Hingga detik ini, beberapa saat setelah artikel ini di publish, kita semua pasti punya teman yang hobi banget ngirim “quote of the day“. Seringnya, kalimat-kalimat itu muncul di Instagram Stories, diiringi foto pemandangan, atau mungkin foto dia sendiri lagi pose berpikir sambil menatap cakrawala. Begitu kita baca, rasanya kayak lagi dikasih dosis kebahagiaan instan. Ketika motivasi cuma gimmick, kamu-nya malah kemakan. Wkwkwk 😂
Lanjut-nya …
Semua masalah di kepala kita, seolah-olah, langsung menguap. Kita senyum, mengangguk, lalu dalam hati bilang, “Iya juga, ya.” Tapi, coba deh kita jujur. Efeknya bertahan berapa lama? Satu jam? Sampai buka notifikasi yang lain? Atau cuma sampai kita meletakkan ponsel dan kembali berhadapan dengan kenyataan?
Ini bukan tentang menyalahkan mereka yang suka berbagi kata-kata manis. Bukan juga tentang bilang kalau semua motivasi itu omong kosong. Tapi, pernah gak sih, kamu merasa ada yang janggal?
Seakan-akan, semua headline besar yang menjanjikan “Sukses Sebelum Usia 30” atau “Kaya dalam 3 Bulan” itu cuma jadi bagian dari sebuah pertunjukan. Sebuah trik marketing yang memanfaatkan rasa putus asa dan keinginan kita untuk berubah.
Awalnya terasa menawan, tapi di balik panggungnya, ada sesuatu yang kita gak sadari. Sesuatu yang boleh jadi lebih besar, lebih licik, dan mungkin, lebih berbahaya.
Apa Itu?
Dulu, motivasi itu datang dari hal-hal yang otentik. Misalnya, kita nonton movie ‘SuperMan’ dan terinspirasi oleh perjuangan karakternya, atau membaca kisah nyata seorang pahlawan yang berhasil mengatasi tantangan besar.
Itu adalah motivasi yang didasarkan pada empati dan pemahaman mendalam. Namun, di era tipu-tipu digital ini, ada pergeseran besar. Motivasi berubah menjadi sebuah produk, sebuah komoditas yang dijual dan dibungkus dengan sangat rapi. Istilahnya, ‘Motivasi Gimmick’.
Motivasi Gimmick bukanlah motivasi yang datang dari pengalaman nyata, melainkan dari panggung sandiwara. Ini adalah strategi yang sengaja diciptakan untuk memancing emosi dan menciptakan euforia sesaat.
Misal, storytelling yang dilebih-lebihkan, penggunaan kata-kata bombastis, atau janji-janji manis yang mustahil. Tujuan utamanya bukan untuk benar-benar membimbing kamu, melainkan untuk membuatmu merasa baik tentang diri sendiri dalam waktu singkat, sehingga kamu terus kembali dan mengonsumsi konten mereka.
Pada dasarnya, ini adalah versi modern dari pemasaran emosional.
Mereka tahu betul apa yang kita butuhkan: pengakuan, validasi, dan jalan pintas. Mereka memanfaatkan algoritma media sosial yang dirancang untuk membuat kita kecanduan konten yang bikin kita merasa ‘terhubung’.
Alih-alih mendapatkan bimbingan yang substansial, kita malah terjebak dalam lingkaran setan yang membuat kita merasa termotivasi, tanpa benar-benar melakukan sesuatu yang berarti. Kita hanya disajikan “bagian lucunya” tanpa pernah melihat proses yang menyakitkan di baliknya.
Siapa Mereka, Wajah-Wajah di Balik Panggung
Mereka adalah seniman, tapi bukan seniman yang menciptakan karya seni. Seorang seniman yang menciptakan ilusi. Tahu persis bagaimana cara memanipulasi perhatian dan emosi kita, mengubahnya menjadi sebuah komoditas yang bisa mereka jual.
Mereka adalah orang-orang yang wajahnya sering kita lihat di media sosial, di panggung-panggung seminar, atau di balik layar iklan-iklan yang menggiurkan.
Bisa jadi mereka terlihat sangat sukses dan kaya, tapi itu adalah bagian dari pertunjukan. Kekayaan mereka, popularitas mereka, dan bahkan kisah hidup mereka, seringkali sudah diatur sedemikian rupa agar terlihat sempurna.
Kita melihat panggung yang megah, tapi kita tidak pernah tahu bagaimana proses pembangunan panggung tersebut. Mereka mungkin saja terlihat seperti motivator ulung, tapi sebenarnya mereka adalah penjual yang sangat ulung.
Taukah kamu ciri-ciri mereka yang bisa kamu kenali:
1. Pakar Instan (The Instant Guru)
Mereka mengaku ahli dalam segala hal, dari bisnis, keuangan, hingga hubungan asmara. Gelar ini didapat bukan dari pengalaman bertahun-tahun, melainkan dari satu atau dua “kursus kilat” yang mereka ambil. Mereka adalah sosok yang bisa “menguasai” industri baru dalam semalam.
2. Kolektor Gelar Palsu (The Title Hunter)
Mereka selalu memamerkan sertifikat, gelar, atau penghargaan yang mereka dapatkan. Kadang-kadang, gelar itu tidak ada kaitannya dengan bidang yang mereka ajarkan. Tujuannya cuma satu: agar terlihat kredibel dan meyakinkan. Ini adalah trik lama yang masih efektif.
3. Penyebar Harapan Semu (The Hope Dealer)
Mereka selalu menjual harapan, tapi harapan yang tidak disertai dengan langkah-langkah nyata. Mereka cuma bicara tentang “percaya pada diri sendiri” dan “berpikir positif” tanpa menjelaskan bagaimana caranya menghadapi kegagalan dan penolakan.
4. Penjaja Cerita Kemenangan (The Story Spinner)
Mereka selalu punya cerita tentang masa lalu yang “gelap” dan bagaimana mereka berhasil keluar dari sana. Seringkali, cerita-cerita ini dilebih-lebihkan agar terdengar lebih dramatis dan menginspirasi. Padahal, mungkin saja masa lalu mereka tidak seburuk itu.
5. Maniak Pujian (The Validation Junkie)
Mereka hidup dari pujian dan validasi dari pengikutnya. Mereka akan selalu memancing komentar positif, seperti “Siapa yang setuju?” atau “Ketik ‘Amin’ jika kamu mau sukses.” Ini adalah taktik untuk meningkatkan interaksi dan membuat mereka merasa lebih berharga.
6. Ahli Kutipan Klise (The Cliché Master)
Mereka pandai merangkai kata-kata, tapi kata-kata itu selalu sama: “terus berjuang,” “jangan menyerah,” “mimpi besar.” Kutipan-kutipan ini seringkali tidak relevan dengan masalah nyata yang kita hadapi, tapi tetap terasa “seksi” di telinga kita.
7. Pencipta Ilusi (The Illusionist)
Mereka pandai menciptakan ilusi kekayaan dan kemewahan. Mereka sering berfoto dengan mobil mewah, jam tangan mahal, atau berlibur di tempat-tempat eksotis. Padahal, barang-barang itu mungkin hanya sewaan atau dipinjam. Tujuannya cuma satu: membuat kita percaya bahwa mereka adalah role model yang sempurna.
Heran Juga Yaa, Kenapa Kita Tergoda dan Kecanduan?
Kita sebenarnya gak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya.
Sebenarnya, kita juga punya andil dalam menciptakan fenomena ini. Sangat-sangat kecanduan “Motivasi Gimmick” karena kita mencari jalan pintas. ‘Gue’ ingin sukses, kaya, dan bahagia tanpa harus melewati proses yang menyakitkan. Kita butuh solusi instan untuk masalah yang rumit.
Sistem di kepala kita juga punya andil besar. Kita cenderung mencari dopamin instan, hormon kebahagiaan yang dilepaskan ketika kita mendapatkan hadiah. Melihat konten motivasi yang menjanjikan kesuksesan, meskipun itu hanya ilusi, sudah cukup untuk melepaskan dopamin itu. Otak kita pun jadi ketagihan, seolah-olah kita sudah mencapai sesuatu, padahal kita baru saja menekan tombol “like” atau “share”.
Di sisi lain, ada faktor krisis identitas.
Kita hidup di era di mana setiap orang diharapkan untuk memiliki identitas yang kuat, dan itu seringkali diukur dari pencapaian. Gelisah ketika melihat orang lain sukses, dan kita merasa tertinggal. Merasa si paling kurang beruntung, dan perlu “memperbaiki” diri kita agar bisa “setara” dengan mereka. Motivasi Gimmick datang sebagai jawaban yang mudah, sebuah “resep” yang bisa kita ikuti.
Jika Tak Kaya Seperti Gue, Berarti Kamu Itu Pemalas!
Bangsat banget gak sih!
Ada juga isu tentang masalah finansial yang kompleks. Di masa-masa sulit seperti sekarang dimana kentut pun diminta bayar pajak, banyak dari kita yang merasa tidak punya pilihan lain selain mencoba keberuntungan.
Dan itu seringkali melibatkan investasi pada “pelatihan” atau “seminar” yang menjanjikan hasil besar. Mereka memanfaatkan rasa putus asa ini dan menjual mimpi yang mustahil. Kita membeli produk mereka bukan karena kita membutuhkannya, tapi karena kita butuh harapan.
Terlalu fokus pada hasil akhir.
Dan, hanya melihat puncak gunung, tapi tidak pernah memikirkan bagaimana cara mendaki ke sana. Motivasi yang sejati adalah tentang proses, tentang jatuh, bangun lagi, dan belajar dari kesalahan. Tapi, di zaman sekarang, itu dianggap tidak menarik. Kita lebih suka cerita yang instan, yang membuat kita merasa “sudah sampai” padahal baru saja mulai.
Mencari Real Motivasi yang Bukan Sekadar Pujian
Mungkin sudah saatnya kita berhenti nge-goblok, mencari jalan pintas dan mulai berdamai dengan proses.
Motivasi yang sejati tidak akan datang dari orang lain, tapi dari diri kita sendiri. Itu adalah rasa ingin tahu, keinginan untuk berkembang, dan keberanian untuk menghadapi kegagalan. Ini bukan tentang mencari pujian, melainkan tentang mencari pemahaman.
Real motivasi itu tidak selalu terasa menyenangkan. Kadang-kadang, itu terasa seperti tamparan di wajah. Itu adalah ketika kita menyadari bahwa kita harus kerja keras, bahwa tidak ada hasil yang instan, dan bahwa kita harus bertanggung jawab atas pilihan-pilihan kita.
Ini adalah motivasi yang membangun, bukan yang menghancurkan.
End-Word: Motivasi yang paling kuat adalah motivasi yang datang dari hati. Itu adalah dorongan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita, bukan karena kita ingin terlihat keren, tapi karena kita ingin merasa utuh.
Nah, alih-alih mencari ‘apa kata-kata hari ini’, cobalah untuk mencari pelajaran dari setiap kesalahan yang kamu buat. Karena: Hidup bukanlah perlombaan meraih 1-10M pertama mu, melainkan sebuah perjalanan. Kita tidak perlu menjadi yang pertama, asalkan kita sampai di tujuan dengan hati yang lebih bijaksana.
Salam Dyarinotescom.
