Transisi Kekecewaan, Insting dan Kegagalan Orang tua

Anak sedang mengalami rasa kecewa. Harapan yang tidak terpenuhi atau belum di penuhi dan terkadang di sertai dengan frustrasi, kemarahan dan kesedihan. Bingung jadinya apalagi anda dikenal masyarakat sebagai orang yang terpelajar namun tidak bisa mendidik anak. Transisi kekecewaan pada usia pertumbuhan, insting alamiah terabaikan dan banyak sekali kebodohan kita sebagai orang tua dalam mendidik tanpa di sadari.

 

Rasa sedih, marah duka, kecewa datang silih berganti tergantung bagaimana kita memepersiapkan ketahanan anak dalam melatih rasa tersebut.


Kita sebagai orang tua serkadang menyepelekan akan hal itu. Saya sebagai orang tua sudah bekerja siang dan malam mencari nafkah untuk keluarga.

Yaa … sepertinya hidup itu bukan hanya itu saja. Bagaimana kita mempersiapkan fisik dan mental bagi generasi penerus untuk melanjutkan kehidupan kedepannya.

Di kutip dari moneycrashers, katanya Dr. Ilona Roth terkenal sebagai penulis tentang gangguan spektrum autisme dan dosen senior bidang psikologi di Universitas di Inggris, anak-anak mulai menunjukkan unsur imajinasi pada usia satu tahun.

Pada usia dua atau tiga tahun, mereka mulai memikirkan sesuatu apa yang akan terjadi atau bahkan yang tidak akan terjadi. Akibatnya, mereka mengembangkan harapan awal tentang suatu kekecewaan dan mulai merancang mekanisme penanganan yang akan mereka lakukan nantinya.

  Mengatasi Anak Yang Super Nakal

 

Hal Ini Bisa Saja Benar

Ilona menjelaskan bahwasanya bila orang tua sudah gagal dalam mengajarkan anak untuk menangani kekecewaan, dapat mengakibatkan anak mudah menyerah.

Hal Ini juga membuat mereka merasa tidak kompeten, bahkan parahnya bisa depresi, dan tidak mau mengambil risiko apapun lagi karena takut akan lebih banyak menghadapi kekecewaan.

Perlu ada tindakan dari kita selaku orang tua untuk bisa mengatasi ini. Seperti di lansir moneycrashers, Sekedar informasi ada beberapa cara membantu mengatasi rasa kecewa anak.

 

 

Ajarkan Mereka Menetapkan Harapan yang Wajar

Anak kecil terkadang menemukan transisi, dari setiap keinginan terpenuhi, ke dunia yang sulit. Karena itu,Bunda harus membantu anak untuk memahami situasi tersebut.

Contohnya, ketika keluarga merencanakan wisata ke puncak namun tidak jadi karena hujan turun, Bunda dapat menjelaskan keadaan tersebut pada si kecil.

Meminta anak untuk lebih memahami dan memberi arti bahwa itu bukan artinya tidak akan pernah pergi ke taman lagi.

Mengajarkan tentang kenyataan tidak selalu yang kita inginkan penting guna proses kedewasaan pada anak. Kita terkadang tidak harus menyukai tetapi perlu menerimanya.

  Kebiasaan Yang Ditinggalkan Setelah Remaja dan Dewasa

 

Biarkan Anak Merasa Kecewa

Pembiaran bukan berarti tidak perduli. Sangat penting bagi orang tua mengekang insting alaminya saat anak mengalami kesulitan. Ini membantu mereka memahami perbedaan antara masalah besar, di mana mereka butuh bantuan, dan masalah kecil yang bisa mereka tangani sendiri tanpa ada campur tangan orang lain.

 

Jelaskan bahwa rasa dari kekecewaan itu wajar ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang diharapkan. Berempatilah dengan perasaan frustrasi, marah, dan kesedihan.

 

Orang tua bisa saja memberikan contoh dengan menceritakan hal-hal kisah masa kecil ketika mengalami kecewa. Hal ini sebagai gambaran bahwa Bunda mengerti tentang kekecewaan yang di rasakan si buah hati.

Selama si anak tidak menyakiti diri sendiri atau merusak barang, jangan menghukum anak-anak karena reaksi negatif mereka. Sebagai gantinya, jelaskan kepada mereka bahwa perasaan negatif mereka tidak membantu memecahkan masalah dan menyebabkan kekecewaan.

Ajarkan kepada mereka tentang cara-cara positif untuk menenangkan diri, apakah itu menarik napas dalam- dalam, menghitung sampai 10, atau menggambar sesuatu yang di sukai. Ajarkan mereka membatasi waktu untuk perasaan negatif mereka.

  Pembelajaran yang sudah ditinggalkan

 

Cari Alasan yang Tepat Rasa Kecewa Anak

Sambil menceritakan perasaan anak, Bunda dapat membantu anak-anak mencari perspektif dengan mengajukan pertanyaan dan mendengarkan tanggapan mereka. Jangan mencoba memutar situasi atau meminimalkan perasaan mereka.

Pahami bahwa setelah peristiwa yang memicu kekecewaan itu, anak-anak dapat di liputi oleh emosi. Biarkan mereka melampiaskan, kemudian ajarkan untuk melihat penyebab kekecewaan tersebut.

Proses ini akan memungkinkan mereka dalam menemukan cara untuk menangani kekecewaan di kemudian hari.

Semua orang tua saat ini justru lebih memiliki kecenderungan untuk memberi tahu buah hati anda bagaimana cara bertindak, dari pada mendengarkan dan membantu mencapai kesimpulannya sendiri.

Teknik dengan menggunakan cerita anak-anak lain dalam situasi yang sama dan meminta anak untuk mengusulkan solusinya adalah cara terbaik untuk proses penyembuhan.

 

Salam, Dyarinotes

4 thoughts on “Transisi Kekecewaan, Insting dan Kegagalan Orang tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Dyarinotes is protected
%d bloggers like this: