar negeri Argentina meningkat sebesar 51,7% menjadi US$ 296,1 miliar pada tahun 2023. Peningkatan ini di sebabkan oleh inflasi yang tinggi, defisit anggaran, dan ketidakstabilan politik.

b. Internal

Indikator internal adalah indikator yang berasal dari dalam negara atau institusi tersebut, seperti kondisi keuangan, manajemen, dan operasional.

Koreksi jika kami melenceng, indikator internal (dalam Rasio) yang dapat di gunakan untuk mendeteksi kebangkrutan, antara lain:

1. Rasio utang terhadap pendapatan (debt to income ratio).

Ini menunjukkan seberapa besar utang yang di miliki oleh negara atau institusi tersebut di bandingkan dengan pendapatannya. Rasio yang tinggi dapat menjadi indikator bahwa negara atau institusi tersebut mengalami kesulitan dalam membayar kewajibannya.

Data International Monetary Fund (IMF) menunjukkan Jepang memang masih menjadi negara dengan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di dunia. Rasio utang terhadap PDB Jepang mencapai 226,4% terhadap PDB atau setara dengan 1.270 triliun yen per Maret 2023 (US$ 9,57 triliun).



2. Utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio).

Rasio ini menunjukkan ‘besar utang yang di miliki oleh negara’ atau institusi tersebut di bandingkan dengan ekuitasnya. Rasio yang tinggi dapat menjadi indikator bahwa negara atau institusi tersebut mengalami kesulitan dalam membayar kewajibannya.

3. Laba bersih terhadap ekuitas (net income to equity ratio).

Rasio ini menunjukkan seberapa besar laba bersih yang di hasilkan oleh negara atau institusi tersebut di bandingkan dengan ekuitasnya. Rasio yang rendah dapat menjadi indikator bahwa negara atau institusi tersebut mengalami kesulitan dalam menghasilkan pendapatan.

4. Kas terhadap kewajiban lancar (cash to current liabilities ratio).

Rasio yang di tunjukkan dengan: seberapa besar kas yang di miliki oleh negara atau institusi tersebut di bandingkan dengan kewajiban lancarnya. Rasio yang rendah dapat menjadi indikator bahwa negara atau institusi tersebut mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban lancarnya.

5. Piutang terhadap penjualan (accounts receivable to sales ratio).

Rasio ini menunjukkan seberapa besar piutang yang di miliki oleh negara atau institusi tersebut di bandingkan dengan penjualannya. Rasio yang tinggi dapat menjadi indikator bahwa negara atau institusi tersebut mengalami kesulitan dalam menagih piutang.



Mereka Katakan Bangkrut

Deteksi kebangkrutan suatu negara, institusi, ataupun masyarakat sekali pun, dapat kita susun dengan tindak hanya menggunakan kombinasi dari berbagai indikator di atas. Indikator-indikator tersebut sebatas memberikan gambaran mengenai kondisi apa yang kami dengar dan ikuti. Bisa salah, boleh jadi benar.

Tahukah kamu, Utang medis adalah penyebab nomor satu kebangkrutan di Amerika. Berdasarkan data dari American Bankruptcy Institute, utang medis menyumbang 66,5% dari semua kebangkrutan konsumen di Amerika Serikat pada tahun 2022.

Lalu bagaimana dengan kita di sini. Ketahuilah bahwa kebangkrutan terburuk di dunia itu adalah ketika kita kehilangan antusiasme berbangsa dan bernegara. #ItuSaja

Salam Dyarinotescom.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *