Poskolonial Mindset: Kapan Yaa Kita Bisa Dekolonisasi Pikiran

You are currently viewing Poskolonial Mindset: Kapan Yaa Kita Bisa Dekolonisasi Pikiran

Malam merayap lambat di luar jendela kamar kos Saka. Udara Jakarta yang lembap dan pengap berpadu dengan dengung kipas angin tua di sudut ruangan, menciptakan ritme monoton yang biasanya mengantar Saka pada kantuk. Namun malam ini, matanya terbuka lebar. Layar ponsel pintarnya menyala dalam kegelapan, memantulkan bias cahaya biru ke wajahnya yang kuyu. Di atas layar itu, sebuah tulisan dengan tajuk mencolok terpampang rapi: “Poskolonial Mindset: Kapan Yaa Kita Bisa Dekolonisasi Pikiranby: Dyarinotescom.

Saka menarik napas dalam-dalam, lalu membiarkan jempolnya menggulir ke bawah, membaca alinea demi alinea yang seolah ditulis khusus untuk merobek style anak muda kekinian dan pertahanan logikanya malam itu.

“Sering kali, rasa lelah dan rendah diri yang kita rasakan bukanlah semata-mata karena kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja.” Dalam tulisan tersebut. Kemudian tertulis juga: “Tanpa sadar, kita terlalu sering menjadikan standar negara lain sebagai patokan ideal hidup kita…”

Poskolonial Mindset: Kapan Yaa Kita Bisa Dekolonisasi Pikiran –

 

Apa Ini, Apa Maksud?

Kalimat pembuka itu menghantam Saka lebih dalam. Seketika, lamunannya tertarik mundur ke siang tadi. Bayangan bising sebuah tempat tongkrongan di kawasan Jaksel berkelebat kebelet di kepalanya. Di tempat itu, Saka sempat memesan secangkir kopi susu lokal.

Rasanya nikmat, pekat, hitam, dan jujur. Pokoknya mantap jiwa!

Namun,

Kenikmatan itu langsung runtuh seketika ketika seorang pengunjung di meja sebelah berbicara dengan slang bahasa Inggris yang fasih, menenteng laptop merek buah tergigit keluaran terbaru, sambil memandang rendah produk-produk buatan anak negeri.

Kena mental bangaat daah tuuh!

 

Cahaya Layar dan Sisa Penjajahan di Kepala

Saat itu, tanpa sadar, Saka langsung menyelipkan ponselnya yang bermerek lokal ke dalam saku jaketnya. Sebuah tindakan refleks yang memalukan. Sebuah ketakutan kecil yang bodoh bahwa dirinya akan dinilai rendah hanya karena perangkat di tangannya tidak berstandar global. Kala itu, Saka merasa seperti maling tertangkap basah, padahal ia tidak merugikan siapa pun. Refleks seorang “budak mental”, yang batinnya getir.

Saka melanjutkan bacaannya.

Esai itu terus membedah istilah-istilah yang terasa sangat akrab di telinganya, namun jarang sekali berani ia akui secara jujur: Eurosentrisme dan krisis identitas budaya.

Tertulis kalimat:

“…apa pun yang tidak sesuai dengan pakem mereka langsung dianggap kuno, kampungan, atau nggak berstandar internasional, seolah-olah peradaban lokal ribuan tahun lamanya itu cuma angin lalu yang numpang lewat…”

 

Apakah ini Poskolonial Mindset?

Saka mengusap wajahnya yang berminyak dengan kasar.

Ia teringat adiknya, Kirana, yang beberapa hari lalu menangis histeris di depan cermin kamar mandi. Gadis itu merasa gagal karena kulit sawo matang khas “orang berjemur” miliknya tidak kunjung berubah menjadi putih pucat bagai boneka musim dingin seperti yang di feed TikTok.

Hidungnya yang mungil dan natural dicap kurang mancung, “lubang hidungnya kurang GEDEE” kata mereka. Kalah saing dari standar kecantikan halu yang dicekokkan korea-koreaan tanpa henti.

 

Bukan hanya adiknya.

Saka sendiri menyadari bahwa ia punya “Gagal mental” yang sama: selalu mendewakan apa pun yang datang dari luar. Lulusan universitas dalam negeri yang otaknya brilian kerap ia pandang sebelah mata, kalah pamor dibanding mereka yang menenteng ijazah dari kampus barat.

Meskipun terkadang ilmunya di dunia nyata hanya sebatas teori mentah di atas awan. Sistem meritokrasi semu itu bekerja begitu rapi, mendiskriminasi bangsa sendiri secara sistematis, sementara para korbannya tersenyum bangga karena merasa sudah naik kelas sosial.

“…kita gampang banget kagum sama budaya asing, tapi giliran kesenian tradisional dipentaskan, langsung dibilang membosankan dan kurang cuan buat konten media sosial…”

Membaca kalimat itu, Saka merasa seolah-olah penulis esai tersebut sedang duduk di hadapannya, menatap tepat ke dalam matanya, dan menelanjangi segala kemunafikan yang ia pelihara selama ini.

Artikel itu mendefinisikan dengan sangat telak apa yang ia resahkan: SEBUAH BENTUK PENJAJAHAN GAYA BARU.

Penjajahan yang tidak lagi datang membawa meriam atau serdadu berbayonet, melainkan menyusup lewat layar ponsel, algoritma, dan cara pandang. Penjajahnya sudah lama pulang kampung menaiki kapal pesiar, tapi mental anak buahnya justru betah bersemayam, beranak-pinak dengan nyaman di dalam kepala generasi muda seperti dirinya.

Bagai terluka tanpa dipanah – 😔

Poskolonial Mindset: Kapan Yaa Kita Bisa Dekolonisasi Pikiran – 

 

Peta Jalan di Kepala yang Berkabut

Saka menarik napas dalam-dalam, “Huuuu…” lalu membiarkan jempolnya kembali menggulir layar ponsel.

Di bagian akhir tulisan itu, di tengah kegerahan malam dan sesaknya dada Saka, secercah harapan di teh tawarkan. Esai tersebut tidak berhenti pada vonis atau keluh kesah. Tulisan itu memberikan peta jalan, dengan: lima langkah radikal untuk melakukan dekolonisasi pikiran secara total.

Saka cukup senang dan membacanya perlahan, meresapi setiap poin dengan kepala dingin dan hati yang terbuka.

Dalam tulisan tersebut, tertulis:

 

1. Detoksifikasi Algoritma Secara Brutal

“Langkah awal yang paling tabu tapi wajib dicoba adalah membersihkan feed media sosial dari akun-akun yang kerjanya cuma bikin kamu merasa insecure…”

Saka tertegun sejenak. Apa maksud?

Ia merenungkan bagaimana jarinya selama ini begitu rajin mengeklik konten-konten mewah dari luar negeri. Mulai dari gaya hidup minimalis ala Skandinavia hingga standar estetika urban barat yang mustahil dijangkau dengan realitas dompetnya di Jakarta. Tanpa sadar, algoritma telah menjadi warden digital yang setiap detik mencambuk rasa percayanya diri.

“Kalau matamu tidak lagi dicekokin standar hidup orang luar setiap detik, otakmu bakal pelan-pelan sadar bahwa hidup ini punya banyak jalan tol lain yang jauh lebih asyik,” batin Saka mengulang hingga dua kali, kalimat esai itu.

Ia berjanji dalam hati, besok pagi hal pertama yang ia lakukan adalah menekan tombol unfollow secara masal. “Bebaskan diri dari yang basi-basi” Membersihkan berandanya dari racun perbandingan sosial yang sia-sia.

Tapi ingat kak: Janji tetaplah janji.

 

2. Validasi Diri Tanpa Menunggu Stempel Internasional

“Kita sering kali punya penyakit mental akut berupa ‘baru bangga kalau diakui bule’…”

Bodoh banget yaa kita ini. Sakit, tapi benar. Saka teringat betapa sering ia mengabaikan musisi independen lokal atau produk buatan UMKM tetangga, baru kemudian melirik dan memuji mereka setelah produk tersebut viral di media sosial luar atau diulas oleh kreator asing. Sebuah mentalitas terjajah yang memalukan.

“Saatnya memutus rantai ketergantungan validasi ini,” gumam Saka lirih. Ia sadar, selama ia masih menggantungkan rasa bangga pada tepuk tangan penonton luar negeri, kedaulatan mentalnya hanyalah ilusi belaka. Menghargai karya anak bangsa harus dimulai dari keberaniannya sendiri untuk mencintai produk lokal tanpa harus menunggu pengakuan global.

 

3. Rekonstruksi Kurikulum Berpikir Berbasis Realitas Lokal

“Ubah hal ini dengan cara aktif membaca literatur, riset, dan sejarah dari sudut pandang nusantara yang membumi…”

Saka merenungkan pendidikannya selama ini.

Terlalu sering ia dicekokin teori sosial barat yang sering kali terasa asing dan melompati realitas kehidupan sosial di kampung halamannya. Padahal, akar masalah di negeri ini butuh dibaca dengan kacamata lokal yang membumi.

“Dengan memahami akar masalah dari kacamata lokal, kamu tidak akan mudah silau oleh istilah-istilah rumit berbau asing,” pikir Saka. Ia menyadari bahwa literasi bukan sekadar membaca buku-buku tebal luar negeri, melainkan memahami denyut nadi persoalan rakyatnya sendiri.

 

4. Merayakan “Ketidaksempurnaan” Budaya Sendiri

“Banggalah menggunakan identitas kulturalmu sendiri dengan segala keunikannya, karena identitas itu adalah bukti otentik bahwa kita punya riwayat peradaban yang panjang dan matang…”

Makin bengkak itu kepala ditimpuk kelapa muda.

Ingatannya melayang pada kebiasaannya yang kerap merasa risih ketika menggunakan bahasa daerah atau dialek asalnya saat berada di kota besar, takut dicap “ndeso” atau kampungan. Padahal, dialek dan tradisi itu adalah warisan darah dagingnya.

“Budaya yang besar bukanlah budaya yang menyeragamkan diri dengan standar luar,” batin Saka meresapi kalimat tersebut dengan hangat. Ada kelegaan luar biasa saat ia menyadari bahwa keberagaman lokalnya bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan sesuatu yang harus dirayakan dengan bangga.

 

5. Membangun Kedaulatan Ekonomi Kreatif Skala Mikro

“Berhenti menjadi konsumen pasif yang hanya bisa menelan mentah-mentah produk pemikiran luar negeri. Ketika kamu mulai mencipta, berkarya, dan menyelesaikan masalah di lingkunganmu sendiri…”

Buk! Bak! Tung! Puak! Gubrak! 🚨

Poin terakhir ini seperti sebuah hantaman telak yang menyadarkannya dari lamunan panjang. Selama ini ia hanya menjadi penonton yang cerewet, konsumen yang pasif, yang hanya bisa mengomentari ketertinggalan bangsa tanpa pernah mau turun tangan mencipta solusi.

Saka mengepalkan tangannya pelan di atas tempat tidur. Perubahan besar tidak akan pernah lahir dari sekadar merenung atau mengeluh di media sosial, melainkan dari karya-karya nyata sekecil apa pun itu yang dikerjakan di lingkungan terdekatnya.

Poskolonial Mindset: Kapan Yaa Kita Bisa Dekolonisasi Pikiranby: Dyarinotescom.

 

Fajar di Ruang Kepala

Saka menatap layar ponselnya yang mulai meredup otomatis karena tak tersentuh. Jemarinya terasa dingin, kakinya keram, tetapi dadanya bergemuruh hebat. Hening malam tiba-tiba terasa begitu lapang, seolah dinding-dinding kamar kosnya bergeser memberi ruang bagi napasnya yang kini terasa jauh lebih lega.

Ia mematikan layar ponsel itu. Gelap seketika meraja di dalam kamar, tapi di dalam kepala Saka, sebuah terang baru saja dinyalakan.

Ia menyadari satu hal yang paling hakiki: Fredom paling sejati di muka bumi ini bukanlah tentang bebas dari cengkeraman kekuasaan asing semata. Kemerdekaan sejati adalah keberanian mutlak untuk membersihkan isi kepala dari rasa minder, berhenti menjadi warga kelas dua di rumah sendiri, dan merebut kembali kedaulatan berpikir atas diri sendiri.

Esai itu telah usai dibaca. Ponsel itu diletakkan di atas meja. Tapi bagi Saka, pertempuran yang sebenarnya baru saja dimulai.

Poskolonial Mindset: Kapan Yaa Kita Bisa Dekolonisasi Pikiran

Lanjutkan Saka.

 

Salam Dyarinotescom.

 

Leave a Reply