Kemarin kita sudah mengupas tuntas soal qana’ah. Kalau qana’ah itu urusannya menerima apa yang ada di tangan, maka Ridha adalah level selanjutnya: mencintai apa pun yang Allah berikan, bahkan saat takdir itu rasanya sepahit kopi tanpa gula. Ridha itu bukan sekadar “ya sudahlah”, tapi sebuah seni untuk berhenti menjadi “pengacara” yang hobi menggugat keputusan Tuhan di ruang sidang pikiran kita sendiri.
Jadi, bayangkan kita sudah dandan rapi, pasang parfum paling wangi, buat wawancara kerja, misalnya. Ternyata, di jalan malah kena cipratan air genangan dari ban mobil yang lewat. Kalau sabar, kita mungkin cuma mengelus dada sembari mengucapkan istighfar secara perlahan.
Tapi kalau ridha? 😯
Kita bisa tersenyum sambil membatin, “Oh, mungkin Allah mau kasih tahu kalau baju ini sebenarnya kurang cocok buat impresi pertama.” Kedengarannya agak gila? Memang. Ridha itu memang semacam “kegilaan” spiritual yang hanya dipahami oleh mereka yang sudah lelah bertengkar dengan kenyataan.
Masih Maksa: Mengapa Harus Ridha?
Banyak dari kita yang terjebak dalam frame “andai saja”.
Andai aku lebih tinggi, andai saja aku lahir di keluarga sultan, atau andaikan mantan gak nikah duluan 😂. Padahal, debat kusir dengan masa lalu itu seperti lari di atas treadmill: capeknya luar biasa, tapi kita gak pindah ke mana-mana.
Ridha hadir sebagai tombol shutdown untuk kegaduhan mental tersebut. Tanpa ridha, hidup kita hanya akan berisi mendang-mending yang ujung-ujungnya bikin kita menderita secara sukarela. Hal yang jarang orang sadari adalah bahwa ridha itu sebenarnya “skincare” terbaik untuk kesehatan mental, lho.
Saat kita ridha, hormon stres alias kortisol dalam tubuh gak bakal melonjak drastis saat rencana berantakan. Kita menyadari bahwa ada skenario besar yang sedang berjalan, dan kita hanyalah aktor yang perlu memainkan peran itu dengan sebaik mungkin.
Ridha bukan pula berarti pasrah buta, melainkan percaya penuh bahwa Sang Sutradara tidak mungkin salah menuliskan naskah untuk hamba-Nya. Di pastikan sering menganggap ridha itu beban, padahal itu adalah kunci kemerdekaan. Dengan ridha, kita tidak lagi dijajah oleh ekspektasi manusia atau ambisi yang mencekik leher.
Tapi, kenapa sih kita masih sering hobi berdebat dengan takdir? Kenapa hati ini rasanya berat banget buat bilang “okey …” sama kenyataan yang pahit?
Yang pasti ada alasannya. Dan itu pantas menjadikan kita “STOP!” jadi kritikus takdir.
Alasan yang Membuat Kita Berhenti Debat
Membahas tuntas perihal ridha memang menuntut kesadaran logika dan tingkat kewarasan level berikutnya, sebab kita tidak sedang membicarakan teori analisis teknikal, melainkan sebuah perang batin untuk menundukkan ego pribadi yang gengsinya sering kali menjulang tinggi.
Alasan berhenti dabat itu, karena:
1. Ilmu-Nya vs Sotoy-nya Kita
Secara teologis, ini disebut Al-Ilmu al-Muhith (Ilmu yang Meliputi). Kita sering merasa paling tahu apa yang terbaik buat kita. Padahal, pengetahuan kita itu ibarat setetes air di ujung jarum yang dicelupkan ke samudra, sementara ilmu Allah adalah samudranya.
Kita debat karena kita merasa “sotoy…” Kita merasa: sukses adalah jalan satu-satunya menuju bahagia, padahal mungkin Allah sedang menghindarkan kita dari fitnah besar yang ada di balik kesuksesan tersebut. Berhenti debat artinya mengakui bahwa pandangan kita itu terbatas, sesederhana kita gak bisa lihat apa yang ada di balik tembok.
2. Skenario Luthf (Kelembutan yang Tersembunyi)
Pernah gak sih, gagal dapet sesuatu tapi beberapa bulan kemudian malah bersyukur karena gak dapet? Itulah Luthf. Allah sering membungkus anugerah-Nya dalam kemasan musibah. Kita protes karena kita cuma lihat kulitnya yang kasar, bukan isinya yang manis.
Saat kita berhenti debat, kita mulai belajar mencari “pesan rahasia” di balik setiap kejadian. Kita gak lagi reaktif terhadap hal-hal yang tidak sesuai rencana, karena kita tahu ada kasih sayang yang sedang bekerja di balik layar, bahkan saat kita sedang menangis sekalipun.
3. Urusan Rezeki Sudah “Fixed Price”
Konsep Ar-Rizqu al-Maqsum (Rezeki yang Telah Dibagi) adalah obat paling manjur buat penyakit iri hati. Kita sering debat dengan takdir karena merasa orang lain dapet lebih banyak dengan usaha yang lebih sedikit. Padahal, porsi rezeki itu sudah fixed, gak bakal tertukar kayak sandal di masjid.
Berhenti debat soal porsi orang lain akan membuat kita fokus menghabiskan porsi kita sendiri dengan cara yang elegan. Ridha membuat kita sadar bahwa apa yang menjadi milik kita tidak akan pernah meleset, dan apa yang bukan milik kita tidak akan pernah menetap meski kita ikat dengan rantai sekalipun.
4. Waktu Kita Terbatas untuk Mengeluh
Dunia ini cuma mampir minum, alias temporary. Kalau kita habiskan waktu buat protes soal kenapa cuaca panas atau kenapa macet, kita bakal kehilangan momen untuk menikmati perjalanannya. Setiap detik yang dipakai buat berdebat dengan takdir adalah detik yang hilang untuk bersyukur.
Banyak orang lupa bahwa mengeluh itu butuh energi besar. Dengan memilih ridha, kita sebenarnya sedang melakukan efisiensi energi mental. Kita simpan energi itu untuk hal-hal yang bisa kita kontrol, daripada membuangnya untuk menggugat hal-hal yang sudah diputuskan di Lauh Mahfuzh.
5. Ridha adalah Mahar Surga
Ada istilah Ar-Ridha bi Qadha-illah (Ridha atas Ketetapan Allah). Ini bukan sekadar pilihan gaya hidup, tapi investasi akhirat, lho. Allah menjanjikan keridaan-Nya bagi mereka yang ridha kepada-Nya. Ini adalah win-win solution yang paling mutlak.
Kalau kita ridha di dunia yang cuma sebentar ini, Allah bakal kasih tempat tinggal yang gak ada lagi debat di dalamnya. Jadi, saat hati mulai mau protes, ingatkan dia: “Mau lanjut debat atau mau tukar sama ridha-Nya Allah?” Biasanya, ego langsung mingkem kalau sudah bahas soal ini.
Bukan Berarti Kalah, Ini Tentang Memilih Kewarasan di Tengah Ambisi
Banyak yang menyalahartikan ridha sebagai bentuk kekalahan. Ngaku saja 😁…
Seolah-olah kalau kita ridha, kita jadi orang yang lempeng, gak punya ambisi, dan pasrah disakiti. Big no! Ridha justru adalah level tertinggi dari ketangguhan mental. Kita tetap berusaha sekuat tenaga (ikhtiar), tapi kita tidak membiarkan hasil akhir menghancurkan kedamaian batin kita.
Ini adalah cara kita tetap waras di tengah dunia yang makin penuh tipu-tipu.
Mari kita belajar dari Nabi Yusuf AS.
Bayangkan, beliau dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya, difitnah, lalu dipenjara bertahun-tahun. Apakah beliau demo kepada Allah? Tidak. Beliau ridha. Keridaan itulah yang menjaga kewarasan beliau di dalam penjara hingga akhirnya Allah angkat menjadi bendahara Mesir.
Yusuf AS tidak kalah oleh keadaan. Beliau justru menang karena hatinya tidak pernah terpenjara oleh rasa benci atau protes kepada takdir.
Kita seringkali merasa paling menderita hanya karena target KPI kantor gak tercapai atau putus cinta. Padahal, ridha adalah tentang memahami bahwa setiap episode hidup, sepahit apa pun itu, adalah bagian dari proses “pematangan” jiwa.
Kita memilih untuk tetap bahagia bukan karena segalanya baik-baik saja, tapi karena kita yakin bahwa Allah selalu punya maksud baik di balik segalanya.
Jadi, kalau ada hal yang gak sesuai rencana, jangan buru-buru pasang muka ditekuk. Tarik napas dalam-dalam, senyum sedikit, dan katakan dalam hati: “Oke ya Allah, aku terima. Pasti ada kejutan setelah ini.” Itulah puncak dari kekuatan.
Menjadi tenang di tengah badai bukan karena badainya reda, tapi karena kita percaya pada Sang Pemilik Badai.
Cara Terindah Mengakhiri Lelah
Hidup itu tentang belajar melepaskan apa yang memang harus lepas. Lelah yang kita rasakan selama ini sebenarnya bukan karena beban hidup yang berat, tapi karena kita terlalu kuat menggenggam hal-hal yang sebenarnya bukan otoritas kita. Ridha adalah cara kita meletakkan beban itu dan membiarkan Allah yang mengatur segalanya.
Saat hati berhenti debat, saat itulah ketenangan yang sesungguhnya akan bertamu dan menetap. Sejatinya, kedamaian tidak ditemukan dalam ketiadaan masalah, melainkan dalam keridaan atas kehadiran masalah tersebut.
PoV-Nya: Siapa yang ridha terhadap takdir, maka takdir akan berjalan baginya dalam keadaan ia berpahala. Dan, siapa yang tidak ridha, maka takdir “tetap juga” akan berjalan baginya. Tapi dalam keadaan ia berdosa.
Salam Dyarinotescom.

