Kita semua di sini sudah mendengar tentang wacana “Gentengisasi” yang belakangan dilemparkan ke ruang publik. Sebuah ajakan atau ‘mungkin’ boleh jadi instruksi halus untuk menanggalkan seng-seng berkarat yang selama ini menudungi jutaan rumah rakyat, lalu menggantinya dengan deretan genteng yang rapi dan seragam. Gentengisasi, yakin?
Namun, di balik semangat memoles wajah bangsa ini, ada nada yang terasa “gak sreg” di hati. Secara kebatinan itu terlihat jelas. Seperti sedang memoles jerawat di saat tubuh kita sedang demam tinggi?
Menurut kami, ini adalah bentuk “cosmetic policy” yang luar biasa ambisius tapi kehilangan urgensi. Alih-alih mengobati penyakit di dalam tubuh, kita justru sibuk memilih warna bedak agar terlihat glowing di depan kamera drone dan para menteri senyum-senyum doang.
Gentengisasi, yakin?
Ada Apa Sih Sebenarnya?
Tolonglah. Lihat bangsa ini secara keseluruhan dari perspektif yang lebih luas. Dari atas hingga bawah, dari samping kiri, kanan, hingga ke jantungnya. Semua sektor sebenarnya sedang berteriak minta diperbaiki. Help! Help! Tapi, respons yang muncul justru terasa sangat jauh dari bara api. Berbicara dikira menghina.
“Kapan matang nya kalo begini” 😁
Masalah atap rumah warga, sampai harus keluar dari lisan kepala negara, seolah-olah negeri ini sudah tidak punya daftar masalah lain yang lebih mengancam nyawa. Sejak kapan urusan estetik genteng naik kasta jadi isu nasional yang paling mendesak?
Kita merindukan energi yang sama saat masa kampanye dulu, Paman.
Ingat tidak, bagaimana janji-janji manis tentang kedaulatan pangan, lapangan kerja yang melimpah, hingga birokrasi yang antiribet diteriakkan dengan urat leher yang tegang? Seharusnya energi “berpikir keras” itu tetap menyala saat sudah menjabat.
Bukannya malah asyik mengurusi hal-hal yang sifatnya seremonial dan visual, doang. Memperbaiki tampilan luar memang penting untuk citra, tapi kalau isinya masih berantakan, itu namanya melakukan gimmick di atas “tangisan” realitas.
Serius Paman! Dunia sedang tidak baik-baik saja.
Kita sedang menghadapi badai ekonomi global dan tantangan teknologi yang melompat setiap detiknya. Kalau fokus kita masih terjebak pada urusan seng vs genteng, kita bakal jadi bahan tertawaan sejarah. Dan itu tercatat, tidak bisa di edit oleh menteri kebudayaan. ☺️
Jika kita mau menunduk sedikit saja ke bawah atap-atap itu, ada tumpukan masalah yang jauh lebih “genting” dan butuh solusi instan sebelum semuanya benar-benar roboh. Demi menolak lupa, mari kita dengar apa kata mereka (rakyat), atas ini.
Gentengisasi, yakin?
Kejadian “Genting” di Dalam Negeri yang (Menolak) Lupa
Sebelum sibuk memanjat atap untuk mengganti seng, ada baiknya kita sadar bahwa rumah besar bernama konoha ini sedang mengalami kebocoran di banyak sudut yang justru lebih urgen.
Boleh, memoles tampilan luar memang menggoda karena hasilnya instan terlihat di media sosial, tapi mari kita jujur pada diri sendiri: apakah estetika atap bisa mengenyangkan perut yang lapar atau menjamin masa depan anak cucu?
Jangan sampai kita terjebak, di mana kita merasa semua baik-baik saja hanya karena melihat gedung-gedung tinggi di pusat kota atau atap-atap yang mulai seragam warnanya. Di bawah atap-atap itu, ada nyawa dan nasib manusia yang sedang dipertaruhkan.
Adalah “kegentingan” yang sebenarnya butuh atensi secepat kilat:
1. Ekonomi & Kesejahteraan: Fenomena Middle Income Trap
Daya beli masyarakat kita sedang tidak dalam kondisi prima.
Alih-alih naik kelas, banyak masyarakat kelas menengah yang justru “turun kasta” karena harga kebutuhan pokok yang ugal-ugalan sementara pendapatan segitu-gitu saja. Fenomena sandwich generation makin menjepit, di mana anak muda harus menanggung beban ekonomi orang tua sekaligus anak mereka tanpa jaminan dana pensiun yang jelas.
Lalu, bagaimana dengan:
2. Kesehatan & Sosial: Darurat Stunting & Mental Health
Kita bicara tentang Indonesia Emas 2045, lho Paman, tapi angka stunting masih menghantui pertumbuhan anak-anak di pelosok. Belum lagi urusan kesehatan mental yang makin hari makin banyak memakan korban di kalangan Gen muda: karena tekanan hidup dan kurangnya fasilitas kesehatan yang terjangkau.
Genteng baru tidak akan bisa menyembuhkan depresi atau memperbaiki gizi buruk. MBG? Coba cek paman “lihat dengan benar”. Jika Paman lihat pasti kecewa. “Negara kok begini yaaa”.
3. Pendidikan & SDM: Krisis Relevansi Lulusan
Banyak lulusan sarjana kita yang akhirnya terpaksa jadi driver ojol karena skill yang dipelajari di kampus tidak nyambung dengan kebutuhan industri. Maaf cakap: Bodoh! Gak bisa apa-apa! Diberi nasehat malah marah!
Kita butuh revolusi kurikulum yang benar-benar adaptif dengan AI dan otomatisasi, bukan sekadar renovasi gedung sekolah yang ujung-ujungnya dikorupsi juga.
4. Lingkungan & Infrastruktur: Climate Change Bukan Isapan Jempol
Banjir rob di pesisir utara Jawa sudah menenggelamkan ribuan rumah. Mereka menderita. Mengganti seng dengan genteng di wilayah yang mau tenggelam itu jelas sebuah kesia-siaan yang mengecewakan. Kita butuh infrastruktur mitigasi bencana yang canggih, bukan sekadar pemandangan atap yang rapi dari udara.
Jadi: urusan aluminium, seng atau sejenisnya, yaaa bicara dibawah meja sajalah.
5. Hukum: Keadilan yang Tajam ke Bawah
Istilah no viral no justice masih menjadi kenyataan pahit.
Orang lebih percaya pada kekuatan netizen daripada proses hukum. Jika sistem hukum kita masih bisa “dibeli” atau dikendalikan oleh kekuatan “uang” misalnya, maka sebagus apa pun atap rumah rakyat, mereka tetap tidak akan merasa aman di dalamnya.
6. Politik & Birokrasi: Dinasti Fatigue
Masyarakat mulai merasa lelah dengan drama politik yang isinya hanya perputaran kekuasaan di lingkaran itu-itu saja. Dia lagi dia lagi. Muda tapi gak bisa berinovasi, buat apa! Birokrasi kita juga masih sering terjebak dalam budaya “kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah”.
Ini adalah hambatan besar bagi inovasi bangsa.
7. Keamanan & Teknologi: Kebocoran Data Nasional
Di saat negara lain bicara tentang kedaulatan digital, data pribadi kita justru seringkali “diobral”. Keamanan siber kita masih sangat rapuh. Mengurusi genteng saat data negara sedang dipreteli peretas itu ibarat ganti gorden saat pintu rumah sudah dicongkel maling.
8. Sektor Pangan: Kedaulatan Harga Di Tingkat Akar Rumput
Kita sering kali terjebak dalam angka-angka statistik makro dan pemolesan citra, namun lupa bahwa realitas paling jujur ada di tangan ibu rumah tangga yang uang belanjanya makin tidak berdaya. Bagi negara agraris, lho: urusan beras, bawang, hingga cabai saja harganya masih sangat tinggi.
Kapan ya harga kebutuhan pokok bisa turun agar rakyat kecil tidak perlu makan sepiring berdua karena harus berhemat? Kegagalan dalam menciptakan harga murah yang pro-rakyat ini adalah lubang besar yang tidak bisa ditutupi hanya dengan mengganti seng rumah menjadi genteng yang rapi.
9. Sektor Transportasi: Transportasi Publik yang Belum Merata
Kemacetan di kota-kota besar bukan lagi sekadar gangguan, tapi sudah jadi penghambat produktivitas nasional. Investasi di transportasi publik yang terintegrasi jauh lebih mendesak daripada sekadar urusan memoles tampilan pemukiman agar terlihat rapi di foto satelit.
Gentengisasi, yakin?
Memperbaiki “Wajah” Dengan Cara Lama
Kalau diperhatikan, gaya kepemimpinan di negeri Konoha ini seringkali terjebak pada pola lama yang itu-itu saja. Cara memperbaiki “wajah” bangsa selalu fokus pada hal-hal yang sifatnya fisik dan terlihat mata, tapi abai pada sistem yang sifatnya fundamental.
Ini adalah gaya lama peninggalan era kolonial yang diteruskan turun-temurun: kalau mau terlihat maju, bangun saja mercusuar atau rapikan cat pagar. Inovasi dalam problem solving terasa sangat minim dan tidak relevan dengan kecepatan zaman.
Sepertinya, generasi pemimpin kita memang “mentok” pikirannya di urusan proyek fisik. Mungkin karena proyek fisik itu paling mudah diklaim sebagai keberhasilan lewat foto sebelum dan sesudah.
Padahal, masalah bangsa yang kompleks seperti korupsi sistemik atau kualitas SDM tidak bisa diselesaikan dengan bagi-bagi bahan bangunan atau sekadar “Gentengisasi”. Cara-cara begini terasa sangat outdated dan tidak menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya. Kita melihat bangsa lain sudah bicara tentang kolonisasi atau pengembangan energi fusi nuklir, sementara di sini kita masih sibuk berdebat soal material atap rumah rakyat.
Kurangnya imajinasi untuk menciptakan lompatan besar membuat kita terus berputar-putar di masalah yang sama selama puluhan tahun. Mentalitas “yang penting kelihatan bagus” ini sangat berbahaya karena menciptakan ilusi kemajuan di atas fondasi yang keropos.
Mungkin memang sudah saatnya ada regenerasi pemikir baru. Kita butuh solusi yang lebih cerdas, lebih digital, dan lebih manusiawi.
Memperbaiki nasib bangsa bukan dengan mengganti gentengnya, tapi dengan memastikan orang-orang yang tinggal di bawahnya bisa tidur nyenyak karena punya pekerjaan, punya jaminan kesehatan, dan punya kepastian hukum. Kalau cuma mau bikin pemandangan bagus, mending sewa desainer saja.
Gentengisasi, yakin?
Atap Megah, Fondasi Goyah
Wacana proyek Gentengisasi ini hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah jika tidak dibarengi dengan perbaikan kualitas hidup manusia di dalamnya. Atap yang seragam dan megah mungkin akan terlihat cantik di layar televisi atau presentasi internasional, namun itu semua tidak ada artinya jika fondasi ekonomi dan sosial kita masih goyah diterpa badai.
Jangan sampai kita menjadi bangsa yang bangga pada bungkusnya, namun membiarkan isinya membusuk perlahan karena diabaikan.
Prioritas adalah kunci dari sebuah kepemimpinan yang matang. Mari kita berhenti sejenak dari obsesi visual dan mulai fokus pada hal-hal yang benar-benar menentukan keberlangsungan hidup orang banyak. Ingatlah, rumah yang baik bukan dinilai dari mahalnya genteng yang terpasang, tapi dari seberapa bernilai nya orang-orang yang berlindung di dalamnya.
Karena-nya: Percuma atap kinclong kalau di dalam rumah masih makan nasi aking, itu namanya gaya elit ekonomi sulit.
Salam Dyarinotescom.

