Panasnya hari ini benar-benar bikin basah. Ditambah asap yang datang silih berganti menutup langit. Sebagai rakyat kecil, tentu saja 😁 yang suaranya sering dianggap angin. Kita cuma bisa memandang ke luar jendela sambil berbisik: Smoke On The Water.
Berita karhutla, misalnya.
Terasa enggak ada habisnya. “Segitu lemotnya sih reaksi kita!” Geraknya serba lambat dan terkesan enggak jelas. Kalau urusan kebakaran yang jelas-jelas di depan mata saja responsnya selemot ini, jangankan membayangkan masa depan emas. Membayangkan kalau ada krisis besar atau perang saja sudah bikin nyerah duluan.
Kepasifan dan lambatnya penanganan yang ditampilkan, pada akhirnya memaksa kita untuk cuma bisa pasrah jadi penonton dari kejauhan. Melahirkan sikap “lihat saja dulu”. Bukan karena kita tidak peduli ya, melainkan bentuk kecewa atas kinerja yang serba alakadar. Sekelas nasi telor dadar tok.
Rakyat tetap tak didengar. Jadinya ya… kita lihat saja dulu sejauh mana angin bertiup.
Smoke On The Water –
Lagu Lama Yang Dimainkan
Menu utama hari ini, bukan terletak pada kobaran api di tengah hutan. Melainkan pada gaya kepemimpinan dan manajemen krisis yang dipertontonkan ke publik. Sebagai anak muda 😂, rasanya gemas setengah piring melihat lemahnya cara berpikir orang-orang di atas sana dalam menangani bencana.
Memperlihatkan mindset yang amat kontradiktif: gaji dan fasilitas mau yang paling besar, kerja mau yang paling enak, tapi begitu ada masalah krusial di lapangan, malah bingung mau bikin apa. Budaya lamban, saling lempar wewenang, dan rapat koordinasi cuma bisa ngopi. Pas dampak buruknya sudah menyebar ke mana-mana minta nasehat pakar.
Ini benar-benar contoh tidak baik, yang dipertontonkan kepada kita generasi muda.
Dampak buruk dari tontonan “kerja lemot” ini tidak berhenti di rasa kesal semata. Secara tidak sadar, menular dan menyerang psikologi anak muda melalui apa yang disebut Bystander Effect.
Nah, ini terjadi ketika seseorang cenderung tidak memberikan bantuan atau enggan mengambil keputusan saat terjadi situasi darurat, hanya karena merasa ada orang lain di sekitarnya yang dianggap “lebih bertanggung jawab”.
Seandainya generasi muda terus-menerus melihat “contoh dari para senior” yang bersikap apatis dan saling tunggu semacam ini, akan muncul yang namanya Diffusion of Responsibility kolektif. Pikiran refleks yang terbentuk akhirnya seragam: “Ngapain kita capek-capek peduli atau ambil inisiatif? Toh yang digaji tinggi buat ngurus beginian, diam-diam saja.”
Kepasifan mental yang sistemik ini perlahan mematikan empati dan kemampuan bertindak generasi masa depan. Kita dilatih untuk menjadi masyarakat yang pasif, terlena dalam kepasrahan, dan menganggap krisis sebagai tontonan.
Kebiasaan mendiamkan krisis ini pada akhirnya menciptakan standar baru yang sangat berbahaya. Kita mulai terbiasa membiarkan api membakar rumah sendiri, hanya karena merasa diri kita bukan siapa-siapa. Dan celakanya, pola “menonton kebakaran” ini sebenarnya bukan cerita baru, melainkan pengulangan dari tragedi masa lalu yang terus diputar ulang tanpa ada yang mau belajar.
Smoke On The Water –
Menonton Kebakaran Hanya Dari Layar
Kalau kita mau tarik garis sejarah sedikit ke belakang, fenomena menyaksikan krisis hanya sebagai tontonan pasif dari kejauhan ini punya kemiripan unik dengan kisah di balik lagu Smoke On The Water milik Deep Purple pada tahun 1971. Kala itu, para personel band tersebut menyaksikan langsung bangunan kasino di Montreux, Swiss, terbakar habis dari seberang Danau Jenewa.
Dari jarak yang aman di tepi danau, mereka hanya bisa berdiri. Kemudian memegang cangkir, dan mengamati gumpalan asap tebal yang membumbung melintasi permukaan air. Mereka adalah penonton pasif dari sebuah bencana besar yang terjadi di depan mata, tanpa bisa berbuat apa-apa selain merekam visual dramatis itu dalam memori mereka.
Anehnya,
Pola yang sama persis sedang terjadi di era modern sekarang. Bedanya hanya ada pada media yang kita gunakan. Kalau dulu Deep Purple melihat asap dari tepi Danau Jenewa, hari ini anak muda melihat kabut asap karhutla dan krisis lingkungan hanya melalui layar smartphone berukuran 6 inci.
Kebakaran hutan, banjir bandang, hingga krisis lingkungan tidak lagi memicu respons aksi nyata. Melainkan hanya berujung pada doomscrolling: kebiasaan mengonsumsi berita buruk secara terus-menerus di media sosial sampai mentalku tekor sendiri.
Bencana nyata bergeser menjadi sekadar deretan konten viral yang kita beri emojis sedih, kita bagikan ke Story Instagram, lalu dilupakan begitu saja dalam kurun waktu 24 jam.
Sikap apatis digital ini diperparah oleh kepungan Social Proof palsu di media sosial. Saat semua orang di linimasa cuma bisa berkomentar “Semoga cepat selesai” atau membuat meme sindiran tanpa tindakan konkret, kita merasa bahwa menjadi penonton saja sudah cukup.
Terjadi semacam Pluralistic Ignorance, di mana semua orang di dalam kerumunan digital secara keliru menyimpulkan bahwa tidak adanya tindakan nyata dari orang lain adalah tanda bahwa situasinya memang “ya mau bagaimana lagi”. Kita semua duduk manis di pinggir danau digital kita masing-masing, menyaksikan “asap di atas air” membubung tinggi, sembari pasrah menunggu angin membawa bau sangit itu hilang dengan sendirinya.
Namun, mengurut dada dan cuma mengumpati keadaan tentu tidak akan pernah mengubah kualitas hidup kita. Daripada ikut-ikutan tertular penyakit Bystander Effect dan membiarkan diri kita makin tumpul, kita butuh cara baru untuk menyalakan kembali kepekaan dan keberanian mengambil inisiatif di tengah situasi yang serba membara ini.
Smoke On The Water –
Tips Melatih Peka Mengambil Inisiatif di Tengah Situasi Membara
Meruntuhkan tembok apatisme dan melatih kepekaan diri di tengah lingkungan yang serba pasif butuh effort dan latihan yang terencana. Kita tidak bisa terus-menerus menunggu instansi atau orang lain berubah untuk bisa mulai bergerak.
Nah, hari ini kami sedang baik dengan memberikan beberapa langkah untuk memicu keberanian mengambil inisiatif dalam kehidupan sehari-hari.
Apa itu?
1. Penyadaran Cognitive Dissonance
Langkah awal adalah keberanian untuk menembak rasa tidak nyaman dalam diri sendiri ketika ada jarak antara apa yang kita yakini benar dan apa yang sebenarnya kita lakukan. Mulailah peka pada momen ketika pikiranmu mulai mencari-cari alasan seperti “Ah, bukan urusan gue” atau “Nanti juga ada yang urus”. Begitu suara kepasrahan itu muncul di kepala, langsung potong dengan tindakan kecil instan—misalnya langsung melapor via aplikasi layanan publik saat melihat fasilitas rusak atau pohon tumbang, tanpa menunggu orang lain yang melakukannya.
2. Eksekusi Micro-Interventions
Jangan menunggu krisis berskala nasional dulu baru kamu mau bergerak. Melatih refleks inisiatif itu dibangun dari krisis-krisis mikro di sekitarmu melalui tindakan-tindakan kecil yang berdampak nyata. Mulai dari menegur secara sopan orang yang buang sampah sembarangan dari jendela mobil, merapikan kabel yang melintang berpotensi bikin orang jatuh di jalan, sampai menjadi yang pertama mengangkat tangan saat forum diskusi sedang garing dan membisu. Tindakan mikro ini akan melatih muscle memory kepekaanmu agar tidak kaget saat harus menghadapi krisis yang lebih besar.
3. Membangun Collective Efficacy
Menjadi orang pertama yang bergerak sendirian memang melelahkan dan rentan kena mental fatigue. Karena itu, kita perlu secara sadar membangun jejaring kecil di lingkungan tempat tinggal atau kampus yang punya frekuensi pemikiran sama. Keberanian satu orang yang didukung oleh komunitas kecil akan memicu efek domino yang meruntuhkan kepasifan kerumunan. Ketika orang lain melihat ada kelompok kecil yang bergerak secara konsisten dan terorganisir, rasa canggung dan ragu dari masyarakat luas perlahan akan terkikis untuk ikut turun tangan.
4. Praktikkan Active Witnessing
Ubah peranmu dari sekadar spectator (penonton pasif) menjadi active witness (saksi aktif) setiap kali melihat ketidakberesan di depan mata. Jika kamu belum punya kapasitas langsung untuk memadamkan “api”-nya, gunakan aset digital dan literasi yang kamu miliki untuk mengawal isu tersebut sampai tuntas. Bukan cuma sekadar bikin konten viral yang lewat sepintas, tapi ikut memvalidasi data, mengawal proses hukum/penanganan, dan menuntut transparansi dari pihak yang bertanggung jawab sampai ada solusi konkret.
5. Terapkan Radical Accountability
Tanamkan mindset bahwa kepasifan adalah sebuah keputusan yang juga punya konsekuensi. Ketika kamu memilih untuk diam saat melihat krisis, kamu sebenarnya sedang memberi izin kepada krisis tersebut untuk makin membesar dan merugikan orang lain. Tarik rasa tanggung jawab itu ke dalam diri sendiri: stop menyalahkan keadaan atau menunggu pejabat setempat menjadi pahlawan. Mulai tanyakan pada diri sendiri setiap hari: “Hari ini, apa contribution terkecil yang bisa gue kasih biar lingkungan sekitar enggak makin hancur?”
Kita Lihat Saja Sejauh Mana Angin Bertiup
Membiarkan diri kita terus-menerus terjebak dalam kalimat “Kita lihat saja dulu sejauh mana angin bertiup”. Ini bentuk kompromi yang sangat berbahaya bagi masa depan. Angin akan selalu bertiup ke mana pun ia mau. Membawa kabut asap, ketidakpastian, dan dampak dari setiap kelalaian yang dibiarkan tanpa tindakan.
Jika kita semua sepakat untuk memilih menjadi penonton pasif yang berdiri di tepi danau, jangan kaget kalau suatu hari nanti, angin itu bertiup membawa lidah api tepat ke atas atap rumah kita sendiri, di saat sudah tidak ada lagi orang yang tersisa untuk menolong.
Sudah saatnya kita berhenti memelihara sikap apatis yang dibungkus dengan alasan “pasrah pada keadaan”. Menjadi peka dan berani mengambil inisiatif mungkin terasa berat di awal, apalagi di tengah sistem yang bergerak serba lambat dan lingkungan yang cenderung cuek. Namun, membiarkan nurani kita mati rasa jelas jauh lebih mengerikan daripada risiko ditertawakan karena bergerak sendirian.
Sebab-Nya:
INDONESIA ini tidak akan hancur oleh mereka yang melakukan kejahatan, melainkan oleh mereka yang hanya berdiri, melihat, dan memilih untuk tidak melakukan apa-apa.
Termasuk kamu!
Salam Dyarinotescom.
