Apa yang kita anggap normal di tahun 2020, kini terasa asing di 2026. Lah kok? Di dunia yang berputar sangat cepat, kita sering melewatkan betapa absurdnya perubahan yang terjadi. Kita kerap terjebak memori masa lalu dan menganggap cara hidup lama adalah standar kebenaran hakiki, padahal tanpa sadar, zaman telah mendepak kita ke realitas baru yang sama sekali berbeda.
Kata mereka: “Lu nyingkir dulu!”
Hanya dalam hitungan enam tahun saja, standar ‘kewajaran’ kita telah bergeser sejauh kutub utara ke kutub selatan. Apa yang dulu kita perjuangkan mati-matian, kini tampak seperti adegan komedi yang mengundang tawa.
Kita adalah saksi sejarah yang sering kali gagal menyadari bahwa hari ini, kita sedang menertawakan diri kita sendiri versi tahun 2020.
Semua Jadi Terasa Aneh
Transisi ini terjadi begitu halus, seperti update sistem operasi di ponsel yang kita klik “izinkan” sambil lalu. Kita baru tersadar saat melihat arsip foto atau catatan lama dan membatin, “Kok bisa ya kita dulu hidup seperti itu?”.
Ada rasa canggung yang menggelitik saat menyadari betapa banyaknya energi yang kita buang untuk hal-hal yang sekarang dianggap sebagai beban atau sekadar angin lalu.
Kegeregetan ini muncul karena kita sering dipaksa beradaptasi tanpa sempat berpamitan dengan kebiasaan lama. Kita dipaksa menerima bahwa dunia tidak lagi berputar di sekitar meja kantor atau antrean fisik yang panjang.
Perubahan ini bukan cuma soal teknologi, tapi soal bagaimana logika dasar kita dalam menjalani hari-hari telah dirombak total oleh keadaan. Ketidaksadaran ini sering kali membuat kita tampak seperti pelancong waktu yang tersesat di era sendiri.
Nah, sebelum melangkah untuk menertawakan masa lalu, mari kita open satu per satu keajaiban-keajaiban masa lalu yang sekarang sudah masuk museum mental kita.
7 Hal Normal di 2020, Tapi Aneh di 2026
Masih ingat, tahun 2020 adalah masa di mana kita semua berada dalam mode bertahan hidup, namun siapa sangka pola pikir “survival” itu melahirkan kebiasaan-kebiasaan yang kalau diingat sekarang, rasanya lebih ajaib daripada trik sulap si botak.
Beberapa hal ini dulu, yaa menjadi simbol produktivitas, simbol eksistensi, atau bahkan protokol wajib yang tidak boleh dilanggar. Tapi di tahun 2026, melakukan hal-hal ini akan membuatmu dipandang seperti orang yang masih memakai pager di tengah kerumunan pengguna neural-link.
Kita lihat apa saja keganjilan tersebut.
1. Rapat “Luring” Hanya untuk Update Status
Dulu di 2020, kita rela menembus kemacetan horor dan mencari parkir selama satu jam hanya untuk duduk melingkar di ruang rapat, mendengarkan satu orang bicara, lalu pulang. Di 2026, tindakan ini dianggap crime against productivity.
Kalau cuma mau bilang “proyek lancar, banyak seseran-nya bro”, cukup lewat asisten AI atau ruang kolaborasi virtual. Mengajak bertemu fisik tanpa alasan mendesak sekarang terasa sangat clueless.
2. Ketik-ketik Manual di Layar HP Sampai Jempol Keriting
Ingat masa-masa kita membalas email panjang atau menulis laporan pendek lewat layar sentuh sampai jempol terasa mau copot?
Itu sangat 2020. Sekarang, dengan voice-to-thought yang sudah makin presisi dan integrasi AI yang bisa menangkap maksud hanya dari poin-poin suara, melihat orang ngetik panjang lebar di tempat umum itu rasanya seperti melihat orang mencuci baju pakai papan gilesan. Sangat old school!
3. Feed Instagram yang Estetiknya “Maksa”
Tahun 2020 adalah puncaknya orang-orang rela memindahkan piring ke meja yang terkena sinar matahari hanya demi foto brunch yang sempurna.
Di 2026, trennya adalah Raw-Reality. Konten yang terlalu dipoles, difilter, atau disetel sedemikian rupa justru sering terkena label “AI-Generated” atau dianggap membosankan karena tidak punya jiwa. Kita lebih menghargai kekacauan yang jujur daripada keteraturan yang palsu.
4. Mabuk Zoom Fatigue Tiap Hari
Dulu kita bangga (atau setidaknya pamer) kalau jadwal Zoom kita penuh dari pagi sampai malam. Sekarang, Zoom Fatigue adalah istilah prasejarah.
Kita sudah lebih pintar memilah mana yang perlu tatap muka digital dan mana yang cukup diselesaikan secara asinkron. Menghabiskan 8 jam di depan kamera sekarang dianggap sebagai kegagalan manajemen waktu yang hakiki.
5. Kartu Nama Fisik dan Dompet Tebal
Siapa yang masih menyimpan tumpukan kartu nama di laci?
Di 2026, bertukar kontak sudah semudah melakukan handshake digital atau sekadar memindai bio-link yang tertanam di perangkat wearable. Membuka dompet kulit yang penuh struk kertas dan kartu plastik sekarang terasa sangat berat dan tidak praktis. Dunia sudah beralih ke invisible payment dan identitas digital yang jauh lebih ringkas.
6. Belanja Barang “Fast Fashion” Tanpa Cek Jejak Karbon
Dulu kita cuma peduli harga murah dan model keren. Sekarang, di 2026, setiap barang punya skor transparansi. Memakai baju yang tidak jelas asal-usul limbahnya atau proses produksinya bisa bikin kamu kena social-cancel di komunitas.
Kita sudah beralih dari kuantitas ke kualitas yang berkelanjutan. Gaya hidup “buang-beli-buang” sudah sangat ketinggalan zaman.
7. Menabung Tanpa Alokasi Digital Asset
Tahun 2020, mungkin banyak dari kita yang masih skeptis dengan aset digital dan hanya percaya pada tabungan konvensional di bank. Di 2026, tidak memiliki porsi dalam ekosistem digital atau smart contract terasa seperti menyimpan uang di bawah kasur.
Literasi finansial kita sudah dipaksa melompat jauh melewati batas-batas fisik mata uang lama.
Cepatnya Dunia Berubah Tanpa Kita Sadari
Melihat beberapa poin di atas, kita jadi merenung. Ternyata, kemampuan adaptasi manusia itu luar biasa sekaligus menakutkan. Kita bisa dengan sangat cepat menganggap hal-hal baru sebagai kewajaran dan membuang yang lama ke tempat sampah memori.
Kadang ada rasa rindu pada kesederhanaan tahun 2020, meski tahun itu penuh air mata, tapi di situlah titik balik banyak hal dimulai.
Kami menyadari bahwa kecepatan perubahan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan bahwa tidak ada yang benar-benar permanen. Teknologi mungkin yang memicu, tapi manusialah yang menentukan mana yang akhirnya menjadi budaya.
Sering kali berlari begitu kencang mengejar kemajuan sampai lupa menoleh ke belakang untuk sekadar mengambil pelajaran.
Perubahan di 2026 ini membuat kita belajar untuk lebih fleksibel dan tidak kaku dengan satu cara hidup saja. Apa yang hari ini kita banggakan sebagai teknologi mutakhir, mungkin dua atau tiga tahun lagi akan menjadi bahan candaan di meja makan. Itu adalah siklus yang tidak bisa kita hentikan, namun bisa kita nikmati perjalanannya.
Dan pada giliran-nya, kita semua hanyalah penjelajah di arus waktu yang terus bergerak. Menyadari bahwa dunia berubah cepat membantu kita untuk tetap rendah hati dan terus belajar. Karena di dunia ini, satu-satunya hal yang tetap adalah perubahan itu sendiri, dan kita harus selalu siap untuk “update” diri setiap hari.
Ooh Ternyata: Normal Saat Ini Belum Tentu Biasa Di Hari Nanti
Kesimpulan tentang: apa yang kita labeli sebagai “normal” sebenarnya hanyalah kesepakatan sementara antara kita dan waktu. Jangan terlalu kaku memegang prinsip lama jika itu hanya soal teknis hidup, karena esok hari standar itu bisa saja berubah total. Kita hanya perlu terus mengamati, belajar, dan menertawakan kekonyolan masa lalu agar tidak menjadi orang yang kaget dengan masa depan.
Jadilah pribadi yang terbuka namun tetap memiliki prinsip, agar kita tidak sekadar terbawa arus, tapi tahu ke mana arah tujuan kita. Ingatlah, kenyamanan hari ini adalah tantangan di masa depan, dan setiap keanehan yang kita lihat hari ini mungkin adalah kewajaran baru yang sedang mengintip di balik pintu.
Ingat-Bro: Jangan terlalu nyaman dengan ‘normal’ hari ini, karena sejarah selalu punya cara lucu untuk membuat masa lalu terlihat seperti komedi.
Yaa gak, Cing … ☺️
Salam Dyarinotescom.
