Lagi asyik menyalip di jalan tol, tiba-tiba di depan ada pemandangan yang bikin kita mengelus dada. Sebuah truk. Bukan truk biasa bukan pula truk “Transformer”, tapi truk yang baknya sudah menjulang tinggi seperti menara apartemen dadakan. Muatannya sudah seperti mau pindahan satu kampung, dan bodi truknya sendiri terlihat “bengkak” ke sana kemari. Btw, ini tuh tentang Zero ODOL.
Kalau dilihat dari belakang, lampu remnya bahkan tertutup tumpukan barang. Dalam hati kita cuma bisa berbisik, “Itu truk, atau kapal Titanic versi darat?” Hadeehh ini mungkin bikin kita senyum geli sesaat, tapi tahukah kamu, di balik gelengan kepala itu, ada harga mahal yang sudah kita bayar bersama?
Faktanya,
Fenomena truk ‘bongsor’ dan ‘obesitas’ ini bukan masalah baru. Ini adalah drama jalanan yang sudah puluhan tahun kita tonton, bahkan kita rasakan getarannya di bawah ban mobil kita.
Ironisnya,
Di negara dengan ribuan kilometer jalan tol yang mahal, kita masih membiarkan para raksasa bermuatan ini berlenggang kangkung seenaknya.
Pertanyaannya kemudian muncul,
Mengambang di atas aspal yang baru diperbaiki: Kalau kerusakannya sudah separah ini, kerugiannya sudah sebesar itu, dan kecelakaan sudah sering terjadi, kenapa program sakti Zero ODOL (menghilangkan Over Dimension Over Loading) baru mau digencarkan dan ditargetkan rampung tuntas di 1 Januari 2027? (Sumber: Disini)
Hey, ada apa di balik dasi biru rambut klimis itu?
Ditegur Pak Prabowo baru mau kerja?
Apa Itu Dosa “ODOL” dan Berapa Kerugiannya? 📉
Ada sebuah truk yang oleh pabriknya didesain hanya boleh membawa maksimal 10 ton. Tapi di jalanan, dia dimuati 20 ton. Itu sudah termasuk dosa Over Loading (OL). Lalu, truk yang sama, baknya dipotong dan disambung lagi biar lebih panjang dan tinggi dari aslinya. Itu namanya dosa Over Dimension (OD).
Mereka bukan hanya melanggar aturan, tapi juga menipu hukum fisika. Truk-truk ini berjalan dengan berat yang melebihi batas kemampuan rem, chassis, dan pastinya, kekuatan aspal jalanan.
Dosa terbesar para raksasa jalanan ini adalah menghancurkan.
Setiap kali truk obesitas ini melintas, ia memberikan tekanan ganda hingga tiga kali lipat pada jalanan. Logikanya sederhana: jalan yang dirancang untuk umur 10 tahun, bisa rusak parah dalam waktu kurang dari 5 tahun.
Mau bukti?
Lihat saja jalan-jalan nasional yang baru diaspal mulus, tapi dalam hitungan bulan sudah bergelombang seperti ombak lautan. Itu semua karena cengkeraman ganas muatan berlebih.
Lantas, berapa kerugiannya?
Data yang bisa kami dapatkan, misalnya, menyebutkan angka yang membuat kepala kita pusing. Kerugian negara akibat kerusakan jalan yang dipicu ODOL diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah per tahun. Ya, Triliun.
Uang itu seharusnya bisa dipakai untuk membangun sekolah baru, rumah sakit, atau subsidi listrik untuk emak-emak, tapi malah ludes untuk menambal dan mengaspal ulang jalan yang rusak berkali-kali.
Ini adalah siklus setan yang tak berkesudahan, di mana kita semua menjadi korban: mulai dari pembayar pajak hingga pengguna jalan yang harus menghadapi kemacetan karena lubang tak terduga.
Jadi, ketika kita bicara Zero ODOL, kita tidak hanya bicara soal truk dan regulasi. Kita sedang bicara soal uang pajak kita yang hilang percuma, infrastruktur negara yang diinjak-injak, dan yang paling penting, keselamatan nyawa di jalan raya.
Karena truk yang kelebihan muatan itu adalah bom waktu berjalan, siap meledak dalam bentuk rem blong atau terguling di tikungan, menyeret pengguna jalan lain dalam bencana.
Seberapa ‘Worth It’ Zero ODOL (Over Dimension Over Loading)? 🛠️
Oke, setelah kita tahu betapa mengerikannya dosa ODOL itu, Kamu mungkin bertanya: “Memang seberapa worth it sih, program Zero ODOL ini sampai harus bikin pengusaha gedeg dan sopir truk pusing?”
Pertanyaan yang bagus. Jawabannya, sangat worth it woy! Bahkan, ini sudah bukan lagi soal pilihan, tapi keharusan. Tapi, jangan berpikir perjalanannya mulus seperti jalan tol baru. Ada drama dan air mata di sana.
1. Jalan Tol Glow Up: Umur Panjang vs. Umur Pendek
Perbaikan Jalan itu Skill Issue? Bukan.
Selama ini, perbaikan jalan nasional dan tol itu seperti mengisi air di ember bocor. Tambal sini, rusak lagi di sana. Dengan Zero ODOL, kita secara fundamental memangkas biang kerok utama perusak jalan. Truk yang bebannya sesuai standar akan memperpanjang umur jalan secara drastis, mengurangi frekuensi perbaikan, dan menghemat triliunan anggaran.
Kita Hemat Uang, Negara Senang: Kita tahu, aspal itu mahal, dan seringnya rusak itu menyakitkan. Bayangkan triliunan rupiah yang biasanya dipakai untuk tambal sulam bisa dialihkan untuk membangun infrastruktur baru di daerah terpencil. Ini adalah investasi jangka panjang yang hasilnya akan dinikmati anak cucu kita.
2. Keamanan Prioritas Utama: Menghilangkan Bom Waktu Berjalan
Truk Obesitas, Rem Pun Stres: Truk yang kelebihan muatan pasti punya jarak pengereman yang jauh lebih panjang, dan rentan blong saat turunan. Demikian pula truk Over Dimension yang bodinya tidak stabil. Mereka adalah penyebab utama kecelakaan fatal yang melibatkan banyak korban.
Menyelamatkan Nyawa adalah Goal Utama: Zero ODOL akan memaksa seluruh armada mematuhi standar keselamatan. Artinya, kita menciptakan ekosistem jalanan yang lebih aman bagi semua: sopir truk, pengendara mobil pribadi, hingga para emak-emak yang motoran pulang dari pasar. Ini adalah investasi keselamatan yang tidak ternilai harganya.
3. Persaingan Sehat: Mengakhiri Praktik Curang di Jalanan
Ekonomi Curang Merusak Bisnis: Selama ini, perusahaan yang berani ODOL bisa menawarkan harga angkut yang jauh lebih murah karena mereka bisa membawa barang dalam jumlah ganda. Ini curang! Perusahaan jujur yang mematuhi aturan akan kalah bersaing.
Peluang Bisnis yang Adil: Zero ODOL menciptakan level playing field yang adil. Semua perusahaan harus berkompetisi dalam kualitas pelayanan dan efisiensi, bukan dalam hal melanggar aturan dan merusak jalan. Inilah yang kita sebut “persaingan sehat.”
4. Efisiensi Bahan Bakar: Dari Boros Jadi Irit
Berat Berbanding Lurus dengan Dompet: Logika fisika tidak bisa dibohongi. Semakin berat muatan, semakin besar tenaga yang dibutuhkan, dan semakin boros konsumsi bahan bakar. Truk yang bebannya standar akan jauh lebih efisien dalam penggunaan BBM.
Udara Bersih Bonus Tambahan: Selain lebih irit di kantong pengusaha (dalam jangka panjang), truk yang berjalan sesuai beban juga menghasilkan emisi gas buang yang lebih rendah. Ini adalah langkah kecil kita untuk mengurangi polusi udara, sebuah bonus manis dari program yang keras ini.
5. Modernisasi Transportasi: Indonesia ‘Naik Kelas’
Bye-Bye ke Kebiasaan Lama: Negara maju mana pun di dunia memiliki standar angkutan yang ketat. Membiarkan truk ODOL adalah tanda kita masih terjebak dalam pola pikir logistik lama yang mengabaikan keselamatan dan infrastruktur.
Pintu Masuk ke Global Standard: Dengan Zero ODOL, kita menunjukkan kepada dunia bahwa sistem logistik Indonesia sudah profesional dan modern. Ini akan meningkatkan citra kita di mata investor asing dan juga memperbaiki efisiensi rantai pasok nasional.
Permainan Kucing-Kucingan atau Kitanya yang Lemah? 😠
Inilah bagian yang paling penting, sekaligus paling pahit.
Setelah mengetahui semua manfaatnya, mengapa butuh puluhan tahun untuk bisa berkata “Cukup!” pada fenomena ODOL? Jawabannya terletak pada permainan kucing-kucingan yang terstruktur dan kelemahan kita bersama dalam menegakkan disiplin.
Pertama, mari kita akui.
Program Zero ODOL ini selalu terbentur di tembok tebal yang namanya “Kepentingan Ekonomi Jangka Pendek.” Bagi sebagian pengusaha, mengubah dimensi truk atau membeli lebih banyak truk kecil agar tidak overloading adalah biaya yang sangat besar.
Mereka lebih memilih mengambil risiko denda kecil (yang bisa “diurus” di jalanan) daripada menanggung biaya investasi jutaan hingga miliaran. Inilah lobi yang kuat, yang selama ini berhasil menunda penegakan aturan dengan berbagai alasan. Mereka rela merusak aset negara (jalan) demi keuntungan pribadi yang instan.
Kedua, sistem pengawasan dan penindakan kita selama ini seringkali tumpul ke atas, tapi tajam ke bawah.
Banyak pihak di lapangan (oknum) yang justru menjadikan ODOL sebagai ladang basah untuk pungutan liar. Truk ODOL bisa lolos dari timbangan atau pos pemeriksaan hanya dengan selembar uang. Ketika penegakan hukum menjadi bisnis, maka aturan yang seharusnya tegak akan meleleh menjadi transaksi ilegal.
Bagaimana Zero ODOL bisa berhasil jika mentalitas di lapangan masih terbiasa bernegosiasi dengan pelanggaran?
Ketiga, soal mentalitas kita sebagai konsumen dan pelaku pasar.
Kita selalu ingin harga serba murah dan cepat. Kebutuhan pasar yang mendesak ini (untuk menekan biaya logistik) secara tidak langsung memaksa pengusaha dan sopir truk mengambil jalan pintas, yaitu ODOL.
Selama permintaan pasar masih menekan biaya serendah mungkin, praktik ODOL akan selalu dicari celahnya. Ini berarti, solusi Zero ODOL tidak bisa hanya dari hulu (pemerintah), tapi juga dari hilir (kesediaan kita membayar biaya logistik yang wajar dan jujur).
Terakhir, pemerintah harus sadar, bahwa target Awal Januari 2027 adalah harga mati.
Jika target ini kembali diundur atau penindakannya hanya hangat-hangat taik ayam, maka kredibilitas negara di mata rakyat dan pengusaha akan hancur lebur. Zero ODOL bukan hanya soal aturan, tapi soal ketegasan dan keberanian politik untuk mengatakan tidak pada kepentingan yang merusak.
Ini saatnya kita berhenti bermain kucing-kucingan. Telinga harus merah, tindakan harus keras, demi masa depan jalanan kita.
Penutup: Harapan di Ujung Peradaban Logistik 🛣️
Zero ODOL, dengan segala drama dan kontroversinya, adalah sebuah proyek peradaban logistik.
Ini adalah titik balik di mana kita memutuskan untuk meninggalkan kebiasaan lama yang barbar, yaitu merusak aset negara demi keuntungan pribadi. Kebijakan ini memaksa kita untuk berpikir jangka panjang, memprioritaskan keselamatan di atas kecepatan, dan kualitas di atas kuantitas muatan.
Tentu, jalan menuju 2027 tidak akan mulus.
Akan ada penolakan, akan ada demonstrasi, dan akan ada pihak yang merasa dirugikan. Tapi kita harus ingat, setiap perubahan besar selalu datang dengan “rasa sakit” di awal. Rasa sakit ini adalah harga yang harus dibayar untuk menciptakan sistem transportasi yang efisien, aman, dan berkelanjutan, selaras dengan status Indonesia sebagai negara maju.
Maka, mari kita dukung program ini dengan kesadaran penuh. Bukan karena takut denda, tapi karena kita ingin jalanan yang lebih aman, harga barang yang stabil, dan uang pajak kita tidak terbuang sia-sia.
Karena pada akhir-nya: Jalan yang benar mungkin lebih panjang dan berliku, tapi ia selalu membawa kita ke tujuan yang lebih baik.
Salam Dyarinotescom.

