Dyarinotescom

Jalan Damai Dengan Merasa Tidak Penting

Rendah Hati

Seringkali kamu tersinggung karena di anggap tidak penting? Hidup jadi tidak tenang atau merasa di lecehkan dengan posisi kamu sekarang. “Aku bukan kaleng-kaleng!”. Mereka mempermalukan ku dengan tidak sopan yang jelas-jelas stratanya di bawah! misalnya.

Kata teman Bapak saya, jika kita bisa menciptakan perasaan bahwa ‘kita ini tidaklah penting‘, maka itu akan mengurangi beban pikiran. Jadi, bolehkan kita membenarkan perasaan tidak penting ini, membantu hidup lebih +bloong, alias damai?

Merasa Tidak Penting

Semakin kita merasa tidak penting, semakin hidup kita tenteram. Kok bisa? Ini menumbuhkan rasa rendah hati. Dengan mengganggap diri tidak penting, kita di jauhkan dari ‘baperan’ apalagi marah ketika perilaku orang lain tidak sesuai dengan maunya kamu.

Ini bukan dengan masud menekan kepercayaan diri kita, kawan. Tetapi untuk menurunkan ego dan tingkah kita yang terkadang ‘sok penting‘. Sikap rendah hati di anggap baik untuk menekan keangkuhan sekecil apapun. Berbeda dengan rendah diri yang menjadikan kita minder.

Jalan Damai

Orang yang berperilaku rendah hati akan diangkat nilainya. Seseorang dengan ‘jalan damai’ ini cenderung merasa lebih bahagia dan jauh dari gelisah. Kamu dengan sikap rendah hati, lebih bisa mengontrol emosi dan tidak berlebihan terhadap suatu hal. Hal yang nyatanya memang tidak penting.

Tujuannya satu yaitu untuk lebih sering berpikir baik.

Jika kita memiliki sikap rendah hati, boleh jadi akan disukai oleh orang-orang di sekitar kita. Bisa di bayangkan jika kita satu frame dengan orang yang sombong, pastinya gerah. Dan akan amat senang jika kita mempunyai mitra, teman, sahabat dengan sikap rendah hati.

Perilaku Menuju Jalan Tenteram

Jika kita menggunakan jalan damai dengan merasa ‘tidak penting’ akan baik untuk kita pribadi. Kamu harus yakin bisa menjadi seseorang yang rendah hati. Okey, lalu apa cara dan cirinya?

Pertama

Mengamati kondisi sekeliling terlebih dahulu sebelum bertindak, untuk kita memahami situasi. Tiba saatnya kita harus berpendapat dan kapan saatnya kita untuk diam. Orang lagi bersedih, kita malah tertawa. Kan aneeh!

Kedua

Mencoba mendahulukan orang lain. Bukan bermaksud kalah tetapi mengalah, karena setiap orang memiliki porsi masing-masing. Siapa melakukan apa dan kapan itu kita lakukan. Sikap ini juga menjadi jalan kita mencari apa yang tepat bagi kita dan apa yang baik untuk orang lain.



Ketiga

Lebih mau mendengar. Jauhkan diri kita dari mendominasi seolah kita lebih berisi. Mendengar itu adalah satu penghargaan kita terhadap lawan bicara. Orang dahulu lebih mengenal ini dengan nama sopan santun atau tata krama.

Keempat

Menunjukan bahwa kita selalu ingin belajar. Belajar itu tidak mengenal umur dan waktu. Pandangan orang bisa sangat berbeda dan boleh jadi lebih baik tanpa melihat kelas mana ia berasal. Ini adalah sikap yang sebenar-benarnya kita rasakan, bukan sesuatu yang harus dipamerkan.

Kelima

Setiap orang bisa salah. Tiba saatnya seseorang mengingatkan kita atau lebih-lebih mengkritik. Kita sadar dan sanggup menerima umpan balik tersebut. Menerima dengan sikap yang baik dan tidak defensif apalagi menyerang balik. Jadilah pribadi yang bernilai tinggi. Di saat salah, akui kesalahan dan itu bukanlah kekalahan. Jika pun kita benar, tetaplah Down to earth.



Keenam

Tidaklah ada orang yang sempurna. Jangan pernah ragu meminta pertolongan orang lain jika merasa diri kurang mampu. Ini bukan dengan maksud melepaskan tanggung jawab. Pun jika kamu sebenarnya mudah untuk melakukannya. Melibatkan orang lain menjadi satu tim yang solid menjadikan nilai dari suatu kerjasama.

Ketujuh

Segala kebaikan sekecil apa pun patut untuk di berikan apresiasi. Ucapan terima kasih pada tindakan sekecil apapun akan sangat pantas kita berikan, tanpa memandang siapa mereka. Dan jangan lupa untuk membiasakan diri membantu orang lain demi menjalin hubungan sosial yang erat.

Tujuh sudah cukup, delapan kebanyakan.

Catatan

Orang bijak mengatakan “Kuatkan saat kamu lemah, berani saat kamu takut, dan rendah hati saat kamu menang”. Guru yang baik adalah pengalaman dan moral tertinggi adalah rendah hati. Semakin besar nilaimu, semakin rendah hatimu. Kata teman Bapak saya.

Salam Dyarinotescom


1 komentar untuk “Jalan Damai Dengan Merasa Tidak Penting”

  1. Artikel yang sangat menginspirasi. Teruskan berkarya untuk kemajuan. Jika berkenan kunjungi pantaingedan.com. Situs yang menyajikan tentang info wisata dan pernak-perniknya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *