Latest Post

Bagaimana UMKM Bertahan dan Bertumbuh di Era Online Shopping?

Di era digital ini, industri online shopping mengalami pertumbuhan yang bukan kaleng-kaleng, menghadirkan persaingan ketat bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ini serius, jangan mehek-mehek sementara mereka gesit. Apa yang bisa kita perbuat bagi UMKM lokal kita, untuk dapat bertahan dan bertumbuh di era online shopping?

Hey, kamu… Tak ada!

Saat ini, UMKM terancam gulung tikar karena tidak mampu bersaing alias “Tak pintar berjualan” kalah dengan barang online. Di pukul dari belakang oleh raksasa e-commerce dan gempuran produk impor murah dari negeri bertuhan uang.

Namun, bukan berarti UMKM tidak memiliki peluang untuk berkembang, dong. Tak ada, bukan berarti tak bisa. Ini Indonesia! Ini Negeri seribu akal. Jangan kira para importir murahan bisa tumbuh di Negeri ini, cuma karena bisa mengakses kebijakan, membayar mulut-mulut para bajul, dan membeli akal korea-korea di belakang meja.

Sudah saatnya kita bergerak.

 

UMKM di Era Online Shopping

Penerapan identitas ‘pribumi’ sebagai pemilik bumi putera kami kira masih sangat bijak, dalam mematenkan apa yang sudah kita serukan dari dahulu kala “Belilah produk produk Indonesia”. Dengan demikian paling tidak, peluang UMKM lebih besar, tatap ‘stand up’ dan bahkan berkembang di tengah gempuran “perang dagang” online shopping.

Benar sekali, pertumbuhan ini di bantu dengan pemanfaatan platform digital, peningkatan kualitas produk dan layanan, membangun brand yang kuat, dan pemberian layanan pelanggan yang prima. Tentu ini sudah kita lakukan. Tapi nyatanya? Masih di bawah pengaruh alkohol produk-produk luar.

Minat yang tinggi untuk mengonsumsi produk luar di pengaruhi oleh perasaan “Waahh…” bangga karena merasa paling bergaya, tapi tertipu dengan “pesona kala terlalu cinta dengan label tak beraroma”. Yaa, bisa juga ini satu bentuk ‘euforia sepuluh tahunan’ bagi pengguna, terhadap kemudahan akses transaksi jual beli tanpa harus berkunjung ke lokasi.

Masa depan IKM kami bagaimana?

 

Masa Depan UMKM Makin Buram?

Oleh karena pengaruh Online Shopping makin menjadi, gempuran produk import sebagai penglaris makin terpatri. UMKM yang dulunya paling tahan banting pada krisis masa lalu, menjadi layu sebagai jenis usaha dengan masa depan suram. Dan para penerus bangsa ini berbondong-bondong mengantri menjadi ‘aparatur sipil negara’ demi mengabdi karena takut tak punya rezeki.

Maaf, pernyataan bahwa masa depan UMKM makin buram adalah sebuah generalisasi yang perlu dikaji lebih dalam. Memang benar bahwa UMKM di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, terutama pada:

  • Persaingan ketat dengan toko online raksasa dan gempuran produk impor murah;
  • Keterbatasan akses permodalan dan teknologi;
  • Kurangnya keterampilan digital dan pengetahuan tentang pemasaran online; dan
  • Persoalan logistik dan infrastruktur.

 

Dapat dipastikan, tantangan-tantangan ini menghambat pertumbuhan UMKM dan bahkan menyebabkan gagal bayar. “Cicilan pinjaman online tertahan”. Sumber bayar kami (UMKM) masih di tangan orang.

Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua UMKM terdampak secara negatif melarat. Banyak IKM berhasil beradaptasi dengan situasi, dan mencapai kesuksesan di era digital dan persaingan pasar online. Batik Solo, misalnya. Satu kebanggaan dari khasanah budaya yang tumbuh.

 

Mengadopsi Sesuatu Yang Baik

Batik Indonesia bisa merajai industri tekstil dunia, lho. Bisa di mainkan dalam skala besar maupun UMKM. Apa rahasia mereka bisa bertahan dari gempuran Online Shopping? Sebenarnya tidak ada rahasia khusus, jika kita menggali kesuksesan batik tanah air beta.

Kala Online Shopping merajalela, mereka cukup menambahkan ‘tolls marketing’ mereka kedalam bentuk e-commerce. Membangun skena pemasaran dalam basis internet. Tanpa ragu memukul mundur produk import.

Batik: A World Heritage from Indonesia.

Tahukah kamu, industri batik bisa stand up, bertahan, bahkan merajai industri tekstil dunia, karena sifatnya yang membumi dan komunal. Mereka membawa identitas daerah mereka masing-masing. Sehingga “tak akan sanggup kita!” sebagai warga untuk mengingkari atau tidak membeli produk asal.

Ini buatan daerahmu. Mamakmu makan dari sini yung!

Dan hebatnya lagi, mereka kuat tuh. Mereka menjadi sangat tangguh karena di klasterisasi pada wilayah-wilayah industri by desain. Mereka ditempatkan pada kantung-kantung industri yang sejenis, serupa, dan terkait. Sehingga mudah dipantau, di support, dan diternakkan.

Sudah baikkah ini?

 

Masalah Pun Timbul

Sungguh ini permainan yang ketat dan kadang kala tak seimbang. Persaingan dengan toko online raksasa dan produk impor murah: Platform e-commerce seperti Shopee, Lazada, dan Tokopedia menghadirkan banyak pilihan produk dengan harga yang lebih miring, murah, sehingga UMKM geleng-geleng kepala, lemas dalam bersaing ketat untuk menarik perhatian pelanggan.

Mari, mari, beli disini saja. Pasar Glodok pun bangkrut.

Banyak IKM berguguran, lupa untuk bertahan, lupa zaman bisa berubah. Ditambah kurangnya keterampilan digital. Banyak pelaku UMKM sangat minim memiliki keterampilan, pengetahuan digital yang memadai untuk memasarkan produk mereka secara online, seperti membuat website, mengelola media sosial, dan menjalankan iklan online.

UMKM yang berada di daerah terpencil jangan harap bisa berkembang cepat. Bertahan saja sudah untung. Mereka mengalami kesulitan dalam mengantarkan produk mereka kepada pelanggan di kota-kota besar. Signal Internet tipis, sarana jalan rusak, modal terbatas, dll.

Sedih.

Apakah mereka (UMKM) diperhatikan? Iya tentu saja di perhatikan, karena di pimpin oleh orang-orang yang berkompeten, mau membantu, dan ikut serta membangun UMKM menjadi berdikari. Bisa juga jawabannya tidak.

Mereka tidak di perhatikan oleh karena kebijakan yang dibuat “mengapa tidak berpihak?” aneh kan! Akses permodalan menjadikan Negara ini “Pelit terhadap Pemiliknya sendiri”. Urusan industri luar masukpun di biarkan seolah: “Pura-pura tidak tahu”.

“Bantu kami” Kata UMKM. Di jawab dengan lantang oleh wakil Hokage: “Sudah, sudah kami lakukan berbagai bantuan, misalnya: pelatihan, bantuan dana, bahkan sarana infrastruktur”. Jika sudah begini jadi bingung sendiri, apa masalahnya?

Saatnya kita duduk dan meramu solusi.

 

Meramu Solusi: Menumbuhkan Harapan dan Kenyataan bagi UMKM di Era Digital

Di tengah gempuran online shopping, UMKM bagaikan pucuk harapan bagi geliat ekonomi bangsa. Namun, kenyataannya banyak UMKM yang terganjal berbagai tantangan: persaingan ketat, keterbatasan modal, dan minimnya literasi digital.

Meramu solusi menjadi kunci untuk menjembatani harapan dan kenyataan bagi UMKM di era digital. Pemerintah, berbagai pihak, dan UMKM itu sendiri harus bekerja sama dalam membagi peran yang tepat dan menjalankan program yang efektif.

Program kemajuan.

Digitalisasi menjadi kunci utama, dengan pemberdayaan teknologi untuk meningkatkan akses pasar, efisiensi operasi, dan daya saing UMKM. Pelatihan dan pendampingan perlu di intensifkan untuk meningkatkan keterampilan digital dan kapasitas UMKM.

Pendidik harus menciptakan pengusaha-pengusaha mandiri yang cerdas, bukan menciptakan calon buruh-buruh yang terampil sebagai pengantar ijazah. Ini tugas berat. Malu menjadi profesor kala dirimu tidak bisa melahirkan anak bangsa yang unggul.

Membangun ekosistem yang kondusif juga penting, dengan mempermudah akses permodalan, bahan baku bersama, menyediakan infrastruktur digital yang memadai, dan menciptakan regulasi yang pro-UMKM.

Jika ada kebijakan yang tidak berpihak, segera perangi itu secara merakyat. Tahu kan maksud kami?

Kolaborasi antar IKM, dengan membangun jaringan dan sinergi, dapat meningkatkan kekuatan kolektif dan membuka peluang baru. “Mengisi dan melengkapi kala rantai pasok industri berada pada titik kosong”.

Dengan meramu solusi yang tepat, harapan bagi kemajuan UMKM di era digital bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang dapat di raih. Bersama, kita dapat membangun ekonomi kerakyatan yang kuat dan tangguh, dengan UMKM sebagai pilar utama.

Cara mudah untuk kita mendukung usaha kecil, ialah dengan: mengikuti, komentari, sukai sosial media mereka, beri tahu temanmu “Ini bagus”, jangan minta diskon, beli dari mereka, tinggalkan ulasan baik, dan dukung mereka. Se-simple itu.

Ketika kamu mendukung bisnis kecil, kamu sebenarnya malaikat di mimpi mereka.

Salam Dyarinotescom.

Related Posts:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Publisher artikel lifestyle yang dikemas menarik, dengan tips dan opini, serta didesain secara kekinian untuk pembaca setia.