Kesabaran, Bersama & Tanggung Jawab: Perjalanan Spiritual Umroh Bersama Ventour 693

You are currently viewing Kesabaran, Bersama & Tanggung Jawab: Perjalanan Spiritual Umroh Bersama Ventour 693

Akhirnya tiba juga hari yang dinanti-nanti. Sebuah rencana baik yang terwujud. Rencana suci kami untuk berangkat umroh. Semua persiapan telah dilakukan, dari mengurus paspor, memuat semua perlengkapan, hingga perkuat hafalan, disamping melatih fisik dan mental. Semua menjadi bekal. Btw, kami berangkat umroh bersama Ventour Travel kloter 693 selama sembilan hari, sebuah perjalanan yang dimulai sejak 27 Agustus hingga 4 September 2025.

Perjalanan Spiritual Umroh Bersama Ventour 693.

Perjalanan ini bukan hanya sekadar wisata religi, melainkan sebuah panggilan suci, sebuah undangan dari Sang Maha Kuasa.

Kami berkumpul di Bandara Soekarno-Hatta dengan semangat yang meluap, siap mengukir kenangan spiritual. Harapan dan doa-doa telah kami kumpulkan, berharap dapat menunaikan ibadah dengan lancar dan mabrur. Setiap langkah yang kami ambil terasa penuh makna, sebuah awal dari babak baru dalam perjalanan rohani kami.

 

Tak Seperti yang Dibayangkan

Penerbangan kami tidak langsung menuju Jeddah. Kami transit terlebih dulu di Oman, tepatnya di Bandara Internasional Muscat, sebelum melanjutkan perjalanan ke Jeddah. Total waktu yang kami habiskan di udara kurang lebih sembilan jam. Sebuah perjalanan yang cukup panjang, namun setiap detiknya kami lewati dengan penuh kekhusyukan, tak lupa menguatkan niat bahwa kami akan segera menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Di atas pesawat menuju Jedah, kami langsung menuju miqat, yaitu batas awal dimulainya ibadah haji atau umrah. Ini adalah titik di mana kami tidak boleh melewatinya tanpa niat ihram. Tentu saja kami telah mengenakan pakaian ihram, sebuah pakaian sederhana yang mengajarkan kita tentang kesetaraan di mata Allah.

 

Semua perbedaan status sosial dan harta benda seolah sirna. Yang tersisa hanyalah niat murni untuk beribadah.

Saat mengenakan ihram dan melafazkan niat, hati kami bergetar. Sebuah perasaan haru dan takjub menyelimuti. Pakaian yang tak berjahit ini menjadi simbol kesiapan kami untuk menanggalkan segala urusan duniawi dan fokus sepenuhnya pada Sang Pencipta. Dengan niat yang teguh, kami siap memasuki babak baru dari perjalanan suci ini.

Perasaan itu semakin kuat ketika kami melanjutkan perjalanan menuju Mekkah. Setiap kilometer yang kami tempuh terasa seperti mendekat kepada-Nya. Bayangan Ka’bah sudah mulai terasa begitu nyata di kepala, seolah memanggil kami untuk segera menunaikan janji.

Kami sadar, ini adalah momentum yang tidak akan kami lupakan seumur hidup.

 

 

Kesabaran, Bersama, dan Tanggung Jawab

Setibanya di Jeddah, kami segera menuju Mekkah dan langsung check-in di hotel. Kami sangat bersyukur karena hotel yang kami tempati lokasinya sangat strategis, hanya butuh waktu kurang dari lima menit dari Masjidil Haram.

Keren gak tuh 😁…

Setelah beristirahat sejenak plus sarapan, kami segera bersiap untuk melaksanakan ibadah umroh pertama. Langkah kaki kami terasa ringan, seolah tak sabar ingin menyentuh tanah suci itu.

Sesampainya di Masjidil Haram, kami memulai thawaf sebanyak tujuh kali. Pada putaran pertama, kedua, dan ketiga, semua berjalan lancar dan kami masih berada dalam rombongan. Namun, di putaran berikutnya, entah bagaimana, saya sendiri terpisah. 😧

 

Hanya Bisa Pasrah

Keramaian jamaah yang begitu padat membuat saya harus berjalan sendiri, berputar dan terus berputar. Hanya bisa terus melangkah, pasrah dengan melafalkan tasbih, tahmid, dan tahlil, memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT.

Di tengah kebingungan itu, terkejut sekaligus senag karena bertemu dengan seorang jamaah yang membawa anaknya yang masih kecil, mungkin berumur lima atau enam tahun. Dari ID card dan atribut yang ia kenakan, saya tahu kalau ia dari kloter yang sama dengan kami.

Senasib, mereka berdua juga terpisah dari rombongan.

Kami pun memutuskan untuk melanjutkan thawaf bersama, saling menguatkan dengan penuh kesabaran dan ketakwaan. Alhamdulillah, tidak lama kemudian, kami berjumpa dengan leader rombongan kami, “Bang Joe”, yang sedang bersama rombongan lain dan mutawif kami, Ustaz Fadil, sedang memimpin doa.

Setelah thawaf, kami melanjutkan rukun umroh berikutnya, yaitu sa’i, tahallul, dan menjaga tertib (melakukan semua rukun secara berurutan).

Meskipun terpisah di tengah jalan, pelajaran yang kami dapatkan sangat berharga. Kami menyadari bahwa setiap kesulitan yang kami alami adalah cara Allah menguji kesabaran dan ketekunan kami. Semakin kuat cobaan, semakin besar pula pahala yang akan diberikan.

Setelah menuntaskan ibadah umroh pertama, kami kembali ke hotel dengan perasaan lega dan penuh haru. Pengalaman thawaf tadi mengajarkan kami betapa pentingnya kebersamaan dan saling menjaga di tengah jutaan jamaah lainnya. Perasaan itulah yang menjadi fondasi bagi kami untuk menjalani sisa perjalanan umroh dengan penuh tanggung jawab.

Karena, Ini…

 

Semua Tentang Cobaan

Sesampainya di kamar hotel, kami segera berbenah dan beristirahat. Sekedar info, kami tidak satu kamar dengan pasangan.

Pembagian kamar adalah empat orang per kamar, jadi kami ditempatkan bersama dengan tiga orang jamaah laki-laki lainnya, termasuk “Bapaknya Paris” suami dari teman istri, dan dua (2) orang bapak-bapak yang sudah berusia di atas 50 tahun. Bisa dibilang, di kamar kami berkumpul dua pria dewasa dan dua pria sepuh.

Semua saling berkenalan,

Dan memutuskan untuk makan bersama di pantry hotel, menu: “Gulai tunjang Onta😀 ini bro”.

Ada satu momen yang membuat kami belajar. Ketika kedua bapak paruh baya tadi memutuskan untuk turun belakangan tanpa didampingi. Alhasil: mereka tersesat. “Bingung! dimana, kemana, dan bagaimana?” tidaklah memiliki ponsel, penguasaan bahasa lokal yang minim, dan belum terlalu familiar dengan lingkungan hotel.

Tapi…

Alhamdulillah, berkat pertolongan jamaah dari kloter lain, mereka berhasil diantar kembali ke kamar. Kejadian ini membuat kami merasa cukup bersalah, dengan membiarkan kedua bapak tersebut berjalan sendiri tanpa pengetahuan yang cukup. Sejak saat itu, kami memutuskan untuk selalu bersama dalam setiap perjalanan selama umroh.

Dari sanalah persahabatan kami terbentuk, sebuah ikatan yang kami sebut dengan panggilan gaul “2 bestie”. Kebersamaan ini menjadi komitmen kami untuk saling menjaga satu sama lain, seperti sahabat sejati.

 

 

Semua Tentang Berserah Diri

Umroh ini pengalaman pertama bagi kami.

Semua yang terjadi tidak seperti yang kami bayangkan. Panas yang menyengat, keramaian yang luar biasa, ditambah lagi adanya renovasi masjid yang sedang berlangsung. Di tengah semua itu, yaa Allah, betis kaki ini terasa nyeri dan sakit sekali. Hampir jarang sekali kami berjalan kaki sejauh ini, tetapi di sini kami tak punya pilihan lain selain terus melangkah.

Terus berjalan.

Hidup yaa sama seperti perjalanan umroh, penuh dengan nilai dan ibadah. Dan itu harus kami jalankan, harus terus bergerak, berjalan, dan melangkah.

Selama umroh ini, kami tidak menyia-nyiakan waktu sedikit pun. Setiap ada waktu luang, entah itu setelah umroh pertama, umroh badal, atau umroh terakhir, kami selalu menghabiskannya di Masjidil Haram.

PoV-nya: Kami tidak ingin kehilangan setiap detik yang berharga.

Tentu saja, kami berempat selalu bersama, tidak saling meninggalkan. Mungkin ini adalah salah satu cobaan yang Allah berikan kepada kami: sebuah tanggung jawab moral untuk saling menjaga. Hal ini juga yang membuat kami terkejut tentang Tanah Haram.

 

Apa yang diucapkan, akan terjadi.

Ini bukan mitos. Kami mengalaminya sendiri.

Misal, saat kita berucap, “Enak, ya, kalau bisa salat langsung di belakang imam.” Wallahi, itu benar-benar terjadi. Momen itu terjadi di Masjid Nabawi, Madinah. Saat hendak ziarah ke makam Rasulullah, kala itu bertepatan dengan datangnya waktu shalat di Raudah, kami bisa berada di posisi yang sangat dekat dengan imam.

Kejadian ini terjadi dua kali dalam satu hari, saat shalat Ashar dan Maghrib. Entah keberuntungan macam apa yang Allah SWT berikan sehingga kami bisa berziarah ke makam Rasulullah dan shalat di posisi terdepan.

Dan,

Masih banyak lagi pengalaman menakjubkan yang kami alami selama perjalanan umroh ini. Dari keajaiban menemukan posisi shalat yang strategis, hingga bertemu dengan banyak orang baik yang membantu kami. Semua itu menguatkan keyakinan kami bahwa ketika kita berniat baik dan berserah diri sepenuhnya, Allah SWT akan mempermudah segala urusan.

 

 

Semua Tentang Perjalanan Spiritual

Perjalanan umroh ini bukan sekadar liburan, melainkan sebuah transformasi spiritual.

Ada tiga pelajaran penting yang kami bawa pulang: kesabaran, kebersamaan, dan tanggung jawab. Kesabaran mengajarkan kami untuk ikhlas menerima segala ujian dan tantangan. Kebersamaan mengajarkan kami bahwa kita tidak pernah sendirian dalam menghadapi kesulitan, dan tanggung jawab mengajarkan kami untuk saling menjaga dan peduli. Semua ini adalah bekal berharga yang kami bawa pulang, sebuah bekal untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Ibadah umroh sejatinya adalah cerminan dari kehidupan.

Seperti thawaf yang tak ada habisnya, hidup ini pun penuh dengan perputaran. Kita harus terus bergerak, mencari ridho-Nya, dan berserah diri. Segala cobaan yang datang adalah cara-Nya untuk menguatkan iman dan menjadikannya lebih matang.

 

Ketahuilah:

Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka akan diuji. Maka, jadikanlah setiap ujian sebagai ladang pahala, setiap kesulitan sebagai kesempatan untuk tumbuh, dan setiap kebersamaan sebagai berkah yang tak terhingga.

Semoga perjalanan spiritual ini menjadi starting point bagi kita untuk menjadi hamba yang lebih taat dan ikhlas. Atas perjalanan spiritual umroh kali ini, penulis secara pribadi ucapkan terimakasih kepada ‘Ventour Travel’ terkhusus kloter 693.

Siapa kita?

Ventour – Terpercaya, Terbukti, Recommended, Allahu Akbar (الله أكبر).

 

Salam Dyarinotescom.

 

This Post Has 4 Comments

  1. Indri

    Yg sdh dipanggil dan bertekad memenuhi panggilan itu tahu betapa magisnya tanah haram dan betapa “bukan siapa-siapalah” kita ini.
    Semoga Allah perkenankan jadi tamu di rumah-Nya lagi, rindu merasakan kedekatan dan kenikmatan ibadah di sana. Aamiin 🤲

  2. Ridwan

    Saya Bapaknya Faris, tandem bang Deedy dan sahabat bestie tentunya.
    Umroh perjalanan spiritual yang menyenangkan, memasrahkan segala sesuatu kepada sang Khaliq Allah jalla jallu.
    Semoga kita bisa kembali ke Tanah Suci, sangat menyentuh hati.

    1. Dyarinotes

      Aaamin semoga kita bisa kembali ke tanah suci bersama keluarga

Leave a Reply