Ada hal ajaib yang membuat masyarakat kita bisa hidup berdampingan dengan damai: tata krama. Bayangkan, cuma dengan ngomong “tolong” dan “terima kasih”, pintu hati orang bisa langsung kebuka. Apalagi kalau ditambah senyum dan anggukan sopan, wah, rasanya adem banget, kayak kelapa muda di siang bolong. Itu semua adalah bentuk respek, sebuah nilai yang bikin kita kagum dan menghargai orang lain.
Sekarang, kita hidup di zaman di mana internet sudah jadi napas sehari-hari. Berangkat tidur bantalan kita ditemani notifikasi, bangun tidur sarapang dengan notifikasi. Bahkan, ada yang bilang kalau ngantri di warung kopi sekarang bukan lagi cuma buat beli kopi, tapi buat cari “bahan” bikin konten.
Alhasil, kita lebih banyak berinteraksi dengan layar ketimbang dengan orang di samping kita. Dan, tiba-tiba saja, semua ‘No. respek’ lagi. Etika yang dulu kita junjung tinggi mulai terkikis, tergantikan oleh kata-kata yang muncul dari layar ponsel.
Bahasa Konten Datang, Respek pun Hilang
Dulu, kita diajarkan orang tua untuk mencium tangan saat bertemu orang yang lebih tua, atau menunduk kan badan saat lewat di depan mereka. Hal-hal kecil itu sebagai bentuk dan wujud respek yang tulus. Tapi coba perhatikan sekarang, generasi Z atau anak zaman now lebih banyak “berinteraksi” dengan tontonan di TikTok, YouTube, atau Instagram. Mereka lebih hapal jargon-jargon dari para influencer daripada sapaan sopan kepada tetangga.
Bahasa yang dulu dianggap tabu, sekarang jadi lumrah. Kata-kata kasar yang dulunya cuma bisa didengar di gang sempit, kini jadi bumbu utama di konten-konten populer. Mirisnya, hal ini dianggap “lucu” dan “kekinian”. Respek yang dulunya dibangun dari interaksi tatap muka, kini tergerus oleh tren yang memaksa kita untuk “relatable” dan “apa adanya”, bahkan jika itu berarti mengorbankan sopan santun.
Banyak konten kreator yang sengaja menggunakan bahasa “kasar” ini untuk menarik perhatian. Mereka tahu, sensasi dan kontroversi adalah jalan pintas menuju popularitas. Makin nyeleneh, makin viral. Makin viral, makin banyak yang ikut-ikutan. Respek seakan jadi barang langka yang disimpan di laci, karena “kurang seru” untuk ditampilkan di depan kamera.
Padahal, dampak dari bahasa yang tidak sopan ini sangat berbahaya. Saat anak-anak melihat idola mereka menggunakan kata-kata kasar, mereka menganggap itu sebagai hal yang wajar. Perlahan, batas antara baik dan buruk, sopan dan tidak sopan, menjadi kabur. Mereka mulai meniru, mengucapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan tanpa sadar, nilai-nilai respek yang seharusnya tertanam sejak kecil, terkikis habis.
Ini bukan sekadar masalah “bahasa gaul” atau “kekinian”, ini adalah masalah etika dan moral. Jika terus dibiarkan, kita akan menciptakan generasi yang pandai meniru bahasa kasar tapi buta akan arti respek. Sebuah ironi yang menyedihkan, di mana teknologi yang seharusnya mendekatkan, malah menjauhkan kita dari nilai-nilai luhur yang pernah kita miliki.
Apa Kata Mereka?
Mungkin pernah lihat beberapa konten yang menggunakan ungkapan “tuh si bangsat” sebagai bagian dari percakapan sehari-hari. Argumen bahwa kata “bangsat” bisa digunakan dalam konteks pertemanan dan dianggap wajar “oleh mereka” karena kedekatan personal memang sering ditemukan.
Dalam konteks informal, misalnya, terutama di kalangan pertemanan yang sangat akrab, makian atau umpatan sering kali kehilangan makna harfiahnya yang negatif. Kata-kata seperti “bangsat”, “goblok”, atau “anjir” bisa berfungsi sebagai kata sapaan atau ekspresi keakraban, bukan lagi sebagai hinaan yang serius.
Ini mirip dengan bagaimana teman-teman mungkin saling mengejek dengan cara yang tidak akan mereka lakukan kepada orang lain. Penggunaannya menjadi sebuah “kode” di antara mereka yang memahami konteksnya.
Namun, ketika konten tersebut disebarkan ke publik yang lebih luas, argumen ini menjadi subjektif dan bisa diperdebatkan. Apa yang dianggap normal dan tidak menyinggung di dalam sebuah lingkaran pertemanan bisa jadi disalahartikan atau dianggap kasar oleh penonton di luar lingkaran itu.
Tidak semua orang memiliki “kamus” yang sama terkait makna kata-kata tersebut, dan sebagian besar masyarakat tetap menganggap kata-kata ini sebagai makian yang tidak sopan. Meskipun pembuat konten berdalih bahwa itu adalah bentuk keakraban, persepsi publik dapat berbeda, dan mereka mungkin tetap menganggapnya sebagai kata yang tidak pantas digunakan.
Bahasa Konten yang Jauh dari Kata ‘Respek’
Selamat datang di arena gulat digital, di mana kata-kata kasar bertarung memperebutkan perhatian dan algoritma. Kita akan bedah satu per satu “jargon” atau “bahasa konten” yang sering kita dengar, dan bagaimana itu pelan-pelan menggerogoti etika kita.
Sebagai pembuka, mari kita akui, kadang kita juga suka ketawa saat mendengar ucapan nyeleneh dari para konten kreator. Tapi jangan salah, di balik tawa renyah itu, ada dampak yang mungkin tidak kita sadari. Bahasa-bahasa ini seolah jadi virus, menyebar cepat dan merusak imun sosial kita terhadap hal-hal yang tidak pantas.
Misal dari kata:
1. “Anjay/Anjing” & Sejenisnya: Jargon Kekinian yang ‘Menyakiti’
Awalnya, kata-kata ini mungkin hanya digunakan sebagai ekspresi kaget atau kagum. Tapi kini, kata-kata ini sudah menjadi bagian dari kosa kata sehari-hari, diucapkan di mana saja, kapan saja. Yang lebih parah, anak-anak kini menganggap kata-kata ini normal dan keren. Padahal, kata-kata ini punya konotasi yang sangat negatif dan tidak sopan.
2. “Mampus”: Ketika Penderitaan Orang Lain Jadi Hiburan
Kata ini sering digunakan untuk mengekspresikan kepuasan saat melihat orang lain mengalami kesialan. Konten yang menampilkan kesialan orang lain sering kali diberi judul atau komentar dengan kata-kata seperti ini. Alih-alih berempati, kita diajarkan untuk menertawakan penderitaan orang lain.
3. “Kocak Parah”: Tertawa di Atas Hal-hal Bodoh
Istilah ini sering digunakan untuk mengomentari konten yang sebenarnya tidak lucu, bahkan cenderung bodoh atau berbahaya. Contohnya, konten yang menampilkan seseorang melakukan aksi konyol yang berisiko, dan penonton malah menganggapnya “kocak parah”.
4. “Slebew”: Kata Tanpa Arti yang Merusak Makna
Kata ini populer dari seorang influencer yang terkenal dengan gaya bicaranya yang unik. Meskipun tidak memiliki arti yang jelas, kata ini sering digunakan untuk mengisi kekosongan, dan lama-kelamaan jadi tren. Penggunaan kata-kata seperti ini mengurangi kualitas komunikasi.
5. “Savage”: Ketika Komentar Jahat Dianggap Keren
Dalam konteks konten, “savage” sering digunakan untuk memuji komentar pedas atau jawaban yang menyakitkan. Alih-alih mengajarkan kita untuk berbicara baik, kita malah diajari untuk menganggap komentar jahat sebagai hal yang “keren” dan “brutal”.
6. “Ngakak So Hard”: Ekspresi Berlebihan yang Tidak Tulus
Seringkali, konten yang tidak lucu pun diberi komentar “ngakak so hard”, lol, wkwkwkwk atau sejenisnya. Ini menciptakan budaya di mana ekspresi berlebihan dianggap wajib, dan kejujuran dalam berkomunikasi jadi langka.
7. “Toxic”: Label yang Terlalu Sering Digunakan
Kata “toxic” sering digunakan untuk melabeli orang atau situasi yang tidak disukai. Akibatnya, kita jadi lebih mudah untuk melabeli orang lain daripada mencoba memahami dan menyelesaikan masalah.
8. “Cringe”: Menghina dengan Alasan ‘Tidak Sesuai Selera’
Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu yang “memalukan” atau “tidak keren”. Penggunaan kata ini seringkali merendahkan dan menghina orang lain, hanya karena mereka berbeda atau punya selera yang tidak sama dengan kita.
9. “No Mercy”: Tidak Ada Ampun untuk Kesalahan Kecil
Istilah ini sering digunakan dalam konteks gaming, tapi sekarang menyebar ke konten lain. Kata ini merusak, karena mengajarkan kita untuk tidak memberi ampun atau maaf, bahkan untuk kesalahan-kesalahan kecil.
10. “Mati Aja Sana!”: Ketika Komentar Jadi ‘Senjata’ Pembunuhan Karakter
Ini adalah contoh paling ekstrem. Kata-kata seperti ini sering digunakan oleh netizen saat mengomentari konten yang tidak disukai. Ini bukan lagi sekadar kritik, tapi sudah menjadi bentuk ancaman dan intimidasi verbal.
Dari ‘Asyik’ Menjadi ‘Tidak Beretik’: Di Mana Moral Mereka Sebagai Konten Kreator?
“Apa-apa gak boleh. Ini gak boleh, itu pun gak boleh. Ini sejatinya bentuk: Memenjarakan Ekspresi!” Kata mereka.
Okey…
Mari kita jujur, banyak dari kita menganggap para konten kreator sebagai pahlawan digital yang menghibur dan kebebasan ekspresi. Tapi coba kita lihat lebih dalam, di balik tawa dan hiburan, ada bahaya laten yang tersembunyi. Ya, mereka memang menghibur, tapi apakah mereka juga memberikan nilai-nilai yang baik? Sayangnya, banyak dari mereka yang justru memproduksi “sampah” digital yang perlahan-lahan merusak moral dan etika penonton, terutama anak-anak muda yang gampang terpengaruh.
Mereka dengan sengaja menggunakan kata-kata kasar, tingkah laku yang tidak pantas, bahkan mempromosikan hal-hal yang jauh dari kata etis. Mengapa? Karena mereka tahu, sensasi menjual. Konten yang viral, meski negatif, akan mendatangkan uang dan popularitas.
Mereka tidak peduli tuh dengan dampak sosialnya, yang penting “cuan” mengalir. Respek dan etika seakan jadi beban yang harus dibuang demi mencapai puncak popular.
Lihat saja,
Sekarang anak-anak kecil sedikit-sedikit ngomongnya “anjing”, “bangsat”, atau kata-kata ‘non respek’ lainnya. Dari mana mereka belajar? Tentu saja dari tontonan yang disajikan oleh para konten kreator sampah.
Mereka meniru apa yang mereka lihat, dan parahnya, orang tua pun kadang tidak menyadarinya. Mereka menganggap itu “lucu” atau “sekadar iseng”, padahal itu adalah bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan moral generasi mendatang.
Sikap para konten kreator yang tidak bertanggung jawab ini sungguh memprihatinkan. Mereka seakan tidak memiliki sedikit moral, yang seharusnya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka memanfaatkan keluguan anak-anak muda yang mudah terpengaruh, lalu menjadikan mereka sebagai “konsumen setia” dari produk-produk sampah yang mereka publikasikan.
Ini bukan lagi sekadar masalah hiburan, tapi sudah menjadi masalah sosial yang sangat serius. Jika kita tidak segera bertindak, kita akan kehilangan satu generasi yang tidak lagi mengenal arti respek, sopan santun, dan etika. Dan yang paling bertanggung jawab atas ini semua, adalah kita dan mereka, para konten kreator yang hanya mementingkan diri sendiri, dan kita yang membiarkan itu terjadi.
Siapa yang Paling Bertanggung Jawab Atas Ini Semua?
Ketika kita melihat fenomena ini, pertanyaan besar yang muncul adalah: siapa yang paling bertanggung jawab? Apakah para konten kreator yang memproduksi konten-konten sampah? Atau para netizen yang terus-menerus mendukung dan menyebarkan konten tersebut? Atau mungkin para platform media sosial yang membiarkan konten-konten negatif ini berkembang biak?
Jawabannya, adalah kita semua.
Masing-masing dari kita memiliki peran. Para konten kreator harusnya memiliki kesadaran dan tanggung jawab moral untuk menyajikan konten yang mendidik, bukan merusak. Para netizen harus lebih bijak dalam memilih tontonan dan tidak lagi mendukung konten-konten yang tidak etis. Sementara para platform harus lebih ketat dalam memfilter dan menghapus konten yang melanggar norma.
Ending-Nya: Perubahan dimulai dari diri sendiri.
Kita tidak bisa terus menyalahkan orang lain. Kita harus memulai dengan menyaring apa yang kita tonton, mendidik anak-anak kita dengan nilai-nilai yang benar, dan berani untuk tidak mendukung hal-hal yang salah.
Karena, ini perlu diperhatikan: Jika kita tidak berdiri untuk sesuatu, kita akan jatuh untuk apa pun. Respek adalah pondasi dari sebuah peradaban yang beradab, dan sudah saatnya kita mengembalikannya ke tempat yang seharusnya.
Salam Dyarinotescom.
