Financial Nihilism: Cara Elegan Menjadi Kere Demi Kewarasan 😂

You are currently viewing Financial Nihilism: Cara Elegan Menjadi Kere Demi Kewarasan 😂

Kadang kala hidup itu misteri. Dan, yang terjaga sisi misteriusnya “selain jodoh dan maut” yaitu masa depan. Yups! Masa depan itu kayak pasangan lagi ngambek gak jelas maunya apa? Dideketin susah banget karena syaratnya kudu mapan, dipikirin bikin pusing karena inflasi, mau diseriusin malah kita yang jadi sasaran empuk sistem ekonomi. Mau kasih kado biar dianggap layak, eh jangankan buat segenggam berlian, buat beli paket data saja kudu nunggu promo. Zip! Keluar deh jurus Financial Nihilism. 😂

Financial Nihilism? Dari judulnya saja bikin ngakak satu tim.

Ya iya! Alih-alih stres sampai tipes masuk UGD demi mengejar angka yang naiknya lebih lambat dari siput pingsan, akhirnya sadar bahwa “rencana masa depan” sangat-sangat gak bisa ditebak.

Maksudnya apa neeh?

Sedikit cerita, Financial Nihilism itu sebuah seni berhenti peduli pada mimpi-mimpi finansial yang mustahil, demi menjaga kewarasan yang tinggal sisa-sisa. Toh, buat apa punya simpanan di hari tua kalau di hari muda saja, kita sudah lupa bagaimana cara tertawa?

Dalem banget gak sih ini.

 

Matematika Ghaib, Semua Demi Kewarasan

Menurut keyakinan kami “mengadopsi cara Pandji“, Financial Nihilism adalah satu-satunya jawaban paling logis.

Bagaimana tidak, kamu tahukan harga rumah naik 15 persen per tahun, sedangkan kenaikan gaji sekitar 5 persen pertahun (itu juga kalau bosnya orang bener). Kalau kita pakai logika matematika SD, sampai rambut berubah warna jadi pelangi pun, garis finish itu gak akan pernah terkejar.

Kita terjebak dalam simulasi ekonomi yang dirancang agar kita terus berlari di atas roda hamster, sementara pemilik hamsternya lagi asyik liburan ke Mars. Kondisi ini menciptakan sebuah fenomena mental yang unik. Kita mulai melihat saldo ATM bukan lagi sebagai bekal masa tua, tapi sebagai biaya langganan “menolak gila”.

Kenapa harus pusing memikirkan dana pensiun di usia 60, kalau untuk bertahan hidup sampai hari Selasa depan saja sudah butuh mukjizat? 😔 “Haduh jadi gak enak saya tulis ini” Akhirnya, banyak dari kita yang memilih jalur ninja: berhenti berekspektasi tinggi pada sistem perbankan dan mulai berinvestasi pada kebahagiaan yang lebih masuk akal.

Fenomena ini bukan berarti kita menyerah sepenuhnya pada kemiskinan “jadi wong kere”, tapi lebih kepada bentuk protes eksistensial. Kita sedang melakukan renegosiasi dengan nasib.

Daripada mati-matian menabung untuk membeli tanah yang harganya naik lebih cepat daripada kecepatan cahaya, lebih baik kita mengalokasikan sumber daya yang terbatas ini untuk hal-hal yang lebih nyata di depan mata. Nah, agar kamu gak salah arah dalam menempuh jalan sunyi ini, kami sudah merangkum beberapa strategi “pemberontakan” yang bisa kamu coba.

Gratis No. bayar, No. debat!

 

7 The Nihilistic Way: Wajib Tahu, Jangan Ngeyel Dulu

Memasuki dunia Financial Nihilism itu butuh mental baja dan sedikit muka tembok (rasa tidak tahu malu). Kita harus paham bahwa standar kesuksesan yang selama ini dijejalkan lewat iklan asuransi dan seminar motivasi “para penipu itu” hanyalah konstruksi sosial yang bikin kantong bolong.

Menjadi seorang nihilis finansial berarti kamu berani berkata “tidak” pada gaya hidup konvensional yang menuntut kamu punya aset di mana-mana. Jangan salah sangka, cara-cara ini bukan untuk membuat kamu jadi gelandangan 😂 “sori bro”, melainkan agar kamu tetap punya “warna” di tengah sistem ekonomi yang semakin abu-abu.

Ini jalan praktis buat kamu yang sudah lelah dengan janji manis investasi bodong dan ingin menikmati hidup tanpa beban moral karena saldo yang selalu kritis. Simak baik-baik, karena ini adalah solusi paling jujur yang pernah ada.

 

1. Investasi Pengalaman (Baca: Healing Tanpa Ampun)

Daripada uangnya habis ditelan inflasi di tabungan, mending dipakai buat liat dunia. Konsepnya sederhana: kalau nanti kita miskin, setidaknya kita punya banyak stok foto bagus di galeri buat diceritain ke anak cucu (kalau sanggup punya anak).

Kita percaya bahwa memori saat backpacker-an lebih berharga daripada angka di buku tabungan yang bahkan gak bisa buat beli cendol di masa depan.

 

2. Strategi “Doom Spending”

Ini adalah seni menghabiskan uang karena merasa masa depan ekonomi sudah suram. Kita beli barang yang kita suka sekarang, karena besok harganya pasti sudah gak ngotak. Istilahnya, mumpung masih bisa digesek, ya sikat saja. Setidaknya kalau nanti ekonomi benar-benar runtuh, kita punya koleksi action figure atau sepatu keren buat dipandangin sambil makan promag.

Wakakakakakkk….

 

3. Dana Darurat? Dana “Daripada” Saja!

Lupakan aturan saklek dana darurat 6 kali gaji.

Dalam aliran ini, dana darurat berubah jadi dana “daripada”. Daripada uangnya nganggur dan bikin kepikiran mau beli saham yang ujung-ujungnya delisting, mending dipakai buat kursus yang “bisa jadi” gak relevan sama kerjaan tapi bikin hati senang.

Belajar merajut atau main catur misalnya, siapa tahu nanti di masa post-apocalypse keahlian ini lebih laku daripada gelar manajer.

 

4. Cicilan Ego (Lifestyle Subscription)

(Optional) Kita sadar gak bakal mampu beli mobil listrik secara tunai. Jadi, kita “menyewa” gaya hidup lewat cicilan yang sebenarnya adalah biaya sewa kebahagiaan. Membayar cicilan barang mewah bukan soal kepemilikan, tapi soal akses untuk merasa “setara” dengan mereka yang beruntung lahir kaya.

Ego juga butuh makan, meski menunya cuma mi instan di akhir bulan.

 

5. Arisan Kewarasan

Kumpul-kumpul sama teman bukan buat pamer pencapaian, tapi buat saling menguatkan kalau kita semua sama-sama nggak punya masa depan finansial yang jelas. Di sini, kita saling berbagi info promo dan tempat makan yang porsinya kuli tapi harganya mahasiswa.

Hubungan sosial adalah aset paling likuid saat dompet sedang kering kerontang.

 

6. Menghindari “Hustle Culture” yang Toxic

Nihilis sejati tahu kapan harus berhenti kerja lembur.

Buat apa kerja bagai “budak company” kalau gajinya cuma cukup buat bayar obat karena sakit akibat kerja bagai kuda? Kita memilih untuk bekerja secukupnya, yang penting gak dipecat, dan punya waktu luang untuk bengong atau sekadar menikmati senja sambil meratapi harga bensin.

 

7. Manifestasi Jalur Langit (Pasrah Total)

Poin terakhir yang gak boleh didebat itu: pasrah.

Setelah semua usaha dilakukan dan tetap saja kere, ya sudah, mungkin jalur kita memang menjadi saksi sejarah saja. Toh paling tidak kita tidak banyak dihisab, nantinya. Kita berhenti memantau grafik saham dan mulai memantau jadwal sholat jumat yang ada nasi berkat.

Siapa tahu keberuntungan datang dari arah yang tidak disangka-sangka, kan?

 

Nabung Kagak, Gaya Iya

Menjadi miskin di sini bukan karena malas, tapi karena sadar kalau nabung 100 ribu per hari gak akan jadi rumah di Menteng, tapi kalau dipakai ngopi, langsung jadi mood booster buat kerja, mencari inspirasi, dan boleh jadi membawa kita pada circle yang menguntungkan.

Ada logika yang sering dilupakan orang:

Kata mamang: Koneksi seringkali lahir dari meja kopi, bukan dari saldo tabungan yang mengendap kaku. Saat kita berani “bergaya” sedikit, pintu-pintu peluang terkadang terbuka secara ajaib hanya karena kita terlihat meyakinkan.

Lagipula, sistem ekonomi saat ini memang agak kurang ajar.

Kita disuruh hemat, tapi harga kebutuhan pokok naik kayak roket. Kita disuruh investasi, tapi pasarnya penuh dengan “paus” yang siap memangsa recehan kita. Jadi, kalau sesekali kita memilih untuk memanjakan diri dengan barang yang sebenarnya gak butuh-butuh amat, itu adalah bentuk proteksi diri agar mental tidak breakdown.

Gaya itu penting, karena penampilan adalah benteng terakhir pertahanan harga diri saat dompet sudah mengibarkan bendera putih. Dan, kami melihat ini sebagai bentuk adaptasi. Manusia itu makhluk yang fleksibel. Jika masa depan terlihat terlalu gelap untuk direncanakan, maka hidup di saat ini ( living in the moment ) adalah strategi bertahan hidup yang paling masuk akal.

Kita gak lagi mengejar angka yang mustahil, tapi mengejar kualitas hidup yang bisa kita rasakan hari ini juga. Hidup ini cuma sekali, masa isinya cuma buat mikirin cara memperkaya bank lewat bunga cicilan?

Biarkanlah bankir-bankir itu mati meninggalkan hutang …

 

Financial Nihilism: Pemberontakan Halus Terhadap Sistem yang Eror

FunFact-Nya: Financial Nihilism itu menyerupai sebuah pelukan hangat bagi diri sendiri yang sudah lelah dengan tuntutan dunia.

Ini bukan tentang menjadi tidak bertanggung jawab, melainkan tentang memprioritaskan kesehatan mental di atas tumpukan aset yang belum tentu bisa kita nikmati. Kita memilih untuk jujur pada keadaan daripada pura-pura sukses tapi batin tersiksa.

Dunia mungkin sedang kacau, tapi setidaknya kita bisa memilih untuk tetap waras dengan cara kita sendiri. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri soal urusan duit. Sistemnya memang lagi eror, bukan kamu yang gagal.

Teruslah hidup, teruslah tertawa, dan jangan lupa untuk sesekali bersyukur meski saldo ATM tinggal sisa-sisa syarat administrasi bank 😂. Ingatlah sebuah pepatah kuno yang baru saja kami karang:

Uang bisa dicari, tapi waktu untuk menjadi bodoh, belajar, dan bahagia itu sangat terbatas. Mending miskin harta tapi kaya cerita pengalaman, daripada kaya raya tapi menipu, korupsi, masuk penjara, dan banyak koleksi struk obat penenang.

 

Salam Dyarinotescom.

 

 

Leave a Reply