Pernah terjebak dalam kekhusyukan yang menjadi di YouTube atau Instagram? Niatnya cuma mau lihat resep masakan, eh, tahu-tahu mata terpaku sama video orang lagi menggaruk microphone bulu atau mengunyah acar timun di dekat telinga? Hehe 😁 jangan kabur dulu, kita semua pernah nyangkut di sana. Bukan drama, ini adalah realita dari fenomena lama yang kami bawa lagi ke permukaan, yaitu ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response).
Awalnya memang terasa aneh, bahkan menggelikan.
“Apa-apaan sih ini, orang ngapain coba?” mungkin begitu isi pikiran kita. Tapi anehnya, setelah beberapa detik, nah lho ada sensasi geli-geli basah 😂 yang merambat dari kulit kepala, turun ke tengkuk, hingga tulang belakang. Rasanya kayak lagi dikelonin suara sama seseorang yang gak kelihatan.
Gak pake lama! Tontonan “suara aneh” ini malah jadi ritual wajib sebelum tidur. Nggak heran kalau banyak dari kita, “para netizen budiman”, yang mulai mengalami “ASMR Adiksi” akut. Tak bisa tidur tanpa nya.
Bucin ASMR, Kok Bisa?
Mengapa yaa suara garukan bikin kita terlena? Padahal kan… Yaelah.
Sebenarnya, kenapa sih kita bisa sebucin ini sama bisikan atau suara-suara repetitif yang di dunia nyata mungkin akan kita anggap mengganggu?
Jawabannya ada di kepala kita, tepatnya di area otak. Salah satu teori yang boleh jadi belum banyak orang tahu adalah kaitannya ASMR dengan pelepasan hormon bahagia. Ketika kita terpapar suara ASMR, misalnya, otak melepaskan dopamin (hormon kesenangan) dan oksitosin (hormon kasih sayang atau bonding).
Jadi, sensasi “dikelonin” tadi itu bukan cuma sugesti, tapi reaksi kimiawi asli! Otak kita literally merasa disayang dan nyaman saat mendengar suara-suara aneh itu. Dan, katanya kita seolah-oleh:
Kembali ke Masa Lalu yang Damai
ASMR juga sering dikaitkan dengan pengalaman sensorik di masa kanak-kanak. Suara seperti ketukan lembut, bisikan, atau gerakan perlahan seringkali menyerupai momen personal attention yang kita terima dari orang tua atau caregiver (misalnya saat disisir rambutnya atau dibacakan cerita sebelum tidur).
Otak kita mengasosiasikan suara-suara tersebut dengan keamanan, ketenangan, dan rasa dilindungi. Gak heran pastinya, sensasi tingles yang kita rasakan itu adalah flashback nggak sadar ke momen-momen paling damai dalam hidup kita.
Dari Tingles (menggelitik) ke Terapi Pikiran
Fenomena ASMR ini bukan cuma soal satisfying di telinga, tapi juga cara modern untuk melarikan diri sejenak dari hiruk pikuk dunia yang melelahkan dengan segudang cobaan. Ini adalah self-soothing mechanism yang instan.
Nah, sebelum masuk lebih jauh tentang kecanduan ASMR, ada baiknya kita tilik dulu, apa sih untung ruginya jadi budak suara-suara aneh ini? Siap-siap, kita akan Menimbang Baik Buruk-Nya dari ASMR Adiksi!
Menimbang Baik Buruk-Nya
Sebelum kita terlalu serius membahas kebaikan dan keburukan dari ASMR, mari kita akui saja: kita adalah generasi yang mencari ketenangan, dan yang paling dekat berada di balik layar ponsel. Kalau zaman dulu orang cari ketenangan di puncak gunung, kita cukup pakai earphone, bukan untuk musik, tapi: dengarkan orang lagi motong sabun atau lipstik 😂.
Agak aneh memang!
Kita lihat:
Sisi BAIK (Si Penolong Malam Hari)
Anggap saja ASMR ini adalah “Asisten 24 Jam” yang siap siaga. Daripada kita gak jelas scroll media sosial tanpa tujuan “overthinking” sampai pagi, mending kita download saja obat penenang digital ini. Siapa tahu, suara orang menyikat microphone bisa jadi solusi tidur cepat gak pake ribet.
Karena boleh jadi ini bisa sebagai:
1. Pil Tidur Instan
ASMR terbukti efektif (katanya) membantu mereka yang sulit tidur atau punya insomnia (istilah populernya: Susah Shut Down). Ritme dan suara repetitif dapat menenangkan sistem saraf, membuat kita lebih rileks, dan memudahkan otak untuk transisi ke mode tidur. Good bye begadang!
2. Si Penghalau Cemas
Bagi kamu yang lagi stres, patah hati misalnya, ASMR berfungsi sebagai pengalih perhatian yang sangat fokus. Otak kita dipaksa untuk memperhatikan detail suara, sehingga ia distract dari pikiran-pikiran negatif yang biasanya berputar-putar. Ini adalah Terapi Gak Pake Mahal yang worth it.
3. Fokus Booster
Beberapa jenis ASMR, seperti suara mengetik (keyboard tapping) atau membalik halaman buku (page turning), sering digunakan sebagai background noise saat belajar atau bekerja. Suara yang ritmis ini membantu menjaga fokus tanpa mengganggu, seperti memiliki study buddy yang diam tapi suportif.
4. Penyegar Mood
Seperti yang sudah dibahas, pelepasan hormon dopamin membuat kita merasa lebih baik. ASMR bisa jadi “mood enhancer” ceritanya tapi ini cepat di tengah hari yang terasa bad atau saat kita lagi butuh Sentuhan Vibe Positif mendadak.
5. Penghemat Kuota Bicara
Kadang kita cuma butuh ditemani, bukan diajak ngobrol. ASMR memberikan Rasa Kebersamaan yang Sunyi. Ini mengisi kekosongan saat kita merasa kesepian tanpa harus mengganggu orang lain.
Nah, katakanlah itu baik menurut sebagian orang. Lalu, bagaimana dengan sisi buruknya?
Sisi BURUK (Si Pengganggu Kualitas Hidup)
Sesuatu yang terlalu enak itu biasanya ada harga yang harus dibayar. Ibaratnya, ASMR ini memang selimut hangat di malam hari, tapi kalau kita pakai terus-terusan, “bakal bau” kita bisa lupa cara menghadapi dinginnya realita tanpa bisikan-bisikan manja di telinga.
Bukan menakuti. Benar! itu bisa saja membuat mu:
1. Ketergantungan Auto On
Sesuai judul artikel, ini bisa jadi adiksi. Yaa benar banget! Jika kita sudah tidak bisa tidur tanpa mendengarkan ASMR, itu tandanya kita sudah Kena Jerat Candu alias gak bisa Move On. Ketergantungan pada stimulus eksternal ini bisa merusak kemampuan alami kita untuk rileks sendiri.
Pastinya:
2. Toleransi Meningkat
Sama seperti zat adiktif, lama-lama kita butuh dosis ASMR yang lebih kuat, lebih aneh, atau lebih keras untuk mendapatkan sensasi tingles yang sama. Ini membuat kita terus mencari content creator baru dan jenis ASMR yang makin ekstrem. Wah bisa makin aneh ini.
3. Misofonia Trigger
Bagi beberapa orang, ASMR justru bisa berbalik jadi Misofonia (sensitivitas berlebihan terhadap suara tertentu). Suara mengunyah yang dianggap menenangkan oleh satu orang, bisa jadi pemicu amarah dan frustrasi bagi yang lain. Jadi, jangan paksakan ke semua orang ya!
4. Gangguan Tidur. Dan ini Real!
Memang ASMR membantu kita tidur, tapi jika kita tidur dengan earphone terpasang sepanjang malam, ini bisa mengganggu kualitas tidur (tidur jadi tidak nyenyak) dan juga berpotensi merusak pendengaran dalam jangka panjang. Ini namanya Kualitas Tidur Dipertaruhkan.
5. Kelelahan Mental Gak Jelas
Ada satu penjelasan yang menarik. Jadi, terlalu sering dan terlalu lama terpapar input sensorik intens (walaupun lembut) dari ASMR bisa menyebabkan Kelelahan Sensorik. Otak kita jadi terbiasa over-stimulated sehingga sulit untuk merasa tenang saat benar-benar hening.
Hati-hati … Karena Semua Itu Ada Ceritanya
Hmmm… Ingat betul malam itu.
Semua berawal dari rekomendasi di kolom samping YouTube. Judulnya, ‘Soft Whispering & Gentle Hand Movements For Sleep’. Malam itu katakanlah “Rara” sedang dalam fase di mana semua pikiran terasa bising dan sulit sekali untuk tidur. Rasa penasaran mengalahkan logika, dan Rara pun menekan tombol play.
Sensasi yang datang sungguh mengejutkan.
Awalnya yaa aneh, mendengar suara perempuan berbisik persis di telinga, seolah ia sedang duduk di sampingku sambil memindahkan benda-benda kecil dengan hati-hati. Perlahan, ‘listrik’ halus itu mulai merayap di kulit kepala.
Tak sampai lima menit, mataku terasa berat, dan aku terbangun keesokan paginya dengan earphone masih terpasang, baterai ponsel hampir habis, tapi… wow, Ia tidur nyenyak sekali. Gak ada mimpi, gak ada nyamuk, nyenyak banget! kayak habis di pijat.
Sejak saat itu, ASMR jadi ‘teman tidur’ wajib bagi si Rara.
Wajib gak tuh 😔…
Dari yang tadinya cuma bisikan, merembet ke suara ketukan kuku di meja (tapping), sampai yang paling aneh: suara orang memotong sabun kinetik dengan sangat detail. Rara jadi khawatir: apakah ia benar-benar tidak bisa tidur tanpa ‘dikelonin’ suara aneh ini?
Di sanalah Rara mulai sadar, ASMR ini memang penolong yang luar biasa, tapi seperti semua hal yang menyenangkan, itu juga punya potensi untuk jadi kebiasaan yang sulit dihilangkan. Jadi, jangan sampai niat mencari ketenangan malah berujung pada ketergantungan.
Salam dari Rara.
Terapi Ngantuk Ala ASMR-an
ASMR memang bukan sekadar tren sesaat. Ia adalah respons biologis dan psikologis kita terhadap stimuli yang menenangkan. Ini adalah cara modern bagi otak kita untuk menekan tombol ‘reset’ dan kembali ke kondisi tenang.
Daripada kita melihatnya sebagai adiksi yang menakutkan, anggaplah ASMR sebagai Terapi Ngantuk (atau Terapi Ketenangan) yang bisa kita akses kapan saja. Kuncinya ada pada kontrol diri dan kesadaran. Gunakan ASMR sebagai alat bantu, bukan sebagai tongkat penyangga yang membuat kita lupa caranya berdiri sendiri.
PoV-Nya: ASMR itu inovasi keren yang menyentuh sisi primal kebutuhan manusia akan kenyamanan dan perhatian. Jadi, mari kita nikmati saja sensasi tingles yang muncul, asalkan kita tahu batasan. Jangan sampai kamu lupa bagaimana caranya menikmati keheningan yang sesungguhnya.
Ketahui bahwa: ketenangan sejati datang dari hati yang damai, bukan hanya dari suara yang disukai. Gunakan ASMR sebagai jalan menuju ketenangan, bukan satu tujuan.
Salam Dyarinotescom.
