Latest Post

Red Flag Kamu Apa? Satu Signal Kesadaran

Bukan warga (+62) jika tidak mengenal istilah ini. Yes, Red Flag. Satu istilah kekinian yang digunakan untuk menggambarkan *tanda-tanda* dari perilaku yang menunjukkan bahwa “sesuatu itu bukan aku banget”. Satu signal menjaga kesadaran dan kewarasan. Bisa saja mencakup beberapa hal yang berbahaya, atau sesuatu yang tidak sehat. Layaknya SOS (Save Our Souls). Langsung saja, Red Flag Kamu Apa?

Red Flag bukan kosa kata baru, karena memang sudah lampau digunakan sebagai istilah dalam olahraga balapan. Namun, kosa kata ini mengalami perubahan makna oleh kita untuk dijadikan sebagai bahasa tongkrongan untuk peringatan. Asal tahu sama tahu sudah cukuplah bagi kita.

Bahasa Tetaplah Bahasa

Bahasa tetaplah bahasa. Itu dimengerti dan bisa diartikan karena ada keterkaitan dan pertautan. Dalam bahasa gaul, Red Flag di artikan sebagai kondisi dalam diri seseorang yang terganggu atau signal berbahaya, terutama untuk kita yang belum sadar akan hal itu. Berbahaya jika di teruskan dan harus dengan segera kamu hentikan.

Istilah ini juga digunakan dalam konteks hubungan, pekerjaan, pertemanan, hingga kepada gaya hidup dan politik. Belakangan istilah red flag sendiri banyak di gunakan di sosial media seperti: Twitter, Instagram dan lainnya. Kerap diartikan pula sebagai label jelek dari seseorang yang sudah terinfeksi Bad Habit.

Dalam olahraga balapan itu sendiri, Red Flag sebagai tanda peringatan untuk satu kondisi yang tidak aman, akibat insiden fatal sehingga kegiatan harus dihentikan. Sebenarnya sih arti dan maksud nya hampir sama, yang berbeda hanya dimana itu diletakkan dalam satu kemasan atau warnanya saja.



Red Flag kamu apa?

Istilah red flag menjadi viral di masyarakat sebagai bentuk dari Communication Code. Di picu oleh kebiasaan ‘asal jeplak’ kita, dengan tujuan baik yaitu meningkatkan kesadaran dalam menjaga kesehatan (fisik atau mental), satu hubungan, dan gaya hidup.

Dalam konteks hubungan, red flag (bendera merah) bisa di maknai sebagai: sifat, sikap, atau perilaku yang menunjukkan bahwa pasangan yang menurut kita ‘Ideal mendekati rupa Romeo’ tidak cukup sehat tuh. Buang-buang waktu, tenaga dan pikiran saja. Suka selingkuh dan sering kali berbohong, misalnya.

Dalam dunia pekerjaan, bisnis atau pun politik, kata red flag juga bisa orang gunakan untuk menunjukkan bahwa “sesuatu tidak berjalan dengan semestinya, tidak sesuai harapan bahkan tidak sesuai dengan kesepakatan di awal”. Pandai mengali, tapi lupa untuk membagi. Misalnya, ‘Kongkalikong’, atau juga praktik lainnya yang tidak etis.



Menjadi Satu Peringatan

Red flag dapat menjadi peringatan bagi kita untuk “segera menjauh” dari sesuatu atau seseorang yang berpotensi membahayakan (membuat lebih buruk keadaan). Oleh karena itu, penting untuk menyadari, “apakah itu termasuk kepada golongan red flag atau tidak?”. Dan apakah kita memahami tanda-tanda tersebut.

‘Bendera Merah’ penting untuk kita waspadai agar tidak terjebak dalam situasi yang merugikan. Dalam dunia bisnis, jika produk atau jasa tidak memiliki keunggulan kompetitif pastinya red flag. Contoh lainnya yang harus kita waspadai dengan kesadaran bahwa itu terindikasi red flag, adalah:

  • Partner bisnis yang hanya punya modal ide doang. Modal cuap-cuap, tidak mau keluar uang. “Jika pun gagal, kami tak rugi” senyumnya.
  • Strategi bisnis yang tidak jelas. Seperti: Modal dari mana, apa yang harus di lakukan, siapa yang melakukan, dan pembagian keuntungannya bagaimana;
  • Manajemen tidak kompeten, dan ketika satu bisnis tidak memiliki masterplan yang jelas – pasti merah besar;
  • Minim sumber daya yang memadai, jauh dari tim yang solid, dan tidak memiliki target pasar yang jelas;
  • Pastinya tidak memiliki reputasi yang baik (kumpulan penjahat), sering berganti-ganti karyawan, dan tidak memiliki sistem kerja profesional (Datang-duduk-ngopi-udut).
  • Biasanya tidak transparan dalam pengelolaan keuangan (kebanyakan cubit-cubit dan cari seseran) – dengan basis serapan anggaran, dan budaya kerja yang buruk;
  • Paling sering kita lihat ketika Perusahaan tersebut tidak memberikan kesempatan kita untuk berkembang atau tidak memberikan kompensasi yang sesuai, 100% di pastikan – Red flag. End Tok.

Buruk tetaplah buruk. Pun bisa terjadi dalam satu hubungan atau pertemanan. Ketika signal merah di perlihatkan kedalam hubungan, ini di maksudkan dengan:

  • Ketidakjujuran, karena terlalu seringnya berbohong, menyembunyikan informasi, atau sampai-sampai berselingkuh;
  • Perilaku posesif, membatasi kebebasan terhadap pasangan;
  • Kekerasan fisik atau verbal. Dengan mengatakan hal-hal buruk yang tidak pantas untuk di ucapkan atau di lakukan;
  • Ketidakmampuan untuk menerima perbedaan dan komitmen.




Berbagi pengalaman

Banyak orang menggunakan istilah ini untuk berbagi pengalaman dengan orang-orang yang patut mengetahui apa itu si merah. Hal ini bertujuan untuk mengenali dan bagaimana menghindarinya. Berbagi pengetahuan dalam satu pengalaman. Beberapa bait pengalaman, yakni:

“Perusahaan ini aku nyatakan Red flag” Rapor Merah Tebal. Mungkin di maksudkan: ketika satu perusahaan menawarkan kerja sama tanpa adanya kontrak yang jelas, informasi di sembunyikan, banyak manipulasi, dan pengelolaan keuangan yang buruk. Niche nya: Terlalu banyak bisik-bisik Bro. Lol.

“Baru saja putus dengan pacarku. Tahu sendiri ‘Red flag‘. Hal yang di maksud tersebut, seperti: bersikap posesif, mau menang sendiri, dan tidak bisa menerima perbedaan, sering berbohong, gak mau modal, dan main belakang.

“Berhati-hati memilih sohib. Ada banyak ‘tanda merah‘ yang harus kita waspadai”.  Maksudnya: Rupanya sohibku suka sekali julid, pinjam uang tapi jika di tagih malah marah, dan suka membicarakan orang lain.




Catatan Kurma

Dengan memahami apa itu, kita dapat lebih awareness dalam menjalin koneksi, hubungan, dan menghindari sesuatu yang tidak sehat. Buruk tetaplah buruk, dan kita harus tahu bahwa itu buruk dengan memberikan mereka label Red Flag.

Ketika bahasa pergaulan mengungguli Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bukan karena kurangnya pengetahuan literasi. Malah hal tersebut sebagai bagian dari tumbuhnya kepatuhan dalam berkomunikasi. Bahasa itu media komunikasi. Di ketahui oleh orang-orang dengan satu frekuensi yang bisa saling memahami.

Pahamkah kira-kira? Tak paham maka tak kawan.

Salam Dyarinotescom.

Related Posts:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Publisher artikel lifestyle yang dikemas menarik, dengan tips dan opini, serta didesain secara kekinian untuk pembaca setia.