Kecepatan Mengambil Tindakan

Banyak hal yang terjadi di seantero bumi Nusantara. Banyak kejadian terjadi di sini dan di sana. Dari pandemi hingga konflik politik merajalela.

Apa yang terjadi?

Bukan hal atau persoalan yang membuat perselisihan. Terkadang masalah dibuat rumit oleh pencari berita agar laku di pasaran.

Media sekarang merajalela mencari muka di tanah sendiri. Mencoba mencari dosa si pembaca yang punya ruang untuk berfikir bahwa tanah nya tak aman dan tak nyaman dan saling membully.

Apa yang terjadi? Penulis mungkin tak mengerti arti masalah … Penulis hanya membuang sampah dari fikiran di warung kopi bukan untuk mencari muka. Tetapi hanya punya hobi seperti memainkan gitar ala Ingwie dengan nada do, re dan mi.

 

Do re mi 1000x


Kapan yaa kita merasa aman di negeri sendiri. Mungkin nggak yaa ibu Pertiwi membalas kasih?

Mata merah bermunculan dengan masker melintang dimuka, seakan melihat di sebelah seperti pintu neraka yang di buka oleh penelitian biologi yang bermasalah.

  Merdeka!

Jika kita rasa, mengapa yaa keluar rumah menakutkan seperti kita berjalan di malam tanpa ada penerangan…

Boleh jadi iman kita terhadap penjemputan sudah berkurang. Atau masih sayang dunia yang indah dengan senyuman dosa.

Penulis khawatir dengan generasi setelahnya. Cuma karena beda nama dari kebijakan yang sama, merasa pantas jadi Khalifah. Coba kita ingat penyanyi fenomenal. Sebut saja, jangan malu … Bukan yang itu, yang itu tuh.

Syair-syair yang indah di buat dan dinyanyikan dengan kejujuran sampai sangkin jujurnya pantat nya pun di videokan. Viral di media sosial, Google, Youtube bahkan Facebook. Tetapi mengapa dia di tinggalkan penggemarnya?

Harusnya penggemar senang. Harusnya penggemar bahagia melihat kasa tanpa busana seperti wakil rakyat pemberi likes.

 

Cepat mengambil tindakan


Mantapnya nasi Padang yang begitu enak jika di makan. Cuci tangan sebelum makan biar bersih. Minum Air hangat untuk mempertahankan diri.

Cepat mengambil tindakan bukan berarti asal-asalan. Tangani sesuai kebutuhan. Belanja lainnya lebih dulu ditahan. Yang penting bisa makan. Rakyat biar tidak kelaparan.

  Hikmah di Balik Musibah

Boro-boro tandatangan proyek milyaran, ongkos taxi saja pinjam sama teman. Memandang gedung bak ilalang dan bertanya bisa kah ku gadaikan?

Ku lihat pria tua renta batuk ugh, ugh, ugh… terbungkuk menunggu kereta lintasan. Rasa takut ku berlari menghindar seolah dia sedang termakan. Oleh gejolak perdagangan hasil kajian para peneliti yang sedang jual obat seperti jual kacang.

Tapi aneh sungguh aneh. Orang seakan biasa saja. Atau diriku yang sedang tidak bersahaja. Naik kereta ku berjalan mencari sesuatu untuk bertahan.

Bicara soal kecepatan ambil keputusan, menurut kalian pantas di beri nilai berapa sang pemberi kebijakan? Beri nilai tiga takut di remuk, beri nilai tujuh takut kebesaran dan dibilang kebangetan.

Banyak orang sekarang lebih percaya dagangan orang ketimbang dagangan sendiri. Atau takut karena peneliti tak percaya diri.

Sekarang, orang lebih waspada, entah takut atau tak tahu kenapa. Pakai jaket seperti di Eropa. Masker pun ikut jadi bagian kita bergaya. Haha …

Kebebasan sejati adalah kebebasan dalam berfikir. Bukan bertindak sebebas bebasnya. Karena pikiran tak ada penjaranya.

  Surat untuk Penimbun Barang (Hoarder)

 

Penulis mengucapkan selamat bagi orang yang bersabar. Bersabar membaca apa arti dari sebuah cerita.

 

Salam, Dyarinotes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Dyarinotes is protected
%d bloggers like this: