Better Than Before

Better Than Before

Kebiasaan adalah arsitektur tak kasat mata atas kehidupan kita sehari-hari. Banyak orang ingin mengubah kebiasaan yang di miliki. Meski telah mempunyai niat berubah, banyak yang terhenti di separuh perjalanan bahkan di awal. Karena kita tahu, mengubah kebiasaan terlebih yang telah terbentuk dan mengakar selama puluhan tahun, tidaklah semudah berbelok saat di jalan. Namun jika berhasil, kita akan mengubah hidup dan masa depan kita. Lalu, metode seperti apakah yang efektif untuk membangun kebiasaan baru?

Dalam buku Better Than Before: Mastering the Habits of Our Everyday Lives ini, Gretchen Rubin mengamini bahwa tidak semua orang berhasil melalui proses mengubah kebiasaan. Faktor utama penyebab kegagalan itu adalah diri kita sendiri, yang dengan kukuhnya menolak perubahan. Hal ini terjadi karena kita tidak mengenali diri sendiri. Kita mampu berubah jika kita dapat mengenali dan memahami karakter diri.

 

Mengenal Diri Sendiri

Ketika kita ingin melakukan perubahan kebiasaan, akan muncul ekspektasi baik dari dalam diri kita sendiri maupun dari orang lain.

Setidaknya ada empat respon tendensi yang akan di berikan diri kita pada kedua tipe ekspektasi tersebut.

 

Pertama upholder

Selalu berusaha menyelaraskan antara ekspektasi diri sendiri dan ekspektasi orang lain.

 

Kedua questioner

Selalu mempertanyakan ekspektasi yang di berikan. Jika hal tersebut rasional bagi dirinya, maka dia akan menerimanya.

 

  Stop Abusive Act!
Ketiga obliger

Cenderung kesulitan untuk memenuhi ekspektasi diri sendiri, akan tetapi sangat mudah dan senang jika memenuhi ekspektasi dari orang lain.

 

Keempat rebel

Cenderung menolak ekspektasi dalam diri sendiri dan orang lain, serta bertindak berdasarkan pilihan dan kebebasan.

Tendensi kita akan mempengaruhi cara kita melihat dunia dan karenanya akan berdampak besar terhadap kebiasaan kita.

Dengan mengetahui kategori tendensi kita, maka kita akan memahami bagaimana cara memanfaatkan kelebihan diri dan akan menuntun kita menemukan cara untuk mengimbangi keterbatasan dari tendensi tersebut. Pada akhirnya akan dapat membantu membangun kebiasaan dengan cara yang menyakinkan. Better Than Before.

 

Pilar-pilar Kebiasaan


Setelah mengenali karakter tendensi diri, selanjutnya kita akan menentukan strategi. Banyak strategi yang dapat membantu kita mengubah kebiasaan. Di antaranya terdapat empat jenis strategi yang di anggap cukup efektif:

 

1. Monitoring

Penelitian menunjukkan bahwa memonitor kebiasaan akan membuat kita sadar diri dalam menentukan keputusan yang akan di ambil.

 

2. Foundation

Kebiasaan baik dapat di mulai dengan lebih mudah jika kita fokus kepada empat pondasi utama, yaitu cukup tidur, makan dan minum yang sehat, olahraga, dan merapikan sekitar.

 

  Semua Dimulai Pada Usia 40 Tahun
3. Scheduling

Menjadwalkan waktu secara spesifik dan teratur untuk sebuah aktivitas yang di lakukan secara  terus menerus agar terbentuk kebiasaan. Scheduling juga membantu untuk mengatasi kebiasaan menunda-nunda.

 

4. Accountability

Kita dapat mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan. Kita membutuhkan bantuan teman atau pasangan untuk menjadi pengawas yang bersedia mengingatkan kita.

Untuk mengetahui strategi mana yang paling di butuhkan dan sesuai dengan karakter kita, maka kita dapat mengulangi lagi pengenalan diri kita sendiri. Meskipun sebenarnya keempat strategi tersebut dapat di jalankan secara bersamaan karena keempatnya saling membangun dan melengkapi.

 

Waktu Terbaik untuk Memulai

Hal yang paling penting setelah memutuskan untuk mengubah kebiasaan adalah mulai melangkah. Tidak perlu sempurna, namun pastikan tetap berlangsung secara konsisten.

Memulai langkah pertama memang terasa sulit, tetapi cobalah rasakan dan resapi energi optimisme untuk melakukan kebiasaan baru. Setiap permulaan menyajikan sebuah kesempatan untuk membentuk kebiasaan. Karena sebuah awal memungkinkan dua elemen kuat untuk bersatu; hal yang baru dan kebiasaan.

Sesuatu yang baru dan terus berulang di lakukan secara konsisten perlahan akan menghapus kebiasaan lama, dan ketidakhadirannya akan membuat kebiasaan baru mengambil alih. Better Than Before.

Pahamkan diri kita bahwa kebiasaan adalah perilaku yang ingin kita terapkan selamanya tanpa keputusan, tanpa argumentasi, tanpa berhenti, dan tanpa garis akhir. Konsep ‘selamanya’ dapat menjadi sangat mengintimidasi, jadi konsep lakukan-untuk-hari-ini dapat membantu kita untuk tetap menjalankan kebiasaan baik. Lakukan untuk hari ini!

 

  Penyebab Bercermin Dilarang Terlalu Lama

Keinginan Kenyamanan dan Alasan

Kerap terjadi benturan saat kita ingin melakukan kebiasaan baik pada saat bersamaan menginginkan hidup yang lebih mudah dan lebih menyenangkan. Adakalanya kita di hadapkan pada kejenuhan, rasa lelah, dan ingin berhenti dari kebiasaan baik. Pada kondisi seperti ini, kita dapat memberikan “hadiah” pada diri sendiri, sebuah kesenangan kecil yang kita inginkan.

Saat menghadiahi diri sendiri, kita akan merasa penuh energi, di perhatikan, dan merasa puas sehingga dapat membangkitkan tekad (perintah diri) yang membantu mengelola dan malakukan kebiasaan yang baik dan sehat.

Kesempurnaan merupakan tujuan yang mustahil. Namun, kebiasaan dapat membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik. Mulai kebiasaan baik, lakukan secara konsisten, lakukan lebih baik dari sebelumnya. Karena menjadi lebih baik, itulah yang kita inginkan.

 

Salam Dyarinotes

 

One thought on “Better Than Before

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Dyarinotes is protected
%d bloggers like this: