Sebuah studio dengan mikrofon seharga belasan juta rupiah, lampu tertata rapi, dan host yang ngaku si paling trendy. Namun, alih-alih mendengar humor cerdas atau diskusi yang mencerahkan “yang isinya daging semua”, kamu justru disuguhi pemandangan seseorang yang meludah di tengah pembicaraan, lalu tertawa seolah baru saja memenangkan piala komedi. Selamat datang di era Shock Humor, di mana batas antara ‘lucu’ dan ‘jijik’ sudah tidak ada lagi.
Kita tidak lagi tertawa karena bahagia, lho. Menonton karena mual, dan sialnya, “boleh jadi”: itulah yang mereka inginkan. Orang akan terjebak dalam rasa penasaran, memelototi layar hanya untuk memastikan apakah “di dalam video itu” benar-benar kehilangan akal sehatnya atau sedang melakukan eksperimen sosial yang gagal.
Shock Humor!
Banyak orang jadi penasaran dibuatnya.
Kalau Gak Lucu, Ya Bikin Emosi
Itu maunya.
Podcaster sekarang sadar kalau konten bermanfaat itu sepi peminat, sementara konten yang bikin orang “darah tinggi” akan memanen ribuan komentar hujatan. Mereka tidak butuh respek, mereka butuh angka.
Dalam dunia algoritma, satu hujatan nilainya sama dengan satu pujian: KEDUANYA DIHITUNG SEBAGAI ENGAGEMENT. Jadi, buat apa susah-susah riset materi mendalam kalau cuma dengan meludah atau berakting jorok saja bisa masuk FYP?
Banyak view berarti uang, perhatian, kontrak iklan, dan ujung-ujungnya klarifikasi sebagai penutup episode.
Tapi tidak bagi kita yang menonton. Kita hanya mendapatkan sisa-sisa emosi negatif (sampah) dan rasa geli yang bikin selera makan hilang. Kita mengira sedang mengkritik mereka di kolom komentar, padahal kita sedang membantu mereka membeli mobil mewah baru dengan setiap ketikan amarah yang kita kirimkan.
Industri ini tumbuh subur karena rasa muak kita sendiri.
Semakin kita menghujat, semakin algoritma menganggap konten tersebut “relevan” untuk disebarkan ke lebih banyak orang. Kita seperti dipaksa masuk ke dalam sirkus di mana badutnya tidak lagi melempar kue, tapi melempar sesuatu yang jauh lebih menjijikkan demi sebuah klik.
Boleh jadi, ini bukan terjadi tanpa rencana.
Ada skema yang tertata rapi di balik layar studio yang dingin itu. Mereka punya “resep rahasia” agar aksi-aksi niretik itu bisa berubah menjadi pundi-pundi rupiah yang menggiurkan melalui strategi-strategi yang sudah dikalkulasi secara matang.
Shock Humor!
Strategi Engagement-Bait Kala Mereka Melakukan Itu
Pernah terpikir tidak, kenapa konten yang bikin mual ini justru makin menjamur?
Jawabannya bukan karena kreativitas yang mentok, tapi karena mereka sudah tahu tombol mana yang harus ditekan pada psikologi manusia. Rasa jijik dan amarah adalah dua emosi yang paling cepat memicu reaksi motorik kita untuk menekan tombol share atau mengetik komentar.
Di balik aksi yang terlihat spontan dan “apa adanya” itu, sebenarnya ada niat terselubung untuk memanipulasi perhatian publik. Mereka tidak sedang melucu, mereka sedang memancing. Dan kita, seringkali menjadi ikan yang dengan senang hati melahap umpan tersebut.
Shock Humor!
Strategi yang mereka mainkan, bisa saja:
1. The Gross-Out Moment
Meludah atau bersendawa keras, misalnya, untuk memancing reaksi “Eww!” yang instan. Ini adalah cara paling primitif untuk mendapatkan atensi tanpa perlu modal otak. Begitu cairan keluar dari mulut di depan kamera mikrofon mahal, sensor jijik di otak penonton akan menyala, dan detik itu juga konten tersebut terekam kuat di memori.
Secara insting, manusia sulit berpaling dari sesuatu yang menjijikkan karena itu adalah mekanisme pertahanan diri. Para kreator ini memanfaatkan celah biologis tersebut untuk memastikan kamu tetap menonton sampai habis, meskipun sambil menutup hidung atau memalingkan muka sesaat.
2. Rage-Baiting Opini
Melempar pernyataan yang sengaja salah (misal: “Miskin itu pilihan” atau “Ijazah itu cuma sampah”) agar kolom komentar meledak. Ini adalah taktik mengumpan amarah. Mereka tahu bahwa netizen Indonesia punya semangat tinggi untuk “memperbaiki” logika orang lain yang terlihat miring.
Semakin banyak orang yang mencoba menasehati atau memaki di kolom komentar, semakin tinggi rating video tersebut di mata platform. Mereka sengaja terlihat bodoh agar kamu merasa lebih pintar, dan saat kamu mulai mengetik ceramah panjang, saat itulah mereka menang telak.
3. Physical Absurdity
Melakukan gerakan tubuh yang aneh atau tidak pantas di luar konteks pembicaraan. Tujuannya adalah menciptakan “efek kebingungan” atau absurdity. Di tengah obrolan serius, tiba-tiba salah satu host melakukan gerakan yang tidak sopan atau sangat aneh yang membuat penonton bertanya-tanya: “Ini orang kenapa, sih?”
Ketidaknyamanan visual ini diciptakan untuk memicu diskusi. Orang-orang akan mulai membuat spekulasi, mulai dari tuduhan menggunakan obat-obatan sampai teori konspirasi kalau itu adalah bagian dari ritual tertentu. Padahal, tujuannya cuma satu: supaya kamu tidak bosan dan tetap stay di video tersebut.
4. The “Clippable” Clip
Sengaja melakukan aksi aneh di menit tertentu agar mudah dipotong (crop) dan viral di TikTok/Reels. Mereka sudah mendesain konten panjang berjam-jam hanya untuk mendapatkan satu momen 15 detik yang “berbahaya”. Momen inilah yang akan disebar secara masif oleh akun-akun gosip.
Strategi ini sangat berguna karena potongan pendek tersebut biasanya kehilangan konteks aslinya. Tanpa konteks, aksi jorok atau pernyataan kontroversial akan terlihat jauh lebih parah, yang mana itu justru bagus untuk menaikkan rasa penasaran orang agar mencari video aslinya.
5. Mocking Etiquette
Sengaja melanggar norma kesopanan dasar untuk terlihat “rebel” atau “beda”, padahal cuma gak punya adab. Mereka sering menggunakan dalih “menjadi diri sendiri” atau “raw” untuk menjustifikasi perilaku kasar. Mereka ingin dianggap sebagai orang-orang jujur yang benci kemunafikan sosial.
Padahal, ada garis tegas antara jujur dengan tidak beradab.
Dengan merusak norma kesopanan, mereka menciptakan ilusi bahwa mereka adalah pahlawan bagi kebebasan berekspresi, sementara kenyataannya mereka hanya merusak standar pergaulan demi angka statistik semata.
Komedi ‘Cringe’ yang Gagal: Saat Meludah Dianggap Estetika
Ada perbedaan besar antara komedi canggung (cringe comedy) yang cerdas dengan aksi bodoh yang dipaksakan.
Komedi kelas atas menggunakan kecanggungan untuk menyindir realita sosial atau menunjukkan kerapuhan manusia dengan cara yang elegan. Namun, ketika seseorang meludah di meja podcast, itu bukan estetika: ITU ADALAH TANDA MATINYA KREATIVITAS.
Let’s say: Mereka mencoba terlihat ‘mentah’ (raw) dan ‘apa adanya’, seolah-olah kamera hanya menangkap momen spontan dari keseharian mereka yang “keren”. Tapi yang terlihat justru hanyalah keputusasaan untuk tetap relevan di tengah persaingan konten yang makin gila. Kalau tidak bisa menang dengan ide, ya sudah, pakai air liur saja. Cuuuihhh!
Kita sering terkecoh dengan istilah “otentik”. Banyak kreator berlindung di balik kata itu untuk melegalkan perilaku serampangan. Padahal, karya yang otentik tetap membutuhkan proses berpikir. Melakukan hal menjijikkan di depan umum bukan bentuk kejujuran diri, melainkan bentuk kemalasan berpikir alias tolol, untuk menciptakan materi yang benar-benar berkualitas.
Shock Humor!
Hasilnya? NOL
Kita disuguhi tontonan yang tidak hanya gagal bikin tertawa, tapi juga meninggalkan rasa jijik, dan remaja akan mengikuti hal semacam ini. Tiba waktunya era di mana komedi dibangun dari pengamatan tajam terhadap kehidupan, bukan dari kemampuan seseorang untuk bertindak paling memuakkan di depan kamera.
Tren Komedi ‘Jorok’ yang Merusak Standar Hiburan Kita
Jika kita terus memberi panggung pada tren komedi jorok ini dengan cara membagikan atau mengomentarinya (meskipun untuk menghujat), kita sebenarnya sedang menurunkan standar hiburan bangsa kita sendiri.
Semua orang akan mengikuti hal yang jorok seperti ini karena dianggap sebagai jalan pintas menuju popularitas. Bayangkan efeknya pada generasi mendatang. Anak-anak akan tumbuh besar dengan melihat bahwa meludah di depan wajah orang lain adalah hal yang lumrah. Gak suka, ludahin saja muka nya.
SUDUT PANDANGNYA SEDERHANA: kita mendapatkan kualitas tontonan yang sesuai dengan apa yang kita beri perhatian.
Jangan biarkan aksi sampah menjadi warisan komedi generasi ini. Berhenti menonton atau memblokir orang-orang tersebut adalah satu-satunya cara membuat mereka kembali berpikir: Apakah saya punya otak, atau cuma punya nyali buat jadi menjijikkan?
Sejati-nya: Hiburan mencerminkan peradaban sebuah bangsa.
Jangan sampai anak, keponakan kita mengira bahwa puncak kreativitas kita hanyalah sebatas membuang adab demi angka di layar. Sudah saatnya kita melakukan “diet konten” dan mulai memblokir para penjual bodoh ini dari beranda kita.
Salam Dyarinotescom.

