Narasi Pertambangan Rakyat: Ternyata Asing Masuk. Kebobolan?

  • Post author:
  • Post category:Did You Know
  • Post last modified:October 23, 2025
  • Reading time:8 mins read
You are currently viewing Narasi Pertambangan Rakyat: Ternyata Asing Masuk. Kebobolan?

“Rakyat-nya” Siapa Ya? – Ceritanya gini: Sedang asyik menikmati hype Sirkuit Mandalika yang keren, bangga dengan superbike yang menderu. Tiba-tiba, satu jam dari keriuhan itu, ada gunung emas yang sedang dikeruk. Bukan dengan sekop kecil ala penambang tradisional, tapi skala besar, cuan abis! Pertambangan Rakyat.

Yang lebih bikin kening berkerut, tambang emas ilegal ini katanya dijalankan atas nama “Pertambangan Rakyat”. Tujuannya mulia, biar hasil bumi dinikmati warga lokal. Tapi ketika diselidiki, justru bingung. Bengong bodoh 😧…

Mendapati “rakyat” yang bekerja di sana kok ling-lung ketika diajak bicara pakai Bahasa Indonesia? Ini bikin kita bertanya-tanya, jangan-jangan “rakyat” yang dimaksud adalah rakyat dari dimensi lain, “sipit-sipit bau taik” atau mungkin… dari negara tetangga yang jauh?

Ini kan jadinya komedi satir yang menyedihkan. “Rakyat” mana yang tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa resmi negaranya sendiri? Jelas, ada yang sedang coba menipu kita semua dengan narasi: Manis di bibir, pahit di perut.

 

3 Kg Emas Disetor Sehari? Ngeri Woy!

Coba kita hitung-hitungan sederhana, tapi hasilnya bikin melongo. Di Sekotong, Lombok Barat, misalnya, tambang ilegal ini diperkirakan bisa menyetor 3 kilogram emas dalam sehari. Bayangkan, 3 kilo! Jika harga emas per gramnya saja sudah: “dua jutaan sekian”, kalikan dengan 3.000 gram. Angka yang dihasilkan per hari itu gila-gilaan, dan itu mengalir ke kantong siapa?

Tentu, bukan kantong Bapak atau Ibu yang sedang baca berita-nya disini.

Hasil bumi Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, harusnya menjadi pilar utama pembangunan. Emas di Lombok itu seharusnya jadi pelumas untuk infrastruktur sekolah di NTB, untuk upgrade fasilitas kesehatan, atau paling tidak, untuk kesejahteraan nyata masyarakat Sekotong itu sendiri.

 

Tapi apa yang terjadi?

Kekayaan itu diangkut, dikemas, dan diselundupkan, meninggalkan lubang menganga di tanah, dan lubang yang lebih besar di hati kita karena gemas.

Kejadian ini benar-benar bikin kita ngelus perut. “Amit-amit”

Ketika daerah lain pontang-panting mencari modal untuk bangun jalan desa, di dekat sirkuit internasional yang glamor itu, ada tambang emas beroperasi seenak jidat.

Bahkan, laporan mengenai pembakaran basecamp (tempat perkemahan) yang diisi oleh orang-orang dari negara China sempat terendus jauh sebelum ada penindakan serius. Artinya, praktik ini sudah berlangsung lama, sudah jadi rahasia umum, tapi entah kenapa semua mata seolah ditutup rapat.

Sungguh menggelikan dan mengesalkan ketika kita melihat kekayaan melimpah ruah, tapi manfaatnya sama sekali tidak menyentuh rakyat yang punya wilayah. Justru yang ada, narasi hoax pertambangan rakyat digunakan sebagai tameng untuk menutupi operasi besar-besaran yang didalangi oleh pihak asing yang tak bisa berbahasa Indonesia!

Ini jelas bukan lagi kecelakaan, tapi sebuah kesengajaan yang terorganisir. Lantas, bagaimana sih modus mereka ini bisa lolos dari pantauan?

 

Modus Baru Tambang Ilegal: Ini Dia 5 Diantaranya

Kita harus akui, para pemain di balik bisnis tambang ilegal ini punya otak encer dalam hal memanipulasi aturan. “Bandit sejati” Mereka tidak lagi menggunakan cara-cara primitif. Semuanya serba terstruktur, punya narasi, dan yang paling parah, punya backing yang kuat.

Ibarat main bola, mereka ini sudah level legend dalam urusan melanggar kartu. Mereka memanfaatkan celah hukum dan kelemahan koordinasi antar lembaga.

Membangun sebuah opera pertambangan di mana para penambang lokal hanya dijadikan figuran, sementara sutradara dan produser utamanya adalah pihak yang punya modal besar. Dan sayangnya, modal itu seringkali datang dari luar negeri.

Mari kita jujur atas jurus-jurus ninja modus ‘hilang’ ala tambang ilegal yang bikin kita geleng-geleng ndas-mu.

Sebut itu:

 

1. “The Humble Mask”: Wajah Rakyat Jelata

Membangun narasi bahwa kegiatan tambang itu adalah murni inisiatif masyarakat lokal untuk mencari nafkah. Ini adalah modus paling dasar tapi paling efektif untuk meredam kecurigaan. Dengan mengklaim sebagai “Pertambangan Rakyat”, mereka otomatis mendapat perlindungan sosial dan politik.

Siapa yang tega “Coba?”, menindak rakyat kecil?

Padahal, di balik humble mask ini, tersembunyi operasi alat berat, investasi besar, dan tentunya, pekerja bayaran yang justru tidak berasal dari desa setempat, bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia. Ini adalah win-win solution bagi para cukong: untung besar, risiko kecil.

 

2. “Foreign Worker, Local Pretender”: Impor Pekerja Senyap

Mengimpor tenaga kerja asing secara diam-diam (atau dengan izin yang abal-abal) untuk menjalankan operasi yang butuh keahlian spesifik atau sekadar untuk menjaga kerahasiaan. Kasus di Sekotong adalah contoh nyata. Pekerja yang ketahuan justru tidak mengerti Bahasa Indonesia.

Taukah apa yang penulis pikirkan saat ini:

Ternyata, para oknum itu adalah Warga Negara Indonesia sendiri, berkolaborasi dengan pengusaha yang sengaja mendatangkan tenaga kerja asing berbiaya murah. Tenaga kerja itu katakanlah dari Tiongkok, misalnya.

Pertanyaannya, mengapa mesti pekerja asing? Alasannya cerdik: langkah ini diambil agar para pekerja tersebut tidak bisa berkomunikasi, sehingga mereka tak akan pernah bisa membocorkan identitas dalang atau ‘nama bos besar’ yang sebenarnya. Sebuah kebangsatan yang jahat, bukan?

Dan juga…

Logikanya, jika ini pertambangan rakyat Lombok, tentu saja pekerjanya adalah kakang dan mbakyu dari Lombok. Kehadiran pekerja asing ini mengindikasikan bahwa tambang itu bukan milik rakyat, melainkan milik pemodal asing yang hanya ingin mengeruk tanpa terdeteksi, apalagi jika sempat ada laporan pembakaran basecamp yang diisi warga China.

 

3. “Invisible Shield”: Backing Level Dewa

Bisa dipastikan memanfaatkan oknum aparat, pejabat lokal, atau tokoh berpengaruh untuk menjadi “pelindung” tak terlihat (atau backing) operasi mereka di lapangan. Solusinya: Pecat aparatur keamanan setempat.

Ini adalah level terberat dari modus operandi. Aparat setempat diduga tidak berani menindak, alasannya bisa karena sungkan, takut, atau bahkan menikmati hasil dari kegiatan ilegal itu.

Jika sudah ada backing kuat, jangankan penindakan, sekadar menagih biaya sewa lahan pun bisa terasa sulit dan mengerikan. Fenomena ini membuat aturan hukum seolah menjadi macan ompong.

 

4. “Area Hopping”: Pindah Lapak Kilat

Melakukan operasi di satu wilayah (seperti di Sekotong, Lombok) dan setelah terendus, mereka dengan cepat memindahkan narasi dan operasi ke wilayah lain (seperti di Lantung, Sumbawa) dengan template modus yang sama.

Mereka tahu betul bagaimana memanfaatkan wilayah yang luas dan pengawasan yang lemah. Begitu Sekotong mulai panas, narasi “pertambangan rakyat” yang sama langsung dibangun di Lantung.

Ini adalah taktik hit and run yang efisien, membuat penegak hukum harus mulai dari nol lagi, sementara emas sudah terbang entah ke mana.

 

5. “The Silent Giant”: Skala Besar Berkedok Kecil

Meskipun menghasilkan 3 kg emas per hari (skala industri!), mereka berupaya agar operasi itu terlihat seperti kegiatan gurem dan kecil, sehingga tidak masuk radar pengawasan nasional.

Skala 3 kg per hari jelas bukan lagi tradisional, melainkan industri berat. Tapi, dengan memanfaatkan klaim “rakyat” dan menempatkan tambang di lokasi yang tersembunyi (walaupun dekat dengan Mandalika), mereka berhasil beroperasi layaknya raksasa yang sedang tidur.

Mereka berharap, selama tidak ada geger besar, mereka akan tetap menjadi “rahasia umum” yang aman dan menguntungkan.

 

Negara Kebobolan, Dong: Gercep Bertindak Paman!

Melihat semua modus dan angka 3 kg emas per hari yang lenyap, kebanyang-kan bahwa: Negara ini memang kebobolan!  Ini bukan lagi kerugian kecil, tapi pembajakan kekayaan alam yang sistematis. Sebagai warga negara, kita jadi bertanya-tanya, mana janji para pemimpin yang katanya punya kinerja?

Jika praktik semacam ini dibiarkan merajalela di ring satu pariwisata nasional, wajar saja kita selalu stuck di tempat dalam urusan ekonomi dan pembangunan.

Bagaimana mungkin daerah bisa maju kalau kekayaan alamnya disedot habis-habisan oleh pihak asing yang bersembunyi di balik narasi rakyat, sementara oknum lokal justru terlibat dalam backing-backing-an yang memalukan?

Mana para Menteri Koordinator (Menko) yang katanya punya kinerja Terbaik?

“Bukan kerjaan kami Bro” Jawab-nya.

Kekayaan itu hilang setiap hari, literal setiap hari! Kita butuh tindakan cepat dan tegas, bukan lagi rapat koordinasi yang hanya menghasilkan wacana yang lembek. Kita butuh sosok yang berani mendobrak tembok bekingan itu.

Woy, peran aparatur keamanan yang seharusnya menjadi garda terdepan kedaulatan, tidak berani menindak, atau memang sengaja tidak bertindak? Dan tak ketinggalan, mana suara para tokoh agama yang seharusnya lantang menyuarakan amar ma’ruf nahi munkar?

Diamnya mereka seolah melegitimasi akhlak beking-bekingan yang merugikan jutaan rakyat yang tak berdaya.

Pun akhirnya sadar, dengan lambatnya reaksi dan seakan-akan adanya pembiaran, negeri ini memang sedang dibiarkan merugi dan merugi. Bukan hanya emas yang hilang, tapi juga kepercayaan publik terhadap sistem.

Sudah saatnya Gercep Bertindak, Paman! Jangan sampai kekayaan kita hanya menjadi dongeng yang diceritakan pada generasi mendatang, bahwa kita pernah punya emas, tapi dicuri oleh “rakyat” yang tak bisa Bahasa Indonesia.

 

Hasil Bumi, Negara dan Kepentingan Rakyat

Inti dari semua kekesalan dan keanehan ini adalah satu: Kedaulatan atas Hasil Bumi.

Emas di Sekotong, Sumbawa, misalnya, atau di mana pun itu, adalah modal bangsa, bukan komoditas bebas yang bisa dijarah oleh siapa pun yang punya modal dan backing kuat. Fenomena “Pertambangan Rakyat Palsu” ini adalah alarm keras bahwa sistem pengawasan kita sedang sakit parah.

Ini adalah momen bagi pemerintah dan seluruh penegak hukum untuk duduk bersama, bukan lagi hanya ngopi dan nongkrong, melainkan menyusun strategi penindakan yang tanpa pandang bulu.

Cabut narasi palsu, tangkap cukong-nya, dan adili oknum backing yang terlibat. Cabut anggaran para kemenko yang tak bisa kerja itu. 😚

Karena jika dibiarkan, kekayaan itu akan terus mengalir ke luar negeri, meninggalkan kita dengan kerusakan lingkungan dan utang yang semakin menumpuk.

Kita hanya bisa berharap agar ‘kalian’ segera tersadar: “gue dikadalin, rumah gue dimaling” – Gue-kan kepalanya macan asia. Setelah sadar: bergeraklah – Atas Nama Rakyat.

Jangan sampai kita menjadi bangsa yang kaya raya di atas kertas, tapi miskin di kehidupan nyata. Sebab: Bukan ‘Pertambangan Rakyat’ namanya kalau bukan untuk rakyat, tapi itu namanya ‘tambang dan emas curian’ kalau yang makan malah asing dan oknum!

Kita dapat kuah-nya saja.

Kami lampirkan surat dari para pembaca kami, sebagai berikut:

 

Wahai Pemimpin, dengarkanlah kebisingan nurani yang kini mendidih!

– Tanah air ini sejatinya telah menjadi ladang curian asing. Kita dijarah, Paman! Di mana raungan Pasukan Khusus yang selama ini kalian sanjung? Di mana nyala Mental Patriot yang kerap kalian gaung? Segera bergegaslah, sebelum kedaulatan hanya tersisa cerita. Kami, yang masih menaruh segenap asa pada pundakmu, menunggu janji itu.

Amona (Anak Monumen Nasional).

 

Salam Dyarinotescom.

Leave a Reply