Bulan Bahasa: Seberapa Indonesiakah Kita?

You are currently viewing Bulan Bahasa: Seberapa Indonesiakah Kita?

Sudah kesekian kalinya Bulan Bahasa datang menghampiri dan kita masih berkutat pada acara-acara seremoni. Hallo! Bagaimana sih Indonesia ini? Peringatan tiap Oktober cuma berakhir jadi rutinitas formalitas. Diisi dengan sumbangan, lomba pidato, spanduk bertema, dan janji manis “akan begini, akan begitu”. Lanjutnya menguap begitu bulan berganti. Artikel kali ini kami susun untuk melihat seberapa Indonesia-nya kita. Seberapa Indonesianya kamu di tengah kenyataan bahwa cara kita berkomunikasi sehari-hari justru makin jauh dari SEMANGAT SUMPAH PEMUDA itu sendiri.

Stop ngikutin generasi sebelumnya dalam menghargai bangsa.

Coba perhatikan sekeliling kita: bahasa Indonesia sering kali cuma dianggap keren kalau sudah dicampur which is dan literally, sementara kebanggaan fasih bahasa asing jauh melampaui rasa percaya diri memakai kosakata di negeri sendiri.

Di sudut lain, bahasa daerah perlahan mati pelan-pelan karena tak lagi diwariskan. Dan mereka yang mencoba berbahasa baik malah dicap “kaku”, udik, kampungan, atau dipelintir dengan sindiran “kurang.” Kita sibuk merayakan Bulan Bahasa, tapi ragu apakah kita benar-benar mencintai bahasa ini.

Atau jangan-jangan, Sumpah itu sudah tidak berlaku? 😔

Bulan Bahasa: Seberapa Indonesiakah Kita?

 

Pakai Bahasa Asing Biar Dianggap In-telek

Banyak dari kita merasa sudah berjasa membangun bangsa ini hanya karena pengetahuan menumpuk, gelar berderet, atau warisan jabatan yang mentereng. “Gue udah bikin ini, udah nyelesaiin itu,” begitu klaimnya. Tapi ada satu hal krusial yang tanpa sadar sering kita sepelekan: Mereka menyepelekan bahasa Indonesia.

Lah kok!

Jujur saja, keberadaan bahasa nasional ini adalah bukti otentik bahwa bangsa kita pernah ada loh. Pernah berjuang dan merebut kemerdekaan secara mandiri. Lantas, kalau bahasa Indonesia justru kita lecehkan dengan gestur dan gaya bicara sok elite, bukankah itu tindakan yang sangat menyedihkan?

Ironisnya,

Ini paling sering dipertontonkan oleh para tokoh publik dan figur panutan. Demi memoles citra agar terlihat in-telek dan merasa sudah go international, mereka tanpa ragu menyelipkan istilah asing di tiap selipan kalimat. Bahasa Indonesia ditawar-tawar, dicampur aduk, seolah-olah penuturan aslinya kurang berkelas untuk menampung pemikiran hebat mereka.

SECARA PRIBADI, kami memandang kebiasaan ini bukan sekadar tren “code-switching” biasa, melainkan bentuk pengikisan terhadap kedaulatan identitas kita sendiri.

Dampak destruktifnya nyata dan langsung menghantam masyarakat bawah.

Ketika pembicara publik ini, misalnya, mengoceh di televisi atau podium dengan Bahasa Indonesia bertabur bahasa asing, adik-adik kita di pelosok pedesaan hanya bisa melongo bingung. Mereka sama sekali tidak paham apa yang sedang dibicarakan.

Parahnya lagi,

Ketidakpahaman itu secara halus menciptakan stigma seolah-olah masyarakat umum itu “bodoh” atau ketinggalan zaman hanya karena tidak mengerti bahasa asing. Ini diskriminasi yang nyata, meski dibungkus kemasan modernitas. “Becek gak ada ojek”.

Boleh saja kamu mencaci tulisan ini dan menganggap kami terlalu sentimental. Tapi mari bersikap realistis.

Kita harus bisa membedakan mana ruang publik dan mana ruang privat. Ya gak? Kalau sekadar di tongkrongan, kafe, atau obrolan santai antar teman, mau pakai bahasa Inggris kek, bahasa Swahili, bahkan bahasa setan sekali pun, tidak jadi masalah. Bebas!

Persoalan terbesarnya adalah ketika mereka yang memegang ‘mikrofon bangsa’ dan dianut jutaan orang justru tanpa beban melecehkan bahasanya sendiri di forum resmi. Dari sinilah benih-benih pengkhianatan terhadap warisan sejarah itu mulai bertunas.

Bulan Bahasa: Seberapa Indonesiakah Kita?

 

Dulu Diperjuangkan, Kini Dikhianati Oleh Orangnya Sendiri

Mari kita putar balik ingatan ke Oktober 1928.

“Jika tak salah”, di sebuah rumah sederhana di Jalan Kramat Raya, pemuda-pemuda dari Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes, hingga Jong Ambon berkumpul.

Mereka datang dari tanah yang memelihara ratusan bahasa daerah yang saling asing satu sama lain. Mengangkat bahasa Melayu Riau menjadi Bahasa Indonesia waktu itu adalah sebuah lompatan radikal. Sebuah pertaruhan politik dan kebudayaan tingkat tinggi demi menyatukan ribuan pulau tanpa mengagungkan ego kedaerahan mana pun.

BAHASA INDONESIA LAHIR DARI KUCURAN KERINGAT, AIR MATA, DAN KEBERANIAN MENANTANG PENJAJAH.

Sekarang,

Tengok apa yang kita perbuat terhadap karya monumental para pendahulu tersebut. Bahasa yang dulu dirumuskan untuk meruntuhkan sekat sosial dan membebaskan rakyat dari kebodohan, kini malah dipetieskan.

Kita melepasnya berganti dengan rasa minder kolektif.

Generasi hari ini seperti anak kandung yang malu mengakui ibunya sendiri di depan tamu luar. Tatkala bangsa lain setengah mati mempelajari bahasa kita agar bisa memahami kebudayaan Nusantara, kita yang lahir di atas tanah ini justru sibuk menukarnya demi segelintir validasi semu.

Lama-kelamaan,

Gestur pengabaian ini melahirkan generasi yang mengalami PIKUN SEJARAH. Kita menjadi asing dengan kosakata sendiri, gagap saat diminta menulis surat formal tanpa istilah asing, dan merasa ‘awkward’ 😁 jika harus berbicara bahasa Indonesia yang tertata rapi.

Kita aktif mengkhianati perjuangan 1928 bukan dengan senjata atau invasi militer, melainkan melalui rasa gengsi yang dipelihara saban hari.

Jika pengkhianatan halus ini terus dibiarkan mengalir tanpa ada upaya perlawanan, jangan kaget kalau suatu saat BAHASA INDONESIA cuma tinggal catatan kaki di buku sejarah 😔. Sebelum garis akhir itu benar-benar tiba, mari kita benahi cara kita berdiri di atas identitas kita sendiri.

Lalu, bagaimana cara?

 

Bagaimana Menghargai Bangsa Indonesia dengan Bahasa

Melihat rentetan persoalan dan ironi yang sudah kita bedah sebelumnya, jelas bahwa meratapi keadaan saja tidak akan mengubah apa pun. Kita tidak bisa terus-terusan menyalahkan keadaan atau sekadar menuding jari ke arah para pejabat. Perubahan nyata harus dimulai dari tindakan konkrit yang mengalir langsung dalam kebiasaan kita sehari-hari.

Menjaga bahasa nasional bukanlah tugas berat yang melulu harus diisi dengan menerbitkan kamus atau membuat seminar di MONAS sana. Ini soal membentuk keberanian dan menyegarkan kembali rasa bangga pada identitas dasar kita. Ada beberapa catatan yang bisa kita pertimbangkan untuk merawat daya hidup bahasa Indonesia tanpa harus kehilangan relevansi zaman.

Misal:

 

1. Menyiramkan Kembali Darah Kebanggaan di Ruang Publik

Mulailah memiliki keberanian untuk menggunakan bahasa Indonesia secara utuh saat berbicara di depan umum, presentasi, atau membuat konten. Jangan pernah merasa kedudukan atau pemikiranmu berkurang nilainya hanya karena tidak menyelipkan istilah asing.

Jangan mencontoh tokoh-tokoh yang tidak menghargai bahasa indonesia. Ketika kamu percaya diri menuturkan bahasa sendiri dengan tertata, kamu sedang mengalirkan darah kebanggaan baru bagi orang-orang di sekitarmu agar tidak lagi merasa minder.

 

2. Menjaga Tampuk Darah Bahasa Daerah dari Kepunahan

Bahasa Indonesia tidak pernah hadir untuk mematikan bahasa ibu di setiap daerah, melainkan menjadi jembatan pemersatu.

Jangan biarkan bahasa daerahmu mati di tangan generasimu sendiri hanya karena dianggap tidak keren. Pakai bahasa daerahmu saat berinteraksi dengan sesama suku atau keluarga, sebab dalam urat darah bahasa daerah itulah tersimpan kekayaan budaya lokal yang tak ternilai harganya.

 

3. Menolak Menjadi ‘Polisi’ Bahasa yang Berdarah Dingin

Menghargai bahasa bukan berarti kamu harus menjadi sosok yang kaku, galak, dan hobi mengoreksi typo atau kesalahan tata bahasa orang lain di media sosial secara kasar.

Menjadi pengkritik berdarah dingin hanya akan membuat orang lain makin takut dan malas belajar berbahasa Indonesia. Rangkul mereka yang sedang belajar, berikan apresiasi, dan jadikan bahasa sebagai ruang belajar yang ramah serta inklusif bagi siapa saja.

 

4. Mengakrabkan Diri dengan Kosakata Baku Tanpa Menguras Darah

Jelajahi kembali Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk menemukan kata-kata estetik yang selama ini tersembunyi, seperti senandika, mangkus, atau pualam.

Menggunakan kosakata kaya ini di tulisan atau caption media sosial akan membuat gaya komunikasimu terasa lebih elegan dan berwarna. Kamu tak perlu memeras darah untuk terlihat pintar; cukup perkaya perbendaharaan kata yang sebenarnya sudah kita miliki sejak dulu.

 

5. Menyaring Tren Istilah Asing Agar Tak Meracuni Darah Tradisi

Bersikap terbuka pada perkembangan zaman itu wajib, tapi bukan berarti menelan bulat-bulat semua tren istilah asing tanpa filter.

Ketika ada padanan bahasa Indonesia yang pas dan sudah diserap resmi, utamakanlah kata tersebut dibanding versi asingnya. Menyaring istilah luar dengan bijak adalah benteng pertahanan utama agar identitas dan darah tradisi berbahasa kita tidak luntur tergerus arus globalisasi.

Bulan Bahasa: Seberapa Indonesiakah Kita?

 

Kemerdekaan Sejati Itu Terletak Pada Bahasa-nya

Seberapa Indonesia-nya kita tidak ditentukan dari seberapa keras kita menyanyikan lagu kebangsaan saat upacara, atau seberapa merah-putih atribut yang kita kenakan setiap Oktober. Ukuran sejati dari rasa nasionalisme itu tercermin dari sejauh mana kita menghargai, merawat, dan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat tutur utama dalam kehidupan sehari-hari.

BAHASA ADALAH CERMIN JIWA BANGSA!

Ketika bahasanya dilecehkan dan ditinggalkan oleh pemiliknya sendiri, maka runtuhlah pilar utama kepribadian bangsa tersebut. Jujur saja, ada keresahan mendalam yang terus membayangi: jika pola pikir sok gengsi ini terus dipelihara, bukan tidak mungkin bahasa Indonesia suatu hari nanti akan bernasib sama seperti bahasa-bahasa kuno yang punah ditelan zaman.

Kita akan menjadi bangsa yang merdeka secara teritorial, tapi terjajah secara kebudayaan dan pikiran. Sangat tragis jika anak cucu kita di masa depan harus mempelajari bahasa Indonesianya sendiri dari peneliti asing hanya karena generasi kita hari ini terlalu gengsi untuk menuturkannya secara benar. Namun, berpikir terbuka bukan berarti kita harus menjadi chauvinis yang anti terhadap bahasa asing atau menutup diri dari dunia luar.

Menguasai bahasa asing adalah jendela ilmu pengetahuan, sementara merawat bahasa daerah adalah akar kebudayaan. Mengutamakan bahasa Indonesia adalah kewajiban mutlak sebagai pemilik kedaulatan.

PoV-Nya: Bahasa menunjukkan bangsa. Hilang bahasa, lenyaplah identitas.

Merdeka yang sejati adalah ketika kita mampu berdiri tegak di panggung dunia, berbicara dengan Bahasa Indonesia secara fasih, dalam jiwa pemuda Indonesia.

Bulan Bahasa: Seberapa Indonesiakah Kita?

Ingat-Nya: Jangan kamu pikir kepala negara yang berbicara dengan bahasa mereka sendiri, tak bisa berbahasa Inggris?

 

Salam Dyarinotescom.

 

Leave a Reply