Menu Tutup

Anak Besarku kini telah Dewasa.

Ini bukan artikel tentang Si Malin Kundang. Artikel ini menceritakan tentang perasaan orang tua, ketika anak yang ia didik dan lindungi kini tumbuh menjadi manusia dewasa. Pria tampan, wanita cantik. Penuh dengan gairah hidup. Anak besarku keluar rumah untuk menempuh hidup baru. Hidup dengan penuh tantangan. Penuh kemandirian. Tidak ada hal baik yang akan datang untuk mereka, jika tetap tinggal di bawah satu atap denganku (kata orang tua). Tidak peduli kesulitan apa yang menunggu mereka (anak besarku) di luar sana. Hanya doa yang kupanjatkan untukmu. Anak Besarku kini telah DewasaFor you, Parents beloved.

Tidak Ada Yang Memberitahu kepadaku, Akan perasaan ini

Anak ku sedang berkemas untuk mulai dengan pekerjaan yang baru. Sangat jauh. Jauh sekali. Menuju zona waktu yang berbeda. Dia mengikuti jejak sang kakak. Perasaan ini membuatku nyaris menjadi orang yang kosong.

“Aku bingung” kata orang tua. Harusnya diriku bersedih. Tetapi aku tidak bisa mengumpulkan kesedihan itu. Bahkan melihat dari balik bahu dan berbisik kepadanya pun, membuat kepalaku pusing. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku menyayanginya. Jangan lupa sholat yaa nak. Ingat Aqidah. Jangan lupa makan. Jika kamu tidak betah, pulanglah. Sering-sering telpon ibu dan ayahmu. #ItuSaja.

  Frugal Living, Do and Get Better with Less



Pasti kamu semua paham benar, orang tua mencintai anak, apa adanya. Walapun dengan panas seribu matahari. Tetapi, jika anak sudah mencapai usia dewasa, dimana mereka sudah mulai merokok, minum alkohol, pesan gojek, gofood, pakai kartu kredit, mereka benar-benar harus pergi. Aku tidak mengusir mereka. Aku tidak membenci mereka.

Mungkin ini Namanya Kemandirian

Aku (orang tua) sudah melakukan bagianku. Aku sudah mendidik, membesarkan, menimang dan menyekolahkan mereka untuk menjadi manusia utuh. Siapa sih yang tidak mau berdekatan dengan anak. Aku ingin mereka tumbuh menjadi seorang yang dewasa. Dan sepenuhnya bertanggung jawab dengan kehidupan mereka. Masa depan mereka.

Aku (orang tua) merasa yakin sekali bahwa, tidak ada kebaikan jika terlalu dekat dengan ku. Aku tidak perlu mendengar betapa sulitnya hidup mereka, dibandingkan dengan jamanku dulu. Tiap jaman ada keunikan tersendiri. Masalahnya sama, hanya variasi yang beda.



Mereka akan menempuh jalan yang lebih panjang. Atau mungkin lebih berkelok-kelok. Jalan yang bebeda untuk sampai ke tempat ku (orang tua) ketika seusia mereka. Generasi sekarang tidak harus terburu-buru untuk menikah setelah tamat kuliah.

  Transisi Kekecewaan, Insting dan Kegagalan Orang tua

Ketika aku melihat mata mereka berkaca-kaca, aku memberi tahu mereka (anak-anak ku) dengan penuh bangga. Aku menceritakan semua tentang rumah pertama yang aku beli ketika usiaku beranjak 30 tahun. Motor bututku yang kala itu sangat mewah di masanya. Berbunyi kencang. Dengan setelan ‘Celana Cutbray’ ala koboy Amerika.

Anak Besarku Mulai Tau

Sebagai orang tua, aku tidak ingin mereka memiliki gaya hidup sok kaya. Hidup aman dan nyaman. Sehingga membuat mereka lupa dan menjadi manja. Kenyamanan yang menghambat kemampuan bertahan hidup. Aku tidak ingin mereka memiliki pelajaran hidup yang minim. Kontribusi untuk tagihan listrik dan air tidaklah cukup. Mereka harus mendapatkan pelajaran hidup lebih banyak.


Aku merasa cukup khawatir, dengan kemampuan mereka dalam mengelola hidup. Mereka harus mulai berani berhutang. Sedikit kelaparan karena telat makan. Lembur dengan tugas yang menumpuk. Dicaci sama atasan. Putus cinta. Motor mogok. Jika perlu bertinju demi harga diri. Itu semua akan membuat mereka menjadi manusia yang kuat. Strong Humans…

Pentingnya Kemandirian

Aku (orang tua) menyadari ini bukan sentimen populer. Berusaha mendidik dengan baik tentang pentingnya kemandirian. Aku sepenuhnya mendukung perjalanan hidup mereka. Tidak peduli hambatan atau bahkan memar karena tidak bisa membayar bill di cafe tempat mereka nongkrong. Tidak perduli dengan lampu rumah padam karena keterlambatan membayar listrik. Atau sedikit menggoda pelayan biar dapat ekstra lauk ikan. Itu semua Pengalamanmu.

  Kemampuan Untuk Menjadi Bahagia



Dan mereka (anak besarku) benar, bahwa aku akan merindukan mereka. Dan aku akan menunggu di depan pintu, ketika anakku datang dengan membawa senyum dan memelukku dengan erat. Aku akan sangat bangga kepada mereka. Bukan karena mobil mereka yang baru. Tetapi karena, aku bangga anak besarku bisa bertahan di jamannya. Survive yaa nak. Dan sekarang mataku mulai berkaca-kaca karena aku juga sangat merindukan orang tua ku.

Salam DyariNotesCom.

Posted in parents

More Options

1 Comment

Tinggalkan Balasan