Kritik Penguasa Dengan Jokes, Masih Aman?

  • Post author:
  • Post category:Did You Know
  • Post last modified:January 12, 2026
  • Reading time:7 mins read
You are currently viewing Kritik Penguasa Dengan Jokes, Masih Aman?

Jadi, ada banyak kejadian lucu beberapa pekan ini. Poin-nya: kritik penguasa dengan jokes. Benar ini kan bukan barang baru. Tapi jika kritiknya benar-benar “ngena banget”, dan tentu saja berkesan di hati masyarakat luas.

Bayangkan saja, sebuah video berdurasi beberapa menit atau satu baris cuitan di Twitter, misalnya, bisa membuat satu negara mendadak sibuk melakukan klarifikasi. Lucu? Kita hidup di zaman di mana komedi bukan lagi sekadar jeda iklan, melainkan peluru yang melesat lebih cepat daripada birokrasi yang berbelit-belit.

Pernah terpikir?

Kenapa seorang komika atau konten kreator bisa mendapatkan perhatian lebih besar daripada pidato resmi seorang pejabat?

Itu karena humor punya kekuatan untuk membedah kemunafikan dengan cara yang paling sopan: TAWA.

Saat realitas sudah terlalu pahit untuk dikunyah secara mentah, masyarakat butuh “pemanis” berupa satire agar kebenaran itu tidak membuat tersedak. Tapi pertanyaannya, di balik tawa kita yang pecah itu, apakah ada risiko yang sedang mengintai?

 

Sah …

Mengapa Orang Memilih Jokes Daripada Demonstrasi Terbuka

Mari kita jujur ala warga konoha.

Turun ke jalan itu melelahkan. Nasi bungkusnya sudah gak se-enak dulu, dan lagian honornya dipotong 50 % oleh agen. Selain itu juga, kita harus berjemur di bawah terik matahari, risiko gas air mata dan konfrontasi fisik selalu membayangi.

Nah, di sinilah jokes mengambil peran sebagai jalan ninja.

Mengkritik lewat komedi itu seperti menggunakan stealth mode dalam permainan video. Kita bisa menyerang tanpa harus terlihat agresif. Pesan sampai, tujuan tercapai, dan yang paling penting, pesan tersebut lebih mudah viral dan merasuk ke dalam alam bawah sadar orang banyak tanpa perlu urat leher yang menegang.

Selain itu, humor memiliki kemampuan untuk meruntuhkan tembok “keseganan” yang berlebihan.

Penguasa seringkali dicitrakan sebagai sosok yang kaku, serius, dan tak tersentuh. Namun, begitu mereka menjadi subjek lelucon, citra sakral itu luruh seketika. Mereka jadi terlihat seperti manusia biasa yang juga punya cela.

Inilah yang mereka sebut sebagai demokratisasi kritik.

Semua orang bisa ikut menertawakan ketidakberesan tanpa perlu gelar sarjana politik atau kartu anggota partai.

Lelucon juga lebih sulit untuk dibantah. Bagaimana mungkin kamu menuntut seseorang yang “hanya bercanda”? Di sinilah letak kekuatannya. Saat seorang pejabat mencoba menanggapi sebuah lelucon dengan emosi, mereka justru akan terlihat semakin konyol dan botol.

Lahirlah Streisand Effect. Semakin berusaha disensor atau ditekan, lelucon tersebut justru akan semakin meledak dan menyebar ke mana-mana.

Komedi sangat-sangat bisa menjadi bentuk perlawanan paling elegan di era digital. Kekuatan kolektif dari tawa ini menciptakan solidaritas organik. Saat kita melihat sebuah meme yang mewakili keresahan kita, ada perasaan “oh, ternyata bukan cuma saya yang merasa begini.”

Perasaan senasib inilah yang menjadi pondasi kuat sebelum akhirnya kita menyadari bahwa dibalik tawa itu, ada seni yang sangat teknis untuk menjaga agar kritik tetap cantik dan tidak berakhir di jeruji besi.

 

Kritik Tipis-Tipis: Seni Menyindir Cantik

Sebelum masuk ke medan perang kata-kata, kita harus paham bahwa kritik lewat komedi itu bukan sekadar asal memaki. “Lu jelek, lu dungu” Ada garis tipis antara menjadi kritis dan menjadi tersangka. Kita perlu seni untuk menari di atas garis tersebut tanpa terpeleset.

Beberapa tips “bawah meja” yang sering kali tidak disadari, bahkan oleh mereka yang mengaku vokal di media sosial.

Apa-an tuuh:

 

1. Gunakan Third-Person POV (Analogi Pihak Ketiga)

Jangan langsung menyerang subjeknya.

Gunakan perumpamaan atau karakter fiktif yang punya kelakuan serupa. Istilah populernya adalah Allegory Game. Misal, bercerita tentang “bos di sebuah perusahaan fiktif” padahal yang dimaksud adalah oknum pejabat. Ini adalah cara paling aman untuk menghindari delik aduan karena secara tekstual, kita sedang tidak membicarakan mereka.

 

2. Mainkan Teknik Self-Deprecating Humor

Kritiklah penguasa dengan cara memposisikan diri kita sebagai korban yang “ngenes”.

Alih-alih bilang “Kalian korupsi!”, lebih efektif bilang “Saya saking miskinnya, sampai melihat orang makan uang rakyat saja saya kira itu atraksi sulap.” Teknik ini membuat kritik terasa sebagai curhatan, sehingga sulit untuk dikategorikan sebagai penghinaan langsung.

 

3. Manfaatkan Hyperbolic Absurdity

Buatlah kebijakan yang kamu kritik terlihat sangat konyol dengan cara melebih-lebihkannya sampai ke tahap yang tidak masuk akal. Ini disebut sebagai satir ekstrem. Saat sebuah isu dibawa ke level absurd, orang akan tertawa karena sadar betapa tidak logisnya kebijakan tersebut tanpa kita perlu menyebutnya “bodoh” secara eksplisit.

Misal, kita menyindir Harga Pangan yang Naik:

  • Kenyataan: Harga beras dan cabai naik drastis.
  • Kritik Biasa: “Duh, pemerintah gimana sih, harga pangan mahal banget.” (Membosankan).
  • Hyperbolic Absurdity: “Saking mahalnya harga cabai sekarang, saya kalau mau makan sambal harus ke pegadaian dulu buat gadai BPKB motor. Bahkan kemarin tetangga saya ada yang lamaran, seserahannya bukan emas, tapi satu karung beras premium karena dianggap investasi masa depan yang lebih stabil daripada saham.”

 

4. Gunakan Innuendo dan Wordplay

Bermainlah dengan diksi yang punya makna ganda. “Kecilkan fakta yang sebenarnya”

Di kalangan anak muda, ini sering disebut sebagai Double Entendre. Gunakan kata-kata yang sedang tren di pop-culture untuk membungkus pesan politik. Pesanmu akan terasa seperti “kode” yang hanya dipahami oleh mereka yang merasa satu frekuensi, sementara bagi mereka yang kaku, itu hanya terlihat seperti kalimat biasa.

Misal, kita sedang menyindir seorang pejabat yang jarang rapat tapi asetnya bertambah.

  • Kalimat Innuendo: “Kita harus belajar manajemen waktu dari beliau. Meskipun kursinya di kantor lebih sering kosong daripada isinya, saldo tabungannya justru lebih rajin ‘lembur’ daripada staf ahlinya.”
  • Word play-nya: Kamu tidak bilang dia korupsi atau bolos, tapi kamu menyindir ketidakseimbangan antara kehadiran kerja dan kekayaan.

 

5. Prinsip Punching Up, Bukan Punching Down: Ini aturan emas.

Kritik harus diarahkan kepada mereka yang punya kuasa, bukan kepada mereka yang lemah.

Selama kamu melakukan Punching Up, masyarakat akan berada di pihakmu. Jika ada yang mencoba memperkarakan leluconmu, dukungan publik akan menjadi perisai alami yang jauh lebih kuat daripada pengacara manapun.

 

Ketika Tawa Menjadi Tabu: Masa Depan Demokrasi di Ujung Lelucon

Kita harus ingat bahwa di masa lalu, komedi adalah instrumen yang berbahaya. Ingat, bagaimana dulu ada tokoh-tokoh yang hanya dengan satu baris kalimat satir bisa membuat sebuah rezim merasa terancam.

Namun, belakangan ini, ada kecenderungan kita mundur ke belakang.

Tawa mulai dianggap tabu, dan ketersinggungan menjadi senjata untuk membungkam mulut-mulut kreatif. Jika kita sampai pada titik di mana orang harus berpikir seribu kali sebelum melempar satu jokes politik, maka saat itulah demokrasi kita sedang dalam kondisi kritis.

Kejadian beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa batasan antara kritik dan penghinaan semakin kabur, bukan karena aturannya yang jelas, tapi karena tafsirnya yang bisa ditarik ulur sesuai kepentingan.

Kita melihat bagaimana laporan bisa muncul hanya karena sebuah analogi yang dianggap tidak menyenangkan bagi telinga pihak tertentu. Catatan penting bagi kita semua: ketika otoritas mulai kehilangan selera humor, biasanya itu adalah tanda bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja dengan kinerjanya sendiri.

Sejarah mencatat bahwa humor selalu menang pada akhirnya.

Bahkan di era yang paling represif sekalipun, lelucon di warung kopi tetap hidup sebagai api kecil yang menjaga kewarasan rakyat. Kita tidak boleh membiarkan rasa takut membunuh kreativitas. Kritik melalui humor adalah tanda bahwa masyarakat masih peduli, masih memperhatikan, dan masih berharap ada perbaikan.

Untuk kita sebagai pembaca, penting untuk tetap cerdas.

Jangan biarkan jempolmu bergerak lebih cepat dari otakmu. Gunakan seni, gunakan metafora, dan tetaplah lucu. Sebab, musuh terbesar dari sebuah otoritas yang absolut bukanlah amarah, melainkan tawa yang meledak secara bersamaan dari rakyatnya yang merasa lelah.

 

Satir Sebagai Katarsis: Hanya Bisa Tertawa di Atas Keresahan

Ujung-nya: satir hanyalah sebuah katarsis.

Ia adalah ruang bagi kita untuk menghela napas di tengah hiruk-pikuk kebijakan yang terkadang di luar nalar. Kita tertawa bukan karena semuanya baik-baik saja, tapi karena jika kita tidak tertawa, mungkin kita sudah gila sejak lama.

Humor adalah benteng terakhir untuk menjaga kewarasan kita sebagai warga negara yang ingin suaranya didengar tanpa harus kehilangan kebahagiaannya. Tetaplah mengkritik dengan cara yang cerdas dan jenaka. Dunia ini sudah terlalu serius untuk ditambah dengan kemarahan yang tidak berotak.

PoV-nya: Jangan takut mengkritik penguasa dengan lelucon. Sebab kalau mereka marah, berarti leluconmu lucu. Kalau kamu yang dipenjara, berarti leluconmu itu fakta.

Ingat, wapres kita siapa?

 

Salam Dyarinotescom.

 

Leave a Reply