Saat yang tepat untuk Hiatus 😯 – Masih merasa lelah meskipun sudah istirahat cukup, makan sudah kenyang, healing hingga ke bulan, termasuk shopping tanpa limit. Semua dilakukan. Tapi, minat dan gairah kok gak kunjung kembali. Semua yang kita lakukan malah gak guna. “Apaan sih ini semua. 😔 Gak jelas bet!”. Sedang berada di fase di mana self-reward paling mewah sekalipun terasa hambar, seperti makan kerupuk yang sudah melempem.
Iya, ada bentuknya, tapi gak ada sensasinya.
Ini seringkali bukan soal kurang piknik atau kurang asupan kafein. Ini adalah sinyal dari sistem operasi kita yang mulai ‘kepanasan’ akibat terlalu memaksakan diri tampil prima di panggung dunia yang nggak pernah tidur.
Kita terus-menerus memacu adrenalin untuk mengejar target yang terkadang kita sendiri lupa kenapa itu harus dikejar. Jika semua cara sudah dicoba namun jiwa tetap terasa “kosong”, mungkin jawabannya bukan lagi soal menambah aktivitas, melainkan menguranginya.
Tiba saat yang tepat untuk Hiatus.
Tanda Kamu Butuh Hiatus, Segera!
Seringkali kita gagal membedakan antara “lelah biasa” dengan “lelah mental” yang sudah mencapai titik nadir. Tanda yang paling kentara adalah munculnya perasaan sinis terhadap hal-hal yang biasanya kita suka.
Kalau melihat notifikasi pekerjaan atau hobi yang dulu bikin semangat sekarang malah memicu mual atau rasa ingin membanting ponsel, itu adalah alarm keras. Kita jadi seperti robot yang kehilangan soul, melakukan rutinitas hanya karena kewajiban, tanpa ada percikan kepuasan sedikitpun.
Secara fisik, tanda ini muncul dalam bentuk brain fog atau kabut otak.
Sulit konsentrasi, sering lupa hal-hal sepele, hingga perasaan burnout yang membuat kita ingin menghilang dari peradaban untuk sementara. Kita mulai merasa terasing di tengah keramaian, dan interaksi sosial terasa seperti beban berat yang menguras energi.
Jika sudah di tahap ini, memaksakan diri untuk tetap “produktif” justru akan merusak kualitas diri kita sendiri dalam jangka panjang. Dampaknya bukan cuma ke produktivitas, tapi ke hubungan personal. Kita jadi gampang tersinggung, sumbu pendek, dan kehilangan empati.
Dunia terasa berjalan terlalu cepat, sementara kita tertatih-tatih mengejar bayangan sendiri. Kita butuh jeda yang bukan sekadar tidur siang doang, tapi sebuah pemberhentian total dari kebisingan ekspektasi orang lain.
Nah, masih heran gak sih 🤔: kenapa mengambil langkah mundur sebenarnya adalah lompatan besar ke depan?
Luar Biasa dari Hiatus Tapi Kitanya Gak Tahu
Kita ini spesies yang aneh. Mau berhenti sebentar saja mikirnya kayak mau menghadapi kiamat. Takut ketinggalan info, takut kehilangan proyek, sampai takut dianggap nggak relevan lagi sama algoritma kehidupan.
Padahal,
Otak kita bukan mesin server yang sanggup menyala 24 jam tanpa maintenance. Kalau dipaksa terus, yang ada malah system crash dan datanya hilang semua. Kan berabe kalau tiba-tiba kita “mogok” di saat lagi sayang-sayangnya.
Lagipula, hiatus itu bukan dosa besar yang bikin nama kita dicoret dari kartu keluarga atau daftar orang sukses. Justru dengan mengambil jeda, kita memberikan kesempatan bagi sel-sel kreatif yang sudah sekarat untuk melakukan regenerasi.
Tanpa jeda, ide-ide segar itu nggak bakal bisa masuk karena “wadah” di kepala kita sudah penuh dengan sampah manipulasi informasi. Keyakinan akan manfaat “ajaib” dari hiatus yang sering kita abaikan:
1. Mental Reset (Penjernihan Kognitif)
Hiatus berfungsi sebagai tombol factory reset untuk pikiran. Kita akan merasakan kejernihan berpikir yang luar biasa setelah melepaskan beban decision fatigue atau kelelahan karena terlalu banyak mengambil keputusan setiap hari.
2. Reclaiming Identity (Menemukan Kembali Jati Diri)
Seringkali kita terlalu sibuk menjadi “apa yang orang inginkan”. Dengan hiatus, kita punya ruang untuk bertanya pada diri sendiri: “Sebenarnya gue ini siapa kalau nggak sedang bekerja?”. Ini adalah momen soul searching yang paling otentik.
3. Dopamine Detox
Dengan berhenti sejenak dari manipulasi kehidupan yang fana ini, reseptor kebahagiaan kita akan kembali sensitif. Hal-hal sederhana seperti mencium bau tanah setelah hujan atau minum jeruk hangat akan terasa jauh lebih nikmat.
4. Perspective Shifting
Kadang kita nggak bisa melihat jalan keluar karena kita berdiri terlalu dekat dengan masalah. Mundur sejenak memberi kita pandangan bird’s eye view untuk melihat solusi yang selama ini tersembunyi di depan mata.
5. Quality Over Quantity
Hiatus mengajarkan kita bahwa hidup bukan soal seberapa banyak yang kita kerjakan, tapi seberapa bermakna apa yang kita hasilkan. Jeda ini akan meningkatkan kualitas output kita saat kita memutuskan untuk kembali nanti.
Hiatus dan Caraku Melakukan
Melakukan hiatus gak selalu berarti harus menghilang ke hutan atau naik gunung tanpa sinyal selama setahun. Caranya bisa sangat personal.
Kami memulai dengan mematikan semua notifikasi aplikasi yang nggak esensial. Langkah pertama ini terdengar sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Ternyata, dunia gak kiamat meski kita tutup buku untuk membalas pesan dalam hitungan detik. Kita mulai belajar menghargai keheningan tanpa merasa perlu mengisinya dengan konten.
Selama masa jeda ini,
Pilihan utama kita: aktivitas fisik yang sifatnya reflektif.
Jalan kaki, membaca termasuk dyarinotescom, atau sekadar berkebun, untuk membantu kita kembali terhubung dengan realitas secara fisik. Kami menyebutnya sebagai masa “hibernasi produktif”.
Kita tidak menghasilkan karya yang terlihat oleh orang lain, tapi kita sedang membangun akar mental yang lebih kuat di dalam diri. Kuncinya adalah menetapkan batasan yang jelas. Beritahu lingkungan sekitar bahwa kita akan “off” untuk sementara waktu agar tidak ada kecemasan dari kedua belah pihak.
Hiatus yang “efektif bekerja” adalah ketika kita benar-benar hadir untuk diri sendiri tanpa merasa bersalah. Setelah beberapa waktu, kita akan merasakan sebuah tarikan alami “sebuah keinginan (nyawa) untuk kembali berkarya” bukan karena terpaksa,
Tapi karena: kita sudah penuh kembali.
Jangan Takut Berhenti Sejenak
Berhenti sejenak bukan berarti kalah dalam perlombaan. Hidup ini adalah maraton, bukan lari sprint yang selesai dalam hitungan detik. Kita butuh manajemen energi yang cerdas agar tidak tumbang di tengah jalan. Jangan biarkan standar kesuksesan orang lain mendikte kapan kita harus berlari dan kapan kita harus duduk beristirahat.
PoV-Nya: Hiatus itu bentuk tertinggi dari self-love dan penghormatan terhadap batas kemampuan manusiawi kita.
Satu titik kesadaran: Dunia akan tetap berputar meski kita mengambil jeda. Jangan takut tertinggal, karena setiap orang punya garis start dan finish-nya masing-masing. Ambillah waktu yang dibutuhkan, tarik napas dalam-dalam, dan kembalilah saat cahayamu sudah kembali terang.
Jangan lupa: Kadang-kadang, hal yang paling produktif yang bisa kita lakukan adalah bersantai dan membiarkan pikiran kita menemukan jalannya kembali pulang.
Salam Dyarinotescom.
