Cukup menarik melihat anomali tahun 2026 ini, di mana kemajuan zaman, atau bisa kita sebut “invasi teknologi”, sudah mencapai puncaknya, namun hati manusia justru merindukan sesuatu yang jadul. Di saat rumah kita sudah diatur oleh Smart Home yang bahkan lebih tahu kita haus yang kapan, dibanding diri kita sendiri. Tiba-tiba muncul sebuah gerakan yang terdengar agak “nyeleneh” tapi masuk akal: Ancestral Parenting.
Ini bukan ajakan untuk membuang kompor listrik lalu balik masak pakai kayu bakar, apalagi pakai daster ala Nyai di zaman kolonial 😁. Melainkan sebuah usaha untuk menarik kembali DNA pola asuh nenek moyang ke tengah gempuran kemajuan yang sering kali menyesatkan.
Agak lain ini: Coba perhatikan fenomena “Bapak-bapak“.
Merasa paling keren karena memegang smartphone terbaru di tangan “ala pebisnis sukses”, padahal secara emosional sedang merasa home alone di tengah keramaian. Parahnya, gaya hidup: 😔 “fisiknya ada tapi jiwa entah di mana”, ini ditiru mentah-mentah oleh anak-anak.
Kemudian lihat dong si anak, mereka mungkin bisa diajarkan coding lebih cepat daripada mengikat tali sepatu. Dan lagi, kalau disuruh ngerjain matematika lebih dari sepuluh soal saja sudah minta ampun lelahnya. Lalu pengamat bilang: Gak apa-apa biarkan saja. 😂 Sama kocaknya.
Ada kekosongan mental yang tidak bisa diisi oleh honor dan kuota. Dan…
Ancestral Parenting – 🫡
Saat masa depan terasa terlalu dingin seperti adu mekanik, kita justru menoleh ke belakang, mencari kehangatan dari cara-cara lama yang sempat kita anggap “kuno” tapi ternyata itulah missing link yang selama ini kita cari.
Paradoks Kemajuan: Garis Waktu yang Melingkar
Mari kita jujur-jujuran: kita ini spesies paling absurd.
Kita kerja bagai kuda demi beli “robot penyedot debu terbaru” supaya punya waktu lebih buat main sama anak. Itu awalnya! Tapi pas waktunya ada, kita malah sibuk scrolling video kucing, sementara anak kita bengong di depan iPad-nya. Inilah kocaknya gadget-burnout yang sebenarnya.
Kondisi di mana anak-anak kita jadi agen CIA yang punya akses ke seluruh perpustakaan dunia di saku mereka, tapi mereka kehilangan kemampuan buat sekadar nanya, “Bu, hari ini masak apa?” karena mental mereka sudah “tepar” dihajar surga instan dari layar.
Manusia menciptakan teknologi biar hidup makin simpel, tapi malah bikin jiwa makin ribet.
Anak-anak zaman sekarang itu ibarat Tesla yang baterainya penuh tapi sirkuitnya korsleting. Fasilitasnya high-end, tapi mesin mentalnya overheat. Mereka bisa “keliling dunia” lewat VR, tapi kakinya gemeteran pas disuruh jalan di rumput beneran yang ada cacingnya.
Ini bukan kemajuan, ini adalah gerak melingkar yang bikin pusing. Kita lari kencang banget ke depan cuma buat sadar kalau kita kangen sama cara hidup kakek-nenek kita yang jauh lebih “waras” dan membumi.
Ini bukan karena mereka kurang asupan gizi, tapi karena mereka kurang “asupan realitas”.
Hidup dalam simulasi yang terlalu sempurna sampai-sampai mereka gak tahu caranya gagal, caranya bosen, atau caranya menunggu. Efeknya?
NGOK!
Mereka jadi generasi yang sumbunya pendek dan gampang cemas kalau koneksi WiFi mati sedetik saja. Dan ini seolah jadi alarm keras kalau kita butuh “wejangan” sebelum semuanya benar-benar jadi robot tanpa perasaan. Nah, kesadaran ini mendadak bikin ingatan kita melayang ke sebuah meja makan tua yang jauh lebih nyaman karena meninggalkan kenangan dan catatan.
Ancestral Parenting.
Catatan Kecil di Tepi Meja Makan: Belajar ‘Talaqqi’ dari Seorang yang Namanya Tak Ingin Disebut
Ada satu memori yang gak pernah hilang tentang seorang tua yang nggak tahu apa itu Cloud Computing, tapi punya kebijaksanaan yang melampaui zaman.
Di sebuah sore, saat kami lagi pusing tujuh keliling sama urusan dunia, beliau cuma duduk tenang sambil menyeduh kopi. Di situ ada proses yang namanya Talaqqi: metode kuno tentang pertemuan tatap muka secara utuh. Bukan cuma dengerin omongan, tapi kita belajar dari cara beliau menaruh gelas, cara beliau menatap mata, dan cara beliau diam. Ada transmisi adab yang nggak bakal bisa di-copy-paste oleh AI mana pun.
Beliau gak pernah baca jurnal psikologi modern, tapi beliau tahu kapan harus tegas dan kapan harus memeluk. Beliau mempraktikkan “kehadiran penuh” jauh sebelum istilah mindfulness jadi tren di media sosial.
Waktu itu, baru terasa kalau kita selama ini “kurang hadir” buat anak-anak. Kita ada di satu ruangan, tapi jiwa kita masing-masing ada di server yang berbeda. Kita pikir kita sudah mendidik, padahal kita cuma sedang menjadi “operator” yang memastikan baterai gadget mereka penuh.
Ilmu itu cahaya, tapi adab itu kabelnya.
“Kalau kabelnya gak ada, cahayanya nggak bakal nyampai.” Bisik beliau suatu kali. Kalimat itu terasa seperti tamparan keras buat kita yang sibuk memasukkan anak ke les ini-itu tapi lupa mengajarkan bagaimana cara menghargai tamu atau sekadar berterima kasih.
Di meja makan itu, gak ada gangguan, gak ada suara TV. Cuma ada manusia yang saling memanusiakan. Sesuatu yang sangat mewah di tahun 2026 ini. Gara-gara obrolan di meja makan itulah, pikiran jadi terbuka.
Ternyata,
Buat menyelamatkan mental anak-anak dari kegilaan “last season” ini, kita gak butuh aplikasi baru. Kita cuma butuh cara lama yang dikemas dengan kesadaran baru untuk membawa mereka kembali ke “akar”.
Ancestral Parenting – Dan itu ada caranya.
Cara Menghadirkan Warisan Masa Lalu ke Masa Depan
Sebelum kita masuk ke poin, coba tarik napas dulu.
Menjadi orang tua di era ini bukan soal jadi polisi internet rumah dengan kumis melintang yang galak, tapi soal jadi “pemandu wisata” kehidupan. Kita butuh sedikit bumbu tradisional buat menetralisir rasa hambar dari gaya hidup serba instan. Cara biar anak kita gak cuma pinter secara digital, tapi juga punya soul.
Katakan:
1. Village-Circle
Ini berkaitan dengan Alloparenting.
Jangan merasa harus jadi super-parent sendirian. Dulu, satu desa ikut jagain anak. Beneran loe. Kembalikan tradisi melibatkan keluarga besar atau komunitas tepercaya. Biarkan anak mengenal beragam karakter manusia nyata, bukan cuma karakter di gim daring.
2. The Art of Oral History
Ini tentang menjadi Storytelling.
Matikan layar, mulailah mendongeng. Ceritakan konyolnya masa kecil kita atau sejarah perjuangan keluarga. Narasi lisan membangun imajinasi dan koneksi batin yang nggak bakal bisa digantikan oleh video resolusi 4K sekalipun.
3. Adab-First Protocol
Benarkah, etika dahulu sebelum ilmu?
Di zaman di mana semua orang ingin jadi influencer, ajarkan anak untuk memiliki “rem”. Tanamkan adab sebagai fondasi utama. Bagaimana cara bersikap, berbicara, dan berempati sebelum mereka sibuk menelan tumpukan teori ilmu pengetahuan.
4. Nature Connection
Bagaimana dengan Earthing?
Ajak anak “kotor-kotoran”. Main tanah, memanjat pohon, atau lari-larian tanpa alas kaki. Ini adalah cara paling ampuh buat reset otak yang sudah kepanasan (overheat) akibat terlalu lama terpapar radiasi layar.
5. Ritual of Silence
Tak ada yang salah kan dengan Talaqqi sederhana?
Buat satu waktu khusus tanpa gadget sama sekali. Cuma ada kita dan anak, bicara dari hati ke hati. Biarkan mereka merasakan kehadiran kita secara utuh, sebuah momen sakral yang akan menjadi kompas moral mereka saat dewasa nanti.
Tahu Jalan Pulang, Karena Masa Depan Sudah Tergambar
Ancestral Parenting bukan soal kita anti-kemajuan, tapi soal kita yang tahu mana yang abadi dan mana yang cuma tren sesaat.
Kita gak lagi mundur ke belakang, kita cuma sedang mengambil “bekal” yang tertinggal supaya perjalanan ke masa depan tidak terasa hambar dan hampa. Menjadi orang tua yang sedikit “purba” di tengah kecanggihan tahun 2026 adalah “pahala” untuk menjaga kemanusiaan anak-anak kita tetap menyala.
Masa depan memang sudah tergambar dengan segala robotika dan kemudahannya, tapi warna-warnanya tetap berasal dari kasih sayang yang nyata dan teladan yang hidup. Jalani peran ini dengan sadar, bahwa setiap pelukan dan obrolan tanpa gadget hari ini adalah investasi terbesar bagi jiwa mereka.
Karena ada satu hal yang sering kita lupakan:
Warisan paling berharga yang bisa kita berikan kepada anak bukanlah tumpukan harta atau teknologi baru, melainkan memori tentang orang tua yang benar-benar ‘hadir’ saat mereka sedang mencari jalan dan arah.
Tugas orang tua sejatinya bukan menyenangkan atau membahagiakan, tapi mengarahkan.
Salam Dyarinotescom.

