Latest Post

Kebiasaan Merantau Suku Minang. Tradisi Meninggalkan Kampung Halaman

Siapa yang tak kenal dengan Adat Istiadat Sumatera Barat, Minangkabau. Suku yang kaya tradisi dan budaya mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari: kuliner, seni dan sastra, sistem kekerabatan, hingga arsitektur rumah gadang. Salah satu yang menarik bagi kita yakni tradisi merantau ala suku minang. Satu tradisi yang mengharuskan laki-laki Minangkabau meninggalkan kampung halaman. Home sweet home.

Tradisi ini cukup unik, karena tradisi merantau adalah satu kewajiban bagi laki-laki. Tertuang dalam pepatah lama, seperti “Karatau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, di kampuang baguno balun”. Sebagai gambaran bahwa sebelum kamu menikah dan membangun keluarga cemara (riang, gembira, dan bahagia), merantaulah terlebih dahulu.

Uda kanduang dirantau urang. Pulanglah Uda di tanah Jao. Rindo lah lamo indak basuo. apo ka dayo. Lupo kok Uda jo diri denai. Sumpah jo janji maso sapayuang kito baduo.

Tradisi Melahirkan Sejarah

Ketika orang minang merantau pun harus bisa berpegang teguh pada pendirian dan tradisi. Elok-elok manyubarang, Jan sampai pandayuang patah, Elok-elok di rantau urang, Jan sampai babuek salah. Ketika berada di rantau, harus bisa membawa diri, menjaga kehormatan keluarga dan jangan pernah berharap dengan orang lain. Sikap dan tingkah laku sebagaimana para leluhur suku minang lakukan.

Dalam beberapa catatan lama, tradisi merantau diperkirakan ada sejak abad ke-7 M. Pada abad ke-14 terjadi migrasi besar-besaran hingga melintasi Negeri Sembilan di Semanjung Malaya. Hingga abad ke-19 sampai dengan sekarang tradisi ini masih tetap dilakukan.

Kebiasaan Merantau Suku Minang

Pertanyaan besar yang harus terjawab yakni “Mengapa orang minang harus merantau?”. Membicarakan dunia perantauan tentu berkaitan dengan mengajarkan nilai-nilai kebaikan, bepegang teguh pada tradisi dan nasehat, serta kemandirian dan tanggungjawab. “Biopari kato ibarat, bijaksano taratik sopan, pacik pitaruah buhua arek, itu nan ijan di lupokan”.

Di perantauan, ‘Si Malin’ di anjurkan untuk selalu ingat dan jalankan segala nasehat dari orangtua, jangan membantah dan jangan ingkar. Sesungguhnya nasehat dan pituah akan jadi petunjuk dalam perjalanan hidup, dimanapun Uda berada.

Ketika berada di rantau orang, di anjurkan juga untuk menjadi pribadi yang Supel yakni kepribadian yang pandai bergaul, menyesuaikan diri, dan luwes. Ciptakan juga koneksi yang harmonis dan perluas jangkauan pertemanan. “Di bukak buhua deta datuak, di samek kain saluak timbo. Kok gapuak lamak tak dibuang, dek pandai alam santoso”.



Untuk beberapa alasan mengapa orang Minangkabau suka merantau, teramini dalam kesaksian para sesepuh dan para datuk, seperti:

1. Ajaran Budaya

“Ini sudah ada dari jaman kakek nenek moyang kami”. Dalam adat Minangkabau, merantau adalah keharusan. Yang artinya itu wajib bagi laki-laki. Merantau di percaya sebagai ‘pintu kesempatan’ untuk belajar berbagai hal baru, baik dari segi pendidikan, keterampilan, maupun pengalaman hidup. Hal ini akan membuat laki-laki Minangkabau menjadi lebih mandiri dan tangguh.

2. Menempa Diri

Kapalo kariang, kapalo putuih. Setiap laki-laki minang harus di tempa diri dan kepribadiannya. Pepatah yang mengajarkan bahwa dalam hidup, kita harus mampu membedakan mana yang baik, dan mana pula yang buruk. Kita harus mampu memilih jalan yang tepat untuk meraih kesuksesan. Dan itu bisa kita dapatkan dalam perantauan.

3. Meraih Kesempatan

Minangkabau adalah daerah yang memiliki tanah yang subur dan sumber daya alam yang melimpah. Namun, wilayah ini juga memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Hal ini mendorong orang Minangkabau untuk merantau ke daerah lain untuk mencari peluang dan kesempatan yang lebih baik.



4. Membangun Koneksi

Tidaklah satu kesuksesan dikatakan berhasil tanpa membangun satu jaringan koneksi yang luas. Samo-samo nan bana, samo-samo nan kawan. Jangan pernah melakukan diskriminasi terhadap orang lain. Kita harus bisa menerima semua orang dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

5. Pengaruh Agama

Nyatanya Islam berperan dalam mendorong budaya merantau di Minangkabau. Dalam Islam, kita di anjurkan untuk menuntut ilmu dan mencari nafkah dengan cara-cara yang elok. Hal ini mendorong orang Minangkabau untuk merantau ke daerah lain untuk mencari pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik.

6. Sistem Matrilineal

Sistem matrilineal adalah sistem kekerabatan yang mewariskan harta kekayaan kepada anak perempuan. Dalam sistem ini, laki-laki tidak mewarisi harta kekayaan dari orang tuanya, melainkan dari kaumnya. Oleh karena itu, laki-laki Minangkabau di dorong untuk merantau untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga.



Catatan Bundo

Pada waktu lampau, merantau di lakukan oleh laki-laki untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga. Namun pada saat ini, tradisi merantau di lakukan juga oleh kaum perempuan, baik itu untuk menempuh pendidikan, bekerja, maupun di bawa serta oleh suami.

Budaya merantau telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau. Budaya ini telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Minangkabau, baik secara ekonomi, sosial, maupun penyebaran budaya. #TambuahCiek

Salam Dyarinotescom.

Related Posts:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Publisher artikel lifestyle yang dikemas menarik, dengan tips dan opini, serta didesain secara kekinian untuk pembaca setia.