Gak semua dari kita punya power dan keberanian buat beneran move on dari hal yang sudah lewat. Seringnya, kejadian masa lalu malah jadi bottleneck “barrier” yang bikin langkah kita mendadak mandek dan terasa berat banget neeh kaki “untuk terus carry on”. Kita keasyikan meratapi hal yang bikin “nyesek” sampai-sampai lupa kalau waktu terus jalan. Dan, kita masih harus melangkah. Padahal, lewat pendekatan: Letting Go, Letting Grow, kita diajak paham: untuk bisa tumbuh, ada hal yang memang harus dilepas.
Persis kayak lagi panjat tangga.
Tangan kita gak akan pernah bisa menggapai anak tangga di atas kalau belum mau ngelepasin pegangan yang di bawah. Proses ngelepasin ini sebenarnya sering banget kita alami sehari-hari. Cuma kitanya aja yang kerap gak nyadar. Lagian, membiarkan sesuatu lepas itu bukan berarti kita harus “brainwashing” dan maksa otak buat lupa 100%, kok.
Mau pengalaman itu manis atau pahit sekalipun, semuanya tetap jadi bahan racikan yang bikin diri kita makin matang hingga ke tulang sampai sekarang. Kuncinya bukan menghapus semua memori, tapi lebih ke menetralisir rasa sakit yang pernah nempel di sana, sebelum es itu mencair.
Sederhana-Nya: Mengikhlaskan itu soal menyimpan kisah jadi pelajaran, lalu jalan lagi dengan “Haaah” yang jauh lebih lega.
Letting Go, Letting Grow: Ikhlas Tanpa Harus Lupa –
Tapi Kan …
Masalahnya,
Otak manusia itu punya desain diluar nalar.
Ada bagian bernama amygdala yang tugasnya mendeteksi rasa sakit dan ancaman, lalu menguncinya rapat-rapat di memori jangka panjang sebagai mekanisme bertahan hidup. Makanya, begitu ada hal yang bikin patah hati, gagal proyek, ketipu atau dikhianati teman, sistem saraf kita langsung membaca itu sebagai ancaman bahaya tingkat tinggi.
Secara gak sadar, kita terjebak dalam Sunk Cost Fallacy: rasa eman-eman karena udah terlanjur investasi waktu, emosi, dan energi, sampai akhirnya memilih bertahan di lumpur hisap daripada melangkah ke tanah kering.
Ditambah lagi,
Budaya kekinian sering kali toxic yang menyuruh kita buat langsung happy, ikhlas seketika, dan melupakan semuanya. Padahal, memaksakan diri buat lupa itu BERAT cok! Ibarat menimbun sampah di bawah karpet ruang tamu. Kelihatannya bersih di luar, tapi baunya tetap ke mana-mana.
Kita berpura-pura tangguh di status, padahal jam dua pagi masih mojok sambil menatap langit-langit kamar, bertanya-tanya di mana letak kesalahan hidup ini. “Teeesss menetes tuuuh air mata, bagai drama”.
Siklus berpura-pura ini justru bikin mental kita habis terkuras cuma buat mempertahankan citra bahwa “kita baik-baik saja.”
Saat kita merasa sudah berhasil melepaskan dan siap buka lembaran baru, lingkungan sekitar suka punya cara kocak buat menguji ketahanan mental. Kadang cuma gara-gara mencium aroma parfum yang sama atau mendengarkan lagu yang mendadak terputar, seluruh “TOPENG” emosi yang dibangun berhari-hari runtuh seketika.
Dan bicara soal acak yang mendadak muncul tanpa diundang, dunia ternyata pernah mencatat sebuah cerita paling GAK JELAS tentang sulitnya melepaskan sesuatu.
Letting Go, Letting Grow –
Kita Ceritakan Kembali, Agar Kisah Itu Terasa Lucu
Coba balik sebentar ke tahun 1904 di kota St. Louis, Amerika Serikat, saat gelaran Olimpiade musim panas berlangsung.
*Notes: Jangan di skip cerita ini, karena hal menarik ada didalamnya.*
Di cabang olahraga maraton, misalnya, ada seorang pelari asal Kuba bernama Felix Carbajal yang datang ke garis start dengan kostum paling tidak nyeleneh dalam sejarah olahraga: kemeja lengan panjang, celana kain formal, dan sepatu boot jalanan.
Di tengah lari maraton sejauh 40 kilometer di bawah terik matahari, Felix yang kelaparan melihat kebun apel di pinggir jalan, lalu berhenti sebentar buat memetik dan memakan beberapa buah apel yang ternyata sudah agak membusuk dan berjamur.
Bisa ditebak,
Beberapa kilometer kemudian, perutnya mengalami mules luar biasa akibat racun apel busuk tersebut. Bukannya menyerah dan keluar dari trek, Felix malah MEMUTUSKAN BUAT TIDURAN SEJENAK DI PINGGIR JALAN demi menuntaskan rasa sakit perut yang melilit. Penonton yang lewat berpikir dia sudah tumbang dan mateek di tepi jalan.
Tapi ajaibnya,
Setelah terbangun dari “tidur siang” darurat dan merelakan perutnya diobrak-abrik apel busuk, dia bangun, melangkah lagi, dan secara luar biasa berhasil finis di urutan keempat! Kisah Felix ini kalau dilihat saat itu tentu terasa membagongkan, konyol, dan KEBANGETAN BOHONGNYA. Namun ini murni musibah yang bikin malu setengah mati.
Tapi kalau ditarik ke hari ini,
Cerita maraton apel busuk itu justru jadi salah satu legenda paling menghibur dan diceritakan ulang sambil tertawa di berbagai belahan dunia. Felix tidak membuang ingatan tentang apel busuk itu dari sejarah hidupnya, tapi dia membiarkan momen itu berlalu sampai akhirnya waktu mengubah rasa sakit perut menjadi sebuah sejarah yang legendaris.
Nah,
Kehidupan kita sering kali persis seperti maraton Felix tersebut. Kita kerap kali “memakan apel busuk” berupa keputusan salah, memilih orang yang salah, atau terjebak dalam ekspetasi yang membusuk di tengah jalan.
Beberapanya bikin kita “mual” dan terkapar di pinggir jalan selama berbulan-bulan. Tapi begitu kita sadar bahwa apel itu sudah tertelan dan tidak bisa dimuntahkan kembali menjadi utuh, pilihan terbaik adalah merelakan rasa mualnya berlalu, bangun dari pinggir jalan, dan menuntaskan sisa putaran maraton kita.
CAKEP…
Letting Go, Letting Grow Dalam 5, 7 Menit Pertama
Kalau ditarik garis lurus dari cerita tadi, melepaskan itu sebenarnya bukan soal bakat atau keajaiban yang turun dari langit secara mendadak. Ini murni soal latihan membiasakan merespons rasa sakit dengan cara yang agak berbeda dari biasanya.
OKEY, sebelum kita masuk ke jurus resminya, santai dulu, tarik napas pelan-pelan dan kendurkan urat celana yang dari tadi tegang. Anggap saja artikel ini sebagai cerita lucu yang kalau dibaca sampai selesai, hadiahnya memang bukan BONUS, tapi minimal dapat rasa lega di dada yang harganya jauh lebih mahal daripada mobil mewah.
Cara praktis: Letting Go, Letting Grow yang bisa lu jajal dalam 5 menit pertama.
Letting Go, Letting Grow –
Apa sajakah itu:
1. Radical Acceptance (Terima Kenyataan Tanpa Syarat)
Langkah paling pertama, berhenti berdebat dengan kenyataan yang sudah terjadi di masa lalu. Radical Acceptance artinya lu mengaku secara sadar bahwa skenario buruk itu memang benar-benar terjadi dan tidak bisa diulang kembali. Berhenti memakai kalimat “seandainya dulu gue begini” atau “harusnya dia gak begitu” karena itu cuma membuang energi.
Begitu berhenti melawan kenyataan, rasa lelah akibat penolakan (denial) itu bakal langsung menguap seketika.
2. Emotion Labeling (Beri Nama pada Rasa Sakitmu)
Otak kita bakal jauh lebih tenang ketika sebuah perasaan abstrak berhasil diidentifikasi dan diberi label kata yang jelas.
Daripada bilang “gue gak papa” sambil menahan sesak, coba akui secara jujur: “gue lagi kecewa,” “gue merasa dibuang,” atau “gue lagi marah banget.” Praktik Emotion Labeling ini secara ilmiah menurunkan aktivitas berlebih di amygdala dan mengalihkan kendali ke otak rasional (prefrontal cortex).
Begitu perasaannya diberi nama, bukan lagi korban dari emosi itu, melainkan pengamatnya.
3. Cognitive Reframing (Ubah Bingkai Ceritanya)
Setiap peristiwa pada dasarnya BERSIFAT NETRAL “semua orang bisa kena” sampai pikiran kita sendiri yang memberi makna atau arti di dalamnya.
Cognitive Reframing itu seni mengubah sudut pandang cerita tanpa harus membohongi diri sendiri atau berpura-pura bahagia. Daripada membingkai kejadian sebagai “gue udah ditipu dan dimanfaatkan,” ubah bingkai gambarnya menjadi “gue baru saja membayar biaya kursus mahal buat belajar menilai karakter orang.”: Uang kebodohan.
Bahannya tetap sama, tapi arah dampaknya ke mental lu bakal jauh berbeda.
4. Micro-Stepping (Fokus pada Langkah Terdekat)
Ketika beban masa lalu terasa berat seperti rasanya mau MATEE, biasanya itu terjadi karena kita mencoba menyelesaikan seluruh masa depan sekaligus dalam satu waktu. Teknik Micro-Stepping mengajak kita buat memotong fokus perhatian cuma ke hal kecil yang bisa dilakukan dalam 5 menit ke depan.
Bikin kopi, rapikan kamar, atau cuci piring. Tindakan fisik kecil ini memberikan sinyal ke otak bahwa kita masih memegang kendali penuh atas hidup saat ini.
5. Somatic Release (Lepaskan Ketegangan dari Fisik)
Emosi buruk yang ditahan terlalu lama tidak pernah hilang, melainkan mengendap dalam bentuk ketegangan otot di tubuh.
Somatic Release adalah cara mengalirkan sisa emosi tersebut keluar lewat gerakan fisik sederhana dan terukur. Kita bisa melakukan sighing breathing (tarik napas dalam dua kali lewat hidung, lalu hembuskan kuat-kuat lewat mulut) atau sekadar menggoyangkan seluruh badan selama 60 detik.
Begitu tubuh fisik terasa lebih rileks, pikiran otomatis akan mengekor di belakangnya.
Letting Go, Letting Grow –
Kelegaan Itu Nyata Ketika Kita Pernah Melaluinya
Heran juga ya dengan kita ini kalau dipikir-pikir.
Padahal hal semacam ini sudah sering banget kita dengar di media sosial, podcast, atau kutipan buku, tapi kok jalannya kita masih pelan dan tertatih-tatih banget?
Mungkin karena selama ini kita mengira mengikhlaskan itu adalah sebuah garis akhir yang harus dicapai dalam sekali lompat. Padahal keikhlasan itu bentuknya lebih mirip seperti volume suara yang kita turunkan pelan-pelan. DARI yang tadinya bising dan memekakkan telinga, sampai akhirnya cuma jadi suara latar belakang yang gak mengganggu aktivitas harian kita lagi.
Ending-Nya: Masa lalu tidak pernah dirancang untuk menjadi penjara yang mengurung langkah kita selamanya. Masa lalu itu spion di kendaraan: penting buat dilirik sesekali agar kita tidak menabrak hal yang sama, tapi kalau ditatap terus-menerus sepanjang jalan, lu bakal melenceng dan menabrak pohon di depan mata.
Membiarkan hal lama lepas adalah satu-satunya cara agar jemari tangan lu punya ruang kosong untuk menggenggam kesempatan baru yang sudah mengantre di depan sana.
PoV-Nya: Kamu tidak perlu menghapus bab lama untuk bisa menikmati bab baru dalam buku hidup. Cukup balik halamannya. Baca pelajaran di dalamnya. Dan, biarkan kisah itu tetap ada tanpa perlu merusak jalan cerita yang sedang kamu tulis hari ini.
Letting Go, Letting Grow.
Jika itu terasa lelah 1000x banget 😔😒… hingga tak sanggup untuk dipikirkan, TIDURLAH. Walaupun salat lebih baik daripada tidur. 🤔
Salam Dyarinotescom.