Maklum! Sepertinya Ada yang Salah Ya di Sini

  • Post author:
  • Post category:Lifestyle
  • Post last modified:
  • Reading time:9 mins read
You are currently viewing Maklum! Sepertinya Ada yang Salah Ya di Sini

Sepertinya kita sedang hidup di era di mana kita makin sulit menolak hal-hal yang terasa janggal. Salah satunya hadir lewat satu kata sederhana yang begitu sering kita dengar dan kita gunakan sehari-hari: “Maklum.” Terdengar aneh, ya kan? Seolah terus-menerus dilatih untuk sesuatu yang bahkan sulit diterima oleh akal sehat.

Ada begitu banyak situasi “masuk list” yang sebenarnya ingin kita pertanyakan. Tapi, ujung-ujungnya kita dituntut untuk tetap diam dan “memaklumi”.

Kata yang tadinya lahir dari empati, perlahan bergeser menjadi BARANG SERBA GUNA. “Maklum, namanya juga…” atau “Harap maklum, ya Ibu Bapak,” mendadak jadi kalimat sakti untuk menghalalkan ketidakprofesionalan, menoleransi kesalahan yang diulang-ulang, hingga membiarkan ketidakadilan lewat begitu saja.

Terus,

Kita dipaksa untuk mengerti, memahami, mengamini, dan mengalah. Padahal jauh di dalam, logika dan nurani kita berteriak kencang: sepertinya ada yang salah di sini.

Maklum! 

 

Apa Itu?

Maklum itu saudaranya maklumat. Akarnya dari bahasa Arab yang artinya “diketahui” atau “dipahami”. Tapi entah di persimpangan jalan yang mana, makna elegannya mendadak dipaksa dengan keadaan. Di Konoha, MISALNYA.

Kata ini pelan-pelan bermutasi dari pelukan hangat bertajuk empati menjadi jurus pasrah tiada tanding. Kamu telat sejam datang meeting? “Maklum, macet Abanganda.” Janji kampanye hilang telan bumi? “Maklum, kan politik itu dinamis.” Lama-lama, kalau ada alien mendarat di Monas terus nyolong tiang bendera, kita cuma bisa ngeles: “Ya maklum, mereka belum dapat sosialisasi P4, P5, hingga P6.”

Hadehhh! 😒😔

Kejanggalan ini dipelihara bersama sampai-sampai kita yang waras malah merasa bersalah kalau menuntut kejelasan. Kita dibuat gaslighting oleh keadaan sendiri. Menuntut hak atau profesionalisme mendadak dicap “baperan” atau “nggak punya tenggang rasa”.

Padahal,

Ada garis tegas antara berempati sama membiarkan KEBODOHAN BERANAK PINAK. 😁😂. Dan celakanya, garis itu sekarang sudah makin buram, hampir tak berbekas digilas kompromi yang tak berkesudahan.

 

Jebakan Normalisasi Para Perangkai Kata

Keajaiban kata “MAKLUM” paling terasa pas sudah masuk ke ranah publik dan ruang-ruang kekuasaan.

Ingat betul gimana ‘kocak-nya’ panggung politik KONOHA sewaktu muncul manuver batas usia capres-cawapres yang bikin gempar itu? Istilah “anak haram konstitusi” mendadak viral di mana-mana sebagai kritik tajam atas akrobat hukum yang dipaksakan. Tapi menebak respons sebagian lingkaran elit dan pendukungnya?

Yups, tepat: “Maklum, namanya juga anak muda butuh panggung,” atau “Maklum, demi keberlanjutan.” Istilah hukum yang ditabrak cuma disapu ke bawah karpet dengan dalih pemakluman atas nama generasi.

Akal sehat publik dipaksa BODOH berjamaah. “Profesor yang gak ada gunanya!”

Kemudian,

Cerita serupa selalu berulang setiap musim kemarau menyapa. Asap pekat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), misalnya, membungkus Sumatra dan Kalimantan sampai langit berubah jingga bak planet Mars. Ribuan anak-anak sesak napas kena ISPA, sekolah diliburkan, penerbangan lumpuh.

Ketika publik menuntut tanggung jawab para korporasi pembuat ulah, pejabat terkait dengan santainya berujar bahwa ini fenomena alam El Nino dan angin kencang.

“Bosan lihat yang beginian 😒🤨”

Reaksi terselubung yang diharapkan dari rakyat sederhana: HARAP MAKLUM, memang lagi musimnya. Kebakaran yang disengaja demi pembukaan lahan murah mendadak dibungkus rapi seolah-olah TAKDIR ILAHI yang harus ditanggulangi dengan kepasrahan.

Inilah yang dinamakan enabling behavior berskala nasional.

Pemakluman sistematis ini lambat laun menjelmakan penyimpangan menjadi standar baru. Kita menganggap jalan berlubang berbulan-bulan sebagai pemandangan wajar karena “anggaran terbatas”. Kita menganggap pungli di kantor pelayanan publik sebagai “uang lelah” yang pantas.

PANTAS DIMAKLUMI.

Kita tenggelam dalam jebakan NORMALISASI PENYIMPANGAN (Normalization Of Deviance): di mana hal-hal busuk yang diulang terus-menerus akhirnya terasa wangi hanya karena semua orang memilih tutup hidung. “Daging busuk dianggap lebih baik dari pada daging segar.”

Satu kepintaran tingkat tinggi neeh BOS!

Biarkan saja terus, agar refleks kritis masyarakat tumpul total.

Korupsi kecilan dianggap hal biasa, malfungsi sistem dianggap suratan takdir, dan ketidakadilan dianggap riak-riak kecil. Ini bagian dari kehidupan akhir Zaman. Kebiasaan mengobral kata “maklum” membuat kita KEHILANGAN STANDAR DASAR tentang mana yang ideal dan mana yang cacat sejak dalam pikiran.

Namun, kalau kamu pikir fenomena ini cuma penyakit lokal KONOHA, kamu salah! Ada beberapa cerita lama yang kadang kita lupa.

 

Saat Akal Sehat Dikalahkan Kata “Maklum…”

Biar NGOTAK, mari main lebih jauh ke daratan Eropa, tepatnya ke Inggris pada medio 1980-an.

Ada satu peristiwa tragis yang jarang dibahas di buku sejarah umum, yaitu bencana kebakaran Stasiun Bawah Tanah King’s Cross di London tahun 1987. Di stasiun kereta bawah tanah paling sibuk itu, eskalator kayunya sudah tua dan sering sekali mengeluarkan percikan api akibat gesekan mekanis plus tumpukan sampah rokok. Bertahun-tahun, para petugas stasiun dan teknisi tahu betul ada api-api kecil (flashovers) yang kerap menyala di bawah pijakan eskalator.

Uniknya

Reaksi manajemen kala itu “kalau gak salah” sangat mirip dengan budaya kita: “Maklum, itu cuma percikan kecil, dari dulu juga begitu dan nggak pernah bikin stasiun terbakar habis.” Mereka menyebut ‘FENOMENA’ percikan api saban hari itu sebagai KEBIASAAN WAJAR dalam operasional eskalator tua.

Pihak manajemen bahkan punya aturan tak tertulis bahwa pemadam kebakaran tidak boleh dipanggil kalau apinya belum benar-benar besar, demi menghindari kepanikan calon penumpang. Semua orang dimintai pemakluman atas nama efisiensi dan kelancaran operasional harian.

Sampai akhirnya

Pada malam dingin 18 November 1987, percikan api “yang biasa dimaklumi” itu menyambar gumpalan grease dan kertas sampah di bawah eskalator. Api kecil yang diabaikan selama bertiga puluh menit itu tiba-tiba meledak menjadi bola api raksasa (trench effect) yang menyapu seluruh hall stasiun.

Hasil dari budaya “harap maklum” selama bertahun-tahun tersebut harus dibayar mahal: 31 nyawa melayang dan puluhan lainnya luka berat. Penyelidikan resmi setelahnya menemukan bahwa bencana itu terjadi bukan karena kegagalan teknis murni, melainkan karena CULTURE OF COMPLACENCY: kultur pemakluman atas bahaya kecil yang dianggap biasa.

Kisah King’s Cross adalah CERMIN BESAR!

Ketika akal sehat kalah oleh pemakluman, “ketika si dungu masuk kabinet!” dampaknya bukan cuma soal kekesalan hati, tapi bisa mengundang tragedi yang melumat kehidupan. Pemakluman yang ditimbun sedikit demi sedikit adalah bahan bakar terbaik untuk ledakan bencana di masa depan.

Belajar dari tragedi itu, sudah saatnya kita bersih-bersih pada kebiasaan memaklumi hal-hal yang sebetulnya CACAT PROSEDUR sebelum semuanya terlambat.

 

Mengakhiri Musim Pemakluman. Berikut Bagaimana-nya.

Sampai di titik ini, kita bisa menarik satu benang kusut sementara waktu: memaklumi segala sesuatu tanpa filtrasi akal sehat, iman dan aman, bukanlah tanda kedewasaan, melainkan wujud ‘jahiliah’ yang membahayakan. Membiarkan hal janggal terus berjalan atas nama “perasaan tak enak” cuma bakal memelihara ketidakadilan dan merusak standar kehidupan sosial kita.

Kita tidak perlu mendadak jadi emosi, makan sampah, lalu mengamuk ke semua orang di jalan.

Menolak pemakluman itu ada banyak solusi agar kita tetap menjadi manusia, bukan robot berjerawat. Nah, buat Paman-Paman bermuka minyak yang sudah lelah dituntut jadi “pemaaf ” di tengah dunia absurd, berikut beberapa catatan untuk meretas rantai pemakluman ini.

*Coret jika gak ngotak*.

Misal:

 

1. Terapkan Radical Candor Tanpa Kompromi

Ketimbang cuma “iya, iya” pasrah saat seseorang menyodorkan alasan “maklum”, mulailah berbicara jujur apa adanya dengan tetap menghargai. Radical candor itu kemampuan menyampaikan kebenaran yang pahit tanpa niat menyerang pribadi, melainkan mengoreksi keadaan yang salah.

“Malulah dengan GELAR dan LELUHUR mu.”

Jika mereka berbelok pada “TUGAS PENTING” dengan alasan “maklum lagi banyak pikiran”, kamu bisa merespons tegas: “Kita sangat paham kamu lagi padat-padatnya, tapi keterlambatan ini merusak semuanya.”

 

2. Pasang Personal Boundaries yang Konkrit

Banyak orang terjebak dalam HASUTAN pemakluman karena takut dicap jahat, bukan kawan, “wah bahaya neeh” atau tidak kooperatif oleh lingkungannya. Ini saatnya kamu membangun BATAS TEGAS mengenai apa yang bisa ditoleransi dan mana yang harus ditolak mentah-mentah.

Tegaskan pada diri sendiri dan orang lain bahwa kesalahan yang dilakukan berturut-turut bukan lagi kekhilafan yang butuh dimaklumi, melainkan pola perilaku buruk yang harus dikoreksi.

 

3. Matikan Mode Over-Empathizing pada Tempat yang Salah

Empati itu obat, tapi KALAU BERLEBIHAN MALAH JADI RACUN bagi keadilan. Jangan sampai rasa empati kita satu bangsa dipakai untuk memvalidasi perilaku merugikan dari orang yang seharusnya bertanggung jawab.

Ketika ada pejabat publik atau atasan kerja yang gagal menjalankan tugas pokoknya, simpan rasa kasihan kamu untuk orang-orang yang menjadi korban dari kegagalan tersebut, bukan malah mengobral pemakluman buat si pembuat masalah.

 

4. Beralih ke Accountability Culture

Ubah narasi dalam percakapan sehari-hari dari yang tadinya berorientasi pada ALASAN menjadi berorientasi pada PERTANGGUNGJAWABAN.

Begitu kata “harap maklum” dilontarkan, langsung potong dengan pertanyaan tindak lanjut yang kritis: “Terus, solusi konkritnya apa agar hal ini tidak terulang lagi besok?” Cara ini baik menggeser fokus dari pembenaran diri ke penyelesaian masalah yang ada didepan mata.

 

5. Latih Ketegasan (Assertiveness) Lewat Bahasa Tubuh dan Bahasa Verbal

Menolak untuk memaklumi BUTUH KETEGASAN. Jangan cengar-cengir!

Pendek saja, tapi jelas! Dan tidak terbelit-belit saat menolak sebuah kejanggalan, tanpa perlu menyelipkan kata maaf yang tak perlu. GAK PERLU Kedip-kedip mata Paman! Kontak mata memberi sinyal kuat bahwa kamu bukan tipe orang yang bisa digoyang dengan alibi “maklum”.

Sori ya kalau solusinya receh banget..  Maklum 😁🫡😂.

Tapi POIN-NYA adalah:

 

Meletakkan Posisi Maklum Yang Seharusnya

Tulisan ini bukan mengajak kita untuk tumbuh menjadi GARING yang dingin tanpa rasa kemanusiaan.

“Maklum” pada hakikat mulianya adalah bahan bakar utama untuk memelihara kedamaian sosial dan tenggang rasa antarmanusia. Tanpa rasa maklum, kita bakal jadi masyarakat panik yang gampang main hakim sendiri atas ketidaksempurnaan kecil sesama. Namun, menempatkan “maklum” pada tempat yang salah: menjadikannya alas karpet untuk menutupi kebobrokan. Dan itu adalah kejahatan terselubung terhadap masa depan kita sendiri.

Apa yang sudah terjadi di masa lalu, dari drama politik hingga bencana akibat kelalaian, harusnya jadi pelajaran mahal yang cukup untuk membukakan mata. Jika kita terus membiarkan kebiasaan memaklumi kejanggalan ini dipelihara hingga esok hari, jangan kaget kalau suatu saat nanti standar kebenaran kita benar-benar runtuh tak berbekas.

Anak cucu kalian bakal tumbuh dalam DUNIA YANG SERBA BERANTAKAN, dan mereka bahkan tak bisa protes karena seluruh kekacauan itu sudah resmi “dimaklumi” oleh zaman. Kembalikan kata “maklum” ke tempat yang seharusnya: sebagai pemicu empati untuk keterbatasan manusiawi yang tidak disengaja, bukan sebagai tameng untuk merawat ketidakadilan dan ketidakprofesionalan.

Belajar menatap kejanggalan dengan mengatakan: “Empati boleh jalan, tapi akal sehat tetap menyala.”

 

Salam Dyarinotescom.

 

Leave a Reply