Menu Tutup

Jangan Marah, Bagimu Surga

marah

Jangan marah, bagimu surga adalah artikel yang menceritakan tentang betapa emosi tersebut sangat tidak dianjurkan. Mengatakan hal yang tidak pantas seolah semua orang salah dan kamu benar. Apapun alasannya hindarikan dirimu untuk marah. Berikut cerita tentang seorang anak yang mudah meluapkan kemarahan.

Di suatu desa ada seorang anak bernama Andi. Andi adalah seorang anak yang pendiam dan mudah sekali ‘Angry’. Bahkan untuk hal-hal kecil dan sepele sekalipun, ia bisa terpicu. Andi marah kepada semua orang. la bisa marah pada orang tuanya, pada kakak dan adiknya, saudara-saudaranya, bahkan pada teman-temannya. Tanpa pandang bulu.

 

#Jangan Marah Kepada Semua Orang

Andi sering sekali marah. Hal ini membuatnya sering di jauhi oleh teman-teman. Mereka merasa Andi adalah orang yang tidak ramah. Melampiaskan kepada orang didekatnya. Mereka tidak suka karena Andi sering marah.

  Waktu Akan Terus Berjalan

Suatu hari, Andi meminta kepada sang ayah untuk dibelikan mobil mainan keluaran terbaru. Namun, Ayah tidak memberikannya. Hal ini di karenakan belum punya cukup uang. Jika pun ada, untuk membeli beras dan sayuran. Maklum saja ayah adalah pegawai rendahan.

Karena keinginannya tidak terpenuhi, Andi pun marah-marah kepada Ayah. Dan mengatakan hal yang tidak patut utnuk di sampaikan. Ia mengatakan bahwa jika Ayah tidak menyayanginya dan pelit karena terlalu hemat. Mendengar perkataan Andi, sang ayah tertunduk lesu.

Kemudian Ayah mengajak si Andi pergi ke kebun di belakang rumah. Ayah memberikan Andi, sebuah palu dan beberapa paku padanya. “Untuk apa ini, Ayah?” tanya Andi sedikit bingung. Keningnya berkerut. “Aku kan minta mainan, bukan minta palu dan paku.”

Lantas, Ayah memandang Andi dengan wajah serius. “Coba tancapkan paku itu ke papan menggunakan palu. Lakukan itu setiap kali kamu merasa emosi,” perintah sang Ayah.

Lalu Andi menuruti apa yang di katakan oleh Ayah. Setiap kali marah, ia selalu menancapkan paku di papan dengan keras dan kencang. Lama-kelamaan, papan kayu tersebut penuh dengan paku yang di pukul Andi, sampai-sampai tidak ada lagi tempat untuk paku yang baru.

  Profil untuk Koin dan Full-Face untuk Kertas

“Ayah, papannya sudah penuh dengan paku,” lapor Andi pada Ayah. “Sekarang lakukan hal sebaliknya. Saat marah, cobalah untuk bersikap tenang. Lalu katakan maaf. Kalau berhasil, cabut satu paku dari papan,” períntah Ayah.

#Bersikap Tenang. Lalu Katakan Maaf

Cobalah untuk bersikap lebih tenang dan katakan maaf. Itulah yang di katakan ayah. Lalu Andi menuruti perkataan dan nasehat Ayah. Setiap kali marah, ia selalu mengucapkan kata maaf pada papan tersebut dan mencabut paku yang ada di atasnya. Hingga akhirnya paku di atas papan sudah tercabut seluruhnya.

“Ayah, papannya sudah tidak ada paku lagi.” Andi pun menghampiri Ayah yang sedang membaca artikel Dyarinotescom di ruang tamu. Sambil membawa papan, Andi mendekati sang ayah.

“Sekarang apa yang terjadi?” tanya Ayah. “Papannya jadi berbekas, Yah.” Andi menjawab dengan polosnya.

“Begitulah yang terjadi ketika kamu penuh kemarahan, Anakku. Kamu mungkin bisa mengucapkan kata maaf atau meminta maaf, tetapi hal itu tetap akan menimbulkan bekas di hati orang lain. Agama kita juga mengajarkan kita untuk menahan marah dan emosi yang berlebihan. Siapa yang bisa menahan marah, ia akan mendapatkan surga,” nasihat sang Ayah dengan penuh kelembutan.

  Berhenti Mencoba



Andi pun tersenyum malu dan sadar bahwa sikap dan tingkah laku marah bukanlah jalan yang baik untuk meluapkan segala kekesalan dan keinginan yang tidak terpenuhi.

Salam DyariNotesCom

Posted in history

More Options

2 Comments

Tinggalkan Balasan