Absen Dari: Cara Benar Menjadi Remaja

  • Post author:
  • Post category:Parenting
  • Post last modified:August 31, 2026
  • Reading time:8 mins read
You are currently viewing Absen Dari: Cara Benar Menjadi Remaja

“Anak remaja kumbang metropolitan. Selalu ramai dalam kesepian. Anak remaja pastinya korban kemunafikan. Merasa sepi dalam keramaian.” Yups! Sebuah potret nyata keadaan remaja hari ini. Meski, ah, mungkin dari dulu juga sudah begitu kalee yaa. Namun, jika kita sebagai orang tua terus membiarkan mereka tenggelam dalam ketidaktahuan, apa jadinya masa depan mereka?

Mereka ditarik dan terikat pada pergaulan yang sia-sia.

Tanpa arah, remaja akan mudah digiring oleh gaya pergaulan entah dari mana, hingga melewatkan tahapan penting dalam hidupnya. Seperti tajuk artikel ini: Absen terhadap ‘cara benar menjadi remaja’. Hal yang sebenarnya cukup menggelikan jika dipikir ulang.

Penulis sendiri tentu pernah melewati masa remaja yang penuh gejolak. Ingin selalu didengar, ingin jalannya sendiri, dilarang malah memberontak, diperintah sedikit saja rasanya seperti dijadikan pembantu atau budak.

Ya, begitulah dinamika masa remaja. Jika tidak dibimbing dengan baik dan benar, mereka bukan hanya merusak lingkungan sekitarnya, melainkan menghancurkan diri mereka sendiri.

Cara Benar Menjadi Remaja –

 

Ketika Usia Belasan Menjadi Membingungkan

Hari-hari anak muda zaman sekarang habis tersita oleh guliran layar gawai yang tanpa henti mencekokkan standar pencapaian instan. Algoritma sosmed dengan lihai menggiring mereka pada ilusi standar orang lain. Membuat mereka lupa caranya merawat proses, belajar dengan giat, serta menggali potensi diri yang sebenarnya jauh lebih berharga daripada sekadar viewers atau likes.

Yang tertinggal justru rasa cemas yang dibungkus kepalsuan. di mana arti sukses direduksi semata-mata pada seberapa banyak uang di tangan atau seberapa estetik gaya hidup yang dipamerkan. Mereka melupakan esensi utama dari belajar, mengembangkan bakat, dan menempa diri, lalu memilih berkutik dalam kebanggaan semu ketika memegang uang banyak. Padahal bukan materi instan itu yang menjadi tujuan akhir dari sebuah keberhasilan hidup.

Keresahan inilah yang kini menghantui para ‘Mak-mak pengajian’ di rumah, saat menyaksikan buah hati mereka tersesat dalam ‘kegilaan puberitas’ dan gagal memahami bahwa: keringat dalam belajar itu jauh lebih penting daripada urusan pamer atau percintaan masa muda.

Cus-lah kita bedah lebih terbuka, mengapa circle ini bisa terjadi dan apa yang sebenarnya berkecamuk di kepala mereka.

 

Krisis Identitas di Tengah Maunya Emak

Di satu sisi,

Para orang tua sering kali kebingungan menghadapi anak belasan tahun yang tiba-tiba berubah wujud menjadi alien rumah tangga. Ketiak mereka sudah mulai bau, dong 😂.

Diajak bicara ketus, disuruh sedikit langsung pasang muka masam, tapi kalau di depan teman-temannya senyumnya selebar daun talas. Dan kita yang ngakunya ‘Ortu’ terjebak dalam cemas berlebih.

Takut sang anak salah pergaulan, sementara si anak merasa rumah bagaikan ring tinju tempat kebebasan mereka dikebiri oleh ekspektasi kolot. “Mama itu gak ngerti aku 😔” kata mereka.

Akibatnya,

Terjadilah jurang pemisah komunikasi yang lebar banget, di mana rumah bukan lagi tempat pulang yang hangat, melainkan lokasi wajib absen sebelum mereka kembali hanyut dalam dunia digital masing-masing. Remaja merasa orang tua tidak pernah benar-benar paham tekanan hidup zaman sekarang, sementara orang tua merasa anak-anaknya makin hari makin hilang kendali akibat terlalu banyak menelan mentah-mentah budaya luar.

Kondisi ini menciptakan generasi yang mengalami gray work mental.

Lelah secara emosional tanpa tahu pasti apa yang sedang diperjuangkan, terjebak di antara tuntutan akademik, standar sosial yang toksik, dan kekosongan batin.

Nah, sebelum tersesat di Mall dan makin jauh dalam drama Korea ini, mari melipir sejenak lan melintasi batas negara untuk melihat bagaimana fenomena alienation remaja ini pernah mengguncang belahan dunia lain dalam catatan sejarah masa lalu.

 

Anak Remaja yang Kesepian Tertipu Permainan Dunia

Jauh sebelum era gawai pintar merajai jagat raya, krisis eksistensial remaja ternyata sudah pernah meletus dalam bentuk gerakan sosial yang unik di berbagai belahan dunia, salah satunya fenomena Bright Young People di Inggris pada dekade 1920-an.

Agak jauh neeh mainnya.

Dulu, sekelompok anak muda dari kalangan borjuis metropolitan saat itu memilih memberontak terhadap kekakuan norma orang tua pasca-Perang Dunia I dengan cara menggelar pesta liar berkedok treasure hunt konyol di tengah kota London, semata-mata demi mencari perhatian dan melarikan diri dari kehampaan batin.

Mereka berdandan nyentrik “celana dalam diluar bagai Superman” 😁, membuat kehebohan palsu di koran-koran tabloid, dan hidup seolah-olah hari esok tidak akan pernah ada, persis seperti mentalitas “You Only Live Once” versi klasik yang penuh kepalsuan.

Namun …

Di balik gelak tawa dan hingar-bingar pesta malam yang mewah, arsip sejarah mencatat bahwa mayoritas dari mereka justru bertumbuh menjadi individu yang kesepian, kebingungan arah hidup, dan mengalami depresi kronis karena mengabaikan fondasi ketekunan yang sejati.

Sejarah kelam kaum borjuis muda masa lampau itu membuktikan satu hal mutlak: bahwa seberapa canggih zaman atau seberapa mewah fasilitas kota besar, pelarian yang salah arah tidak pernah bisa menyembuhkan jiwa yang kosong.

Dari pelajaran berharga lintas generasi inilah, kita butuh hal-hal baik tentang bagaimana seharusnya menavigasi umur belasan tahun ini agar tidak berakhir tragis di tikungan jalan.

 

Tips Menjadi Remaja yang “Benar” dan Bahagia

Tenang, menjadi remaja itu bukan berarti harus langsung ikut seminar motivasi atau mendadak jadi petapa gunung, kok 😁. Kalau mau dicontek dari pola pikir orang-orang sukses kelas kakap dunia, ada beberapa formula anti-mainstream yang jarang disadari remaja. Tapi, terbukti ampuh looh dan bikin otak encer dan hidup gak jalan di tempat.

Dengan baik hati kami simpulkan beberapa diantaranya.

Bagaimana dengan:

 

1. Senam Otak Kanan-Kiri: Kombinasi Literasi dan Numerasi

Orang sukses di dunia seperti Elon Musk atau Bill Gates tidak cuma jago ngitung angka, tapi juga doyan ngibul, baca buku filsafat, dan sastra. Jangan jadi remaja yang baperan karena kurang literasi, tapi juga jangan alergi sama angka dan logika dasar (numerasi).

‘Doyan ngibul’ maksudnya: Berimajinasi atas visi yang tak terpikirkan oleh banyak orang.

Imbangi kebiasaan membaca ulasan mendalam atau buku non-fiksi dengan melatih logika lewat sains, coding, atau analisis data, supaya otak lu punya keseimbangan antara kreativitas seni dan ketajaman berpikir kritis.

 

2. Jauhi “Cinta Monyet” yang Bikin Dengkul Lemes

Cinta monyet itu jalan menuju kehancuran dan neraka.

Banyak remaja hancur masa depannya bukan karena kurang pintar, tapi salah alokasi energi buat bucin (budak cinta) menahun yang isinya cuma galau di status WhatsApp. Orang-orang sukses di usia muda biasanya fokus membangun kapabilitas diri alih-alih pusing mikirin status pacaran yang belum tentu dibawa ke KUA.

Ingat, perasaan kagum itu wajar, tapi kalau sampai bikin nilai sekolah terjun bebas dan mental hancur hanya karena diputusin pacar, itu namanya investasi kebodohan skala besar.

 

3. Rank Game Tinggi, Otak Kosong: Hati-Hati Jebakan Dopamine Trap

Ngegame itu sah-sah saja buat pelepas penat kal gabut. Tapi, kalau sampai rela begadang semalaman demi ngejar tier atau rank tertinggi di game online, lu sebenarnya sedang masuk ke dalam perangkap jebakan dopamin murahan. Duit habis, paket tipis, besok diomelin Emak lu.

Orang-orang sukses di dunia memanfaatkan game atau teknologi sebagai sarana melatih strategi, “main catur, misalnya”. Bukan tempat melarikan diri dari kenyataan hidup. Jangan biarkan waktu produktif lu dirampok habis-habisan oleh permainan maya yang bikin jempol lincah tapi otak tumpul.

 

4. Bangun Portofolio, Bukan Cuma Validasi Medsos

Anak-anak muda yang kelak mengubah dunia tidak pernah menghabiskan waktunya demi mencari validasi likes atau komentar kagum dari orang asing di media sosial. Mereka sibuk merakit portofolio nyata: entah itu bikin proyek kecil, menulis esai, merancang desain, atau belajar keahlian tangan yang bisa dijual di masa depan.

Ganti kebiasaan scrolling unfaedah dengan menciptakan sesuatu, sekecil apapun itu, karena karya nyata jauh lebih berharga daripada pamer story estetik setiap hari.

 

5. Desain Waktu, Bukan Ikut Arus Pergaulan

Remaja kebanyakan sering ikut-ikutan nongkrong gak jelas karena takut dibilang gak asyik atau ketinggalan zaman. Unjung-ujungnya nanti lu ngudut, miras, narkoboy, dan lainnya.

Woy! Pemuda sukses dunia sejak usia belasan sudah terbiasa melakukan time blocking. Mengatur jadwal harian dengan disiplin antara belajar, mengembangkan hobi, berolahraga, dan istirahat. Jangan biarkan hari-hari lu habis tersita oleh ajakan nongkrong yang minim esensi. Karena, kendali atas waktu lu hari ini adalah penentu siapa yang memegang kendali atas dunia esok hari.

 

Menjalani Proses Pertumbuhan

Masa remaja bukanlah sebuah ajang perlombaan lari cepat untuk melihat siapa yang paling duluan sukses, paling kaya, tatoan, atau paling terkenal seantero kampung.

Fase ini sejatinya adalah “masterplan kehidupan yang paling jujur” gak ada markup. Tempat kita diizinkan untuk mencoba berbagai hal baru, salah, jatuh tertelungkup. Bangkit lagi dong, lalu merajut potongan-potongan pengalaman itu menjadi kepribadian yang utuh. Setiap luka gores dari kesalahan kecil hari ini adalah vaksin mental yang akan membuat kita jauh lebih kebal terhadap kerasnya dunia di masa depan.

Banyak anak muda terlalu terburu-buru ingin mengeklaim kedewasaan. Padahal, esensi dari proses tumbuh itu sendiri terletak pada ketekunan merawat langkah-langkah kecil setiap hari. Ketika orang lain sibuk pamer hasil akhir yang instan, biarlah kita sibuk berproses dalam sunyi, menumpuk ilmu, dan menempa kedisiplinan diri tanpa perlu validasi dari siapa pun.

Ingatlah Brader,

Hidup bukan tentang seberapa cepat lu sampai di garis akhir. Melainkan seberapa kuat mental yang lu miliki saat harus mendaki jalanan yang paling terjal.

 

PoV-Nya:

Sebuah berlian yang paling berkilau dan bernilai tinggi tidak pernah terbentuk di atas permukaan yang empuk dan nyaman. Melainkan ditempa di dalam gelapnya perut bumi, menerima tekanan besar, dan disiksa oleh panas yang luar biasa sebelum akhirnya ia memantulkan cahaya yang menyilaukan mata.

Belum selesai sampai tahap tersebut.

Berlian itu harus diasah dengan material yang kuat. Sekuat kamu sang remaja yang bangun jam 4 untuk mengaji dan belajar.

So, kamu siap jadi Remaja?

 

Salam Dyarinotescom.

 

Leave a Reply