Kita semua pasti pernah berada di dalam situasi seperti ini: sebuah ruang rapat yang suhunya dingin, namun tensinya panas. Di atas meja, tumpukan data lapangan real time diabaikan begitu saja. Di depan layar, seorang yang katanya ‘leader’ dengan berapi-api mempertahankan sesuatu yang ada di pikirannya “sesuatu yang entah datangnya dari mana“. Sudah lembur setiap hari, menghabiskan kopi berkodi-kodi, dan mengorbankan waktu tidur demi proyek yang, jika kita mau jujur dan melihat data, sebenarnya sedang berjalan menuju tebing kehancuran. Inilah sebuah ironi yang sering terjadi di kehidupan: sebuah kondisi di mana: kerja keras, arah yang keliru, dan kebebalan berpadu menjadi satu, dipaksakan beku berjalan atas nama “It’s Our Business“.
We trapped in corporate drama.
Lanjut.
Tragedinya adalah:
Sorry, can’t see today, grandma 😔…
Ketika ego dan kebebalan itu akhirnya berujung pada kegagalan, seluruh tim diminta untuk ikut tanggung jawab. “Ini urusan kita bersama. Kan sudah setuju semua sebelumnya” kata mereka dengan kocaknya. Seolah-olah kesalahan strategi sejak awal adalah atas persetujuan dan pikiran semua pihak.
Kerja keras yang diagung-agungkan sebelumnya berubah menjadi sekadar “alasan…” untuk menutupi mainan yang rusak.
Ketika sesuatu kita jalankan dengan menutup mata dari realita lapangan dan mengunci telinga dari masukan, maka modal yang kita keluarkan, seperti: waktu, tenaga, dan air mata hanyalah sebuah perjalanan menuju kesia-siaan yang melelahkan.
End Game.
It’s Our Business.
Tetap saja Gigih Dengan “It’s Our Business!”
Masalah terbesar dari sekadar kerja keras tanpa arah adalah lahirnya sebuah ilusi kemajuan (illusion of progress).
Kita merasa sudah bergerak sangat jauh karena baju sudah basah oleh keringat, badan agak kurusan, dan mata sudah berkantung mirip panda. Padahal, kita hanya sedang berlari kencang di atas treadmill. Melelahkan, menguras energi, tapi posisi tidak berpindah satu jengkal pun.
Celakanya,
Ketika ada anggota tim yang mencoba menyodorkan: “Gunakan kompas dong”, sang kapten justru berteriak, “Kurang kencang lari kalian! Ini bisnis kita bersama!”
😂😁…
Kadang keras kepala yang dibungkus dengan jargon motivasi itu membuat kerja keras yang kita lakukan sebelumnya terlihat benar, walaupun secara “mainan bisnis” kita sudah salah arah, salah jalan, dan tersesat berjamaah.
Ada semacam kepuasan semu saat mengabaikan fakta demi sebuah ego yang disebut: VISI. Terjebak dalam sunk cost fallacy, sebuah jebakan di mana kita emoh berhenti hanya karena merasa “sudah telanjur basah” dan sudah telanjur berinvestasi banyak hal di sana.
Belajar dari kebodohan itu mahal, dan tak ada yang sia-sia di dunia ini karena semua bisa jadi pelajaran berharga. Tapi, jika berkenaan dengan target waktu, opportunity cost, dan napas dapur perusahaan, semua jadi berbeda. Sudah lain ceritanya. Ada harga mahal yang harus dibayar tunai.
Ada biaya operasional yang terus membakar modal. Ketika semua itu habis, barulah kita sadar bahwa menabrak tembok dengan kecepatan penuh tidak pernah membuat tembok itu berubah menjadi pintu.
Kejadian model begini sebenarnya punya kembaran identik dalam sejarah, di mana sebuah keputusan ‘keukeuh’ dari balik meja berhasil mengubah kejayaan menjadi bencana sejarah.
It’s Our Business.
Dari Balik Meja Berjalan Menuju Tebing
Kalau kita mau menengok sejarah, sindrom keras kepala dari balik meja ini pernah memicu salah satu blunder paling legend di dunia. Ada banyak. Sebut saja pada kasus kebangkrutan Kodak. “Ini lagi, ini lagi…” 😒😯 Disini ada banyak hal yang tidak kita tahu, lho.
Pada tahun 1975, seorang insinyur muda Kodak bernama Steve Sasson sebenarnya sudah menciptakan kamera digital pertama di dunia.
Alih-alih merayakan penemuan revolusioner tersebut, para eksekutif kakap di manajemen atas justru melengos dan berkata, “Bagus, tapi jangan ceritakan pada siapa pun.” Mereka terlalu cinta dengan lini bisnis film seluloid yang saat itu menjadi mesin cetak uang mereka.
Di sinilah cocoklogi historisnya bekerja dengan sangat presisi.
Manajemen saat itu sangat gigih mempertahankan bisnis film konvensional dengan argumen, “Ini bisnis utama kita, kita harus kerja keras mengamankannya!” Mereka menutup mata dari realita bahwa dunia sedang bergeser ke arah digital.
Mereka lembur merumuskan strategi pemasaran film, membakar jutaan dolar untuk kampanye jadul, dan bersikap bebal terhadap masa depan.
Hasilnya?
Ketika kompetitor mulai beralih ke digital, Kodak tertinggal di belakang dan terpaksa menyatakan bangkrut pada tahun 2012-an. Kerja keras mereka selama puluhan tahun hancur bukan karena kurang modal, tapi karena nakhodanya menolak memutar kemudi saat melihat gunung es di depan mata.
Tragedi dari balik meja ini mengajarkan kita bahwa ketika sebuah keputusan diambil hanya berdasarkan “pokoknya harus begini” tanpa melihat dinamika pasar, kita sebenarnya sedang memesan tiket VIP menuju jurang kehancuran.
Begitu tombol starling (stres keliling) sudah aktif karena proyek mulai menunjukkan tanda-tanda gagal, biasanya para pengambil keputusan baru sibuk mencari kambing hitam untuk disembelih bersama.
It’s Our Business.
Jika Sudah Begini, Harus Bagaimana?
Menghadapi situasi yang sudah telanjur kusut akibat kombinasi kerja keras dan kebebalan tentu tidak bisa diselesaikan hanya dengan saling tunjuk hidung saat rapat evaluasi atau pembubaran. Kita butuh “oli super” sebelum kereta benar-benar anjlok keluar dari relnya.
Dengan baik hati, kami beberapa langkah taktis dan anti-mainstream yang bisa kita terapkan untuk menyelamatkan tim dari jeratan toxic productivity yang salah arah ini.
Coba dengan:
1. Budayakan Pre-Mortem Analysis
Sebelum proyek diluncurkan atau saat proyek mulai terasa oleng, kumpulkan tim bukan untuk optimis bersama, melainkan untuk berasumsi secara ekstrem bahwa proyek ini sudah gagal total. Setiap anggota tim diminta menuliskan skenario apa saja yang menjadi penyebab kegagalan tersebut secara jujur tanpa rasa takut.
Strategi ini membalikkan psikologi tim dari yang semula takut mengkritik menjadi berlomba mencari celah demi keselamatan bersama.
Lebih baik mengoreksi peta di dalam tenda daripada tersesat di tengah badai.
2. Terapkan Red Teaming secara Berkala
Bentuk satu tim kecil khusus yang tugas utamanya adalah menjadi “musuh dalam selimut” bagi ide-ide sang leader.
Tugas Red Team ini adalah menyanggah, mencari kelemahan, dan menembaki setiap strategi yang diusulkan dengan data lapangan yang paling brutal. Jika sebuah ide tidak mampu bertahan dari serangan Red Team, maka ide tersebut memang tidak layak untuk dibawa ke pasar.
Pujian yang salah arah adalah racun, sementara kritik yang jujur adalah obat penawar.
3. Buat Kill Switches pada Rencana Bisnis
Kita harus menentukan indikator objektif atau batas toleransi kerugian sejak awal (threshold).
Jika proyek menyentuh titik minus tertentu atau gagal mencapai target dalam waktu yang ditentukan, proyek harus dihentikan secara otomatis tanpa kompromi, tidak peduli seberapa besar tenaga yang sudah dikeluarkan. Ini adalah cara paling efektif untuk mematikan sunk cost fallacy dalam kepala kita.
Keberanian tidak hanya soal kapan harus memulai, tapi juga tahu kapan harus berhenti.
4. Dorong Praktik Radical Candor
Ciptakan ruang komunikasi di mana setiap orang bisa berbicara dengan kebenaran yang pahit secara langsung tanpa perlu dibungkus bahasa klise yang manis.
Ketika seorang leader mulai salah jalan, tim bawahannya harus memiliki akses langsung untuk menegur tanpa takut kehilangan jabatan. Komunikasi yang tersumbat adalah awal dari lahirnya keputusan-keputusan konyol dari balik meja.
Kejujuran yang menyakitkan jauh lebih menyelamatkan daripada kebohongan yang menenangkan.
5. Gunakan Metrik Impact-to-Effort Matrix
Berhentilah mengukur kesuksesan berdasarkan seberapa sibuknya tim kita bekerja.
Evaluasi setiap program kerja menggunakan matriks yang memisahkan antara usaha (effort) dan dampak nyata (impact). Jika sebuah proyek membutuhkan effort berkodi-kodi kopi dan lembur tiap malam tapi menghasilkan impact yang minim, segera eliminasi atau pivot program tersebut tanpa penyesalan.
Jangan biarkan kesibukan mengelabui kita dari kenyataan bahwa kita tidak menghasilkan apa-apa.
Berhentilah Berlari Jika Tahu Kau Tersesat
It’s Our Business.
Sadar bahwa kerja keras tanpa kecerdasan membaca situasi hanyalah sebuah tindakan menyiksa diri yang dikemas secara estetis. Mempertahankan sebuah kesalahan dengan dalih loyalitas atau kalimat “It’s Our Business” adalah bentuk pelarian dari rasa takut mengakui kekalahan. Tidak ada gunanya menambah kecepatan lari jika kita sendiri tahu bahwa kita sedang menuju ke arah yang salah.
Berhenti sejenak, turunkan ego, dan buka mata lebar-lebar terhadap realita yang ada di lapangan. Mengubah arah atau bahkan berbalik arah ketika tersesat bukanlah sebuah tanda kelemahan, melainkan sebuah tanda kedewasaan dalam berpikir dan bertindak.
PoV-Nya: Kesalahan terbesar yang sering dilakukan kebanyakan orang adalah berlagak pilot, dan enggan memutar arah, hanya karena merasa jarak yang ditempuh sudah terlalu jauh.
Salam Dyarinotescom.

