Di balik menuanya zaman yang makin ke sini makin mind-blowing, selalu ada kelompok yang keukeuh untuk menarik diri. Entah itu sekadar menolak dalam diam, sampai terang-terangan memusuhi inovasi bak musuh bebuyutan. Para penganut fanatisme yang kami maksud ini, memilih untuk ngebangun benteng dari gelombang teknologi. Ya, seandainya pun mereka dilabeli oleh masyarakat luas sebagai “kaum tertinggal” misalnya, mereka TIDAK bakal peduli secuil pun. “Masa bodoh!” teriak mereka.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di balik keteguhan sikap ini?
Patut dipahami, penolakan ini bukan lahir dari ketidakmampuan menggunakan alat atau urusan dompet yang seret. Boleh jadi, ini bermula dari insecure berlebih. Yaitu ketakutan yang teramat dalam akan hilangnya kendali atas ‘catatan pinggir’ yang selama ini mereka agungkan.
Betewe, teknologi saat ini kan benar-benar ngebawa banjir informasi transparan tanpa kompromi looh. ALIAS NO FILTER. Mereka mengikis otoritas, memicu keraguan, dan pelan-pelan meruntuhkan dogma.
Bagi pemikir yang kelewat ‘saklek’, kebebasan ngotak yang ditawarkan dunia akhir zaman ini adalah RED FLAG NYATA. Maka dari itu, memusuhi teknologi menjadi pertahanan terakhir agar tatanan lama yang ‘original’ menurut mereka, nggak ikutan runtuh.
Sebagian dari kita emang sering kali lebih memilih stay di dalam sangkar “Cari aman kuy!”. Suatu pikiran nyaman yang kita pahami, daripada bebas berlari di padang luas yang membingungkan. Keterikatan mutlak pada sebuah keyakinan bikin kemajuan terlihat bak kemunduran.
Dan, kocaknya:
Ketidaktahuan malah dirayakan layaknya sebuah kemurnian. Penolakan ini jadi bukti valid: musuh terbesar teknologi bukanlah gaptek, melainkan rasa takut akan plot twist kehidupan bahwa, “Ternyata, selama ini kita tertipu” 😧.
Fanatisme Menolak Teknologi. Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Apa yang Sebenarnya Mereka Takutkan?
Coba kita ngulik isi kepala mereka. Apa sih yang sebenarnya bikin kelompok fanatik ini sampai keringat dingin melihat teknologi?
Jawabannya ada pada: esensi dari teknologi informasi itu sendiri yang bersifat desentralisasi.
Kalau dulu informasi cuma dimonopoli oleh segelintir kaum elite atau petinggi. Sekarang, bocah cabe-cabean yang rebahan bermodal kuota sisa pun, bisa ngecek fakta pakai mesin pencari. Otoritas yang dulu bisa mendikte mana yang benar dan mana yang salah mendadak kehilangan tajinya.
Teknologi memangkas jarak antara si penguasa informasi dan masyarakat biasa, dan gap yang menipis itulah yang bikin para pemegang kendali merasa terancam. Belum lagi urusan nilai-nilai baru yang otomatis nempel bak prangko pada teknologi. Inovasi itu ibarat paket kombo.
Dia nggak cuma ngasih alat baru, tapi juga ngebawa nilai efisiensi, modernitas, individualisme, sampai kebebasan berekspresi. Buat kaum fanatik, ini adalah ALAMAT BENCANA. Kebebasan berekspresi berarti setiap orang berhak nanya “Kenapa begini? Kenapa begitu?“.
Bagi mereka,
Ketidakpastian yang lahir dari ribuan pertanyaan kritis itu adalah racun mematikan yang bisa membunuh kepatuhan pengikutnya secara perlahan. Tapi, ini bagian yang paling absurd sekaligus bikin ngakak hingga pipis di celana.
Banyak dari mereka yang teriak-teriak menolak sains atau nilai budaya di balik teknologi, eh… malah santai saja cosplay-an jadi tech-savvy kalau lagi butuh. Mereka mengharamkan konsep modernitas, tapi ngirim kecaman ke grup WhatsApp. Mereka antipati pada sistem digital global, tapi galang dana pakai QRIS.
LOL 😂👍🏻🫡…
Jaga Image semacam ini bikin kita sadar kalau sebenarnya mereka nggak benci-benci amat sama teknologi. Mereka cuma benci ketika teknologi itu dipakai untuk mempertanyakan eksistensi mereka. Mereka takut ketahuan salah.
Lalu, apakah drama “benci tapi cinta” ini cuma fenomena Gen Z? Oh, tentu tidak. Kita harus time travel bentar-an dulu buat ngelihat cerita konyol di masa lalu yang jadi cikal bakal ini terjadi. Eng ing eng!
Sebuah Cerita Yang Menjadi Sebab
Kita mainnya agak jauhan dikit yaa. Coba kita tarik mesin waktu ke abad ke-19, tepatnya ke wilayah Negara Kepausan di Italia (Papal States).
(*koreksi jika salah*)
Saat itu, Eropa lagi heboh-hebohnya menikmati Revolusi Industri. Jalur kereta api mulai dibangun di mana-mana, gas penerangan mulai bikin jalanan malam nggak se-horor film thriller, dan sains melesat bak roket.
Tapi, apa yang terjadi di sana?
Paus Gregorius XVI, yang memimpin saat itu, malah nge-blokir abis-abisan pembangunan rel kereta api dan penerangan jalan bertenaga gas di wilayahnya. Ia bahkan sampai ngeluarin quotes pelarangan legendaris berbahasa Prancis, “Chemin de fer, chemin d’enfer“, yang kalau diterjemahin jadinya: “Jalan kereta api adalah jalan menuju neraka“.
Alasan resminya waktu itu cukup menggelitik:
Kendaraan besi raksasa yang ngebul itu dianggap nggak natural, merusak pemandangan, dan melawan kehendak alam. Gas penerangan di jalanan pun dilarang karena dianggap cuma bakal mengundang orang buat keluyuran malam dan berbuat maksiat. Tapi, kalau kita zoom-in pakai kacamata sejarah dan politik, ketakutan aslinya ternyata jauh lebih duniawi, menurut kami.
KERETA API BIKIN MOBILITAS WARGA JADI GAMPANG.
Itu saja!
Orang dari satu kota bisa ngobrol santai sama orang di kota lain. Ide-ide pemberontakan, pemikiran liberal, dan protes terhadap otoritas bisa menyebar lebih cepat dari gosip tetangga. Sang fanatik pada tatanan lama itu sadar, kalau rakyatnya difasilitasi buat gampang jalan-jalan dan bertukar pikiran, kekuasaan absolutnya bakal terancam kiamat. Gara-gara pelarangan itu, wilayah tersebut jadi yang paling terbelakang secara ekonomi di Eropa.
Nah, setelah pemimpinnya berganti, penerusnya terpaksa ngebangun rel kereta juga karena sadar mereka butuh uang dari roda perdagangan modern.
Lucu, kan?
Teknologi tetap di-acc ketika kepepet urusan perut.
Sejarah ini ngasih kita kejutan sekaligus tinta tebal bahwa setiap penolakan keras yang dibungkus dengan alasan kemurnian, biasanya punya motif kontrol yang disembunyikan. Nah, pertanyaannya sekarang, gimana cara kita ngebaca red flags fanatisme macam ini di era sekarang biar nggak gampang terkecoh?
Bagaimana Kita Melihat Sebuah Fanatisme
Dari semua kicau burung di atas, benang merahnya makin kelihatan jelas.
Fanatisme terhadap penolakan teknologi bukanlah wujud kesederhanaan, apalagi kemurnian spiritual yang patut diromantisasi. Di balik layar, ini murni pertarungan soal siapa yang berhak mengontrol kebenaran, membatasi ruang gerak, dan menjaga agar sebuah komunitas tetap terkurung dalam ekosistem informasi yang homogen.
Ya, ujung-ujungnya ini soal mempertahankan power. Heh 🤔…
Nah, buat kita yang hidup berdampingan dengan AI, algoritma, dan media sosial, punya radar untuk mendeteksi mindset sempit semacam ini tuh wajib hukumnya. Biar kita nggak ikut-ikutan aneh, ada perspektif anti-mainstream yang bisa kita pakai.
Beberapa sudut pandang rahasia dalam membedah pola pikir kaum fanatik, yang mungkin jauh dari obrolan. Kita awali dengan:
1. Perhatikan Gejala “Echo Chamber Syndrome”
Echo Chamber atau ruang gema adalah kondisi di mana suatu kelompok cuma mau dengerin suara yang mengamini pendapat mereka sendiri.
Saat berhadapan dengan fanatisme, lu bakal sadar kalau penolakan mereka terhadap teknologi modern sebenarnya bertujuan menjaga dinding ruang gema ini agar tidak retak. Mereka takut algoritma dan mesin pencari memunculkan counter-argument valid yang bisa bikin pengikutnya mikir dua kali dan mempertanyakan doktrin lama.
Tiba-tiba dapat hidayah. Nah lhoo…
2. Deteksi Fenomena “Cafeteria Tech-Adoption”
Ini adalah istilah untuk kebiasaan “pilih-pilih makanan” alias mengambil yang enak dan membuang yang nggak disuka.
Fanatisme jarang sekali menolak kemajuan secara 100 persen. Mereka bakal mengutuk teori konspirasi internet di satu sisi, tapi tetap nyari cuan atau donasi pakai e-wallet di sisi lain. Kalau lu jeli melihat hipokrisi ini, lu bakal paham bahwa masalah utamanya bukan pada “teknologi”-nya.
Tapi pada sebesar apa alat itu bisa menopang narasi mereka.
3. Kenali Taktik “Nostalgia Weaponization”
Mempersenjatai kenangan masa lalu adalah trik marketing paling jitu kaum fanatik.
Mereka hobi banget melempar istilah good old days, mengagungkan masa lalu yang katanya lebih bermoral dan damai tanpa campur tangan mesin. Padahal, kalau diteliti pakai data kesejarahan, masa lalu yang mereka sebut suci itu sering kali penuh dengan represi dan minimnya akses kesehatan dasar.
Romantisasi ini sengaja dipakai semata-mata buat men-demonisasi masa depan “Menganggap masa depan sebagai sesuatu yang buruk.”
4. Waspadai “Cognitive Dissonance” yang Menyamar
Cognitive dissonance adalah stres mental yang terjadi ketika seseorang dihadapkan pada fakta telak yang membantah keyakinannya.
Saat sains dan teknologi membongkar fakta yang bertabrakan dengan dogma mereka, “Misal bulan pernah terbelah dua dahulu kala” reaksi pertamanya adalah denial brutal. Alih-alih merevisi pemahaman, mereka justru menyerang perantaranya (teknologinya).
Penolakan keras itu sebenarnya cuma mekanisme pertahanan psikologis untuk menutupi kepanikan karena merasa “waduh, ternyata kita salah”.
5. Pahami Konsep “Information Asymmetry”
Asimetri informasi terjadi ketika satu pihak punya akses data yang jauh lebih dominan dari pihak lain.
Ini adalah sumber bahan bakar kekuatan otoritas tradisional. Teknologi menghancurkan asimetri ini dengan mendemokratisasi data. Fanatisme benci banget sama desentralisasi ini. Karena kalau semua orang sama-sama cerdas dan tahu fakta aslinya, hierarki kekuasaan yang menempatkan mereka di puncak piramida akan langsung ambyar.
Fanatisme Vs Teknologi
Benturan antara fanatisme dan teknologi bukanlah sekadar perdebatan gopek-an tentang layar sentuh, satelit, atau kecerdasan buatan. Ini adalah perang epik antara keterbukaan pikiran versus keterikatan buta.
Teknologi, misalnya. Terlepas dari segala kekurangannya di sana-sini, secara natural akan terus bergerak menyeret peradaban manusia ke depan. Ia akan terus merobohkan batas-batas yang dulu dianggap sakral, dan tanpa ragu menampilkan fakta yang selama ini sengaja disembunyikan di balik tirai dogma.
Di sisi seberang,
Mereka yang memilih jalan fanatisme akan terus sibuk membangun tembok dari tumpukan ketakutan mereka sendiri. Mereka bakal terus cari cara buat meyakinkan diri sendiri bahwa di luar sana ada monster yang siap memangsa moralitas mereka.
Tapi, waktu sudah berkali-kali membuktikan bahwa sejarah tidak pernah sudi berpihak pada mereka yang memaksa berjalan mundur. Sebanyak apa pun mereka “ngenyek”, kemajuan punya cara super lucunya sendiri untuk menyusup lewat celah-celah kehidupan mereka yang paling murah sekalipun.
Jadi, rasanya kita cukup duduk santai sambil terus membenahi cara kita merespons inovasi, tanpa perlu capek-capek menarik mereka yang memang hobi tenggelam dalam ilusi. Karena sekuat apa pun penolakan itu, realitas zaman akan selalu memenangkan pertarungan.
Kamu tahu gak sih, biasanya diakhir episode sebuah film, semua akan terbuka jelas. Dan sadarnya, kita sudah diujung episode, looh. Siap-siap tobat, kawan. 😂😁😂…
Yang bisa kita jadikan catatan adalah:
Mereka yang sibuk mengutuk gelapnya masa depan, pada akhirnya harus rela meminjam senter dari orang-orang yang berani berjalan maju mencari cahaya.
Salam Dyarinotescom.
