The False Sunrise: Cahaya Itu Terbit di Barat. Kita Malah Berjemur

You are currently viewing The False Sunrise: Cahaya Itu Terbit di Barat. Kita Malah Berjemur

Ternyata yang selama ini kita resahkan tidaklah salah. Matahari telah terbit dari barat. Bukan dalam simulasi astronomi NASA atau cuplikan film blockbuster kiamat Hollywood yang penuh ledakan, tapi melalui sebuah pergeseran peradaban yang sangat sunyi namun mematikan. The False Sunrise.

Kita sibuk menatap ufuk setiap pagi, memastikan kompas tidak eror, padahal secara epistemologis “cara kita berpikir dan memandang dunia” si bola api itu sudah lama pindah tongkrongan.

Cahaya ilmu, teknologi, gaya hidup, hingga standar moralitas tidak lagi memancar dari Timur, melainkan datang dengan silau yang luar biasa dari arah sebaliknya. Sebuah kiamat kecil yang terjadi di balik layar gadget dan kebijakan publik kita.

 

Kitanya Eeh Malah Berjemur! 😒

Masalahnya, kita tidak sedang lari ketakutan sambil meneriakkan asma Allah. Justru, sedang asyik “berjemur” di bawah sinar matahari barat ini, lengkap dengan kacamata hitam branded dan segelas kopi kekinian di tangan.

Menikmati kehangatan teknologi yang mereka berikan, merasa “tercerahkan” oleh ideologi-ideologi impor yang tampak berkilau, tanpa sadar bahwa kulit spiritual kita mulai terbakar hingga melepuh. Kita merasa hidup di zaman paling cerdas, padahal mungkin ini adalah zaman di mana kita paling tidak sadar arah.

Anehnya, kita merasa “terang” ini adalah kemajuan.

Kita menyerap semua vibes dari sana: dari cara kita berpakaian, cara kita mencari nafkah, hingga cara kita memvalidasi kebenaran. Kalau Barat bilang A, maka seluruh dunia akan mengangguk sambil bilang “amin”. Kocak banget yaa kan!

Kita menjadi sangat bergantung pada sinar ini. Bayangkan saja, untuk mencari jadwal salat atau membaca Al-Qur’an pun, kita butuh satelit, sistem operasi, dan chip yang semuanya “terbit” dari sana. Tanpa cahaya mereka, kita seolah buta mendadak di tengah jalan.

Ketergantungan ini membuat kita lupa bahwa matahari yang satu ini adalah The False Sunrise. Ia memang terang, tapi tidak memberi vitamin bagi kalbu. Ia justru menghapus bayang-bayang ketuhanan dalam setiap sendi kehidupan kita.

Kita sudah sangat nyaman dengan suhu ini, merasa bahwa inilah puncak peradaban manusia yang sebenarnya. Kita tidak lagi curiga, jangan-jangan kehangatan yang kita rasakan ini adalah awal dari proses “pemanggangan” akidah secara perlahan.

Namun, yang paling mengerikan bukan soal ketergantungan fisiknya, melainkan bagaimana sinar ini mulai memutarbalikkan logika dasar kita sebagai manusia.

Sesuatu yang dulu dianggap sakral kini dianggap sampah, dan yang dulu dianggap dosa kini dianggap sebagai pencapaian. Kamu pasti tahu apa yang sedang kita bicarakan disini kan? Kita lihat bagaimana tatanan ini mulai dibongkar satu per satu.

 

Bongkar Tatanan Yang Diubah. Segera Bersiap!

Dunia saat ini sedang mengalami apa yang disebut sebagai Inqilab al-Fitrah atau terjungkalnya sifat dasar manusia.

Kita sedang dipaksa masuk ke dalam sebuah tatanan dunia baru yang secara sistematis menghapus jejak-jejak petunjuk langit dan menggantinya dengan aturan buatan manusia yang seolah-olah lebih “berperikemanusiaan berkeadilan beradab”. Ini bukan sekadar tren, tapi sebuah perombakan total terhadap desain Ilahi yang sudah ada sejak zaman Nabi Adam.

Kita harus segera bersiap, karena perubahan ini bukan lagi soal opini, tapi sudah menjadi sistem global yang memaksa kita untuk ikut atau tersingkir. Berikut adalah poin-poin yang menunjukkan bahwa “matahari dari barat” itu benar-benar telah mengubah tatanan alam kita:

 

1. Peran Gender yang Terjungkal (Al-Ikhtilath al-Fasid)

Fitrah pria dan wanita yang diciptakan untuk saling melengkapi kini sengaja dikaburkan atas nama kesetaraan radikal. Peran kepemimpinan dalam keluarga hingga kodrat biologis dianggap sebagai “konstruksi sosial” belaka. Pria didorong untuk kehilangan maskulinitasnya, sementara wanita dipaksa mengambil beban yang melampaui fitrahnya demi ambisi ekonomi.

Efeknya, tatanan keluarga yang menjadi fondasi umat mulai runtuh. Ketika rumah tangga kehilangan nahkoda yang tepat, maka anak-anak akan tumbuh dalam kebingungan identitas. Ini adalah cara paling efektif untuk menghancurkan sebuah bangsa: hancurkan dulu peran ayah dan ibunya.

Belum lagi muncul gender labi-labi (laki bukan, bini bukan).

 

2. Riba yang Melembaga Sebagai Napas Hidup (Riba al-Mu’ashir)

Dahulu, riba adalah dosa besar yang menjijikkan, namun sekarang ia dibungkus cantik dalam sistem perbankan dan kapitalisme global. Kita tidak bisa lagi membeli rumah, kendaraan, atau sekadar bertransaksi tanpa menyentuh bunga. Dunia seolah menutup pintu bagi mereka yang ingin hidup bersih dari sisa-sisa harta haram.

Inilah “asap riba” yang pernah disinggung dalam nubuat Nabi.

Bahkan jika kamu tidak memakannya secara langsung, debunya akan tetap mengenai pakaianmu. Sistem ini dirancang agar manusia terus menjadi budak hutang, membuat mereka tidak punya waktu untuk memikirkan akhirat karena sibuk mengejar cicilan yang tak kunjung usai.

 

3. Pemisahan Tuhan dari Negara (Sekulerisme Ekstrem)

Slogan “berikan milik kaisar kepada kaisar, dan milik Tuhan kepada Tuhan” kini menjadi hukum mutlak.

Agama hanya boleh ada di dalam masjid atau di ruang pribadi, sementara politik, hukum, dan ekonomi harus steril dari intervensi wahyu. Negara tidak lagi didesain untuk membawa rakyatnya ke surga, tapi hanya untuk mengelola perut dan kesenangan duniawi.

Ketika hukum Tuhan dipisahkan dari negara, maka standar benar dan salah hanya ditentukan oleh suara terbanyak. Jika mayoritas setuju bahwa kemaksiatan itu legal, maka ia menjadi hukum. Ini adalah pemberontakan terbuka terhadap kedaulatan Allah sebagai Al-Hakam (Sang Pemberi Hukum).

 

4. Normalisasi Dosa sebagai Gaya Hidup (Tazyin al-Ma’ashi)

Mabuk, zina, dan perjudian tidak lagi dipandang sebagai aib, melainkan pilihan gaya hidup (lifestyle gue si paling keninian). Industri hiburan “dunia kebarat-baratan” bekerja keras membungkus perilaku maksiat ini dengan narasi kebebasan dan progresivitas. Orang yang menjauhi dosa justru dianggap “konservatif” atau “kurang piknik”.

Saat dosa dinormalisasi, maka konsep penyesalan hilang. Manusia tidak lagi merasa butuh istighfar karena mereka merasa tidak melakukan kesalahan apa pun. Inilah yang secara sosiologis menutup “pintu tobat” bukan karena Tuhan menutupnya, tapi karena manusia sudah kehilangan kemampuan untuk merasa bersalah.

 

5. Materialisme Sebagai Tuhan Baru (Al-Wahn)

Cinta dunia (al-wahn) telah menjadi agama baru di bawah cahaya matahari barat. Kesuksesan seseorang hanya diukur dari “ANGKA” di saldo rekening, merek mobil, dan jumlah pengikut di media sosial. Kebahagiaan spiritual dianggap sebagai pseudosains yang tidak bisa diukur, sehingga manusia berlomba-lomba mengumpulkan materi seolah mereka akan hidup selamanya.

Penyakit ini melumpuhkan mentalitas. Kita menjadi takut miskin namun tidak takut berdosa. Hati manusia menjadi keras layaknya batu karena terus menerus dijejali dengan syahwat duniawi yang tidak ada habisnya, membuat telinga mereka tuli dari panggilan kebenaran.

 

6. Pendidikan Tanpa Jiwa (Sekulerisme Akademik)

Sistem pendidikan kita hari ini dirancang untuk mencetak buruh-buruh industri yang efisien, bukan manusia yang mengenal penciptanya. Kita belajar biologi tanpa mengenal Sang Perancang, belajar fisika tanpa mengenal Sang Pemegang Hukum Alam, dan belajar ekonomi tanpa mengenal Sang Pemberi Rezeki.

Ilmu pengetahuan yang seharusnya menjadi jalan menuju makrifatullah, kini hanya menjadi alat untuk menguasai alam secara serakah. Akibatnya, kita melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual tapi cacat secara moral dan kosong secara spiritual.

 

7. Standar Ganda Kemanusiaan (An-Nifaq al-Alami)

Nilai-nilai HAM yang diteriakkan dari barat seringkali hanyalah topeng kepentingan. Mereka bicara kebebasan, tapi membungkam suara-suara yang berseberangan dengan agenda mereka. Mereka bicara kedamaian, sambil memasok senjata untuk konflik di tanah kaum muslimin.

Ini adalah bentuk kemunafikan global yang sangat nyata. Kita dipaksa mengadopsi standar moral mereka yang cair dan berubah-ubah, sementara nilai-nilai abadi dari agama dianggap sebagai ancaman bagi demokrasi. Cahaya ini memang terang, tapi ia hanya menyinari mereka yang mau tunduk pada sistemnya.

The False Sunrise.

 

Cahaya Itu Sudah Terbit di Barat

Banyak pengamat di catatan pinggir sejarah, saya melihat fenomena ini bukan lagi sebagai teori konspirasi, tapi sebagai kenyataan yang menusuk mata.

Matahari barat ini menawarkan “pencerahan” yang sangat menggoda. Siapa yang tidak suka dengan kemudahan teknologi? Siapa yang tidak tergiur dengan janji kebebasan tanpa batas? Namun, jika kita teliti lagi, cahaya ini tidak memiliki bayang-bayang. Ia rata, dingin, dan mekanis.

Secara peradaban, pusat gravitasi sejarah sudah bergeser.

Kita tidak lagi menoleh ke Makkah atau Madinah untuk mencari solusi atas masalah sosial, ekonomi, atau pendidikan. Kita justru mengirim anak-anak terbaik kita ke Barat untuk belajar cara mengatur hidup. Secara tidak sadar, kita telah mengakui bahwa “Matahari” mereka lebih hebat daripada “Matahari” wahyu yang pernah menyinari Timur selama ribuan tahun.

Inilah kiamat sosiologis.

Ketika sebuah umat kehilangan kepercayaan diri pada nilai-nilainya sendiri dan mulai memuja nilai-nilai penjajahnya, maka saat itulah sejarah mereka dianggap selesai.

Kita hidup di zaman di mana “timur” hanya tinggal arah shalat, sementara arah hidup kita sepenuhnya berkiblat ke “barat”. Kita hidup dalam bayang-bayang peradaban yang secara terang-terangan ingin memisahkan manusia dari akarnya sebagai hamba Allah.

The False Sunrise.

 

The False Sunrise Itu Nyata

False Sunrise ini nyata, dan ia sedang bekerja lembur untuk memastikan kita tetap terlelap dalam tidur panjang yang nyaman. Cahayanya memang bisa membuat kita melihat benda-benda di sekitar dengan jelas, tapi ia membuat kita gagal melihat tujuan akhir perjalanan kita.

Kita begitu sibuk memoles dunia kita agar terlihat “maju” menurut standar mereka, sampai kita lupa bahwa cahaya ini akan segera padam dan meninggalkan kita dalam kegelapan yang abadi jika kita tidak memegang lentera iman.

Jangan sampai kita menjadi golongan yang hanya tahu “kulit” kehidupan dunia, namun lalai akan akhirat.

Matahari fisik mungkin belum terbit dari barat besok pagi, tapi “matahari” peradaban sudah melakukannya. Saatnya kita berhenti sekadar berjemur dan mulai mencari tempat berteduh di bawah naungan wahyu, sebelum senja yang sesungguhnya tiba dan menutup segala kesempatan.

Sadar-nya: Dunia ini adalah tempat persinggahan yang menipu, namun bagi mereka yang terjaga, ia adalah tempat menanam benih untuk keabadian. Jangan biarkan cahaya palsu mematikan cahaya hatimu.

 

Salam Dyarinotescom.

 

Leave a Reply