Purbaya: “Jangan Omong Aja”. Fenomena ‘Juara Komen’ Warga 62

  • Post author:
  • Post category:Lifestyle
  • Post last modified:October 6, 2025
  • Reading time:7 mins read
You are currently viewing Purbaya: “Jangan Omong Aja”. Fenomena ‘Juara Komen’ Warga 62

Dengan seksama menertawakan diri sendiri 😂. Lah kok? Gila lue yaa? Pernah dengar istilah “Bacot Lebih Gede dari Otot”? Atau mungkin yang lebih kekinian: “Aksi Nol, Komen Juara Dunia”? Nah, itulah ringkasan sempurna dari kelakuan kita, warga negara plus enam dua (+62) yang budiman. Dengan kenyataan pahit tentang satu fenomena ‘Juara Komen’.

Coba jujur, seberapa sering kamu melayangkan kritik tajam di kolom komentar, tapi untuk sekadar buang sampah di tempatnya saja, rasanya butuh effort sebesar bumi bergetar? “Nunggu gempa dulu, baru tobat” Kita ini, lho, juara banget dalam urusan kritik, analisa, dan ‘ngasih solusi’ di dunia maya. Semua hal, dari kebijakan negara sampai cara tetangga jemur baju, pasti ada komentarnya.

Lucunya, kepiawaian lisan kita ini sering berbanding terbalik dengan hasil di lapangan.

Kita mengeluhkan macet, tapi malah nongkrong di bahu jalan. Kita teriak soal kebersihan, tapi buang bungkus permen dari jendela mobil. Ini bukan rahasia lagi, tapi sebuah komedi situasi yang kita lakoni setiap hari.

Itulah kenapa pernyataan seorang Menkeu Purbaya (baca disini) soal kebijakan cukai rokok, misalnya, terasa “kena banget” di ulu hati: Di hujani kritik tajam, sementara Ia sendiri memikirkan nasib ribuan buruh yang berpotensi PHK karena minimnya lapangan kerja baru.

Singkatnya, mereka yang diomongin mikir kerjaan, kita yang ngomongin cuma mikir komen.

‘Juara Komen’

 

Potret Kebiasaan Keyboard Warrior ‘Juara Komen’ Ala Konoha

Fenomena Omong Doang atau “Juara Komen’ ini bukanlah penyakit flu biasa. Ini sudah jadi budaya laten.

Kita sering menyebut diri kita ala Konoha dan boleh jadi sebuah analogi yang keren. Tapi sayangnya, kita lebih sering menunjukkan sifat karakter Sakura ketimbang Naruto (maaf, fan base Sakura!). Kuat di mulut, lemah di tindakan. Coba kita bedah satu contoh nyata yang sering kita alami:

Isu Udara Bersih dan Lingkungan, misalnya.

Kita semua pasti geram saat indeks polusi Jakarta memuncak. Kritik berdatangan, menuding pabrik, menuntut pemerintah, dan menyalahkan pengendara kendaraan bermotor. Hastag dan thread bermunculan bak jamur di musim hujan. Luar biasa! Tapi begitu handphone ditaruh, coba kita lihat kebiasaan diri sendiri.

Apakah kita sudah memilah sampah? Apakah kita sudah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi? Atau jangan-jangan, tumpukan sampah di lingkungan kita adalah “sumbangan konkret” yang kita berikan untuk polusi udara yang kita keluhkan?

Inilah yang disebut Hipokrisi Publik. Kita ingin hasil maksimal tanpa adanya partisipasi minimal dari diri sendiri. Kritisisme yang seharusnya menjadi pemicu aksi, malah hanya berakhir sebagai katarsis verbal di media sosial. Malu, nggak sih?

Kritik ala warga +62 seringkali miskin solusi, kaya emosi.

Kebanyakan hanya berhenti di tahap “menyalahkan”, mencari kambing hitam, dan mengharapkan orang lain yang menyelesaikan masalah. Bazer-Bazer Taik! Kebiasaan ini adalah gerbang utama menuju kegagalan solusi konkret yang akan kita bahas di bagian selanjutnya.

Nah Ini dia:

 

7 Poin Bagaimana Opini Publik (Juara Komen) Gagal Menjadi Solusi Konkret

Ironis memang. Di era digital ini, kita punya kekuatan opini yang dahsyat, mampu menjatuhkan entitas bisnis atau mengubah kebijakan dalam semalam. Namun, kebanyakan energi tersebut terbuang sia-sia karena tidak berhasil dikonversi menjadi tindakan nyata. Mengapa?

Nah berikut ini akan menjelaskannya secara kocak tapi menusuk.

Bayangkan opini publik kita seperti Power Ranger yang berubah di depan monster. Keren, megah, sound effect memukau! Tapi begitu monster sudah di depan mata, mereka malah sibuk ribut memilih warna kostum atau berdebat siapa yang harus jadi leader. Akhirnya? Monster kabur, dan mereka cuma bisa foto selfie dengan pose heroik sambil menyalahkan pemerintah karena tidak menyediakan monster yang lebih sabar menunggu.

Itulah kita.

Kita terlalu sering terjebak dalam ‘Analisis Paralisis’, di mana kita menghabiskan 99% waktu untuk overthinking, dan 1% sisanya untuk tidur. Setiap solusi yang diajukan selalu punya seribu kritikus baru. Hasilnya, tidak ada yang bergerak maju.

Inilah mengapa opini kita kerap gagal total di lapangan. Sebut saja:

 

1. The ‘Gak Sekalian Aja’ Syndrome

Ini adalah kebiasaan mengkritik tanpa batas. Misalnya, ada program sosial membersihkan kali, kita pasti komen: “Nanggung amat sih, kenapa nggak sekalian aja bersihin seluruh kali di Indonesia? Minimal di Asia Tenggara lah!” Program yang tadinya baik malah jadi terlihat cupu. Fokus hilang, dan semangat inisiator pun drop.

 

2. Dopamin Instan dari Komen

Kita mendapatkan reward berupa kepuasan sesaat (dopamin) saat melayangkan kritik pedas dan mendapat like atau retweet. Sensasi ‘sudah berbuat’ ini membuat kita merasa telah berkontribusi, padahal kontribusi nyata = nol. Inilah candu yang membuat kita malas pindah dari kursi.

 

3. The ‘Gak Mau Capek’ Mindset

Semua orang ingin hasil cepat dan instan tanpa keringat. Ingin kota bebas banjir, tapi kita mager ikut gotong royong. Mau-nya pemerintah transparan, tapi kita malas membaca laporannya. Kita maunya solusi delivery, bukan solusi self-service.

 

4. Teori Lebih Indah dari Praktek

Dalam kepala kita, semua solusi itu sempurna. Tapi saat dihadapkan pada realita pahit (uang terbatas, birokrasi, atau cuaca), teori kita ambyar. Opini publik sering terlalu idealis dan tidak membumi karena tidak mempertimbangkan variabel teknis di lapangan.

 

5. Virus ‘Gengsi Dong’ Bertindak Kecil

Kita gengsi jika harus memulai dari hal kecil. membersihkan lingkungan sendiri terasa tidak heroik. Kita hanya mau bergabung jika itu adalah gerakan masif yang masuk berita. Tindakan personal yang berdampak besar justru kita abaikan karena minim exposure.

 

6. ‘Lupa Diri’ Setelah Trending

Sebuah isu bisa viral dalam sehari, menjadi trending topic selama seminggu, lalu hilang begitu saja. Opini publik kita memiliki daya ingat yang sangat pendek. Setelah hype mereda, masalah yang sama akan terulang, dan kita kembali sibuk mengkritik.

 

7. Kompetisi ‘Si Paling Benar’

Saat berdiskusi, fokus kita seringkali bukan pada mencari solusi terbaik, melainkan pada memenangkan argumen. Semua ingin jadi ‘Si Paling Benar’. Alhasil, energi terbuang untuk saling serang, bukan untuk merumuskan langkah maju bersama.

 

Stop Jadi Netizen Nyinyir: Mengubah Narasi dari Kritik Menjadi Kontribusi

Inilah bagian yang paling penting.

Kami bukan lah kacungnya Purbaya, tapi Purbaya benar, kita harus berhati-hati dalam beropini, terutama jika kritikan kita bisa berdampak langsung pada nasib orang banyak. Meminta Menkeu untuk menaikkan cukai rokok tanpa memikirkan dampaknya pada buruh padat karya, di tengah minimnya lapangan kerja baru, adalah contoh nyata kritik tanpa empati dan tanpa data yang memadai.

Opini publik itu senjata karat bermata dua. Di satu sisi bisa mendorong perubahan positif, tapi di sisi lain bisa menjadi bom waktu sosial jika didasari oleh sentimen semata. Kritik memang perlu, tapi harus proporsional dan didampingi dengan kontribusi nyata atau setidaknya solusi yang realistis.

 

Jika kita cuma bisa menunjuk dan menyalahkan, kita tidak lebih baik dari mereka yang kita kritisi.

Kita harus mengakui, secara jujur, bahwa kita memang masih minim inovasi, cenderung pemalas, dan punya kadar gengsi yang tinggi. Kebiasaan membuang sampah sembarangan (yang berujung pada bencana lingkungan) adalah bukti nyata kemalasan kita.

Mengkritik kebersihan udara, sementara kita sendiri tidak mau naik transportasi umum karena gengsi, menunjukkan bahwa standar kita pada orang lain selalu lebih tinggi daripada standar kita pada diri sendiri.

Maka, sudah saatnya kita mengubah narasi.

Mulai sekarang, setiap kali kamu ingin mengetik kritik, coba jeda sejenak dan tanya diri sendiri: “Apa kontribusi kecil yang sudah aku lakukan hari ini untuk menyelesaikan masalah ini?” Daripada menunggu pemerintah membersihkan sampah di kali, bagaimana kalau kita mulai dengan membersihkan sampah di meja kerja kita sendiri?

Semangat Purbaya sejatinya mengajarkan kita: Berpikir hati-hati, bertindak bijaksana.

Kritiklah dengan data, dengan empati, dan yang terpenting, dengan kesediaan untuk ikut ambil bagian dalam solusinya. Hanya dengan begitu, energi verbal kita bisa menjadi energi positif yang membangun.

 

Menerapkan Semangat Dengan Langkah Kecil Menuju Perubahan Nyata

Artikel ini bukan ditujukan untuk mematikan semangat kritik kita.

Justru sebaliknya.

Kita harus menjadi kritikus yang cerdas dan bertanggung jawab. Semangat “Jangan Omong Aja” adalah sebuah tamparan lembut bagi kita semua agar turun dari kursi empuk kritikus dan mulai nyemplung ke lapangan.

Perubahan besar selalu dimulai dari tindakan kecil yang konsisten. Jangan mengharapkan lingkunganmu bersih jika kamu sendiri masih sering buang sampah sembarangan. Jangan mengeluhkan kinerja pejabat jika kamu masih sering melanggar peraturan lalu lintas. Inilah waktunya kita berhenti menjadi penonton yang cerewet dan mulai menjadi pemain yang berkeringat.

Sebagai penutup, ingatlah selalu: “Tangan yang memberi lebih mulia daripada tangan yang menunjuk.” Mari kita sudahi drama Tong kosong Omong Doang ini, dan mulai hari ini, kita buktikan bahwa warga +62 bukan hanya jago ngomong, tapi juga jago kerja nyata.

PoV-nya: Bukan kritik yang membuat perubahan, tapi langkah kecil yang dilakukan berulang-ulang. #ItuSaja.

 

Salam Dyarinotescom.

 

Leave a Reply