pixabay-masjid

Tiada Sesal Bila Harus Pergi

Kematian adalah kepergian. Untuk selama-lamanya. Sepanjang apa pun umur kita, saat pergi itu akan tiba. Hidup hanya perhentian sementara dari sebuah perjalanan panjang, dan akan cepat berlalu.

Maka, jangan terlena, apalagi melupakan bahwa kelak kita akan meninggalkannya, menuju rumah kekal abadi. Di saat harus pergi, siapa pun akan mendamba membawa gelar khusnul khatimah. Tak ada yang mulia dari menutup hidup dengan akhir yang baik.

Maka, mengingat kematian di perlukan agar selalu ada daya dorong di dalam jiwa untuk terus mengejar tangga-tangga ketakwaan, beramal, dan berkarya sebagai bekal tabungan kebaikan yang kelak berguna di kehidupan abadi.

Dengan hanya mengingat kematian, kita akan mendapat banyak manfaat, di antaranya:

 

1. Kita tak akan menangisi apa yang bukan milik kita

 

Manusia di ciptakan Allah sebagai makhluk yang memiliki kehendak, kemauan. Namun, tidak semua yang kita inginkan dapat diraih.

Sukses dan gagal, hal yang biasa dalam hidup, sudah mengikuti siklusnya. Tetapi, perputaran siklus ini yang seringkali menjerumuskan manusia ke sikap yang keliru.

Cukup pahami dan tanamkan dalam diri bahwa apa yang tidak kita dapatkan bukanlah hak kita. Yang bukan hak kita, tidak perlu ditangisi. Itulah bagian tersulitnya.

  Tiga Teman Setelah Mati

Mengingat kematian dan relevansinya dengan hal tersebut, bisa kita rasakan pada ayat berikut:

 

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka terhadap apa yang luput darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”

(QS. Al Hadid: 22-23)

 

2. Ada pengingat dan penegur kita dari belokan jalan yang tidak diperkenankan

 

Di setiap jalan hidup ada beragam pilihan, jalan lurus, atau jalan lainnya. Belokan-belokan di jalan lain itu seringkali menjerumuskan kita. Pada belokan itu ada godaan yang merayu.

Godaan, rintangan, onak dan duri, akan selalu di temui dalam kehidupan. Hal ini tak lantas menjadikan kita larut dalam godaan, terpuruk karena rintangan, dan menangis perih tertusuk duri.

  Jiwa yang Mulia dan Jiwa yang Hina

Bila itu terjadi, segeralah berputar, keluar dari belokan, kembali ke jalan lurus. Jalan yang di perintahkan Allah untuk kita lalui.

 

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu di perintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.”

(QS. Al An’am: 153)

 

Jadi, merenungkan kematian dengan bersungguh-sungguh akan memberi kita daya pengingat dan penegur di saat kita mulai tertarik kepada jalan yang tidak lurus. Kematian di ingat agar di tengah segala kelelahan kita, kita tidak lelah dua kali lantaran kita salah menempuh jalan hidup.

 

3. Ada amal shalih dan karya nyata untuk kemanusiaan

 

Bagi seorang mukmin, kebaikan adalah sesuatu yang tidak saja berdimensi sosial tetapi juga berdimensi aqidah. Artinya, sesuatu akan di terima Allah sebagai kebaikan bila di lakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran yang Allah tetapkan. Hal ini bisa kita pahami pada penjelasan Allah dalam QS. Al-Kahfi:110

  Marhaban Yaa Ramadhan

 

“… Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

 

Jadi mengingat kematian dalam konteks ini adalah sebagai pemberi kekuatan besar untuk senantiasa mendekat kepada Allah, berbuat kebajikan, membela agama Allah, serta menyebarkan rasa kasih sayang sesama manusia.

Sebab kematian bisa datang tiba-tiba, dan jika kita sadari, hal itu akan mendorong kita untuk tidak menyia-nyiakan waktu.

Kematian adalah akhir dari segala kesenangan dunia, dan pintu dari alam akhirat yang kekal dan tanpa batas. Di tengah gemerlap dunia yang penuh warna, merenungi kematian memang tidak ringan.

Tapi sejujurnya, kita harus membiasakannya meski selangkah demi selangkah, agar kelak tiada sesal.

 

4 thoughts on “Tiada Sesal Bila Harus Pergi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Dyarinotes is protected
%d bloggers like this: