Menu Tutup

Body Shaming, Kekerasan Verbal Buat Rasa Malu

Body shaming seperti disposisi dari kerendahan akhlak di masyarakat terhadap kekurangan dan ketidakmampuan seseorang. Dan korban hanya bisa menerima karena ini sudah menjadi bagian dari dirinya. Hal ini menjurus kepada kekerasan verbal yang menimbulkan rasa malu. Rasa malu seseorang yang di jadikan bahan candaan.

Ketika berbicara tentang body shaming, apa yang ada di pikiran kita? Merasa lebih baikkah? Atau merasa lebih cantik? “Kamu kok hitam banget seeh…” atau “Hidung kamu kemana?” bisa juga “Gak ada yang lain apa, pacar kamu jelek amat.



Shaming itu artinya malu, menjurus kepada perasaan malu, bersalah, ketidakpantasan, kekurangan atau kondisi yang kurang baik. Perlakukan ini biasa kita lakukan secara spontan, dengan cara verbal yang tertuju pada mental seseorang. Kekurangan seseorang kita jadikan sebagai bahan lelucon, dan harus meraka terima dengan pahit sebagai korban akibat kejahatan lidah kita. Itukah guyonan?!

Kekerasan Verbal

Kekerasan ini adalah bentuk tindakan dimana seseorang melakukan penghinaan menjurus kepada bentuk fisik, seperti: warna atau ukuran tubuh orang lain. Dan merupakan aksi perundungan atau bullying melalui komentar negatif. Biasanya secara spontan. Orang terdekat bisa menjadi korban, bisa saja teman, keluarga bahkan pasangan. Bisa di lakukan di mana dan kapan saja.

Sebenarnya, kekerasan verbal memiliki beberapa varian, di antaranya: single, body shaming, gender, age dan color shaming serta public shaming.



Habit dari ‘Body Shaming’ itu sendiri akan terus terjadi selama kita sebagai mahluk sosial menerapkan konsep-konsep yang mengagungkan keindahan dalam bentuk wujud semata. Sama halnya cantik yang di cirikan pada bentuk tertentu.

  Kepribadian Introvert dalam Keramaian

Keindahan rupa dideskripsikan melalui: perempuan cantik memiliki kulit yang berwarna putih, tinggi, langsing, memiliki hidung yang mancung, rambut panjang dan lurus, serta definisi lainnya sebagai gambaran dari wujud keindahan.

Karena penerapan strandar cantik sedemikian rupa, banyak dari para korban melakukan upaya memperbaiki dan tidak menghiraukan resiko yang terjadi, termasuk gangguan kesehatan dan mental. Body Shaming itu memiliki perwujudan yang beraneka ragam. Dari sindiran hingga kritik pedas, seperti sambal dari level 1 sampai dengan level 100.

Akibat Yang Dirasakan

Bagaimana cara menghentikan tindakan tersebut? Apa yang harus kita lakukan?

Body Sahming merupakan tindakan yang tidak memenuhi standar akidah akhlak yang baik. Pelaku yang melakukan body shaming, mungkin tidak sadar atau tidak paham dengan baik bahwa yang ia lakukan berdampak pada mental korbannya.

Ketika seseorang merasa tidak puas karena bentuk tubuhnya, boleh jadi kualitas hidupnya rendah. Bisa saja mengganggu pola makan si korban. Yang awalnya makan dengan secukupnya, menjadi lebih banyak karena dicap terlalu kurus.

Bisa saja karena perkataan kita, mereka secara tidak langsung menjadi depresi dan mendapatkan serangan kecemasan alias panik. Korban yang awalnya baik menjadi tidak baik, yang awalnya percaya diri menjadi minder.

Bagaimana Cara Menghentikannya

Body Shaming itu pasti merugikan banyak orang. Dan kita sebagai masyarakat yang kental akan budaya ketimuran harus menghentikan kebiasaan buruk ini. Lalu bagaimana cara menghentikannya? Apa yang harus kita lakukan?

Cara yang paling ampuh dalam menghadapi keburukan dari mulut jahat kita adalah pola pikir. Jangan pernah menjadi hakim di dunia, atas karunia yang di berikan Tuhan. Standar kecantikan yang ada di masyarakat itu sungguh konyol, karena ciri dari ras suatu bangsa berbeda-beda.

  Fenomena Gaijin Sakura dan Bule Rempah



Untuk menghentikan kekerasan verbal ini, dapat di lakukan dengan cara belajar menjadi manusia yang lebih bernilai. Dan mencoba memahami perasaan orang lain. Bercanda yang menyangkut fisik itu tidak baik. Jangan menganggap itu perbuatan yang normal.

Kebiasaan perundungan ini juga bisa kita hentikan dengan cara mencari topik pembicaraan yang lain. Topik pembicaraan yang lebih bermanfaat, tentunya. Dan juga ‘Stop’ mengomentari apa yang ada pada diri orang lain.

Akan lebih baik jika kita mencari kebaikan-kebaikan yang ada pada diri orang lain dan menjadikan hal tersebut sebagai kelebihan yang mereka miliki.

Beberapa Jenis Shaming

Perilaku shaming kerap dianggap sebagai hal yang wajar dalam hubungan sosial. Dan mungkin secara tidak langsung juga kita alami juga di tempat kita bekerja dan besosialisasi. Ada beberapa jenis shaming yang setidaknya kita harus ketahui.

Berikut DyariNotesCom rangkum, beberapa jenis shaming yang menjadi kejahatan verbal, antara lain:

1. Single Shaming

Single shaming ini merupakan perbuatan mengolok-olok seseorang karena orang tersebut jomblo alias belum mempunyai pasangan. Sebagian orang berpendapat bahwa jomlo indentik sebagai orang yang kesepian, menyedihkan dan tidak bahagia.



2. Body Shaming

Ini terkait dengan mengolok-olok tubuh seseorang. Bisa karena orang tersebut jelek, gemuk, pendek dan sebagainya. Walau bermaksud bercanda, tetapi untuk sebagian orang ini merupakan hal yang tidak pantas.

3. Gender Shaming

Ini merupakan perilaku diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Perlakukan yang membedakan antara kelas gender. Seperti: Laki-laki itu tidak boleh menangis. Atau bisa juga perempuan tidak boleh menyatakan cinta terlebih dahulu.

4. Age Shaming

Ini merupakan tindakan perlakukan karena gap dari usia seseorang. Banyak orang yang berpendapat bahwa orang yang lebih tua lebih bisa melakukan sesuatu ketimbang orang muda. Orang yang lebih muda sering tidak di hargai dan di anggap kurang berpengalaman.

  Menghadapi Tetangga Dengan Keunikan Tersendiri



Age shaming di sebut juga ageism. Di lakukan dengan melabeli seseorang yang memiliki usia lebih muda yang di anggap lebih energi, lebih kreatif tapi memilki pengalaman Nol.

5. Color Shaming

Color shaming merupakan tindakan diskriminasi terhadap warna kulit. Dan di negara kita, hal ini sering juga terjadi. Orang yang berkulit putih di anggap lebih bersih ketimbang orang yang berkulit hitam. Dan orang yang berkulit hitam di aminkan untuk di olok-olok (di ejek), karena ia hitam.

6. Public Shaming

Public shaming itu bisa di artikan menghina seseorang atau mengejek seseorang di tempat umum atau di keramaian. Perlakukan dengan mempermalukan dan mengatakan kesalahan-kesalahan di depan banyak orang. Seperti halnya seorang bos yang mempermalukan bawahan karena sesuatu di depan banyak orang.

Notes

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kita semua di tuntut untuk berpenampilan baik dan menarik. Memilki fisik ideal menjadi impian. Teruslah menjaga diri kita tetap baik, sama baiknya seperti cara kita menggunakan setiap kata-kata.

Kita tidak perlu mengorbankan kesehatan mental untuk memilki tubuh yang sempurna. Tubuh ini untuk diri kita dan bukan menjadi bahan tontonan dan object. Sejelek-jeleknya pergaulan, mereka yang selalu berucap buruk.

Pelaku body shaming harus sadar dan tahu diri bahwa manusia itu memang di ciptakan untuk berbeda satu sama lain, dan tidak ada yang sempurna. Justru perbedaan itulah yang membawa keindahan dan menjadikannya sempurna. Zebra takkan sempurna jika hanya putih. Putih, sawo matang, kuning langsat, mancung, pesek, … Semua punya keindahannya tersendiri. Tuhan takkan keliru memberikan rupa dan bentuk pada makhluk ciptaan-Nya.

Salam DyariNotesCom


Posted in lifestyle

More Options

Tinggalkan Balasan