Inovasi Bisnis Dengan Cara Cengeng

Mengapa saat ini banyak orang mengembangkan bisnis dengan cara-cara mengikuti template yang sudah ada atau bisa kita katakan dengan cara cengeng. Takut rugikah? Takut gagal? atau tidak mampu memikirkan sesuatu yang baru untuk di build up. Inovasi bisnis ala cengeng.

“Apa gunanya inovasi jika tidak dapat di terapkan demi perolehan basis-basis komersil” katanya. Inovasi memang di ciptakan untuk banyak tujuan, tapi itu tidak terbatas pada komersialisasi, pemecahan masalah, peningkatan produktivitas, penciptaan pasar baru, dan peningkatan efisiensi saja. Tapi disitu ada pembelajaran.


Inovasi to Bisnis Cara Cengeng

Inovasi sangat penting, membantu kita dalam meningkatkan efektifitas dan efisien.

Seperti halnya inovasi di dunia otomotif Indonesia, misalnya. Semua orang mungkin sudah pada tahulah dengan teknologi Nikuba. Yaitu memanfaatkan hidrogen sebagai molekul yang terkandung di dalam air. Nikuba, mengandalkan generator elektrolisis untuk memisahkan oksigen (O2) dan hidrogen (H2) yang terdapat di air.

Lebih Lengkapnya klik disini.

Pada kasus ini saja, pemerintah konoha dan swasta yang katanya bisnisman, tidak mampu melirik dampak keuntungan yang diakibatkan jika teknologi ini di terapkan dan di komersilkan secara masif. “Takut gagal, rugi atau takut tersaingi”. #ItuSaja



Ada Yang Berhasil dan Ada Juga Yang Gagal

Inovasi itu tidak serta merta menghasilkan kesuksesan dan keberhasilan. Jika suatu inovasi ada yang berhasil, tentu banyak juga yang gagal. Seperti belah durian, tidak semua berisi manis dan legit.

Beberapa nama, seperti: Yahoo, Nokia, dan Blackberry, misalnya. Adalah contoh dari kegagalan inovasi bisnis ketika ‘Someone’ tidak sigap membaca bahwa “ini peluang”, malah bersikukuh pada core bisnis saja, dan terlambat berfikir tentang bagaimana mengantisipasi perkembangan.

Jadi Apa Masalahnya

Jika inovasi di kawinkan pada ranah bisnis, tentu tujuannya tidak lain agar itu berkembang dan ‘menjadi uang’. Masalahnya, ketika pola berfikir kita untuk jangka pendek, seperti: hanya untuk serapan anggaran, misalnya, maka tentu hasil yang di harapkan tidak sesuai dan malahan biaya akan tinggi. Dan itu yang terjadi pada negeri konoha. Gak ada hasil, Nol besar.


Masalah kedua, minimnya kreatifitas. Maaf jika salah, kreatifitas apa yang di hasilkan dari seorang profesor yang sudah tidak muda. Ini bukan bermaksud mendiskreditkan antara kreatifitas dengan umur seseorang. Mungkin mereka lebih tepat sebagai mentoring. Kita kaum muda tidak boleh menyiksa mereka. hehehe… (Pembaca harus mengerti dan bukan menghakimi).

Masalah Ketiga, Minimnya perhatian perihal ‘What exactly customer Needs’. Ini tidak lain tentang apa kebutuhan yang paling orang cari atau butuhkan. Orang butuh kemudahan, maka beri mereka kemudahan. Orang butuh keamanan, maka sajikan mereka rasa percaya bahwa ini aman.

Masalah Terakhir, Pilah pilih teknologi. Siapa yang membuat, apa yang di buat itu tidaklah penting. Tapi apa solusi yang di hasilkan dari inovasi tersebut, itu yang utama. Sekolah di mana ia, bagaimana cara ia menemukannya bukanlah persoalan, tetapi apakah itu bisa kita jadikan cuan. ‘That’s it’.


Catatan

Tidak ada satu catatan untuk inovasi melainkan implementasi yang saat ini kita butuhkan. Inovasi itu tentang mengambil dua hal yang sudah menjadi ‘given’ dan menyatukannya dengan cara baru, menjadi sebuah ide tentang apa benefit yang kita berikan.

Inovasi itu seperti dorongan jet yang mendobrak hal baru dan mengembangkannya lagi, di mana hanya sedikit orang yang berani. Mungkin kreativitas adalah memikirkan hal-hal baru, tapi Inovasi adalah melakukan hal-hal baru.

Salam Dyarinotescom.


Related Posts:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kumpulan artikel lifestyle yang dikemas menarik, dengan tips dan opini, serta didesain secara kekinian untuk pembaca setia.