Jarak Berbahaya Antara Knowing & Doing. Gap-nya Di Mana?

  • Post author:
  • Post category:Lifestyle
  • Post last modified:January 7, 2026
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Jarak Berbahaya Antara Knowing & Doing. Gap-nya Di Mana?

Taukah ada sebuah jebakan jika kita menjadi “Si Paling Tahu”? Kita semua punya teman kan? Atau mungkin itu cermin dari diri kita sendiri, yang otaknya mirip perpustakaan berjalan. Tanya soal time management, 😯 dia khatam. Tanya soal strategi bisnis digital, šŸ¤” dia punya daftar playlist YouTube-nya. Tapi uniknya, meski kepalanya sudah “penuh sesak” dengan segala macam teori sukses, hidupnya tetap saja berjalan di tempat yang sama selama tiga tahun terakhir. Ada semacam Gap. 😁 Terlalu banyak knowing tanpa doing.

Kadang kita terjebak dalam delusi kemajuan, merasa sudah melangkah jauh —–> huuh hanya karena sudah selesai membaca satu bab buku lagi, padahal kakinya belum pernah bergeser dari sofa kamar. Ini adalah fenomena yang menggelikan sekaligus ā€œkocakā€ kata Agung.

Kita sering merasa sudah “menjadi” sesuatu hanya karena kita sudah “tahu” caranya.

Mengoleksi sertifikat kursus online seolah itu adalah jimat keberuntungan, padahal semua itu cuma tumpukan sampah digital jika tidak pernah dieksekusi. Lebih sibuk mendiskusikan gear kamera paling mutakhir daripada benar-benar keluar rumah dan mengambil satu foto yang bagus.

Pada titik ini, kita bukan sedang berproses, kita hanya sedang melakukan prokrastinasi ā€œmageranā€ yang dibalut dengan label intelektual.Ā  ā€œIQ 150 gak tuuhā€.

 

Kenapa ‘Knowing’ Saja Tidak Cukup?

Masalah terbesarnya adalah otak kita itu kadang kala sedikit “curang”.

Saat kita menonton video tutorial atau membaca artikel inspiratif, misalnya, otak melepaskan dopamin yang memberikan rasa puas instan. Sensasi ini menipu kita, seolah-olah pekerjaan sulitnya sudah selesai.

Inilah yang disebut dengan Passive Learning.

Kita merasa pintar, merasa sudah berdaya, dan merasa sudah selangkah lebih maju dari orang lain. Padahal, realitanya kita baru saja mengonsumsi “junk food” mental yang bikin kenyang sesaat tapi tidak punya energi untuk bertindak.

Tanpa kita sadari, kita sebenarnya sedang membangun tembok raksasa yang bernama Information Overload.

Kebanjiran…

Semakin banyak kita tahu tanpa mempraktikkannya, semakin berat beban mental yang kita pikul. Kita jadi terlalu takut untuk mulai karena sudah tahu terlalu banyak risiko yang mungkin terjadi.

Teori yang rapi di kepala membuat kita alergi dengan realita yang biasanya berantakan dan penuh trial and error. Kita lebih memilih kenyamanan di dalam tempurung pengetahuan daripada harus berkeringat menghadapi tantangan yang nyata.

Nah, ilmu pengetahuan itu punya masa kedaluwarsa jika tidak segera digunakan.

Pengetahuan yang didiamkan terlalu lama akan berubah menjadi beban moral yang bikin kita sering merasa bersalah: “Aku sudah tahu teorinya, tapi kok aku belum sukses ya?” Perasaan ini muncul karena kita tidak pernah benar-benar menyeberangi jembatan yang menghubungkan apa yang ada di kepala dengan apa yang dilakukan oleh tangan.

Beri waktu sejenak, sebenarnya di mana letak kebocoran yang bikin kita cuma jago di teori tapi memble di aksi.

 

Membedah 5 Lokasi Gap (Di Sini Letak Masalahnya!)

Sebelum kita masuk ke ruang dapur basah, kita harus sepakat dulu bahwa gap ini bukan karena kita kurang pintar. Masalahnya justru karena kita terlalu fokus mengisi tangki bensin tanpa pernah benar-benar menginjak pedal gas.

Kita sering berasumsi bahwa “mengetahui” adalah garis finis, padahal itu bahkan belum masuk ke garis start. Jarak antara mengetahui cara berenang dan benar-benar melompat ke air yang dingin itulah tempat di mana banyak mimpi mati perlahan karena kedinginan.

Btw, mencari tahu di mana letak gap ini seperti mencari kebocoran halus di ban sepeda. Tidak kelihatan, tapi perlahan bikin perjalanan kita terhenti. Kita perlu jujur pada diri sendiri untuk melihat ke bagian dalam mesin keseharian kita. Jangan-jangan, selama ini kita hanya sibuk memoles mesin tapi lupa memasang rantainya.

Ada beberapa lokasi di mana gap itu biasanya bersembunyi tanpa kita sadari.

 

1. The Analysis Paralysis Gap (Kebanyakan Mikir)

Ini adalah kondisi di mana kita punya terlalu banyak pilihan strategi sampai akhirnya tidak memilih satu pun. Kita terlalu sibuk membandingkan mana metode paling sempurna, padahal metode yang paling buruk sekalipun jauh lebih baik daripada tidak ada tindakan sama sekali.

 

2. The Perfectionism Trap (Jebakan Sempurna)

Kita menunggu sampai semua lampu hijau menyala baru mau jalan. Padahal, dunia ini tidak bekerja begitu. Gap ini muncul karena kita takut hasil awal kita tidak seindah teori yang ada di buku. Padahal, done is better than perfect.

 

3. The Consumption vs Creation Ratio:

Istilah populernya adalah Input-Output Gap. Kita menghabiskan 90% waktu untuk mengonsumsi konten (baca, nonton, dengerin) dan hanya punya 10% sisa energi untuk berkarya. Gap ini yang bikin kita jadi pengamat yang hebat tapi pemain yang amatir.

 

4. The Low Friction Obsession (Alergi Gesekan)

Belajar itu nyaman karena tidak ada gesekan fisik. Eksekusi itu melelahkan karena ada “gesekan” berupa penolakan, kelelahan, dan kegagalan. Gap di sini adalah keengganan kita untuk keluar dari zona nyaman intelektual menuju zona keringat.

 

5. The Identity Gap (Si Paling Wacana)

Terkadang kita lebih suka identitas sebagai “orang yang berwawasan” daripada “orang yang sedang berjuang”. Kita takut jika kita mulai mengeksekusi dan gagal, citra pintar kita akan luntur. Kita lebih memilih diam agar tetap terlihat tahu segalanya.

Tahukah kamu?

 

Dunia Ini Tidak Cukup Menghargai Ide, Tapi Eksekusi

Sering kali kita merasa dunia ini tidak adil. Kita melihat seseorang yang mungkin pengetahuannya biasa-biasa saja, tidak sepintar kita, tapi progres hidupnya melesat bak roket. Sementara kita, yang merasa punya ide-ide brilian dan strategi yang sudah dirancang matang, masih saja stagnan.

Di sinilah letak pil pahitnya: ide itu murah, bahkan bisa dibilang gratis. Ide hanyalah sebuah bibit, sedangkan eksekusi adalah keringat yang menyiramnya setiap hari sampai tumbuh jadi pohon yang berbuah.

Kami sering melihat banyak orang hebat yang terjebak dalam “menunggu momen yang tepat”. Padahal, momen yang tepat itu sebenarnya tidak pernah ada. Ia diciptakan lewat aksi-aksi kecil yang konsisten.

Dunia ini tidak akan memberikan medali untuk seberapa banyak buku yang kita simpan di rak, tapi dunia akan memberikan jalan bagi mereka yang berani melangkah meski dengan lutut yang gemetar.

Eksekusi adalah pembeda utama antara seorang visioner dan seorang pemimpi.

Jangan sampai kita merasa sudah cukup “berkontribusi” hanya dengan memberikan saran atau kritik berbekal pengetahuan kita, sementara kita sendiri tidak pernah turun ke lapangan.

Menjadi pengamat dari pinggir lapangan itu mudah, kita bisa melihat semua kesalahan pemain dengan jelas. Tapi ingat, poin hanya didapatkan oleh mereka yang berkeringat di tengah lapangan, bukan mereka yang teriak-teriak dari bangku penonton.

Memang, eksekusi itu berisiko. Kamu bisa salah, kamu bisa ditertawakan, atau lebih parahnya, kamu bisa gagal total.

Tapi setidaknya, kegagalan dalam eksekusi memberikan kita data nyata tentang apa yang tidak berhasil. Sedangkan “keberhasilan” dalam teori hanyalah sebuah halusinasi yang tidak akan pernah mengubah saldo rekening atau kualitas hidup kita.

Jadi, berdamailah dengan ketidaksempurnaan karena di sanalah proses belajar yang sesungguhnya terjadi.

 

Semua Tentang Gap

Pada masa-nya, menutup gap antara knowing dan doing adalah tentang keberanian untuk menjadi “bodoh” saat mulai bertindak.

Pengetahuan memang penting sebagai peta, tapi peta tidak akan pernah membawamu ke mana pun jika kamu tidak pernah menyalakan mesin dan mulai berkendara. Berhenti menjadi kolektor informasi dan mulailah menjadi praktisi eksekusi.

Kecil tidak masalah, yang penting nyata.

Ingat, gap itu akan selalu ada kalau kita cuma hobi menimbun teori tanpa niat untuk mengotori tangan. Kurangi sedikit asupan informasi, perbanyak porsi aksi. Dunia sudah terlalu penuh dengan orang yang terlihat pintar yang cuma bisa bicara, jadilah orang “biasa” yang sanggup membuktikan lewat karya.

Menolak-Lupa: Ilmu itu seperti celana dalam. Penting untuk dimiliki, tapi tidak perlu dipamerkan ke semua orang kecuali kalau kamu mau jualan atau memang sudah waktunya dipakai buat beraksi.

 

Salam Dyarinotescom.

 

Leave a Reply