Pakai busana apa yaa hari ini? Buka lemari lalu bengong, “Lah kok, baju-baju syar’i atau gamis yang aku punya, desainnya mirip-mirip semua ya?” Atau yang lebih parah, kamu baru beli satu set busana muslim buat lebaran, eh seminggu kemudian tetangga sebelah pakai model yang plek ketiplek, beda di warna benang doang. Itu bukan karena emak-emak se-Indonesia tiba-tiba janjian model di grup WhatsApp. Bukan juga karena mind-reading para desainer lokal. Itu adalah sinyal sederhana, tapi menyakitkan: Kita, dengan bangga, sedang dijajah ‘secara halus’ oleh selera. Dan, yang utama, sebenarnya itu semua merupakan barang impor dari satu tempat.
Coba kita flashback sedikit ke masa pre-TikTok.
Atau …
Masa di mana live shopping belum jadi kegiatan wajib.
Dulu, mencari busana muslim branded dari Indonesia itu butuh usaha. Sekarang? Kamu tinggal scroll di e-commerce, ketik “gamis terbaru,” dan dalam hitungan detik, akan muncul ribuan produk dengan harga yang enggak masuk akal murahnya.
Dan tahu gak tuh, rata-rata dari produk-produk yang bikin ngiler itu punya kode yang sama: asalnya dari Tiongkok. Ironisnya, Indonesia yang punya populasi muslim terbesar di dunia dan berpotensi jadi kiblat modest fashion global, kok malah jadi pasar empuk bagi produk negara lain?
Di luar nalar, kan?
Heran yaa, Ini Mendadak Sadar atau Bodoh Sih. Kok…
Oke, tenang dulu. Kita sudah tahu sakitnya di mana.
Sekarang mari kita sentuh bagian yang paling sensitif: para pemangku kebijakan. Sudah bertahun-tahun lamanya, kita mendengar basa-basi dari para petinggi. Mulai dari janji manis “mewujudkan Indonesia sebagai Pusat Fesyen Muslim Dunia 2020”, misalnya, (yang jelas-jelas meleset jauh), hingga statement bangga soal pertumbuhan ekonomi digital dan menjamurnya influencer busana muslim.
Mereka seperti sedang melawak di panggung sambil pura-pura gak lihat ada gajah raksasa bernama “Impor Ilegal dan Legal Murah” yang sedang menginjak-injak kios-kios konveksi di Tanah Abang.
Mereka sibuk bicara soal branding dan ekspor, padahal di halaman rumah sendiri, industri garmen lokal sedang sekarat. Data itu jelas, gamblang, dan memalukan. Volume impor tekstil dan produk tekstil (TPT) itu melonjak tinggi, apalagi setelah booming platform cross-border e-commerce.
Ketika produsen lokal harus berdarah-darah memikirkan UMR, biaya bahan baku, dan pajak, produk Tiongkok datang dengan harga yang serendah lantai, “lebih murah dari harga taik” maksudnya: lebih murah dari harga benang kita.
Ini bukan soal bersaing sehat, ini soal perang harga yang curang.
Yang lebih nyeleneh lagi, mereka seolah terkejut ketika akhirnya ada peraturan yang mencoba membatasi barang impor, seperti pemblokiran impor di bawah US$100 di beberapa platform, misalnya. Reaksi itu seolah-olah baru mendadak sadar setelah rumahnya kebanjiran.
Padahal, tanda-tanda air bah ini sudah muncul sejak handphone kamu pertama kali dipenuhi iklan baju murah dari luar negeri. Ini bukan kecerobohan, ini sudah masuk kategori pembiaran yang sistemik.
Jadi, ketika kita melihat para petinggi tampil gagah bicara soal local pride, kita patut bertanya, “Bodoh sih, kok baru sadar sekarang?
Atau memang pura-pura bodoh karena ada hidden interest di balik liberalisasi impor yang kebablasan?” Toh, yang hancur bukan pabrik-pabrik besar milik segelintir konglomerat, melainkan jutaan UMKM yang adalah tulang punggung ekonomi kerakyatan kita.
Kita seperti sedang menonton pertandingan tinju di mana atlet kita diikat kakinya, sementara lawan bebas memukul.
Busana Muslim Dikuasai Cina: Jangan Baper, Ini 7 Kekalahan Kita
Duh, sedih banget ya, setelah tadi kita spill kelakuan para petinggi, sekarang waktunya kita bercermin. Kita enggak boleh baper (seperti drama korea congek) terus-terusan menyalahkan pemerintah. Industri busana muslim Indonesia harus berani menunjuk hidung sendiri dan mengakui: kita memang kalah telak!
Anggap saja ini sesi therapy jujur. Kita harus akui ada banyak dosa kita, yang membuat pasar kita dengan sukarela diserahkan kepada Cina. Ini bukan toxic positivity, ini realita pahit yang harus ditelan agar bisa move on.
Apa itu?
1. The Speed Trap: Kalah Cepat di Supply Chain
Indonesia punya masalah klasik di rantai pasok (supply chain). Dari ide jadi desain, dari desain jadi sampel, dari sampel jadi produksi massal, butuh waktu lama dan ribet. Sementara Cina?
Mereka punya ekosistem hulu ke hilir yang sat set sat set. Gerak cepat, noo lemot! Begitu ada tren di media sosial, minggu depan barangnya sudah ada di gudang. Kita? Masih sibuk nego harga kain dan cari penjahit. Jelas kita ketinggalan kereta super cepat.
2. Copy-Paste Culture: Minus Inovasi Desain
Jujur saja, banyak desainer lokal kita yang terjebak di zona nyaman ‘ATM’ (Amati, Tiru, Modifikasi). Jadi tumpul dan enggan berkreasi. Kalaupun ada yang nekat berinovasi sedikit saja, bukannya didukung, malah kita sendiri yang paling duluan membantai habis lewat komentar nyinyir.
Jadinya…
Mereka lebih suka menunggu tren dari luar atau dari desainer senior, baru kemudian dimodifikasi sedikit. Cina, dengan kekuatan industri besarnya, berani bereksperimen gila-gilaan dan menciptakan mikro-tren baru setiap bulan. Kita hanya jadi follower yang telat.
3. Cost Nightmare: Harga Pokok Produksi Lokal Terlalu Mewah
Ini soal ekonomi skala (economies of scale). Pabrik garmen di Cina bisa memproduksi jutaan unit per hari, membuat harga pokok produksi (HPP) mereka sangat rendah. Sementara UMKM kita? Produksi ratusan sudah ngos-ngosan.
Biaya listrik, upah tenaga kerja, dan bahan baku di kita membuat harga jual akhir jadi tiga kali lipat lebih mahal. Ya kali, pembeli mau bayar lebih kalau kualitasnya mirip-mirip.
4. The Social Media Game: Kalah Gimmick Marketing
Sadar enggak, endorsement busana dari Tiongkok itu massif dan agresif di TikTok dan Instagram. Mereka pakai influencer mana saja, jika perlu pakai filter biat terlihat menarik, dengan gimmick harga diskon gila-gilaan, dan algoritma sangat membantu mereka.
Produsen lokal kita seringnya terlalu pasif, hanya mengandalkan branding dari satu dua artis ternama yang harganya mahal beut.
5. Quality Control Illusion: Terjebak Kualitas yang Enggak Konsisten
Kita sering koar-koar kualitas lokal lebih bagus, tapi kenyataannya banyak pembeli kecewa dengan inkonsistensi jahitan, bahan, atau warna pada produk UMKM. Cina, karena manajemen pabrik mereka yang terstruktur, justru bisa menjaga standar kualitas massal dengan baik.
Capek deh, kalau janji kualitas tapi zonk terus.
6. Digital Blindness: Minim Data dan Market Research
Produsen kita sering membuat baju berdasarkan intuisi atau feeling saja. Mereka buta data.
Sementara perusahaan Cina menggunakan Big Data dari platform e-commerce untuk menganalisis warna, model, dan bahan apa yang paling diminati netizen Indonesia detik ini. Mereka sudah selangkah lebih maju karena bermain dengan analytics, bukan wangsit.
7. The Export Mentality: Hanya Berorientasi ke Dalam
Sejak dulu, banyak produsen Indonesia yang nyaman dengan pasar domestik yang besar.
Mereka minim niat ekspor atau penetrasi pasar internasional. Kita hanya sibuk melayani pembeli lokal, padahal kekuatan merek global dibangun dengan menaklukkan pasar negara lain. Kita terlalu fokus di sumur kita sendiri.
Membawa Semangat Perubahan yang Ditunggu-tunggu
Puas sudah flashback dan terapi kejujuran yang menyakitkan tadi, sekarang saatnya bangun!
Kita enggak bisa terus-terusan jadi bangsa yang hanya bisa mengeluh sambil scroll keranjang belanja. Kita ini punya DNA pedagang yang kuat, punya sejarah fashion yang kaya, dan yang utama: punya ide orisinal yang jauh lebih keren daripada sekadar copy-paste tren dari platform luar.
Memang, mengubah regulasi impor itu tugas pemerintah, tapi membangun kesadaran kolektif itu adalah tugas kita semua. Para desainer, konveksi, pedagang, hingga kita sebagai konsumen, harus bersatu dalam gerakan “Sadari, Ciptakan, dan Hargai!”
Jangan lagi bertindak sebagai konsumen pasif yang hanya mencari harga termurah. Mulailah mencari tahu, siapa di balik merek lokal yang kamu beli, bagaimana kualitasnya, dan apa nilai lebih yang mereka tawarkan.
Ini bukan cuma soal membeli, tapi soal investasi pada masa depan industri kita. Ketika kamu memilih produk lokal, kamu bukan hanya mendapatkan sehelai baju, tapi kamu menjaga roda ekonomi UMKM tetap berputar, kamu mendukung lapangan kerja tetangga-tetangga kamu, dan kamu mempertahankan identitas modest fashion Indonesia yang unik.
Indonesia itu bukan cuma target pasar bagi negara manapun.
Kita adalah kekuatan pasar itu sendiri.
Kita punya potensi untuk mendikte tren busana muslim dunia. Tapi syaratnya, kita harus kompak. Produsen harus stop manja dan mulai berinovasi; berani investasi di technology, data, dan speed. Konsumen harus stop bodoh tergiur harga murah yang mengorbankan industri sendiri. Semangat kebangkitan itu harus dimulai dari lemari pakaian kamu!
Jadi,
Busana Muslim Dibutuhkan Namun Selalu Dicuekin
Busana muslim Indonesia itu bukan cuma soal baju penutup aurat, tapi identitas, budaya, dan potensi ekonomi yang sangat besar. Sayangnya, kita terlalu cuek membiarkan potensi emas ini dikuasai orang lain.
Kita sibuk dengan gimmick politik dan drama media sosial, sementara di sektor riil, industri kita sedang tercekik perlahan. Sudah saatnya kita stop berpikir pendek dan mulai menyadari bahwa kedaulatan negara itu juga diukur dari kedaulatan ekonominya, termasuk kedaulatan atas fashion kita sendiri.
Bangkitnya industri lokal ini bukan tugas satu dua orang, melainkan gerakan masif dari Sabang sampai Merauke. Mulai dari inovasi desain yang out of the box, efisiensi produksi yang canggih, hingga dukungan konsumen yang militan. Jangan sampai label “Made in Indonesia” di busana muslim kita hanya tersisa sebagai artefak sejarah di museum.
Jadi, jika ada tetangga yang bilang, “Kenapa sih Busana Muslim Indonesia dikuasai Cina?”, jawab saja dengan santai: “Ya karena kita sendiri yang kasih kuncinya. Padahal, pintu surga modest fashion itu ada di Indonesia, tapi kita malah sibuk jadi tukang parkir.”
Yuk, berani ber-otak!
Dari: Loli Gemoy (Si paling Cantik Sedunia) 😁
Salam Dyarinotescom.


