Mimetic Desire: Ingin Karena Lihat Orang Lain Ingin. For What?

  • Post author:
  • Post category:Lifestyle
  • Post last modified:April 10, 2026
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Mimetic Desire: Ingin Karena Lihat Orang Lain Ingin. For What?

Lihat si Anum beli sepatu baru yang solnya setebal harapan orang tua, kita mendadak merasa alas kaki kita sudah tidak layak injak. Lihat si Bombon update story lagi sunset-an di Labuan Bajo, tiba-tiba batin ini menjerit kalau kita butuh healing, padahal baru kemarin bangun siang 😂. Tanpa sadar, kita masuk dalam kompetisi tanpa misi yang cuma modal aksi, hanya karena standar bahagia “dipinjam” dari orang. Apakah ini yang namanya Mimetic Desire? Sebuah fotokopi yang membuat kita jadi pengikut Dajjal?

Dulu, rasanya gak gini gini amat.

Yaa kan.

Di kampung, pikiran ini masih “bersih” dengan apa yang benar-benar diinginkan, paling banter cuma ingin makan bakso kala hujan. Namun, semenjak lima tahun merantau di ibu kota, segalanya berubah. Semua hal mendadak jadi cantik dan menarik hanya karena teman-teman melakukannya.

Gak sadar, keinginan ini tidak lagi menunjuk ke arah hati sendiri, melainkan ke kiblat gaya hidup orang sekitar dengan klaim “TENAR”. Kalau sudah begini, so what lah? Apakah kita masih punya sisa diri yang asli, atau jangan-jangan kita hanyalah kumpulan domba sosial yang berjalan? 😔

Mimetic Desire –

 

Latah Sosial: Kok Bisa Yaa?

Hal ini sebenarnya bukan sekadar latah, tapi sudah masuk ke level “penculikan kesadaran”.

Rene Girard, seorang filsuf Prancis, misalnya.

Pernah bilang gini: Kalau kita sebenarnya tidak tahu apa yang kita inginkan. Kita belajar menginginkan sesuatu dengan cara meniru keinginan orang lain. Itulah Mimetic Desire.

Masalahnya, pergaulan zaman sekarang itu ibarat jebakan Nobita pakai baju Batman yang sangat rapi. Kalau kita tidak ikut “tidak ingin”, siap-siap saja pelan-pelan di-cancel atau setidaknya merasa jadi alien di dalam circle sendiri.

Kan…

Awalnya kita cuma menemani sohib yang hobi ngopi di kafe sebelah. Karena sering melihat mereka begitu seru, otak mulai merespons, “Eh, kayaknya asyik juga ya punya jaket oversize gitu.” Padahal, badan kita kecil kalau pakai jaket itu malah jadi kayak jemuran berjalan.

Belum lagi urusan nongkrong.

Yang nawaitu-nya cuma coba-coba “sebat”, eh lama-lama malah jadi langganan sebungkus kotak rokok hanya supaya obrolan di meja terasa selaras. Takut dianggap tak asik, takut tidak punya “bahasa” yang sama dengan mereka. Dan,

Tau gak?

Hingga akhirnya, kita kehilangan yang namanya: KEBUTUHAN ASLI DAN KEINGINAN TITIPAN.

Kita mulai membeli barang bukan karena fungsinya, tapi karena efek “ingin terlihat” atau minimal “ingin sama”.

Perangkap ini sangat halus sampai-sampai kita merasa kalau keputusan itu datang dari keinginan murni kita sendiri. Padahal, jika ditarik ke belakang, itu hanyalah ampas dari apa yang kita lihat. Dan rasa lelah ini biasanya baru terasa ketika saldo mulai menangis, sementara hati dan body tetap rata. wakaka 😂 apes kan.

Mimetic Desire –

 

Menyoal Autentisitas dalam Budaya Komparasi

Kalau kita bicara soal autentisitas, rasanya sekarang barang itu sudah jadi barang antik yang susah dicari. Di mana-mana, baik di desa maupun di kota, standar “sukses” atau “keren” itu seolah-olah sudah dipatenkan oleh satu kelompok saja. Dulu, mungkin orang tua kita bercerita bahwa prestise itu soal punya ternak banyak atau sawah luas.

Sekarang?

Prestise itu soal punya gadget terbaru atau makan di tempat yang pencahayaannya terang Instagramable.

Kita hidup di akhir zaman yang di mana “menjadi diri sendiri” adalah jargon paling klise, karena pada praktiknya, kita semua sedang saling contek mencontek satu sama lain. Kita sering lupa bahwa komparasi adalah pencuri kebahagiaan paling lihai.

Di masa lalu,

Mungkin ada orang yang merasa puas hanya dengan bisa membaca buku di bawah pohon, tanpa perlu memotret sampul bukunya agar dianggap intelektual. Woy Sekarang, aktivitasnya bukan lagi tentang “menikmati”, tapi tentang “membuktikan bahwa kita menikmati“.

Wow kita okey banget yaa.

Budaya komparasi ini membuat kita terus-menerus merasa kurang dan kurang. Sesekali miring dah otak. Kita melihat pencapaian orang lain sebagai standar minimal, padahal garis start kita jelas berbeda.

Mereka Ranger Pink kita Ranger Merah. Bahhh 🤠…

Masalahnya,

Kalau kita terus-menerus membangun identitas di atas keinginan orang, kita akan jadi seperti bangunan kardus yang tanpa tiang besi. Mudah goyah saat tren berganti. Kita perlu kembali bertanya: “Kalau seandainya tidak ada orang yang tahu apa yang kita lakukan, apakah kita semua ini tetap akan melakukan hal ini?”

Jawaban dari pertanyaan itulah yang akan menuntun kita kembali pada “How you are?” yang selama ini tertimbun oleh tumpukan hasrat mimetik.

Nah dari sini, ada…

 

Tips Menemukan “What I Want”

Sebelum kita makin tersesat di rimba pikiran orang lain, mari kita tarik diri sejenak.

Menemukan keinginan asli itu butuh detoksifikasi mental yang cukup serius. Bukan berarti harus jadi pertapa gunung, tapi minimal kita tahu mana suara hati dan mana suara dajjal. Beberapa dibawah ini adalah langkah-langkah untuk kembali menemukan “What I Want” yang sebenarnya.

Misal:

 

1. Jeda Spasial (The Ghosting Moment)

Cobalah menghilang sejenak dari lingkaran yang paling dominan mempengaruhi gaya hidupmu.

Kalau kamu merasa harus beli baju baru tiap minggu karena circle kerjamu begitu, coba ambil cuti atau menolak ajakan nongkrong sekali-sekali. Di saat sepi itulah, kamu akan tahu apa yang sebenarnya membuatmu nyaman tanpa tekanan penonton.

 

2. Audit Perasaan

Perhatikan perasaanmu setelah membeli sesuatu atau melakukan sesuatu yang “viral”.

Apakah ada rasa lega yang awet, atau cuma puas selama 15 menit pasca posting? Kalau rasa puasnya cuma seumur jagung, fiks itu keinginan titipan. Istilahnya, kamu lagi kena “Demam Tren Sesaat” yang obatnya cuma satu: Berhenti peduli.

 

3. Filosofi “Is It Just Me?”

Gunakan pertanyaan ini sebagai filter.

“Kalau cuma gue satu-satunya orang di bumi yang punya barang ini, apakah gue bakal tetep suka?” Jika jawabannya ragu-ragu, berarti kamu cuma butuh validasi sosial, bukan butuh barangnya. Jadilah kurator untuk hidupmu sendiri, bukan jadi tempat sampah untuk tren yang lewat.

 

4. Cari “Pain Point” yang Berfaedah

Orang sukses biasanya punya satu hal yang mereka sukai meski itu sulit atau membosankan bagi orang lain.

Cari satu hobi atau kegiatan yang menurutmu asik tapi menurut orang lain “biasa saja”. Di situlah letak autentisitasmu. Kalau kamu suka merajut di saat semua orang sibuk main e-sport, go for it! Itu adalah jati dirimu yang asli.

 

5. Mute the Noise, Listen to the Void

Matikan notifikasi yang memancing hasrat belanja atau pamer.

Belajarlah untuk berdamai dengan kekosongan. Seringkali kita ingin sesuatu karena takut merasa “kosong” atau ketinggalan (FOMO). Padahal, dalam kekosongan itu kita bisa mendengar apa yang sebenarnya jiwa kita butuhkan, bukan apa yang pasar tawarkan.

 

Yaa, ujung-ujung nya:

 

So What?

Kan pada akhirnya, menyadari bahwa kita punya Mimetic Desire bukanlah sebuah aib.

Itu adalah bagian dari sifat alami manusia sebagai makhluk sosial yang ingin diterima. Namun, yang jadi masalah adalah ketika kita membiarkan hasrat itu menyetir hidup kita sepenuhnya sampai kita lupa cara menginjak moral dan adab. Menjadi sama dengan orang lain mungkin memberikan rasa aman sementara, tapi menjadi diri sendiri memberikan kedamaian yang permanen.

Jadi, kalau hari ini kita masih merasa ingin ini-itu karena lihat si itu-ini, gak apa-apa juga lah.

Cukup tanyakan kembali pada diri, apakah itu harga yang pantas untuk kebahagiaan atau sekadar biaya sewa untuk pengakuan sosial?

Mulai membangun hidup dari keinginan yang jujur, bukan dari bayang-bayang sukses milik orang. Karena pada akhirnya, kita tidak akan ditanya seberapa mirip kita dengan orang lain, melainkan seberapa berani kita menjadi si fulan terbaik dari diri sendiri.

PoV-Nya: Jangan habiskan hidupmu untuk menjadi salinan yang sempurna, karena dunia tidak butuh fotokopi. Dunia ini butuh warna asli yang hanya bisa kau lukiskan sendiri.

 

Salam Dyarinotescom.

 

Leave a Reply