Gen Z Harus Dukung Purbaya, Woy. Tahukan Ini Sebab-nya:

  • Post author:
  • Post category:Did You Know
  • Post last modified:October 24, 2025
  • Reading time:9 mins read
You are currently viewing Gen Z Harus Dukung Purbaya, Woy. Tahukan Ini Sebab-nya:

Lihat tuh, Menteri Keuangan yang gayanya lebih mirip tokoh koboi di film western daripada birokrat kaku di Istana? Kita bicara tentang Purbaya. Sejak beliau menjabat, kantor Kementerian Keuangan di Jakarta jadi terasa seperti ring MMA. Bukan karena baku hantam fisik, melainkan karena baku hantam data, statement keras, logika nalar, dan sindiran tajam. Anehnya, Gen Z, yang biasanya mager (malas gerak) soal urusan negara, tiba-tiba pasang kuping, melek mata. Terbuka!

Sesuatu yang tidak ‘Rocky Gerung’ punya.

Apa yang terjadi?

Sederhana: Indonesia punya idola baru yang berani menyenggol ‘Dewa-Dewa’ birokrasi. Sejak kapan urusan utang negara, bea cukai yang berantakan, sampai dana daerah yang mengendap triliunan rupiah bisa jadi trending topic di Twitter dan TikTok?

Itu bukan karena videonya lucu, tapi karena ada pejabat yang berani bilang, “Itu duit siapa, kok malah didiamkan?” Ini bukan hanya soal angka di APBN, tapi tentang kejujuran yang mahal yang selama ini hilang di tengah tumpukan berkas dan janji manis.

Gen Z mencium bau kebenaran yang otentik. Dan bau itu, kawan, sungguh menyegarkan! Pak Prabowo menemukan orang yang tepat, orang yang mengerti rakyat, masalah, dan logika solusi. Sesuatu yang ‘tidak’ para kemenko itu punya.

 

Mengapa ‘Menteri Koboi’ yang Bikin Masa Depan Ekonomi Terlihat Lebih Clear

Coba pikirkan ini:

Di tengah kondisi ekonomi yang “katanya” sulit, di mana banyak teman-teman kita kesulitan cari kerja atau modal usaha, Purbaya tiba-tiba teriak lantang. Dia tidak teriak soal utang luar negeri, tapi soal hal yang lebih menggelikan: uang rakyat di daerah dan kementerian yang dibiarkan nganggur!

Kamu tidak salah dengar.

Anggaran yang jelas-jelas ditransfer dari pemerintah pusat “uang hasil pajak kita” malah tidur nyenyak di bank daerah, seolah itu adalah harta karun yang tidak boleh disentuh. Hadehh, ini lucu, dan sungguh bodoh.

Misalnya.

Lalu, apa alasan pejabat daerah dan kementerian membiarkan dana triliunan itu mengendap?

Ini bukan hanya soal ketidakmampuan, tapi lebih dalam lagi: kebodohan struktural dan kenyamanan zona aman. Kasar banget yaa?

Jadi…

Pejabat-pejabat itu hanya mau mengeluarkan anggaran untuk kebutuhan operasional rutin mereka saja: gaji, rapat, operasional kendaraan, pokoknya yang belanja rutinitas doang, misalnya. Mereka menghindari proyek-proyek pembangunan atau inisiatif yang butuh kerja keras dan berisiko, seperti membangun fasilitas publik, menyalurkan bantuan modal, atau men-support sektor riil yang lagi megap-megap.

Padahal sektor tersebut butuh di support!

Ini membuktikan bahwa bagi sebagian pejabat, jabatan hanya tentang kekuasaan dan alokasi dana untuk lingkaran mereka, bukan untuk masyarakat luas. Bagaimana mungkin ekonomi lokal bisa bergerak cepat jika kementerian teknis atau pemerintah daerah menahan likuiditas (uang tunai) yang seharusnya berputar di pasar?

Ini seperti kamu kelaparan, tapi ada kantong berisi uang di saku yang kamu biarkan saja. Sungguh mengesalkan! Uang itu ada untuk diinvestasikan, bukan untuk diperam! (telor kali yaa)

 

Dan, apa yang kita lihat?

Reaksi keras Purbaya, yang sampai mengancam akan mengambil kembali atau memotong anggaran kementerian/daerah yang penyerapan dananya buruk, adalah tamparan keras bagi mentalitas pejabat lama.

Ia memaksa ‘mereka’ untuk bekerja dan bertanggung jawab. Inilah alasan mengapa Gen Z harus berhenti apatis dan mulai mendukungnya: karena Purbaya adalah suara kita yang bosan melihat inefisiensi dan permainan di balik meja.

Beliau “orang yang dipilih Pak Prabowo” sedang membersihkan meja kita, agar kita bisa melihat masa depan ekonomi yang lebih clear, lebih bersinar. Dan bersih-bersih ini membawa kita pada 7 alasan konkret Gen Z harus all out dukung Pak Menteri.

Ini dia:

 

7 Sebab Gen Z Harus Dukung Purbaya

Kami bukan orang partai, bukan-nya buzzer siapa pun. Tapi, kami: “Gen Z” adalah generasi yang mendambakan otentisitas dan membenci kepalsuan.

Kita tidak butuh janji di atas kertas atau politisi yang berpidato dengan bahasa bunga. “Kerja nya gak ada, giliran lari pagi disorot media”. Kita butuh aksi nyata, pintar, berpihak ke rakyat, atas dasar tanggung jawab dan kejujuran.

Purbaya membawa semua itu.

Dia tidak hanya bicara soal makroekonomi yang berat, tapi langsung menyentuh isu yang Gen Z hadapi sehari-hari. Dukungan kepada Purbaya bukan soal fanatisme, tapi soal kesadaran bahwa kita sedang melihat momen langka: seorang pejabat yang berani melawan sistem yang lambat dari dalam.

Tujuh sebab gen z harus dukung ‘Purbaya’ sang Lokal Hero. Apa itu karena:

 

1. Upgrade Sistem ke Level AI

Purbaya mendorong penggunaan teknologi canggih seperti Artificial Intelligence (AI) di Bea Cukai dan sistem keuangan negara. Ini penting! Kita tidak butuh sistem manual yang mudah disuap atau main mata. Dengan AI, transparansi dan efisiensi akan meningkat drastis.

Bagi Gen Z yang tech-savvy, langkah ini adalah jaminan bahwa birokrasi di masa depan akan lebih bersih, cepat, dan anti-ribet, sehingga urusan bisnis dan administrasi tidak lagi membuang waktu dan modal.

Dan itu bisa juga diaplikasikan pada kementerian/daerah yang tidak bisa buat program kerja strategis, alias Lemot (lemah otak)!

 

2. Likuiditas untuk Cuan (Modal)

Dia memaksa dana pemerintah yang ‘nganggur’ triliunan di bank untuk segera disalurkan ke sektor riil. Ini bukan sekadar angka. Ini kebenaran yang hakiki. Likuiditas adalah darah bagi perekonomian. Dana itu, ketika disuntikkan ke perbankan, akan menjadi modal kerja yang lebih terjangkau untuk UMKM dan industri padat karya.

Bagi Gen Z yang mau merintis bisnis atau mencari pekerjaan, ini berarti peluang modal lebih besar dan lapangan kerja lebih banyak tersedia di tahun-tahun mendatang.

 

3. Pasar Modal Next Level dan Aman

Purbaya mendorong pasar modal yang lebih likuid, aman, dan memprioritaskan perlindungan investor ritel (Gen Z).

Investasi adalah kunci masa depan Gen Z. Dengan pasar modal yang likuid, kamu punya peluang cuan yang lebih besar. Dengan penekanan pada perlindungan, Purbaya menjamin kamu tidak mudah di-prank oleh praktik pasar gelap atau saham gorengan.

Dia “kami lihat” ingin Gen Z itu sukses berinvestasi, bukan malah bangkrut karena ulah “bandar”.

 

4. Visi Ekonomi 6-8 Persen: Go Hard or Go Home

Purbaya berani memasang target pertumbuhan ekonomi tinggi (6-8%) dan tidak pesimistis. Berbeda sekali dengan Mulyani.

Taukah kamu: Visi yang ambisius itu menular.

Gen Z membutuhkan pemimpin yang punya keberanian untuk bermimpi besar. Target pertumbuhan ini menunjukkan bahwa pemerintah akan bekerja all out untuk menciptakan ekonomi yang ngebut. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah kunci pembuka bagi gaji yang lebih baik dan peluang karier yang melesat.

 

5. Anti-Utang Bucin (Buta Cinta)

Purbaya bersikap keras dan menolak penggunaan APBN untuk menalangi utang proyek yang tidak efisien (contohnya utang kereta cepat).

Ini tentang kesehatan keuangan negara di masa depan. Gen Z yang akan menanggung utang negara. Dengan sikap tegas ini, Purbaya memastikan bahwa utang yang diambil di masa depan benar-benar produktif dan tidak membebani generasi penerus. Dia sedang memastikan kita tidak mewarisi bom waktu utang yang dibuat oleh generasi sebelumnya.

 

6. Penguatan Financial Literacy Serius

Ia secara konsisten memberikan edukasi finansial, memperingatkan “kita” sebagai Gen Z tentang jebakan utang konsumtif dan bahaya investasi tanpa dasar (anti-FOMO).

Purbaya tidak hanya mengurus uang negara, tetapi juga mengurus uangmu. Memberikan literasi yang keras dan jujur adalah langkah preventif agar Gen Z tidak terjerumus dalam lubang pinjaman online (Pinjol) atau rugi besar di investasi spekulatif.

Ia mempersiapkan kita menjadi generasi yang cerdas finansial.

 

7. Memangkas Mentalitas Mager (Malas Gerak) Birokrasi

Dia menekan kementerian lain untuk mempercepat penyerapan anggaran dan bekerja. Jangan duduk-duduk, ngerokok, ngopi, melobi doang.

Efisiensi birokrasi adalah kunci keberhasilan proyek jangka panjang. Dengan memaksa para pejabat bekerja cepat dan on time, Purbaya secara tidak langsung mempercepat realisasi pembangunan dan layanan publik.

Ini memastikan bahwa project infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan yang akan dinikmati Gen Z bisa selesai tepat waktu.

 

Pejabat, Kepentingan, & Rakyat: Mengerti Arti ‘Memahami’

Mari kita jujur.

Di negara ini, kita sering terjebak dalam dikotomi politik yang melelahkan. Okeylah kamu orang partai, dan kamu diangkat menjadi pejabat karena titipan, anak bapak-mu, dan lain sebagainya. Sebenarnya tidak masalah itu. Politik memang permainan kepentingan. Tapi, ada satu titik balik yang harus kamu sadari ketika sudah dilantik.

Ketika kamu resmi menjadi pejabat “seorang Menteri, seorang Gubernur, komisaris, atau seorang Dirjen, misalnya” atribut partaimu harusnya dilepaskan sejenak. Tau dong mengapa dilepas?

Kamu kan sudah jadi pejabat woy! Dan kamu dibayar oleh uang negara yang didapat dari APBN/APBD yang notabene uang rakyat. Kamu sebagai pejabat, punya judul “alasan atau mata anggaran” untuk mempergunakan uang tersebut untuk kepentingan seluruh rakyat, bukan hanya konstituen partaimu.

 

Tapi realitasnya seringkali menyedihkan.

Pejabat, terutama di daerah, seringkali hanya mau mengeluarkan anggaran untuk sekadar kebutuhan operasional mereka, kegiatan seremonial, atau proyek-proyek yang menguntungkan lingkaran kepentingan mereka. Mereka takut mengambil risiko, takut dicap salah, atau parahnya, memang disengaja agar dana itu bisa ‘diatur’ di kemudian hari.

Jika begitu, apa kerja kamu sebagai pejabat? Jadi sampah kan kamu terlihat.

Kamu tidak ubahnya penjaga kas yang cuma berani bayar listrik dan air, tapi tidak berani membelikan ‘makanan’ untuk yang kelaparan.

Purbaya, dengan gayanya, seolah mengingatkan semua pejabat lain: “Hei, itu uang rakyat! Fokus! Belanjakan! Putar!” Ini adalah mindset yang Gen Z butuhkan dari para pemimpin: bukan lagi tentang siapa kamu atau dari partai mana kamu berasal, tapi tentang apa yang kamu kerjakan dengan uang yang kamu kelola.

Jabatan publik adalah amanah untuk menyelesaikan masalah, bukan sekadar fasilitas untuk menikmati privilege.

Seorang pejabat harusnya mengerti arti ‘Memahami’.

Memahami bahwa: di luar gedung mewah kementerianmu, ada jutaan anak muda yang kesulitan modal usaha. Mengingat bahwa: dana yang kamu endapkan triliunan di bank itu bisa jadi perbedaan antara sebuah daerah punya irigasi baru atau tidak.

Menyadari bahwa: jika kamu tidak bekerja, semua janji politik tentang pertumbuhan ekonomi hanyalah omong kosong belaka. Betul gak Mas AHY?

 

Entah Mengapa, Baru Sekarang Munculnya

Melihat semua gebrakan Purbaya, memang muncul pertanyaan yang menggantung: Entah mengapa, baru sekarang munculnya?

Mengapa butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari bahwa dana triliunan rupiah milik pemerintah, yang seharusnya jadi pelumas perekonomian, malah dibiarkan mangkrak di bank?

Mungkin karena sistem sebelumnya terlalu nyaman dengan kebodohan struktural itu, di mana semua pihak merasa aman selama tidak ada yang ‘bersuara’.

Kehadiran Purbaya ini seperti tamparan keras yang membawa refreshing yang sangat dibutuhkan birokrasi. Ia membuktikan bahwa perubahan itu bisa dimulai dari pucuk pimpinan, asalkan orangnya berani ambil risiko dan tidak peduli pada kenyamanan elit.

Ia mengajarkan semua anak dari Gen Z bahwa politik dan ekonomi tidak selalu harus kotor dan membosankan. Kadang, ia hanya butuh orang yang jujur dan berani bilang, “Cukup!”

Jadi, Gen Z,

Dukungan kita bukan hanya untuk Purbaya secara personal, tapi untuk semangat transparansi, akuntabilitas, dan mindset bekerja yang ia bawa. Ini adalah dukungan untuk sebuah harapan bahwa sistem bisa dibersihkan. Jika kamu tidak ikut mendukung gerakan seperti ini, kamu sama saja membiarkan ‘uang nganggur’ itu kembali tidur nyenyak.

Ingat-nya: Dulu aku diam saja, lalu sekarang aku jadi miskin.

 

Salam Jum’at;

Salam Dyarinotecom.

 

Leave a Reply