Bulan Ramadan, bulan penuh berkah, seringkali menjadi ajang introspeksi diri bagi umat Muslim. Kita berusaha sekuat tenaga untuk menahan lapar dan dahaga, berlomba-lomba memperbanyak ibadah, dan berharap meraih ampunan dari Allah SWT. Namun, seringkali kita lupa bahwa puasa bukan hanya soal menahan makan dan minum. Ada satu perkara yang seringkali kita abaikan, yaitu “ngemil” yang haram.
“Ngemil” di sini bukan berarti makan camilan, tetapi mengacu pada perkara-perkara dosa yang seringkali kita lakukan tanpa sadar. Mulai dari berkata kasar, mengumpat, bergosip, menyebarkan fitnah, hingga memaki orang lain.
Ironisnya, perbuatan-perbuatan ini seringkali kita lakukan tanpa merasa bersalah, seolah-olah hal itu bukan termasuk bagian dari hal-hal yang dapat membatalkan pahala puasa. Padahal, Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga.
“Ngemil” Haram yang Sering Dilupakan
Salah satu “ngemil” haram yang jauh dari kesadaran adalah bergosip. Istilah kekiniannya mungkin “gibah”. Nah, era media sosial seperti sekarang ini, bergosip menjadi semakin mudah dan merajalela. Hanya dengan beberapa ketukan jari, kita bisa menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya tentang orang lain. Padahal, dalam Islam, bergosip juga termasuk dosa besar.
Selain bergosip, “ngemil” haram lainnya adalah menyebarkan fitnah. Fitnah lebih berbahaya daripada bergosip karena fitnah adalah kebohongan yang disebarkan dengan tujuan untuk mencemarkan nama baik orang lain. Nge-frame bahwa orang itu buruk. Dan pastinya dapat menghancurkan hubungan antarmanusia dan menimbulkan permusuhan.
Menjaga Lisan, Menjaga Puasa
Dalam menjalani ibadah puasa, tentu saja, menahan diri dari makan dan minum saja tidaklah cukup. Lebih dari itu, kita juga perlu menjaga lisan dari perkataan-perkataan yang dapat merusak nilai puasa kita.
Istilah ghibah dan fitnah mungkin sudah sering kita dengar, tetapi ada bentuk “ngemil” lisan lain yang seringkali luput dari perhatian kita, seperti namimah (adu domba), lahwun (perkataan sia-sia), dan rafats (kata-kata kotor).
Perkataan-perkataan ini, meski terlihat ringan, dapat menggerogoti pahala puasa kita sedikit demi sedikit, hingga akhirnya habis tak bersisa.
Allah SWT berfirman
Dalam Al-Qur’an, surah Al-Hujurat ayat 12:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ ١٢
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka; Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
Ayat ini menegaskan betapa pentingnya menjaga lisan dari perkataan-perkataan yang dapat menyakiti hati sesama.
Rasulullah SAW juga bersabda,
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan kita untuk selalu menimbang-nimbang perkataan yang akan kita ucapkan. Jika perkataan itu baik dan bermanfaat, maka ucapkanlah. Namun, jika perkataan itu buruk atau sia-sia, maka diam adalah pilihan terbaik.
Menjaga lisan bukan berarti kita harus selalu diam seribu bahasa. Lebih dari itu, menjaga lisan berarti kita mampu mengendalikan diri dari perkataan-perkataan yang haram dan sia-sia.
Mulut Dengan Perkataan Sia-Sia Bagai Ngemil Barang Haram
Benarkan ternyata, tanpa sadar melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan perkataan sia-sia, terutama saat berpuasa di bulan Ramadan. “Habis deh tu pahala”. Gosip tentang tetangga yang konon memiliki ‘sandal’ baru, hingga terlibat dalam ‘war’ di grup WhatsApp yang hanya berisi perdebatan kacangan.
Meskipun terasa menyenangkan seperti hiburan, banyak juga perkataan atau perbuatan sia-sia yang sebaiknya dihindari selama berpuasa tapi kitanya malah okey-okey saja. Beberapa diantaranya, misal:
1. Scroll Sosmed Tanpa Faedah
Di era digital, jari-jari kita seringkali bergerak lebih lincah daripada pikiran. Terlalu asyik scrolling media sosial tanpa tujuan yang jelas, berkomentar tanpa berpikir panjang, atau bahkan ikut-ikutan serang di kolom komentar, semua itu bisa menjadi ‘ngemil’ lisan yang sia-sia.
Alih-alih mendapatkan pahala di bulan Ramadan yang suci ini, kita justru bisa terjerumus dalam dosa yang tak disadari. Aktivitas-aktivitas seperti ini, yang seringkali dianggap sebagai bentuk hiburan atau ekspresi diri, bisa saja menjadi boomerang yang merugikan diri kita sendiri.
Terlebih lagi, dengan adanya fenomena fake account dan cyberbullying, perkataan yang kita lontarkan di dunia maya bisa memiliki dampak yang lebih besar daripada yang kita bayangkan. Jangan sampai kita menjadi bagian dari toxic fandom atau terlibat dalam drama yang tidak perlu, yang hanya akan membuang-buang waktu dan energi kita.
Ingatlah, setiap kata yang kita ucapkan atau tuliskan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, akan dipertanggungjawabkan.
2. Nge-rumpi Virtual
Perkara ‘nge-rumpi’, misalnya, tidak lagi terbatas pada interaksi tatap muka. Dunia maya pun menjadi arena subur untuk praktik ini. Grup-grup WhatsApp, Telegram, bahkan DM Instagram seringkali menjelma menjadi ‘tempat nongkrong’ virtual, di mana gosip dan pembicaraan tentang orang lain menjadi menu utama.
Padahal, ‘nge-rumpi’ virtual, atau yang sering disebut ‘cyber-gossip’, sama saja dampaknya dengan ‘nge-rumpi’ konvensional di dunia nyata. Keduanya sama-sama merusak pahala puasa, dan berpotensi menimbulkan ‘adegan panas’ yang tidak perlu.
Apalagi di era “gak ada loe gak rame”, seringkali menjebak diri sendiri dalam lingkaran gosip daring hanya karena takut ketinggalan informasi atau ingin terlihat ‘style gue’. Padahal, ini justru bisa membuat kita kehilangan fokus pada ibadah dan tujuan utama berpuasa, yaitu meningkatkan ketakwaan.
Jadi, bijaklah.
3. Toxic Positivity
Mungkin terdengar out of the box, tetapi fenomena ‘toxic positivity’ juga termasuk dalam kategori perkataan sia-sia yang seringkali underestimated. Coba pikir, alih-alih memberikan dukungan yang empatik, kita justru melontarkan nasihat atau motivasi ala ‘motivator dadakan’ tanpa basic knowledge yang memadai.
Lebih nyeleneh-nya lagi, kita malah melakukan victim blaming, menyalahkan orang lain yang sedang berada di titik terendah mereka, seolah-olah mereka itu kurang ‘bersyukur’ atau lemah dalam ‘positif thinking’. Padahal, setiap orang memiliki struggle masing-masing yang tidak bisa di samaratakan.
Sikap seperti ini, yang seringkali berkedok ‘demi kebaikan’, justru dapat menjadi “tai kebo”, menyakiti hati orang lain, dan tanpa di sadari, mengurangi esensi ibadah kita di bulan Ramadan. PoV-nya: vibes positif yang autentik adalah tentang empati dan pengertian, bukan sekadar lip service atau jargon motivasi yang copy paste.
Puasa, Tapi Mulut Masih Belum Taat
Intinya, puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tapi juga tentang ‘mindset’, pengendalian diri dan membangun lifestyle baru. Jangan sampai kita terjebak dalam “Gak ada loe gak asik” untuk ikut-ikutan tren gosip atau perdebatan yang tidak berfaedah. Lupa dengan: Shalat Tarawih dan Tadarus Al-Qur’an.
Manfaatkan momen Ramadan ini untuk bongkar diri, menjadi pribadi yang lebih bijak dalam bertutur kata, dan menebar ‘positive vibes’ di sekitar kita. Hallo! ‘Inner peace’ itu mahal dong harganya, dan salah satu caranya adalah dengan menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia.
Dengan refleksi ini, kita bisa ‘break the cycle’ dari kebiasaan buruk berbicara yang tidak terkontrol. Ramadan adalah perjalanan emas untuk nge-reset hati dan pikiran, agar kita tidak hanya mendapatkan pahala puasa, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih ‘humble’ dan ‘respectful’ terhadap sesama.
‘Let’s make this Ramadan count!’
Salam Dyarinotescom.