Pagi yang cerah di senin pagi, arah pikiran disematkan oleh sebuah perbincangan panas “seenak kopi” antara sosok: kita sebut saja Brawijaya, Sang Pemegang Tahta Dwipa, dengan Menteri Ekonomi andalannya, Wiratama. Jujur saja, cerita ini kami susun dari berita dan ‘dinding yang berbisik’ di koridor kekuasaan (Pak Prabowo). Lalu dibungkus dengan label ‘fiksi’ agar kami bebas berkelana. Anggap saja ini semacam yaa proyeksi lah, sebuah gambaran tentang apa yang mungkin terjadi di balik meja bundar kenegaraan. Ini adalah kisah tentang sebuah bangsa bernama “Dwipa” dan obsesi mereka terhadap satu angka: Delapan.
Bukan, ini bukan angka keramat.
Angka delapan ini adalah simbol pertumbuhan ekonomi yang sudah lama diidam-idamkan, namun selalu terbentur tembok. Orang-orang di Dwipa sering berbisik, “Ah, paling-paling cuma mimpi di siang bolong,” atau “Sudahlah, 5% itu sudah lumayan.”
Sikap pasrah ini yang justru membuat Wiratama gemas.
Dia tahu, mencapai angka itu bukan perkara mudah, tapi juga bukan mustahil. Jadi, ketika Brawijaya melontarkan pandangan-nya, Wiratama hanya tersenyum tipis. Sebuah senyum yang menyimpan janji, atau mungkin, sebuah taruhan gila.
Menuju Angka Delapan Persen
Awal dari Sebuah Cerita
“Hei, Wiratama,” ujar Brawijaya suatu senja, saat mereka berdua menikmati kopi pahit di balkon istana. “Selama ini, kita hanya main di angka lima. Maksimal enam. Itu pun kalau lagi beruntung. Menurutmu, apa kita benar-benar bisa mencapai delapan?”
Pertanyaan itu dilontarkan Brawijaya bukan sebagai perintah, melainkan sebagai tantangan.
Ekspresinya saat itu tidak mengharapkan jawaban “iya” yang muluk-muluk, melainkan pengakuan jujur bahwa target tersebut terlalu tinggi, atau dalam bahasa anak muda sekarang, “sedang jatuh cinta”
Wiratama, yang merupakan akademisi idealis “dalam konteks fiksi ini” cerita punggungnya.
Mata tajamnya menatap lurus ke arah Brawijaya. “Yang Mulia,” jawabnya tenang, “Angka delapan itu bukan hanya mungkin, tapi wajib.” Nada bicaranya tidak menyiratkan kesombongan, melainkan keyakinan yang dingin. “Kita punya sumber daya, kita punya potensi, yang kita tidak punya selama ini hanyalah keberanian untuk masuk ‘all-in’.”
Di momen hening yang singkat itulah, Brawijaya mengajukan pertanyaan yang menjadi judul artikel ini: Jadi … “Berani Kamu?”
Sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada Sang Menteri Ekonom: Wiratama, dan juga kepada seluruh rakyat Dwipa. Berani mengambil risiko, berani keluar dari zona nyaman, dan berani menanggung konsekuensi.
Mirip-mirip cerita Pak Purbaya gak sih ini?😂
Awal dari sebuah taruhan besar: mempertaruhkan reputasi, karier, dan bahkan nasib bangsa demi sebuah lompatan kuantum ekonomi.
Sekarang, setelah taruhan itu dilempar, kita harus jujur. Sejauh mana kerusakan yang harus diperbaiki? Seberapa dalam jurang yang harus ditutup?
Garis Start 4,9%: Mengukur Kedalaman Jurang
Perjalanan menuju angka delapan itu harus dimulai dari sebuah titik yang menyakitkan: garis start di angka 4,9 %. Inilah realitas ekonomi bangsa Dwipa.
Jika dibiarkan nii bangsa bisa dipotong-potong terus dijual ke asing dan aseng! 😔
Angka ini seolah menjadi garis batas antara kemajuan dan ke-mandekan. Raja-raja sebelumnya, memang, memiliki niat baik. Raja pertama hanya diam, menunggu keajaiban pasar datang dengan sendirinya: sebuah strategi yang kini kita kenal sebagai “ekonomi autopilot” yang PoV-nya: Menunggu mu.
Raja berikutnya, meski lebih agresif, melakukan pembangunan tanpa peta jalan yang jelas. Hasilnya? Tertipu dan juga terindikasi ia pun menipu.
Proyek infrastruktur yang tumpang tindih, anggaran yang bocor sana-sini, dan yang paling parah, arah kebijakan yang berubah setiap ganti menteri. Semuanya jadi berantakan, dan bangsa Dwipa mengalami apa yang kita sebut sebagai “stagnasi yang dinamis” bergerak, tapi tidak ke mana-mana.
Inilah tugas berat Wiratama.
Ia harus mengukur kedalaman jurang ini. Bukan jurang perang, bukan jurang politik, melainkan jurang kehancuran ekonomi yang perlahan namun pasti menghabiskan cadangan daya tahan bangsa. Ia harus menghitung, seberapa lama bangsa Dwipa dapat bertahan dengan pertumbuhan di bawah 5%, sementara beban utang dan kebutuhan sosial terus membengkak.
Jawaban atas hitungan itu adalah sebuah ultimatum: bergerak cepat dan revolusioner, atau siap-siap menjadi sejarah.
Menuju Angka Delapan Persen. Berani Kamu?
Kamar Gelap ‘The Debottlenecking Team’: Peta Jalan Tanpa Kompromi
Wiratama tidak bekerja sendiri. Ia membentuk sebuah tim kecil, rahasia, dan berisi orang-orang paling ‘dipercaya’ dari berbagai latar belakang, yang ia sebut ‘The Debottlenecking Team’. Nama yang baru kami dapat barusan.
Mereka berkumpul di sebuah ‘Kamar Gelap’, jauh dari bising-nya birokrasi, untuk menyusun peta jalan yang ia janjikan: peta jalan menuju delapan tanpa satu pun kompromi. Tidak ada ruang untuk kepentingan pribadi, tidak ada toleransi bagi politik dagang sapi.
Tugas utama tim ini adalah mengidentifikasi dan menghancurkan semua ‘bottleneck’ “sumbatan” mirip taik kuping, yang selama ini menahan laju pertumbuhan.
Mulai dari aturan birokrasi yang berbelit, rantai pasok yang dikuasai kartel, hingga mentalitas “cari aman” di kalangan pejabat. Peta jalan ini haruslah brutal, efisien, dan yang paling penting: anti-stagnasi.
Mereka tidak hanya memikirkan bagaimana cara meningkatkan 5% menjadi 8%, tetapi bagaimana mengubah 5% menjadi 10% dalam waktu singkat, sehingga 8% menjadi target yang realistis, bukan lagi mimpi.
Serangan Balik Para Penjaga Stagnasi
Sudah menjadi hukum alam: setiap ada pergerakan, pasti ada perlawanan. Ketika Wiratama dan timnya mulai bergerak, para Penjaga Stagnasi yang nyaman dengan status quo langsung melancarkan serangan balik.
Kelompok ini terdiri dari mereka yang diuntungkan oleh sistem yang lambat, korup, dan tidak efisien. Mereka menyusun strategi untuk menggagalkan atau setidaknya memperlambat gebrakan Wiratama.
Beberapa serangan balik dari para penjaga stagnasi sangatlah lucu.
Sebut saja:
1. Politik Kentut Kuda (The Horse Fart Politics)
Mereka menyebarkan desas-desus dan berita bohong di media sosial, mengklaim bahwa kebijakan Wiratama akan menyebabkan krisis. Tujuannya adalah menciptakan kegaduhan publik dan menekan Brawijaya agar mencabut dukungan.
2. Jebakan Dokumen Siluman (Phantom Document Trap)
Mereka sengaja menahan atau mempersulit izin-izin penting, atau bahkan memalsukan data untuk membuat laporan kebijakan Wiratama terlihat gagal dan tidak valid.
3. Koalisi Lambat Saja (The “Slow Down” Coalition)
Mereka menggalang kekuatan di parlemen dan birokrasi, menuntut kajian ulang yang berkepanjangan untuk setiap kebijakan, menggunakan alasan “hati-hati” padahal aslinya adalah penundaan.
4. Demonstrasi Kaleng Rombeng (Tin Can Demonstration)
Menggerakkan massa bayaran untuk melakukan protes di jalanan, menuntut mundurnya Wiratama dengan isu-isu populis yang tidak relevan dengan esensi kebijakan ekonomi. Jadi tahukan maksud dari koar-koar pengamat dablek?
5. Strategi Kura-kura Sakti (The Mystic Turtle Strategy)
Pejabat bawahan yang ditugaskan menjalankan program, secara kompak bekerja dengan sangat lambat, hanya menuruti perintah di permukaan, sementara di lapangan semua berjalan tersendat, membuat rapor Wiratama jadi merah.
Perlawanan itu nyata, tapi Wiratama tahu, ia tidak bisa berlama-lama terjebak dalam perang di level permukaan. Fokusnya hanya satu: Angka Krusial.
Angka Krusial di Kuartal Ketiga
Lawan-lawan Wiratama boleh saja sibuk dengan intrik dan kegaduhan. Namun, fokus Wiratama dan timnya jauh di depan. Mereka menargetkan Angka Krusial di Kuartal Ketiga.
Ini adalah momentum terbaik, titik di mana strategi yang jarang dipikirkan orang awam, bahkan di luar nalar kebanyakan ekonom, harus dieksekusi. Mereka tidak akan melawan perlawanan secara frontal, tapi justru mengambil celah dari apa-apa yang tidak terlihat.
Wiratama menyadari,
Kunci menuju delapan bukan hanya soal investasi raksasa, tapi juga soal membebaskan energi ekonomi yang selama ini terpenjara. Mereka harus menyentuh hal-hal dasar yang sering terabaikan. Ini adalah “strategi ekonomi senyap”, bergerak di balik layar, memanfaatkan celah, dan menciptakan kejutan di kuartal krusial itu.
Tahukah kamu langkah “Angka Krusial” Wiratama yang mendobrak stagnasi?
(Ide di-olah) Ia coba dengan:
1. Ekonomi Seluler (The Cellular Economy)
Fokus utama bukan pada korporasi besar, melainkan pada ratusan ribu UMKM di pelosok yang selama ini terblokir akses permodalannya. Dengan teknologi finansial yang super-cepat (Digital payment khusus UMKM), dana non fiat diinjeksikan langsung ke UMKM produktif, mengubah mereka menjadi driver pertumbuhan lokal yang gesit.
Ini adalah injeksi cepat yang langsung terasa dampaknya.
2. Hukum Sapu Jagat (The Broomstick Law)
Wiratama meloloskan “dengan dukungan Brawijaya, tentu saja” regulasi yang menghapuskan puluhan aturan birokrasi turunan yang paling konyol dan menghambat izin usaha di tingkat daerah dalam semalam.
Ini adalah deregulasi instan yang menciptakan “efek kejut” positif bagi investor kecil.
3. Lampu Hijau Terbalik (The Inverse Green Light)
Seru ini! Yaitu tentang sistem perizinan baru: Jika dalam 7 hari kerja tidak ada penolakan resmi dari pejabat yang berwenang, maka izin dianggap otomatis disetujui. (Diam artinya setuju). Pejabat kini dituntut untuk bekerja, bukan menunda.
Jangan menunggu kaleng Khong Guan datang, baru tanda-tangan. Misalnya.
Sebuah revolusi birokrasi tanpa ampun.
4. The Unseen Export (Ekspor Tak Terlihat)
Fokus pada jasa dan layanan digital, bukan hanya komoditas.
Wiratama mendorong percepatan ekspor software, layanan cloud, dan konten digital, yang nilainya sering diabaikan tapi memiliki margin keuntungan yang gila-gilaan. Ini adalah diversifikasi cerdas ke pasar global. Jika pun di rasa tidak bisa (dipaksakan), skip saja yang ini 😁…
5. Komitmen Serigala Putih (The White Wolf Commitment)
Alih-alih merilis statement publik yang heboh, Wiratama secara diam-diam membuat kesepakatan langsung dengan investor raksasa global di sektor teknologi dan energi terbarukan, menawarkan “karpet merah” yang anti-birokrasi dengan syarat komitmen investasi minimum yang sangat besar. Ingat: Jangan dengan Korsel, soalnya calo semua. 😂… Mereka pandai drama.
Kepastian ini boleh sangat jadi bisa: membuat pasar lebih tenang.
6. Kapitalisasi Hantu (The Ghost Capitalization)
Ini adalah jurus memanen nilai ekonomi dari aset-aset negara yang selama ini terbengkalai atau dicatat terlalu rendah (misalnya, tanah-tanah non-produktif atau bangunan tua). Aset-aset ini di-revaluasi dengan nilai pasar saat ini, lalu digunakan sebagai agunan untuk menerbitkan obligasi khusus.
Uang segar dari obligasi ini langsung disalurkan untuk membiayai infrastruktur digital yang super-cepat. Ini adalah monetisasi aset mati.
7. Pajak Anti-Menimbun (The Anti-Hoarding Tax)
Menerapkan skema pajak progresif yang sangat tinggi pada kepemilikan lahan atau properti yang dibiarkan kosong (idle) dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya bukan untuk memungut pajak besar, melainkan memaksa pemilik properti untuk segera membangun atau menjualnya.
Efeknya?
Boleh jadi pasar properti bergerak, bahan baku konstruksi terserap, dan tercipta ribuan lapangan kerja baru. Ini adalah mendorong produktivitas lahan.
8. Jalur Cepat Inovasi Kampus (Campus Fast Track Innovation)
Memangkas birokrasi dan regulasi yang menghalangi paten dan penemuan dari universitas untuk dikomersialkan. Wiranata tahu, kampus itu bukan untuk demo, nongkrong dan pacaran doang. Bukan pula untuk menciptakan buruh-buruh dengan banyak cerita matematika.
Tapi, mengakomodir para mahasiswa untuk membuat sesuatu. Bergunalah sedikit!
Wiratama menyediakan dana seed funding instan, asalkan penemuan itu siap dipasarkan dalam enam bulan. Misalnya. Dan, tentu saja: “ada uang-nya bagi mereka yang giat”. Para akademisi kini didorong menjadi technopreneur, bukan hanya sekadar peneliti di menara gading. Atau tua-tuain umur di kampus.
9. Ekonomi Air Kotor (The Wastewater Economy)
Ini terdengar jorok, tapi ini adalah potensi besar.
Wiratama berinvestasi besar pada teknologi daur ulang air limbah dan sampah menjadi energi terbarukan atau bahan baku industri. Selain menyelesaikan masalah lingkungan yang kronis, sektor baru ini menciptakan green jobs dan mengurangi impor energi.
Ini adalah mengubah masalah menjadi cuan.
10. Perang Terhadap Pungli Digital (The Digital Bribery War)
Membentuk tim khusus dengan Artificial Intelligence (AI) untuk mengawasi setiap transaksi digital di instansi pelayanan publik. Semua pembayaran harus dilakukan secara non-tunai dan terekam real-time.
Tujuannya adalah memotong mata rantai pungutan liar (‘Pungli’) di level bawah, yang selama ini menjadi ‘pajak gelap’ bagi pelaku usaha kecil.
11. Jaringan Distribusi Mandiri Petani (Farmer Self-Distribution Network)
Membangun platform digital yang menghubungkan petani dan nelayan langsung ke pasar dan konsumen besar (hotel, restoran, supermarket). Ini memotong peran tengkulak yang terlalu panjang dan menekan harga.
Margin keuntungan petani melonjak, daya beli meningkat, dan inflasi pangan terkendali terbentuk dalam satu aplikasi. Ini bisa sangat memperpendek rantai perut. Ini juga bisa diaplikasikan untuk beberapa sektor lainnya. Pemerintah tugasnya disini sebagai fasilitator.
12. Wisata Hening (The Silent Tourism)
Mengubah destinasi wisata yang overcrowded menjadi wisata minat khusus (meditasi, kesehatan, digital detox). Turis yang datang memang bisa saja sedikit sekali, tapi mereka adalah turis berkualitas “berkantong tebal” yang menghabiskan uang jauh lebih banyak.
Strategi ini mengurangi beban lingkungan dan meningkatkan devisa per kapita. Ini adalah ekonomi pariwisata premium.
13. Lisensi Global Freelancer (Global Freelancer License)
Menerbitkan kartu identitas khusus bagi pekerja freelance “Dwipa” yang bekerja untuk klien luar negeri. Kartu ini memberikan kemudahan pajak, akses pinjaman, dan jaminan sosial. Ini adalah upaya untuk resmi mengakui dan mendorong ekspor jasa individu yang selama ini bergerak di bawah radar.
14. Proyek Anti-Ghosting Infrastruktur (The Anti-Ghosting Infrastructure Project)
Setiap proyek pembangunan besar wajib menggunakan teknologi Blockchain atau Internet of Things (IoT) untuk melacak penggunaan material, jam kerja, dan anggaran secara real-time. Tujuannya adalah mencegah ‘proyek hantu’ (fiktif) dan menjamin kualitas pembangunan.
Wiratama sangat tahu bahwa aparatur negara: sangat diragukan kejujuran dan bekerja untuk kepentingan pribadi “cari obyek-kan sana sini”, padahal mereka dibayar menggunakan uang rakyat.
Mengapa begitu?
Yaa harus, biar “kalian bekerja dengan sungguh-sungguh untuk negara” kata Wiratama. Kan namanya juga Aparatur Negara. Jika tidak, Get Out!
15. Bank Sampah Berbasis Token (Token-Based Waste Bank)
Mengintegrasikan sistem bank sampah dengan teknologi blockchain dan token digital. Warga yang menabung sampah tidak hanya mendapat uang tunai, tetapi juga token yang bisa digunakan untuk beli di ‘warung nasi’ punya-negara misalnya. Atau juga bisa membayar transportasi publik dan layanan kesehatan.
Ini adalah menciptakan ekonomi sirkular yang insentifnya menarik.
Angka Delapan Persen. Berani Kamu?
Wajah Sang Jenderal: Hitungan Mundur dari Sebuah Jawaban
Waktu terus berjalan. Kuartal Ketiga akan segera tiba.
Wiratama dan timnya sudah memberikan yang terbaik, mengorbankan waktu, tenaga, dan bahkan mempertaruhkan keselamatan mereka dari Serangan Balik Para Penjaga Stagnasi. Kini, semua kembali pada hitungan angka. Di hadapan Brawijaya, Wiratama tidak menunjukkan sedikitpun keraguan.
“Yang Mulia,” katanya suatu hari, “Kami sudah menempuh Jalan Sunyi ini. Segala kemungkinan sudah kami hadapi, segala rintangan sudah kami hancurkan. Sisanya, kita serahkan pada takdir, tapi kami telah melakukan yang terbaik.”
Brawijaya hanya menatapnya, wajahnya yang dikenal tegas kini penuh dengan harapan yang tersembunyi. Sang Jenderal tahu, pertaruhan ini akan mendefinisikan warisannya.
Semangat-nya: Pahlawan tidak harus selalu menang, tapi pahlawan sejati tidak pernah takut untuk memulai pertarungan yang mustahil.
Pada akhirnya, angka itu muncul.
Kita tidak tahu apakah itu 8 % atau tidak. Tapi satu hal yang pasti, perjuangan Wiratama telah mengubah mentalitas bangsa Dwipa. Angka itu hanyalah hasil dari sebuah proses. Proses yang menuntut keberanian, yang menuntut komitmen, dan yang menuntut sebuah jawaban atas pertanyaan besar itu.
Satu Kejujuran: Kemenangan terbesar bukan saat kamu mencapai puncak, tapi saat kamu berani meninggalkan lembah kepuasan diri.
Brawijaya bangkit dari kursinya. Ia menepuk pundak Wiratama, sebuah pengakuan tanpa kata. Apapun hasilnya, mereka telah membuktikan bahwa mencapai angka delapan bukanlah ‘mustahil’ bukan juga omon kosong, melainkan hanya butuh keberanian untuk bersikap: ‘Berani Kamu?’.
Ketahuilah: Seorang pemimpin sejati tidak mencari jalan termudah, ia menciptakan jalan yang paling mungkin untuk mencapai mimpi yang paling gila.
Menuju Angka Delapan Persen. Berani Kamu?
Salam Dyarinotescom.


Setuju banget! Angka 8% itu bukan cuma target, tapi mindset untuk terus konsisten di ‘jalan sunyi’. Kadang hasil besar memang butuh keberanian untuk nggak ikut arus. Keren pembahasannya, sangat memotivasi