Menu Tutup

Quiet Quitting, Work Life Balance Versi Kekinian

Quiet Quitting, Work Life Balance Versi Kekinian

Quiet Quitting belakangan ramai diperbincangkan. Fenomena ini dianggap sebagai perlawanan terhadap Hustle Culture alias budak kerja yang banyak terjadi di kota-kota besar. Quiet Quitting hanya fokus kepada menciptakan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan yang mengutamakan kesehatan secara fisik maupun emosional. Quiet quitting merupakan versi kekinian dari Work Life Balance bagi profesional muda, seperti kamu.

Banyak orang terjerumus dalam kultur dan budaya overwork (bekerja terlalu banyak), bahkan terkadang sampai mewajarkan bekerja tanpa dibayar (unpaid labour) untuk sebagian orang.

Banyak juga profesional muda ingin berkarir secara jelas, melangkah perlahan. Bukan berkutat dengan kontrak kerja yang tidak pasti. Melakukan lembur dan bekerja habis-habisan demi mengamankan promosi dan bonus. Dan itu pun, belum cukup.

Fenomena Kerja

Quiet quitting bisa kita artikan sebagai suatu tindakan dalam melakukan pekerjaan secukupnya. Hal tersebut semata-mata hanya sesuai dengan job desk dari atasan. Dan itu, tidak lebih dan tidak pula kurang.

Kita tetap saja ngantor on time dan menyelesaikan tugas yang di berikan. Akan tetapi membatasi atau minimalisasi diri dari komitmen berlebihan lainnya. Termasuk kemungkinan untuk lembur, No Extra Time. Apa lagi memeriksa ulang pekerjaan.

Fenomena ini di anggap sebagai perlawanan atas penindasan dan pola kerja berlebihan dari Hustle Culture. “Kita yang kerja, orang lain yang dapat bonus dan sanjungan!”.

Mewujudkan work life balance

Fenomena Quiet Quitting, awal mulanya muncul karena perubahan pola pikir. Pola pikir kita sebagai pekerja, mulai bekerja. Selama pandemi kemarin, menjadi Berubah!. Tanpa kita sadari, pandemi mengubah pola kerja dan budaya tempat kerja. Sistem Work From Home (WFH), misalnya.

  Kemampuan Untuk Menjadi Bahagia

Banyak pekerja merasa tidak mendapatkan pengakuan dan kompensasi akan kinerja. Padahal kita sudah bekerja ekstra lebih. Hal ini memunculkan sikap keras dan tekad untuk berani menolak.

Quiet quitting juga di sebabkan karena rasa putus asa yang mendalam. Pendapatan yang tidak sesuai dan tingginya biaya hidup. Quiet quitting timbul akibat jam kerja yang tidak teratur dan berantakan serta minimnya apresiasi.

Kita cukup sadar, kita hidup dalam keadaan yang kurang mengenakkan. Dan opsi yang paling realistis dan masuk akal bagi kita pekerja, tidak bisa berhenti begitu saja dari pekerjaan meskipun sudah sangat membosankan. Tidak ada pilihan lain. Yang penting ada pemasukan. Dari pada nganggur dan tidak ada pekerjaan.

Di sisi lain kita merasa lebih berdaya untuk mengendalikan waktu kerja dan kehidupan pribadi. Alih-alih kita bisa mencari sampingan sebagai penulis artikel di DyariNotesCom, misalnya. Wajar saja, karena kita di tuntut untuk memenuhi kuota kebutuhan bulanan.

Dampak buruk

Quiet Quitting, secara langsung tidak sepenuhnya memberikan pengaruh baik, khususnya dalam hal pencapaian target kerja perusahaan, secara profesional. Fenomena ini dapat menyebabkan konflik antar karyawan. Beberapa karyawan akan merasa mereka tidak memikul beban kerja sesuai dengan tanggung jawab.

Rekomendasi dan kenaikan gaji di berikan untuk mereka yang memiliki etos kerja dan prestasi yang tinggi. Dan itu tidak akan pernah terjadi pada kinerja minimum dari prilaku Quiet Quitting.

Terkadang Quiet quitting mematikan rasa dan emosi dalam diri. Rasa memiliki kebanggaan dari prestasi dan kontribusi yang kita buat dalam pekerjaan. Motivasi, minimnya keterampilan, fleksibilitas yang kurang, dan buruknya kerjasama tim menjadi dalangnya.

  Social Engineering Semakin Canggih

Dampak Baik

Bekerja lebih sedikit, sangat baik untuk kesehatan. Kesehatan mental tentunya. Dalam Work-Life Balance (keseimbangan kerja dan hidup) sangat berkaitan dengan kesehatan mental di berbagai jenis pekerjaan.

DyariNotesCom menemukan bahwa, banyak dari kita merasa memiliki work-life balance yang buruk. Quiet quitting bisa menjadi upaya untuk mengembalikan keseimbangan yang hilang, ketika pekerjaan mulai mendominasi kehidupan pribadi.

Ini merupakan cara yang baik, untuk membantu kita agar tidak beranggapan bahwa diri kita bernilai bukan di tentukan oleh karir dan pekerjaan. Ketika kita hanya memiliki pekerjaan, jangan pernah menganggap nilai kita sesuai dengan pekerjaan yang kita lakukan.

Jikapun kita gagal dalam pekerjaan, seperti: tidak ada promosi atau penghargaan misalnya, jangan pernah menginternalisasi hal tersebut menjadi kegagalan personal. Jika itu terjadi,  dapat meningkatkan kecemasan dan rasa khawatir.

Bahaya

Kondisi kerja yang buruk atau bertambah buruk, bisa saja menyebabkan burnout. Seperti: Perasaan lelah, terkuras, sinis, dan kinerja yang memburuk. Burnout merupakan dampak yang kita rasakan jika kita bekerja terlalu banyak. Dan dapat menurunkan kesehatan fisik, emosional, dan mental.

Burnout sungguh merugikan bagi kita secara pribadi maupun perusahaan tempat kita bekerja. Ketika seseorang mengalami burnout, ujung-ujungnya mengambil cuti atau bekerja lebih pasif dan minim dari performa seperti biasanya.

Quiet quitting sebenarnya dapat menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan personal, sehingga dapat mencegah terjadinya burnout.

Mereka yang Menanggapi

Biasanya, orang dengan quiet quitting berpikir dengan bekerja sesuai tugas. Dan tidak ada yang salah dengan itu. Kamu boleh saja melakukannya. Tapi bagi pemilik kerja, hal tersebut sungguh merugikan. Tidak ada inovasi, motivasi dan prestasi. Kemunduran usaha.

  Kebiasaan Ini Ditinggalkan Setelah Remaja dan Dewasa

Faktanya, seorang pekerja dengan perilaku seperti quiet quitting, pastinya akan berada di urutan teratas daftar Pemutusan Hubungan Kerja atau pemecatan. Dan akan banyak pengangguran terjadi.

Notes

Bagi sebagian orang, ‘Quiet Quitting’ berarti menetapkan batasan dan tidak melakukan pekerjaan tambahan. Bagi kita menterjemahkannya dengan tidak ambisius. Lainnya lagi mengartikan meninggalkan pekerjaan. Apa pun itu bolehlah. Secara, dalam penerapannya dapat berbeda untuk setiap orang.

Saat ini, Quiet quitting merupakan salah satu cara bagi kita sebagai pekerja, untuk bertahan di perusahaan. Perusahaan yang melihat kita sebagai roda penggerak dalam mesin. Sementara kita belum menemukan pekerjaan baru atau pekerjaan yang lebih cocok.

Apa yang dulunya di anggap tindakan pasif agresif dari work-life balance sekarang menjadi permintaan yang sangat tegas untuk seorang dengan prilaku Quiet quitting.  Dan baiknya, prilaku ini juga melahirkan work life balance. Yaitu menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dan kerja untuk mencapai kemantapan fisik dan emosi dan hanya bekerja sesuai biaya atau ongkos yang kita dapat.

Quiet quitting bukan seperti menghindari pekerjaan, namun menekankan kepada kita, agar kita tidak lupa dengan kehidupan di luar sana. Kehidupan yang luas dan indah. Kehidupan yang tidak sekecil meja kerja. Work life balance with Us.

Salam DyariNotesCom

Posted in lifestyle

More Options

2 Comments

Tinggalkan Balasan