Menu Tutup

Kisah Sang Hujan

rain-dyarinotes

Sahabat Dyarinotes | Hujan, kadang tak diharapkan, namun banyak juga yang menyambutnya riang. “Ya… sudah musim hujan lagi, siap-siap banjir,” respon dari orang yang kerap bergumul dengan banjir saat musim hujan. “Alhamdulillah, akhirnya hujan,” rasa syukur dari orang yang sudah lama merasakan kerontangnya kemarau dan merindukan hujan menyirami sawah ladangnya yang mengering.

Ada Apa Dengan Hujan?

Hujan merupakan fenomena turunnya air dari langit ke permukaan bumi, hingga membasahi ke bagian permukaan paling dalam. Hal ini akan memberikan banyak manfaat bagi kehidupan di bumi.

Siklus air dapat dijelaskan secara sedarhana, yakni uap air di udara, jika jumlahnya sudah cukup banyak, akan terkumpul menjadi awan. Begitu uap air di dalam awan sudah mencapai titik jenuh, ia akan berkondensasi menjadi air yang kemudian jatuh ke bumi sebagai hujan.

Di wilayah yang memiliki suhu udara lebih rendah dibandingkan titik beku air. Kondensasi air akan membentuk fase padat yang dijatuhkan dalam wujud salju atau es. Melalui pemanasan, salju akan mencair.

  Al-Kahfi Yang Mengandung Kisah Nan Melahirkan Hikmah

Air lelehan salju, sebagaimana air yang turun dari langit, akan mengaliri dan menggenangi bagian-bagian terendah permukaan bumi dalam bentuk sungai, danau, atau rawa di daratan dan akhirnya akan mengalir ke laut.

Sebagian aliran air ini akan meresap ke dalam bumi. Mengalir dan tersimpan di dalam tanah dan batuan dalam bentuk air tanah dalam dan air tanah dangkal. Dengan adanya panas matahari, sebagian air yang mengalir dan menggenangi daratan dan lautan akan menguap ke udara dan akan bergerak bersama pergerakan angin.

Dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan tentang turunnya hujan 1400 tahun yang lalu sebelum ilmuwan menjelaskan proses terjadinya.

Firman Allah dalam surat An-Nur ayat 43:

“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, dan Dia juga menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, yaitu dari gumpalan-gumpalan awan seperti gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya butiran-butiran es itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”

Surat Ar-Rum ayat 48-49:

“Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki, tiba-tiba mereka bergembira. Padahal walaupun sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.”

Lalu bagaimanakah kita menyikapi kedatangan fenomena alam ini?

  Sekelumit Tentang Hati

Hujan adalah tanda kekuasaan Allah, yang dikirimkan ke bumi agar kita merasakan rahmat-Nya. Keberkahan tersebut hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang bersyukur.

Bersyukur karena basuhan air langit telah menyirami kekeringan dan membawa kesejukan. Jika banjir, bersyukur karena Allah telah mengingatkan kita untuk peduli dengan alam, lingkungan dan kebersihan bagi kemaslahatan bersama.

Meskipun manusia sebagai pelakon di bumi, yakinkan diri bahwa semua kejadian ada campur tangan Allah SWT, la tahzan, Allah telah menyiapkan langkah selanjutnya untuk kita. Kita hanya perlu optimis dan husnudzon.

Salam DyariNotesCom

Posted in jumu'ah edition

More Options

2 Comments

Tinggalkan Balasan