Masyarakat kekinian saat ini punya hobi baru yang bisa dikatakan cukup mengerikan sekaligus bikin bangkrutin. Apa itu? Menciptakan musuh bersama dalam semalam! “Lu itu Bad-Boy” – Lewat satu potongan video pendek durasi 15 detik yang lewat di FYP, misalnya, kita bisa secara berjamaah menunjuk hidung seseorang “Lu salah!”, menaruh musik latar yang bagai adegan PKI, lalu melabeli mereka sebagai Public Enemy.
Yups, dialah banditnya, sang penjahat dalam noda kehidupan kita. Langsung mode kompak pasang badan, siap mengasah skill kata-kata makian, melakukan silaturahmi virtual yang sangat tidak ramah. Selanjutnya, setelah debu amarah mulai agak reda, barulah timbul pertanyaan yang membayangi hati dan pikiran.
Apakah orang tersebut memang beneran bersalah?
Kalau ternyata plot twist-nya kita salah sasaran, kan bahaya sekali ini. Bisa-bisa tekor tabungan pahala kita karena kuota dosa mendadak panen dan berlimpah. Mana sedekah kurang, korupsi kecil-kecilan 😂, sholat pun bolong-bolong. Nipu lagi. Komplit!
Atau…
Jangan-jangan, publik sendirilah yang haus dan ngebet ingin menemukan ‘bandit’ baru demi memuaskan hasrat menghujat?
Sori-sori nih, kalau publik se-gampang itu digiring bagai domba, “ceritanya domba tersesat”, artinya nalar kita dalam melihat kebenaran benar-benar tiarap. Ada orang yang ngaku dirinya Tuhan. Iya, iya saja. Air kobokan pun dianggap berkah. Parah!
Mengerikan!
Iman dan logika sudah gak karuan.
Public Enemy
Ketika Semua Orang Berubah Menjadi Hakim
Selamat datang di mana semua orang mendadak punya gelar Sarjana Hukum gaib dari Universitas Media Sosial.
Begitu ada kasus viral, netizen langsung bertransformasi menjadi hakim agung ketukan palu digital. Pertanyaan “Benarkah harus ada yang disalahkan?” seolah-olah menjadi cermin yang enggan kita lihat.
Jangan-jangan, selama ini kita ikut-ikutan membenci seseorang bukan karena kita peduli pada keadilan, melainkan karena kita butuh pelampiasan dari stresnya dikejar deadline kerjaan atau tagihan paylater yang menumpuk. Si Public Enemy!
Butuh sosok antagonis yang bisa disoraki bersama agar hidup kita yang monoton ini terasa sedikit lebih heroik plus berkeringat.
Cancel culture di media sosial kita sudah sampai pada tahap yang bikin merinding. Begitu seseorang masuk daftar hitam publik, seluruh jejak digitalnya dikuliti sampai ke akar-akarnya, dikunyah, lalu dimuntahkan kembali untuk konsumsi para pemirsa.
Hal yang sama juga sering kita lihat dalam dinamika politik, di mana menciptakan sosok musuh bersama adalah strategi paling murah untuk menyatukan barisan. Psikologi warga Konoha memang unik, woy.
Cenderung punya kebutuhan alami untuk mencari kesalahan orang lain agar kelompok kita terlihat paling suci, bersih, dan tanpa dosa.
Mekanisme kolektif ini bekerja dengan cara yang sangat halus. Ketika kita menunjuk satu orang sebagai penjahat kemanusiaan, secara tidak sadar kita sedang memproyeksikan seluruh keburukan di dunia ini kepada orang tersebut.
Efeknya?
Kita merasa menjadi orang baik hanya dengan modal mengetik kata-kata makian di kolom komentar. Padahal, dunia nyata tidak pernah se-hitam-putih itu, dan kebenaran jarang sekali bisa diringkas dalam satu utas yang berisikan potongan-potongan info setengah matang.
Hasrat membara untuk selalu mencari siapa yang harus digantung di alun-alun digital ini sebenarnya bukan barang baru. Jauh sebelum internet mengontrol jari jemari ini, manusia sudah punya cetak biru dalam urusan mencari tumbal.
Public Enemy.
Kambing Hitam dan Kebutuhan Kita untuk Membenci
Menurut pendapat kami, yang sedang kita hadapi ini adalah manifestasi modern dari praktik kuno yang disebut scapegoating atau pengambinghitaman. Menariknya, jika kita menilik sejarah ke belakang, taktik ini adalah cara instan yang paling sering digunakan oleh masyarakat zaman dahulu untuk meredakan ketegangan sosial.
Kita tidak sedang membicarakan satu atau dua orang yang kebetulan sedang apes, melainkan sebuah pola perilaku manusia yang berulang setiap kali sebuah komunitas berada dalam kondisi frustrasi massal namun tidak tahu harus melimpahkan kemarahannya kepada siapa.
Jika kita mencari contoh sejarah yang sangat nyata tentang bagaimana publik butuh menyalahkan sesuatu saat krisis terjadi, mari kita tengok peristiwa Kebakaran Besar Roma (Great Fire of Rome) pada tahun 64 Masehi. Masih ingat? Tidaklah ya 😁.
Kala itu
Kota Roma hangus terbakar selama berhari-hari. Masyarakat Romawi yang kehilangan rumah dan harta benda, tentu saja mengamuk serta menuntut jawaban atas bencana tersebut. Di tengah kepanikan masal tersebut, Kaisar Nero “yang posisinya terpojok karena dituduh sebagai dalang kebakaran” butuh pengalihan isu dengan cepat agar posisinya aman.
Apa yang dilakukan Nero?
Dia menunjuk sebuah kelompok minoritas yang saat itu belum populer dan sering disalahpahami oleh publik Romawi, yaitu komunitas Kristen awal. Kebencian publik yang tadinya mengarah kepada pemerintah, seketika bergeser 180 derajat.
Tanpa butuh investigasi mendalam, masyarakat Roma langsung menelan mentah-mentah narasi tersebut dan menjadikan kelompok minoritas ini sebagai “kambing hitam” untuk meluapkan amarah serta rasa frustrasi mereka lewat persekusi massal yang kejam.
Nah, jika kita melihatnya secara objektif tanpa menghakimi masa lalu, esensi dari peristiwa di zaman kuno itu dan aksi cyberbullying masal hari ini sebenarnya sama persis.
Bedanya,
Kalau dulu mereka termakan gosip di alun-alun kota, sekarang kita digerakkan oleh algoritma. Keduanya sama-sama didorong oleh rasa takut dan kebutuhan mendesak untuk menunjuk satu hidung agar rasa cemas kelompok bisa diredam.
Menutup mata pada fakta bahwa masalah yang terjadi di dunia ini sering kali bersifat kompleks, bukan sekadar kesalahan satu individu tunggal yang bisa selesai hanya dengan dihancurkan hidupnya.
Mengajak untuk berpikir kritis di tengah amarah publik memang membutuhkan energi ekstra yang tidak sedikit. Sangat mudah untuk ikut berteriak dalam paduan suara kebencian, namun jauh lebih terhormat untuk berani mundur satu langkah dan menganalisis situasi dengan kepala dingin.
Oleh karena itu, sebelum terlanjur boros akan dosa dan ikut mengotori tangan dengan amarah yang belum tentu valid atau benar, ada baiknya kita mempraktikkan beberapa langkah penyelamat kewarasan.
Public Enemy gak tuh.
Berhenti Sejenak Sebelum Ikut Menunjuk Jari di Tengah Amarah Publik
Sebelum kita masuk ke dalam panduan suara, mari kita bayangkan sebuah skenario komikal.
Banyangkan:
Kamu sedang jalan-jalan di sore hari, lalu melihat kerumunan orang sedang meneriaki sebuah tiang listrik karena dianggap menyebabkan kemacetan jalan. Alih-alih bertanya kenapa tiang itu diteriaki, kamu langsung ikut mengambil batu dan melemparnya sambil berteriak, “Dasar tiang tidak tahu diri!”
Lucu? Iya. Bodoh? Sangat. Tapi sadar atau tidak, itulah yang sering kita lakukan di internet saat ikut-ikutan menghujat tren viral tanpa tahu duduk perkara aslinya.
Supaya kita tidak menjelma menjadi barisan “pelempar batu ke tiang listrik digital”, kita butuh semacam rem tangan berbasis darurat siber.
Jangan sampai niatnya mau menegakkan keadilan sosial, tapi malah berakhir jadi pelaku perundungan massal yang bikin malu, kalau faktanya terungkap sebaliknya. Beberapa poin rahasia yang jarang dipraktikkan orang, demi menjaga agar jempol kita tetap berakhlak mulia.
Coba:
1. Terapkan Cognitive Reframing Sebelum Bereaksi
Ketika melihat sebuah konten yang memancing emosi jiwa, jangan langsung mengetik.
Gunakan cara ini untuk menata ulang cara pandangmu terhadap situasi tersebut. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah video 10 detik ini sudah menggambarkan keseluruhan hidup orang tersebut, atau ini cuma potongan yang sengaja dipasang agar emosiku terpancing?” Menunda reaksi selama 5 menit saja bisa menyelamatkanmu dari jeratan penyesalan seumur hidup.
Lalu, bagaimana dengan?
2. Waspadai Jebakan Confirmation Bias
Kita cenderung sangat mudah mempercayai berita buruk tentang seseorang jika orang tersebut sejak awal tidak kita sukai atau tidak sesuai dengan isi kepala kita.
Ini namanya bias konfirmasi.
Ketika ada rumor negatif beredar, otak kita otomatis berkata, “Nah, kan! Memang dia dari dulu kelihatan mencurigakan!” Padahal, bukti yang ada belum tentu sahih. Selalu cari bukti yang berlawanan sebelum mengambil kesimpulan.
3. Lakukan Digital Forensic Mandiri secara Sederhana
Jangan malas untuk melacak sumber asli.
Netizen jaman now sering kali langsung menelan mentah-mentah tangkapan layar (screenshot) atau potongan video yang sudah diedit sedemikian rupa demi engagement. Coba cari video versi penuhnya, baca berita dari media yang memiliki kredibilitas tinggi, dan lihat apakah ada klarifikasi dari pihak terkait sebelum kamu ikut mengeluarkan fatwa pribadimu di kolom komentar.
4. Pahami Konsep Asymmetric Information
Sadarilah bahwa sebagai penonton layar kaca ponsel, informasi yang kita miliki selalu tidak seimbang (asymmetric) dibandingkan dengan orang-orang yang benar-benar berada di lokasi kejadian. Kita hanya tahu apa yang kamera tunjukkan kepada kita, bukan apa yang terjadi di balik kamera atau dinamika sebelum video itu direkam.
Mengakui bahwa kita “tidak tahu seluruh cerita” adalah bentuk kecerdasan tertinggi di era digital.
5. Praktikkan Jempol Detox Berkala
Jika lingkaran pertemanan digitalmu sudah mulai terasa toxic “aneh”, dan isinya hanya ajakan untuk membenci satu sosok baru setiap minggunya, itu tandanya kamu butuh istirahat.
Tutup aplikasi tersebut! Taruh ponsel itu walau pun mahal sekalipun, lalu keluarlah untuk melihat tanaman cebe atau sekadar menyapa janda tua sebelah rumah. Menjauhkan diri dari pusaran energi negatif publik akan mengembalikan fungsi logika alamimu yang sempat tertutup kabut amarah online.
Nambah-Nambahin Dosa Saja, Ya kan?
Public Enemy.
Ikut-ikutan menjadi algojo dalam pengadilan massa di media sosial sering kali tidak membawa perubahan positif apa pun bagi dunia, melainkan cuma nambah-nambahin tabungan dosa yang tidak perlu saja.
Ya kan?
Yaa, iya lah!
Kita sering merasa telah melakukan sebuah aksi heroik demi keadilan sosial, padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah kepuasan ego sesaat setelah berhasil merundung sesama manusia dari balik layar ponsel yang aman. Ketika badai mereda dan target kebencian kita sudah hancur hidupnya, publik akan dengan santai pindah mencari target baru, meninggalkan korban lama dalam puing-puing keputusasaan yang kita ciptakan bersama.
Menjadi kritis bukan berarti kita harus kehilangan rasa kemanusiaan dan empati.
Di tengah dunia digital yang penuh dengan tipu-tipu, bergerak teramat cepat dan bising ini, kemampuan untuk tetap diam, mengamati, dan menahan diri dari godaan menghakimi adalah sebuah kemewahan moral yang sejati.
PoV-Nya: Tanang sajalah Kak! Kebenaran tidak pernah ditemukan dalam ramainya teriakan massa yang sedang marah, melainkan dalam ketenangan kalbu yang berani berpikir jernih tanpa perlu ikut menunjuk jari.
Salam Dyarinotescom.

