Pagi ini langganan tukang sayur lewat dengan bunyi motor Harley-Davidson kw-nya yang khas, dan seperti biasa belanja dong. Tapi kok tiba-tiba kepikiran ya, dari mana sayur-sayuran ini berasal? Apakah kangkung ini tumbuh di kebun belakang kampung sebelah, atau malah sudah menempuh perjalanan jauh sampai menginap berhari-hari di gudang besar sebelum sampai ke tangan kita? – Selamat, kamu menemukan ‘The 100-Mile Life’.
Musik!
Lucu juga kalau dipikir-pikir, kita sering lebih hafal merk HP 10 dollar buatan luar negeri daripada tahu siapa petani yang menanam cabai yang kita makan setiap hari. Sebenarnya, hidup kita sekarang ini agak aneh-aneh gimana gituh.
Merasa hebat bisa makan buah yang didatangkan jauh-jauh dari negara tetangga, seolah-olah dunia ini cuma satu supermarket raksasa yang tidak pernah tutup. Padahal, di balik kemudahan itu, ada rantai pengiriman yang panjangnya minta ampun.
Jadi terbiasa ingin segalanya ada sekarang juga, sampai lupa kalau sebenarnya tanah di sekitar kita punya banyak harta karun yang selama ini kita abaikan karena mata kita terlalu silau melihat hal-hal yang berbau “impor”.
Bicara Singkat Tentang: The 100-Mile Life
Pernah dengar tidak soal konsep The 100-Mile Life?
Sederhananya begini: ini adalah semacam tantangan buat kita untuk cuma mengonsumsi atau memakai barang yang dibuat dalam radius maksimal 160 kilometer dari rumah.
Jadi, kalau kamu tinggal di Jakarta, kopi yang kamu minum atau nasi yang kamu makan idealnya berasal dari daerah yang tidak lebih jauh dari daerah Jawa Barat atau Banten. Kita diajak untuk jadi “detektif” kecil-kecilan buat mencari tahu asal-usul setiap benda yang masuk ke rumah.
Hal ini sebenarnya bukan mau mengajak kita jadi orang primitif atau anti-teknologi.
Tujuannya adalah supaya kita tidak terlalu bergantung pada sistem distribusi dunia yang semakin ribet dan tidak masuk akal. Dengan membatasi radius belanja kita, kita dipaksa untuk kembali mengenali musim. Kalau memang lagi tidak musim buah mangga di daerahmu, ya jangan maksa beli mangga yang dikirim pakai pesawat dari luar negeri.
Kedengarannya memang repot, tapi sebenarnya ini seru banget buat dicoba.
Nah, di balik aturan radius 160 kilometer ini, ada petualangan baru yang jarang orang lirik. Kita jadi punya alasan buat jalan-jalan ke pasar tradisional, mengobrol dengan pedagang lokal, sampai mencari tahu keberadaan UMKM di sekitar tempat tinggal.
Ini adalah cara kita untuk “pulang” dan mengenal lingkungan sendiri. Pelan-pelan, perjalanan ini bakal membuka mata kita bahwa dunia yang selama ini kita anggap keren karena serba global, ternyata punya sisi lain yang tidak seindah iklan-iklan di media sosial.
Dunia Tidak Seterang Itu
Kadang kita lupa kalau dunia tidak seterang itu. Ada harga mahal yang harus dibayar alam setiap kali kita beli barang yang dikirim dari jauh.
Bayangkan berapa banyak bahan bakar yang habis terbakar hanya untuk mengantar satu dus apel dari Amerika ke meja makan kita. Jejak karbonnya benar-benar gila! Kita mungkin merasa senang karena bisa makan apa saja, tapi bumi sebenarnya makin sesak karena polusi dari kendaraan logistik yang mondar-mandir demi menuruti keinginan kita yang serba instan.
Selain soal lingkungan, ada sisi “gelap” lain yang sering tidak kita tahu.
Sistem perdagangan yang terlalu besar seringkali menutupi “cerita” di baliknya. Bisa jadi, barang murah yang kita beli itu diproduksi dengan cara mengeksploitasi pekerja di tempat lain yang upahnya sangat tidak layak. Atau, sesuatu yang jika kamu ketahui, selesai sudah tuuh selera makan.
Belum lagi soal identitas lokal yang pelan-pelan hilang.
Kita jadi lebih suka barang pabrikan yang bentuknya sama semua di seluruh dunia, daripada barang buatan perajin tetangga sendiri yang punya cerita dan karakter unik. Kalau kita terus-terusan tidak peduli dari mana barang kita berasal, kita lama-lama jadi manusia yang “asing” di rumah sendiri.
Kita tidak punya ikatan emosional lagi dengan apa yang kita makan dan gunakan. Kita jadi gampang panik kalau harga barang dunia naik, padahal mungkin di sekitar kita ada alternatif yang lebih sehat dan terjangkau.
Makanya, melirik ke tetangga sekitar bukan cuma soal gaya-gayaan, tapi soal cara kita supaya lebih mandiri dan tidak gampang “disetir” oleh keadaan global yang makin tidak menentu.
Tips Bagaimana Memulai: Banyak Orang Tidak Tahu Lho!
Sebelum memulai, tenang saja, kamu tidak perlu berubah jadi orang yang anti-belanja di mal dalam semalam. Tak perlu terlihat pelit atau kampungan. Ini soal niat dan sedikit usaha untuk lebih peduli saja. Banyak orang tidak tahu kalau langkah kecil di sekitar rumah bisa bikin hidup lebih tenang dan cash flow lebih aman.
Untuk kamu kami berikan gratis, beberapa tips yang bisa kamu coba:
1. Sapa Si Akang atau Si Ibu Pasar
Mulai rajin ke pasar tradisional atau tanya ke tukang sayur yang lewat. Jangan cuma tanya harga, tapi tanya juga, “Ini bayamnya dari daerah mana, Bu?” atau “Berasnya dari gilingan mana, Kang?”. Ini namanya Kepoin Asal-usul.
Dengan tahu asal barangnya, kita jadi lebih menghargai apa yang kita makan. Plus, uang yang kita belanjakan langsung masuk ke kantong orang-orang di sekitar kita, bukan ke perusahaan besar yang bosnya saja kita tidak tahu siapa.
2. Jadi Pemuja Buah Lokal
Berhenti merasa keren kalau makan buah dari luar negeri yang kulitnya kinclong karena dilapisi lilin supaya awet di kapal. Mulai sekarang, yuk jadi Lokal Pride dengan beli buah musiman yang ada di pasar.
Buah lokal itu jauh lebih segar karena dipetik saat sudah matang, bukan matang karena “dipaksa” di perjalanan. Rasanya mungkin tidak selalu mulus, tapi nutrisinya jauh lebih “nendang” buat tubuh kita.
3. Cek Label “Bikinnya di Mana?”
Jadikan kebiasaan mengecek tulisan Made In di setiap kemasan. Kalau kamu punya dua pilihan barang yang kualitasnya mirip, pilih yang lokasinya paling dekat dari kota kamu. Ini tips Anti-Jauh-Jauh Club.
Banyak orang kaget pas tahu ternyata sabun atau camilan enak itu diproduksi di kecamatan sebelah. Menemukan produk bagus di dekat rumah itu rasanya seperti menemukan harta karun yang selama ini tersembunyi.
4. Makan Sesuai Kalender Alam
Belajarlah untuk tidak memaksakan makan sesuatu yang memang lagi tidak musim. Kalau lagi bukan musim durian, jangan cari durian kalengan atau frozen. Nikmati saja apa yang lagi banyak tersedia di pasar saat itu.
Ini namanya Diet Anti-FOMO. Hidup mengikuti musim bikin kita jadi punya sesuatu yang dinanti-nanti. Ada rasa syukur yang beda pas akhirnya musim buah favorit kita datang lagi setelah sekian lama menunggu.
5. Bikin Kebun “Radius Nol”
Manfaatkan lahan kecil, atau pakai pot-pot bekas kalau tinggal di kos-kosan, buat menanam bumbu dapur sendiri seperti cabai, tomat, atau seledri. Ini level paling dewa dari 100 mil, yaitu radius 0 mil!
Ada rasa bangga yang tidak bisa dibeli pas kamu butuh cabai buat masak mie instan, tinggal petik di depan pintu. Selain hemat, ini cara paling asyik buat paham betapa berharganya sebuah tanaman yang tumbuh dari keringat sendiri.
Benar-Benar Menemukan Rumah
Menelusuri jejak The 100-Mile Life pada akhirnya bukan cuma soal menghitung jarak 160 kilometer pakai penggaris.
Ini adalah cara kita buat kembali membumi dan sadar kalau setiap pilihan kita itu ada dampaknya. Pas kita mulai fokus sama apa yang ada di dekat kita, anehnya, hidup malah terasa lebih tenang. Kita tidak lagi pusing dikejar-kejar tren yang ada di ujung dunia, karena ternyata kebahagiaan itu jaraknya dekat sekali.
Kita tidak perlu punya segalanya dari seluruh dunia buat merasa cukup.
Mengenali dan mendukung apa yang ada di sekeliling kita itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hidup “lebih berguna.” Mulai langkah kecil buat kembali ke pasar, kembali mencintai produk lokal, dan benar-benar menemukan rasa “rumah” di setiap barang yang kita pakai.
Notes-nya: Kebahagiaan bukan tentang seberapa jauh kamu melangkah untuk menemukannya, tapi seberapa dalam kamu mampu mencintai apa yang sudah ada di sekelilingmu.
Salam Dyarinotescom.

