Morbid Curiosity: Mengapa Tidak Bisa Berhenti? Itu Kan…

  • Post author:
  • Post category:Did You Know
  • Post last modified:November 28, 2025
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Morbid Curiosity: Mengapa Tidak Bisa Berhenti? Itu Kan…

Pernah dengar judul tentang Morbid Curiosity? Gini, jadi ada saat dimana kita berniat mencari resep ayam kecap atau review film di Cinema 21, tapi tiba-tiba mata kita terpaku pada satu headline? Mungkin itu tentang kecelakaan, kasus kriminal, atau bahkan foto pasca-bencana. Seketika, jari kita kok berhenti. Niat awal (ayam kecap tadi) hilang, tergantikan oleh dorongan: klik.

Jadi gak masak hari ini 😂.

Kita tahu ini ending-nya: membuat hati gak enak, perut bisa mual, atau pikiran terganggu. Namun entah kenapa, kita tetap saja tuuuh tertarik. Ada daya pikat aneh yang membuat kita mengintip ke dalam jurang kengerian. Seolah ada magnet yang menarik kita dari zona nyaman menuju zona abu-abu yang penuh drama, darah, dan air mata.

Ini bukan tentang kita yang jahat. Ini juga bukan tentang kita yang kurang kerjaan. Fenomena aneh, namun universal, inilah yang oleh kebanyakan orang disebut Morbid Curiosity: sebuah rasa ingin tahu untuk sesuatu yang dianggap mengerikan. Mirip sekali dengan gladi-resik mental kita terhadap penderitaan. Sebuah latihan yang mungkin jauh lebih penting daripada yang kita duga.

Kalau dipikir-pikir, ini kocak sekali.

Kita rela menukar ketenangan sejenak hanya demi mendapatkan spoiler bagaimana rasanya menghadapi tragedi. Jadi, kalau bukan rasa ingin tahu itu “biasa”, lantas apa yang sebenarnya terjadi di balik hasrat gelap ini?

Masih kurang puas dengan,

 

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Jawabannya tersembunyi jauh di dalam otak reptil kita, bagian paling tua yang bertugas memastikan kita selamat. Morbid Curiosity adalah salah satu mekanisme pertahanan diri. Otak kita diprogram untuk memprioritaskan informasi yang terkait dengan ancaman.

Dulu, ini berarti fokus pada harimau bergigi besar, tajam seperti pedang. Sekarang? Beda. Itu berarti fokus pada judul berita yang paling mengancam, seolah-olah dengan mengetahui detail, kita bisa menemukan cetak biru untuk menghindarinya.

Ini bukan hanya tentang informasi, tapi juga tentang kontras.

Ketika kita menyaksikan penderitaan orang lain dari jarak yang aman, misalnya, “entah itu di balik layar smartphone atau televisi” otak kita mengeluarkan koktail kimiawi. Ada hormon stres yang memicu ketegangan, tapi segera diikuti oleh Dopamin dan Serotonin saat kita menyadari, “Fiuuh, ini bukan aku.”

Kontras antara bahaya dan keselamatan ini menciptakan sensasi lega yang adiktif, sebuah reward instan yang membuat kita ketagihan pada loop berita mengerikan.

Dan di sinilah rahasia judul artikel ini terkuak.

Mengapa kita tidak bisa berhenti? Itu Kan… Insting Bertahan Hidup yang Dibungkus dengan Dopamin!

Ya, rasa ingin tahu gelap ini adalah gladi resik naluri bertahan hidup kita yang dikemas modern, menjadi tontonan yang sulit ditolak. Namun, agar kita tidak merasa sendirian dalam kegelapan ini, mari kita lihat betapa relatable-nya Morbid Curiosity ini dalam kehidupan sehari-hari.

 

Dan, Ini Nyata

Baru saja beberapa menit yang lalu, sebelum menulis artikel ini: Ada berita kebakaran dahsyat di Tai Po, Hong Kong. Kita melihat judulnya, tahu itu adalah tragedi, tapi langsung klik. Mengapa? Bukankah cukup tahu bahwa ada kebakaran? Kenapa kita perlu melihat video api yang melalap gedung/perumahan, atau membaca berapa banyak korban yang terdampak?

Inilah Morbid Curiosity yang bekerja: kita sedang mengumpulkan data ekstrem dalam kondisi yang tidak menuntut kita untuk bertindak, hanya untuk menonton.

Di ranah digital, Morbid Curiosity naik kasta menjadi True Crime.

Fenomena podcast dan serial dokumenter yang membahas detail pembunuhan berantai, cold case, atau penipuan skala besar kini menjadi salah satu genre paling populer. Kita menjadi ‘detektif’ amatir yang duduk nyaman di sofa, minum kopi, sambil menganalisis psikopat. Ini bukan hanya hiburan, tapi juga sebuah Jendela Gelap ke Sisi Lain Manusia.

Kita mencoba memetakan mengapa dan bagaimana kejahatan ekstrem bisa terjadi, berharap batas-batas itu tidak pernah kita langgar.

Fenomena ini juga muncul dalam skala yang lebih kecil dan mungkin agak tidak etis, seperti ketika kita kepo mencari akun media sosial seseorang yang terlibat skandal viral. Melihat adegan plus (+) burung dan sangkar nya. Atau, ketika kita memperlambat laju kendaraan di jalan tol, berharap bisa melihat puing-puing kecelakaan lebih jelas.

Itu semua satu dorongan purba yang sama: ada bahaya, ada penderitaan, dan otak kita perlu mengukur seberapa parah itu. Kita tahu itu salah, tapi Morbid Curiosity selalu menang.

 

Baik Buruk Si Morbid Curiosity

Sebelum kita menstigma fenomena ini sebagai sesuatu yang negatif total, mari kita lihat secara adil. Morbid Curiosity ini seperti burger siap santap; tergantung bagaimana kita memegangnya. Pegang yang atas atau pegang yang bawah. Dan yaa sepertinya sama-sama enak 😁.

Kita mulai dari:

 

1. Sisi Cahaya Si Kepo Gelap (The Good Side)

Katakan itu bisa melahirkan:

#Skill Pasif: Threat Assessment. Apa itu?

Ini adalah upgrade dari naluri bertahan hidup. Dengan mempelajari bagaimana tragedi menimpa orang lain (misalnya, berita tentang bahaya investasi bodong), kita menjadi lebih waspada dan mampu memitigasi risiko (mengukur ancaman) dalam hidup kita sendiri.

#Latihan Soft Skill: Empati Level Max

Rasa penasaran ini bisa menjadi trigger awal untuk berempati. Setelah puas ‘mengintip’ kengerian, kita mungkin terdorong untuk membantu atau mencari tahu cara agar hal itu tidak terulang, misalnya dengan berdonasi atau mendukung kampanye sosial.

#Emotional Release Ala Dark Mode

Menonton fiksi horor atau drama yang intens adalah cara aman bagi kita untuk memproses ketakutan terburuk dalam diri. Ini adalah safe zone untuk mengalami emosi ekstrem tanpa konsekuensi nyata (katarsis).

Kemudian,

 

2. Sisi Gelap yang Bikin Self-Destruct (The Bad Side)

Coba kita lihat itu sebagai:

#Error 404: Empathy Not Found

Paparan konten tragis yang berlebihan dan terus-menerus bisa menyebabkan Desensitisasi. Kita menjadi mati rasa, menganggap penderitaan orang lain sebagai sekadar tontonan, dan sulit merasa simpati.

#Instalasi Anxiety Gratis (Plus Add-Ons Fobia)

Terlalu banyak data ancaman membuat otak kita overclocked. Akibatnya, kita menjadi paranoid, mudah cemas, dan takut akan hal-hal yang probabilitasnya kecil terjadi pada kita. Ini menciptakan ketakutan tak berdasar.

Dan entah kenapa kita,

#Menjadi Paparazzi Tragedi

Morbid Curiosity sering mendorong kita untuk mencari detail yang tidak etis atau melanggar privasi korban (misalnya, mencari foto-foto yang tidak pantas disebar). Ini mengubah penderitaan menjadi commodity demi kepuasan kepo kita.

 

Tapi, Rasa Itu Tak Bisa Hilang

Drama banget yaa 😂.

Kembali tentang apa yang kita bicarakan sebelumnya, Morbid Curiosity itu cerminan jujur, tentang siapa kita: makhluk yang jelimet, rentan, dan penuh kontradiksi. Kita adalah perpaduan antara kebutuhan naluriah untuk bertahan hidup dan kerentanan emosional yang bisa dimanfaatkan oleh konten-konten thriller di internet.

Kita tidak bisa menghilangkannya, karena itu adalah bagian dari software bawaan manusia.

Namun, mengetahui mengapa kita tertarik pada hal-hal mengerikan memberi kita kekuatan untuk mengendalikan respons. Kita bisa memilih untuk menggunakan rasa ingin tahu itu sebagai alat belajar, bukan sebagai scroll-button yang membawa kita pada kecemasan. Kita bisa memilih untuk menyalurkannya pada fiksi true crime yang dikemas profesional, alih-alih pada laporan mentah yang merusak etika.

Jadi, ketika lain kali ketika kamu tergoda untuk mengklik berita yang “dark”, tersenyumlah. Ingatlah bahwa Morbid Curiosity itu adalah dirimu yang kepo, yang sekaligus ingin selamat.

Setidaknya ketahui bahwa: Rasa penasaran itu benar memang bisa membunuh kucing, tapi kalau kamu tahu alasannya, setidaknya kamu mati dengan banyak ilmu.

Selamat menikmati akhir pekan tanpa harus terlalu kepo pada hal yang tak perlu!

Btw, ayam kecap tadi bagaimana?

 

Salam Dyarinotescom.

 

Leave a Reply