Ada banyak hal menarik yang layak dikuliti di bulan Ramadan ini agar kita tidak sekadar bertransformasi menjadi orang yang lebih kurus, tapi juga menjadi pribadi yang lebih “berisi”. Setelah sebelumnya kita tuntas membedah perkara Qona’ah dan Ridha yang bikin hati adem, kali ini kami ingin mengangkat sesuatu yang tidak kalah provokatif bagi jiwa-jiwa yang haus akan progres. Apa itu? Kenalkan, ini adalah Perkara Itqan. Sebuah konsep “yang kadang dilupakan” tapi sebenarnya adalah code paling mutakhir untuk bertahan hidup di tengah gempuran dunia yang serba buru-buru.
Untuk kesekian kalinya kita masuk dan membayangkan sedang berada di sebuah kompetisi lari, tapi pesertanya bukan cuma lari, melainkan sambil memegang piring porselen cantik. Hehe agak lain yaa 😁…
Banyak dari kita yang terlalu fokus pada garis finish sampai lupa kalau piring di tangan sudah retak seribu. Itqan hadir sebagai pengingat bahwa menjadi cepat itu perlu, tapi menjadi presisi adalah kewajiban. Di bulan yang penuh keberkahan ini, rasanya kurang afdal kalau kita hanya mengejar kuantitas ibadah atau pekerjaan, tanpa menyentuh esensi kualitas yang sesungguhnya.
Nah, dengan begini sudah mulai terbentuk satu pertanyaan: “Kenapa Itqan itu lawan tanding paling tangguh bagi mentalitas “yang penting kelar”?
Medioker di Dunia Sat-Set
Kita hidup di zaman di mana kecepatan dipuja layaknya dewa 19.
“Sat-Set” menjadi mantra suci yang harus diamalkan semua orang, mulai dari urusan membalas pesan sampai mengerjakan proyek miliaran rupiah. Masalahnya, banyak yang menyalahartikan sat-set sebagai izin “diamin kan” untuk kita bekerja serampangan. Kita terjebak dalam lingkaran bernama mediokritas “Nanggung”, di mana hasil yang biasa-biasa saja dianggap cukup selama dikirimkan tepat waktu.
Padahal, dunia tidak kekurangan orang cepat. Dunia kekurangan orang yang bisa bekerja cepat sekaligus hebat, plus gaji minim 😂.
Menjadi medioker di dunia sat-set itu rasanya seperti makan mi instan setiap hari. Memang kenyang dan cepat, tapi kita tahu ada nutrisi yang hilang dan kesehatan yang sedang dipertaruhkan.
Seringkali merasa sudah sangat produktif hanya karena daftar to-do list sudah dicoret semua. Padahal, jika kita teliti lagi, banyak dari coretan itu yang menyisakan lubang-lubang kesalahan yang suatu saat akan menuntut untuk diperbaiki. Ini adalah jebakan kenyamanan yang membuat kita merasa sudah “berlari” padahal hanya sedang “tergesa-gesa”.
Lantas, kenapa ini semakin mengkhawatirkan?
Karena saat kita mengabaikan Itqan demi mengejar label sat-set, hasil pekerjaan kita perlahan berubah menjadi sampah visual dan intelektual. Tanpa sentuhan ketelitian dan kesungguhan, kecepatan hanyalah cara tercepat menuju kegagalan yang berantakan.
Dan, semua yang disebutkan itu ada alasan nya.
Alasan Mengapa Sat-Set Tanpa Itqan Hasilnya Berantakan
Sebelum masuk mungkin ini akan terasa seperti “tamparan online”, tapi, kita perlu sepakat dulu bahwa sat-set itu bagus dong. Kelincahan adalah aset di era digital. Namun, ketika sat-set kehilangan ruh Itqan (kesempurnaan dalam bekerja), ia berubah menjadi tindakan sembrono yang merugikan.
Melihat orang yang bangga dengan “kecepatan” mereka, namun di balik layar, orang lain sibuk membereskan kekacauan yang mereka tinggalkan. 😂… Ada beberapa alasan fundamental kenapa gaya kerja yang cuma modal cepat tapi nol kualitas ini, sebenarnya adalah bom waktu yang siap boncos kapan saja.
Apa itu?
1. Terjebak dalam “Technical Debt”
Istilah populernya adalah Hutang Teknis.
Saat mengerjakan sesuatu dengan asal-asalan demi mengejar deadline, kita sebenarnya sedang meminjam waktu dari masa depan. Setiap detail yang kita abaikan hari ini tidak akan hilang begitu saja; mereka akan menumpuk menjadi beban yang harus dibayar dengan bunga yang sangat mahal di kemudian hari.
Misalnya, saat menulis laporan atau kode program tanpa ketelitian, mungkin hari ini terlihat selesai. Namun, besok atau lusa, kesalahan itu akan muncul kembali sebagai bug atau revisi yang menguras waktu dua kali lipat lebih banyak. Alih-alih efisien, kita justru terjebak dalam siklus “tambal sulam” yang tidak pernah berakhir.
2. Matinya Personal Branding (Trust Issue)
Dunia saat ini serba transparan, reputasi adalah uang.
Sekali kita dikenal sebagai orang yang kerjanya “yang penting jadi”, label itu akan menempel ketat seperti stiker kualitas rendah yang susah dilepas. Ini memicu Trust Issue dari rekan kerja maupun klien. Mereka mungkin akan tetap memberi kita tugas, tapi tidak akan pernah memberikan tanggung jawab yang besar.
Kecepatan tanpa kualitas hanya akan menciptakan impresi bahwa kita adalah pribadi yang tidak bisa diandalkan. Orang mungkin akan terkesan sekali dengan kecepatan kita, tapi mereka akan kecewa selamanya saat melihat hasilnya berantakan. Ingat, kepercayaan itu dibangun bertahun-tahun melalui Itqan, tapi bisa hancur dalam hitungan detik karena kecerobohan sat-set.
3. Efek “The Pinterest Fail”
Pernah melihat foto makanan estetik di Pinterest lalu mencoba membuatnya tapi hasilnya malah mirip adonan semen? “😒 Haduh…” Itulah yang terjadi saat kita melakukan sesuatu tanpa memahami detail atau Craftsmanship. Kita hanya meniru kulit luarnya saja tanpa menyentuh esensi kualitas yang ada di dalamnya.
Hasil kerja yang tanpa Itqan biasanya hanya tampak bagus di permukaan tapi kosong di dalam. Ini akan menciptakan kekecewaan yang mendalam bagi siapapun yang menerimanya. Hasil yang berantakan mencerminkan pola pikir yang berantakan pula, dan itu bukanlah sesuatu yang keren untuk dipamerkan di profil LinkedIn atau portofolio manapun.
4. Terperangkap dalam “Toxic Productivity”
Banyak orang merasa bangga dengan kesibukan yang luar biasa. Terlihat giat dengan keringat.
Merasa sudah sangat sat-set karena melakukan multitasking sepanjang hari. Namun, seringkali ini hanyalah Toxic Productivity: sibuk melakukan banyak hal tapi tidak ada satupun yang benar-benar memberikan dampak signifikan atau kualitas yang mengangkat.
Tanpa Itqan, kita hanya sedang memindahkan tumpukan masalah dari satu meja ke meja lain. Kita merasa produktif padahal sebenarnya hanya sedang melakukan gerakan tanpa kemajuan (motion without progress). Kelelahan yang kita rasakan menjadi sia-sia karena tidak menghasilkan karya yang bisa kita banggakan dengan dada tegak.
5. Kehilangan “Ruh” dan Barakah
Dalam perspektif yang lebih mendalam, setiap pekerjaan yang dilakukan tanpa kesungguhan akan kehilangan “ruh”-nya.
Ini benar lhoooh. Hasil kerja kita tidak memiliki daya pikat atau kebermanfaatan secara luas. Istilahnya, tidak ada Value Added yang tertinggal di sana. Semua hanya menjadi tumpukan sampah atau tumpukan kertas yang tidak bermakna.
Dalam nilai spiritual, bekerja dengan Itqan adalah bentuk rasa syukur atas potensi yang diberikan Tuhan. Saat kita bekerja asal-asalan, kita seolah-olah sedang menyepelekan nikmat kemampuan tersebut. Hasil yang berantakan adalah tanda bahwa kita tidak memberikan penghormatan pada proses, dan tanpa penghormatan pada proses, hasil yang berkah pun akan menjauh.
Datang Dengan Narasi “Yang Penting Berkualitas”
Kami pernah bertemu dengan seorang pengrajin kayu di sudut kota yang pesanan kursinya antre hingga dua tahun. Ini bukan tentang Pak Mul yaa. Di toko furnitur modern, kita bisa dapat kursi dalam dua jam.
Rahasianya?
Dia tidak mengenal kata “sat-set” untuk hal-hal yang sifatnya prinsipil. Baginya, setiap serat kayu punya cerita yang harus dihormati. Dia menolak menjadi medioker dengan cara memberikan dedikasi penuh pada setiap inci karyanya.
Hasilnya?
Orang rela membayar mahal dan menunggu lama demi sebuah kualitas yang melampaui zaman.
Ada sebuah narasi yang jarang diceritakan di kelas-kelas bisnis: bahwa kesuksesan jangka panjang sebenarnya adalah milik mereka yang “lambat” di tahap persiapan tapi “presisi” di tahap eksekusi.
Para pemain di level 1% tidak pernah terjebak tuh dalam perlombaan siapa yang paling cepat mengirim email, tapi siapa yang isi emailnya paling bisa mengubah keadaan. Mereka adalah orang-orang yang berani berkata “tunggu sebentar, saya ingin memastikan ini sempurna” di tengah teriakan dunia yang menyuruh mereka buru-buru.
Nah, Pengalaman semacam ini menunjukkan bahwa orang-orang yang paling berhasil justru mereka yang memiliki “ritme” sendiri.
Mereka bisa sangat sat-set saat dibutuhkan, tapi mereka punya tombol pause otomatis ketika kualitas mulai terancam. Mereka tidak takut dianggap ketinggalan zaman karena mereka tahu bahwa pada akhirnya, kualitaslah yang akan berbicara paling keras.
Satu bentuk paling elegan dari sebuah perlawanan terhadap budaya medioker.
Maka, sudah saatnya kita mengganti narasi “yang penting beres” menjadi “yang penting berkualitas”. Kualitas bukan berarti lambat, tapi kualitas berarti melakukan sesuatu dengan benar sejak awal sehingga kita tidak perlu melakukannya lagi untuk kedua kalinya.
Itulah definisi sesungguhnya dari efisiensi yang berkelas.
Pribadi yang Sat-set tapi Itqan
Menjadi pribadi yang sat-set sekaligus Itqan adalah sebuah seni keseimbangan. Kita tidak perlu memilih antara menjadi siput yang teliti atau kelinci yang ceroboh. Jadilah elang: cepat saat menukik, namun sangat presisi saat menangkap mangsa.
Dunia kerja hari ini memang menuntut kecepatan, tapi sejarah hanya akan mencatat mereka yang meninggalkan jejak kualitas dalam setiap langkah cepatnya. Tentu saja momen Ramadan ini sebagai titik balik untuk memperbaiki standar kerja kita, dari yang sekadar menggugurkan kewajiban menjadi sebuah persembahan terbaik yang penuh totalitas.
Ingat-Nya: Kualitas pekerjaan kita mencerminkan kualitas karakter kita. Jangan biarkan kecepatan membunuh kehebatan yang sebenarnya bisa kita capai, jika saja kita mau sedikit lebih teliti dan sungguh-sungguh.
Sebagai Pengingat:
Kesempurnaan bukan berarti tidak ada lagi yang bisa ditambahkan, melainkan tidak ada lagi yang bisa dikurangi. Dan Itqan adalah jembatan yang menghubungkan niat baik dengan hasil yang abadi.
Salam Dyarinotescom.

