Skena: Sebuah Komunitas, Sebuah Ekspresi, dan Sebuah Identitas

Skena, lebih dari sekedar tren, tapi sebuah reformasi budaya. Modernisasi budaya lama ke budaya ekspresif. Bukan sekadar lifestyle yang datang dan cabut saja, melainkan sebuah gerakan habit yang menyatukan. Melahirkan sebuah komunitas melalui minat, nilai, dan identitas. Terbukti benar bahwa Skena itu tak lain adalah bentuk dari komunitas, perwujudan ekspresi dan perwakilan identitas.

Skena di Indonesia sendiri kian ramai dan bertumbuh dalam beberapa dekade belakangan.

Tidak hanya terbatas pada sekedar satu aliran musik saja, tetapi juga merambah ke berbagai kolom-kolom bidang, seperti: lingkungan, hobi, dan seni, misalnya. Melahirkan kekuatan dan cara hidup “Yaa inilah kami komunitas pencinta alam” Menemukan tempat yang seharusnya kamu diperlakukan. “Kami dimengerti, kami diterima, kami dihargai” tanpa ada embel-embel malu iihh, segan dong, dan aku ragu.

 

Kami Namakan Itu Sebagai Komunitas

Oleh karena itu ramai di dalam skena melahirkan kekuatan baru. Disana banyak orang menemukan rasa belonging, terhubung dengan orang lain yang memiliki jiwa ingin tahu akan sesuatu, ingin berontak dari pemikiran kering, dan menumbuhkan semangat untuk mengekspresikan diri diluar batas akademisi.

Karena hubungan komunitas yang erat, persahabatan muncul untuk saling menguatkan. Di sini, hal-hal yang beda mereka rayakan, bukan dihakimi. Setiap orang mendapatkan kebebasan untuk mengekspresikan diri dengan cara yang kreatif dan inovatif, tanpa takut untuk dikucilkan. Menjadi wadah besar bagi mereka untuk menemukan jati diri dan membangun identitas yang unik, di luar batasan formalitas, norma, dan ekspektasi sosial.

 

 

Skena, Penyatuan Kekuatan Sebagai Bentuk Ekspresi

Apakah skena itu baik?

Ini tidak layak untuk didefinisikan sebagai baik atau buruk secara mutlak. Ini bagian dari ruang private untuk mengekspresikan diri secara bebas dan otentik. Akan sangat stres jika ketika seseorang anak motor berkumpul dengan para pelukis. “Muntah di tempat jadinya, Lol”.

Skena bisa menjadi alat bias untuk mendorong “perubahan sosial” dengan meningkatkan kesadaran tentang isu-isu penting, menantang status quo, serta mempromosikan toleransi dan pemahaman. Walau dalam beberapa kasus, skena dapat menjadi sumber konflik dan kekerasan, “tongkat pemukul kepentingan” terutama ketika ada perbedaan ideologi atau nilai yang kuat. Seperti: Pembubaran acara-acara yang di sinyalir merugikan “menuju kearah negatif” dan lain sebagainya.

 

Di Balik Identitas Komunitas

Skena membantu orang-orang di dalamnya membangun identitas mereka sendiri. “Tahukah kamu, saya ini dari komunitas blogger, misalnya”. Melalui interaksi dengan orang lain dalam skena, mereka sungguh dapat belajar tentang diri mereka sendiri, nilai-nilai sesuatu, dan apa yang ingin mereka perjuangkan.

Dan serunya lagi, “bukan kartu sembarang kartu identitas” di balik identitas satu komunitas, kita bisa menghasilkan uang, selisih, kerjaan, dan cuan. Ini barang bisa menjadi salah satu sarana promosi yang jitu, dan tolls marketing yang jelas.

Kita tahu bahwa pemain tunggal itu sangat melelahkan kawan. “Hanya bisa terduduk diam”. Kita belajar bahwa satu-satunya solusi kelelahan ini, bisa terobati dengan tukar menukar pikiran dan dukungan. Dan dukungan itu ada bersama komunitas.

 

Lebih dari Sekedar Label

Skena di dunia Barat memiliki akar sejarah dan budaya terus, lurus, dan kurus. Banyak skena yang muncul karena satu gerakan sosial dan budaya, seperti: punk rock, hippie, dan hip hop. Skena ini menantang norma sosial dan politik, dan menawarkan ruang gerak untuk setiap masing-masing manusia bisa mengekspresikan diri secara luas.

Bukan tentang musik, skena adalah tentang kepentingan, pergaulan, dan berkehidupan. Ini adalah tentang menemukan tempat yang cocok untuk kita. Tempat yang ingin kamu beri label apa itu terhadap dirimu. Tempat dimana kamu orang bisa menjadi diri sendiri, bebas dari pengaruh dan manipulasi.

Tapi sekarang…

 

Evolusi Skena Terjadi

Skena terus berkembang dan berubah seiring berputarnya jarum waktu. Ini bukan hanya tempat kumpul, berbagi, dan nongkrong bareng lagi. Skena baru bermunculan, skena lama memudar menuju bubar, dan skena yang ada beradaptasi dengan perubahan habit sosial dan modernisasi budaya.

Evolusi skena itu sejatinya mencerminkan dinamika masyarakat dan keinginan masing-masing otak untuk mengekspresikan diri dengan cara yang baru untuk lebih inovatif tanpa membuang-buang waktu untuk kegiatan yang percuma.

Dahulu mereka bergerak dari analog terskip menuju simbol-simbol digital. Teknologi telah memaksa mereka untuk bertransformasi. Misalnya, platform streaming musik seperti Spotify telah mengubah cara orang mendengarkan musik dan menemukan artis baru, tanpa harus tahu satu dengan yang lainnya.

Apa lagi jika melirik perkembangan media sosial. Media sosial menjadi alat yang ampuh bagi aktivis lingkungan untuk menyebarkan informasi, menggalang dukungan, dan memobilisasi aksi. Gerakan, seperti: #Greenpeace dan #350Action berhasil menggunakan media sosial untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong perubahan.

Beberapa perubahan bisa lebih sangar dan berdampak negatif, seperti: komersialisasi skena atau hilangnya nilai-nilai tradisi. Dahulu kala, fokus utama kami tak lebih sebatas ekspresi diri, tapi kini mau tidak mau kami di tuntut memenuhi kuota dan menargetkan keuntungan.

Saat ini kami membuka dan menyediakan pintu masuk bagi brand atau “planet asing” untuk memanipulasi orang-orang di balik komunitas kami. Yang dulunya kami ini boleh berpendapat, sekarang harus satu pendapat, tanpa boleh beda.

 

Dengan Satu Catatan

Masa depan skena memang penuh dengan kemungkinan dan perubahan bentuk. Munculnya teknologi dan kebutuhan serta tuntutan, menggiring skena untuk terus berkembang dan mengambil muka baru. Tampilan yang bermuka dua dengan memainkan peran di dalam masyarakat demi memasukkan niat-niat bias dari si tukang bayar.

Kami sendiri pun menyadari bahwa Skena ini sungguh fenomena yang kompleks dan multidimensi dari komunitas, ekspresi, dan identitas. Melahirkan relawan-relawan tangguh tanpa di bayar, bukan karena mereka tidak berharga, tetapi karena mereka itu sungguh tak ternilai di bandingkan dengan angka-angka.

Terima kasih kawan. Keberhasilanmu bukan hanya untuk mu, tapi teruntuk kita semua.

Salam Dyarinotescom.

Related Posts:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kumpulan artikel lifestyle yang dikemas menarik, dengan tips dan opini, serta didesain secara kekinian untuk pembaca setia.